
Mata Shena masih belum bisa berpaling menatap wajah sang artis setelah informasi penting yang baru saja ia beritahukan padanya. Rasa shock, terkejut sekaligus bahagia bercampur jadi satu dalam hati Shena. Ditambah lagi, rasa bersalah yang begitu besar sehingga menimbulkan kekacauan dimana-mana akibat tindakan cerobohnya, membuat Shena tak bisa berkata apa-apa.
Saat ini, Shena juga melihat Leo berjalan semakin mendekat kerahnya dengan kilatan api cemburu yang begitu besar kerena telah salah paham padanya. Momen ini benar-benar pukulan telak bagi Shena karena ia pun pernah merasakan hal yang sama saat melihat suaminya memeluk wanita asing yang ternyata adalah adik sepupunya sendiri. Bedanya, Shena langsung melarikan diri dan mencoba mengikhlaskan Leo bersama wanita yang disukainya walau pikiran itu tidaklah benar, sedangkan Leo malah sebaliknya, ia jadi kalap dan ingin berkelahi dengan artis idola Shena. Tanpa bertanya lebih dulu apa yang terjadi, Leo melayangkan tinjunya kearah wajah sang idola kalau saja tak segera dihalangi tepat waktu oleh Shena.
“Hentikan, Leo! Jangan pukul dia!” pinta Shena sambil memegang erat kepalan tangan Leo yang hendak ia layangkan pada Kun, kembarannya sendiri.
Sedangkan Kun sendiri tetap berdiri tegak tak bergeming dari tempatnya. Pria berambut pirang itu malah terlihat sangat tenang menatap wajah kalap suami Shena itu. Ini sudah bukan pertama kalinya Leo cemburu buta hanya karena salah paham. Nanti ujung-ujungnya juga mereka bakal sweet-sweetan lagi kalau Shena sudah menjelaskan duduk kronologinya.
“Jangan halangi aku, Sayang. Minggir!” Leo melepas paksa cengkeraman tangan Shena hingga terlepas tanpa mau menatap wajah istrinya.
Tarikan tangan Leo yang begitu kuat membuat Shena jadi sedikit kesakitan. Ia pun merintih manahan sakit diperutnya akibat sikap Leo yang tiba-tiba saja berubah jadi kasar tak terkendali.
“Auhhhgg!” rintih Shena sambil mengibaskan tangannya dan memegangi perutnya.
Mendengar suara itu, Leo terkejut dan langsung menoleh ke arah Shena. Kemarahan Leo berubah jadi cemas dan emosinya menghilang seketika berganti dengan kekhawatiran yang berlebihan. Leo benar-benar takut terjadi apa-apa pada Shena.
“Sayang! Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan? Apa aku melukaimu?” tanya Leo dengan nada gemetar. Tubuhnya ikut membungkuk mengikuti gerakan Shena.
“Jangan berkelahi, apa yang kau lihat tadi ... tak seperti yang kau kira.” Shena masih merintih memegangi perutnya. “Mr. Kun! Pergilah, aku menunggu kabar baik darimu!” ujar Shena sambil tersenyum dan sang artispun pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa.
“Mau kemana kau, pirang! Urusanmu denganku belum selesai!” teriak Leo menggelegar tapi teriakannya tak sama sekali tak dihiraukan oleh Kun. Pria berambut pirang itupun bergegas pergi masuk ke dalam mobilnya dan melesat jauh dari tempat ini.
“Kau punya urusan denganku! Biarkan dia pergi. Kalau sampai kau keluar mengejarnya, maka aku ... tidak akan pernah memaafkanmu!” ancam Shena masih menahan sakit diperutnya. Tatapan mata Shena juga terlihat serius pertanda bahwa ia tidak main-main dengan ancamannya.
__ADS_1
Leo sedikit terkejut mendengar Shena mati-matian membela kembarannya dan bukannya mendukung dirinya. Namun melihat kondisi Shena, Leo memutuskan untuk mengesampingkan dulu rasa cemburunya dan menggendong Shena masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan Roy untuk keduanya agar Shena bisa istirahat dengan nyaman. Roy sendiri memilih tidak ikut campur urusan rumah tangga Leo dan Shena dan memilih menemani Laura dikamarnya.
Saat digendongan Leo, Shena terus saja menatap wajah suaminya yang terlihat kesal. Sepertinya Leo benar-benar menahan amarahnya. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Leo tidak mau menatap mata Shena. Shena sendiri sangat mengerti seperti apa perasaan Leo saat ini. Sebab, Shena juga sudah pernah mengalaminya dan rasanya benar-benar sakit sekali. Ternyata, Cemburu itu benar-benar menyakitkan dan bikin nyesek.
“Istirahatlah dan jangan banyak bergerak,” ujar Leo setelah membaringkan istrinya ditempat tidur. Leo hendak beranjak pergi tapi tangannya ditarik Shena sehingga Leo terduduk didepannya. Shena menatap wajah suaminya lekat-lekat sambil terus memegangi lengan Leo kuat-kuat.
“Kau marah padaku?” tanya Shena.
“Sedikit!” jawab Leo masih jutek dan enggan menatap wajah Shena.
Tanpa peringatan, Shena mencium bibir suaminya dengan cepat dan tentu saja Leo terkejut tiba-tiba dicium Shena.
“Kalau sekarang?” tanya Shena, ia terus menatap wajah Leo. Kali ini, suaminya itu mulai mau menatapnya dan Shena langsung membalas tatapan mata itu dengan senyuman manisnya.
“Sudah berkurang,” jawab Leo ikut sedikit tersenyum. Wajah cantik Shena saat menatapnya benar-benar membuat hati Leo luluh.
“Bagaimana, sekarang?” tanya Shena lagi setelah selesai mencium Leo.
Tentu saja kemarahan yang tersirat di wajah Leo menghilang dan langsung berganti dengan senyuman yang biasa ia berikan pada Shena.
“Darimana kau belajar cara meredam amarahku?” tanya Leo dan ia mulai menatap Shena dengan cinta seperti yang biasa ia lakukan.
Hati Shena menjadi lega karena suaminya sudah kembali seperti sedia kala. “Dari seseorang yang sangat mencintaiku melebihi apapun. Bahkan cintanya yang gila itu membuatku tidak bisa bernapas bila tidak melihatnya sedetikpun. Orang itu adalah suamiku, dan kini sedang duduk didepanku. Dialah yang mengajariku cara bersikap romantis habis. Kau kenal, dia?” goda Shena.
__ADS_1
Leo menundukkan kepalanya menahan tawa, tapi ia langsung mengangkat kembali wajahnya dan menatap tajam mata Shena yang sedang menggodanya. “Tidak, aku tidak mengenalnya. Kau mau mengenalkan aku pada orang itu?”
Shena berpikir sejenak sebelum menjawab, “Oke! Akan aku kenalkan kau pada orang itu.” Shena beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menggamit lengan Leo agar mengikuti langkahnya.
Kini, Shena dan Leo sedang berdiri di depan cermin sambil menatap bayangan mereka berdua di dalam cermin tersebut. “Kau lihat laki-laki yang berdiri disebelahku itu?” Shena menunjuk bayangan Leo di cermin tempat mereka berdiri.
“Ehm, aku lihat.” Leo tersenyum menatap wajahnya sendiri.
“Orang itulah yang mengajariku, bagaimana menurutmu? Dia sangat tampan, kan?” entah kenapa, Shena jadi suka menggoda suaminya seperti ini.
“Tampan juga, lalu ... siapa wanita yang berdiri di sebelah orang itu?” tanya Leo menunjuk bayangan Shena yang ada di dalam cermin.
“Ehm ... wanita itu adalah istri tercinta orang itu, sekarang dia sedang hamil buah hati mereka. Mereka berdua pasangan yang serasi, kan? Mereka tidak akan pernah terpisahkan walau apapun yang terjadi. Sayangnya, mereka itu agak konyol karena terlalu dibutakan oleh api cemburu tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.” Sindir Shena dan Leo jadi semakin gemas mendengar kata-kata istrinya.
“Haaaah, aku sudah tidak tahan lagi!” Leo mencium mesra Shena dan mengisap lembut bibir merah delima itu. Leo juga mulai membuka sedikit bibir tersebut dan memasukkan lidahnya kedalam dengan penuh gairah yang membara.
Dengan cepat, Leo melucuti pakaian Shena satu persatu sampai tak ada yang tersisa dan juga pakaiannya sendiri. Ia langsung menggendong Shena kembali ke tempat tidur dan membaringkannya dengan pelan sambil terus menatap manik mata istri tercintanya.
“Kita main ronde-ronde kita yang tertunda. Aku akan melakukannya pelan-pelan. Jangan protes apapun sampai aku menyelesaikan rondenya. Ini hukumanmu karena sudah membuat banyak kekacauan dan membuatku termakan api cemburu.” Leo langsung memulai aksinya sebelum Shena membuka mulutnya dan bersuara. Shena benar-benar tidak bisa berkutik jika Leo sudah memutuskan sesuatu.
Malam ini, Leo benar-benar melakukan adegan bulan tertusuk ilalang sampai puas sehingga Shena jadi lemas tak berdaya dalam belenggu cinta yang dibuat Leo untuknya. Keduanya saling bergumul mesra dibawah selimut yang penuh dengan suasana cinta nan syahdu mengelilingi aura keduanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***