
Leo tersenyum menatap wajah istrinya yang cemberut padanya. Ia sangat suka menggoda Shena. Sejak istrinya hamil, Shena jadi semakin menggemaskan. Setipa gerak gerik Shena membuat Leo jadi geregetan sendiri. Mood Shena yang berubah-ubah kadang membuat Leo ingin selalu mencubit pipi Shena.
Menjaga dan melindungi wanita yang sedang hamil, ternyata merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi Leo. Tak pernah terbayangkan dibenak Leo kalau sebentar lagi ia dan Shena akan punya anak buah dari cinta mereka berdua. Leo benar-benar bahagia memliki Shena disisinya. Hari-hari Leo jadi semakin lebih berwarna.
Dengan cepat, Leo bangun dari kursinya dan mencium wajah Shena yang belepotan dengan eskrim. Tak segan, Leo menyapu bersih eskrim yang menempel di sekitar bibir Shena dengan penuh cinta.
“Apa yang kau lakukan? Disini banyak orang.” Shena hampir berteriak karena terkejut, tapi ia sadar kalau dirinya sedang berada ditempat umum dan tidak ingin menjadi pusat perhatian. Untung saja semua orang yang ada di kafe ini sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak begitu memperhatikan Leo dan Shena.
“Siapa yang peduli? Aku hanya membersihkan bibirmu yang belepotan es krim.” Leo masih mengamati wajah Shena lekat-lekat.
“Tapi kan tidak harus menciumku? Kau bisa membersihkannya dengan tissyu atau tanganmu, itulah yang biasa dilakukan pasangan lainnya seperti orang-orang disekitar kita ini.” protes Shena. Ia mengamati beberapa pria membersihkan es krim di bibir kekasihnya dengan menggunakan tissyu atau tangan mereka.
“Itu kan mereka, Sayang. Caraku beda, dan aku tidak suka mengikuti orang lain. Beda itu lebih baik. Di otakku, cuma cara tadi yang terpikirkan agar bibirmu tidak belepotan es krim lagi.” Leo menyeringai dan Shena sangat sangat sangat tahu, itu bukanlah alasan Leo sebenarnya.
Suaminya itu memang sengaja menciumnya di tempat umum seperti yang biasa ia lakukan dimanapun mereka berada. ‘Benar-benar nggak ada akhlak’. Setiap bersama Leo, pasti kata itulah yang selalu Shena ucapkan dalam hati.
“Habiskan es krimmu, Sayang. Nanti esnya mencair kalau kau tidak cepat-cepat menghabiskannya.” Tatapan mata Leo membuat Shena jadi curiga.
Sepertinya, suami nggak ada akhlaknya itu bakal menciumnya lagi kalau sampai eskrim yang ia makan belepotan dibibirnya. Karena itu kali ini Shena harus lebih hati-hati agar tidak belepotan kemana-mana saat memakan eskrimnya.
“Awas kalau kau sampai menciumku, lagi!” ancam Shena.
“Kenapa? Kau sangat suka ciumanku, kan? Lebih enak loh, manis-manis gimana gitu,” goda Leo sambil mengedipkan salah satu matanya pada Shena.
“Ini tempat umum Leo, banyak orang yang melihat kita. Mungkin kau tidak peduli kerena urat malumu sudah putus, tapi aku sangat peduli, malu tahu!” protes Shena.
“Baiklah, kita akan melakukannya nanti di rumah, dan kau tidak boleh menolak. Sekarang, cepat habiskan eskrimnya. Aku harus pergi ke suatu tempat dan melakukan sesuatu. Sebentar lagi sidangnya akan dilanjutkan.”
“Kau mau kemana?”
“Ke suatu tempat, makanya habiskan.” Leo masih terus menatap Shena.
__ADS_1
“Es krimnya terlau banyak, bagaimana mungkin aku menghabiskan semuanya.” Shena menatap es krim rasa coklat vanila kesuakaannya dalam gelas besar.
Kalau Shena tidak hamil, pasti ia mampu menghabiskan semuanya. Masalahnya ia sedang hamil, apa yang ia makan tak semuanya bisa masuk dalam perutnya walaupun Shena sangat menginginkannya. Bisa jadi itu bawaan dari sang jabang bayi, sehingga ia gampang sekali berubah-ubah mood apalagi soal makanan. Belum habis setengahnya saja Shena jadi merasa enek.
“Mau kubantu menghabiskannya? Tapi ada tata caranya.” Leo terus saja tersenyum menatap wajah menggemaskan Shena yang menatap ngeri eskrimnya.
“Aku baru tahu membantu menghabiskan es krim orang lain itu harus ada tata caranya. Memangnya, tata cara apa yang akan kau lakukan?”
“Siapa bilang ini es kirim orang lain. Eskrim ini milik istriku, jadi ada tata cara tersendiri. Mau tahu seperti apa? Akan aku tunjukkan padamu dengan syarat kau hanya boleh diam dan ikuti saja tata cara yang kuberikan,” ujar Leo dan tanpa menunggu jawaban dari Shena, ia berpindah posisi lalu duduk di dekat Shena.
Tanpa beralih pandangan dari Shena, Leo mengambil sendok eskrim dan menyendokkan eskrim tersebut dari gelas eskrim lalu menyuapkannya pada Shena. Belum sempat Shena menelan eskrim itu, tiba-tiba bibir Leo langsung membuka mulut Shena dan langsung menghisap eskrim tersebut dengan cepat hingga habis tak tersisa.
Mata Shena terbelalak karena terkejut dengan apa yang dilakukan Leo padanya. Leo sama sekali tak mengindahkan ancamannya. Bahkan kali ini lebih parah dari yang tadi.
“Kau cu ....”
Leo menyerang lagi bibir Shena lagi sampai gadis itu tidak bisa bicara. “Dilarang protes, aturannya adalah kau hanya boleh diam dan turuti saja tata caraku, mengerti Sayang.” Mata Leo menatap tajam manik mata istrinya.
“Istriku yang pintar, kita lanjutkan lagi makan eskrimnya, oke. Aku akan membantumu menghabiskannya.” Leo membelai lembut rambut Shena.
“Leo suamiku ... boleh aku bertanya?”
“Apa, Sayang?”
“Kau kan bisa memakan es krimnya langsung, kenapa harus repot-repot menyuapkannya padaku dan ....” Shena tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Leo terus menatap tajam Shena.
“Dan apa?”
“Itu ... kau tidak perlu menciumku, masa setiap suapan kau menciumku terus?” protes Shena.
“Aku tidak keberatan.”
__ADS_1
“Tapi aku yang keberatan,” seru Shena dan lagi-lagi Leo menatapnya tajam. “Maksudku ... aku malu dilihat banyak orang jika kau menciumku seperti itu. Bisakah kita pergi saja dari sini? Semua orang sudah mulai memerhatikan kita.”
“Biarkan saja mereka melihat kita? Apa peduliku? Lagian aku sudah bilang, aku punya cara sendiri untuk membantu menghabiskan eskrim istriku. Aku tidak suka vanila Sayang, jadi aku harus menyuapkannya dulu padamu baru eskrim itu terasa manis dimulutku.” Leo mengusap kedua bibirnya seolah mencicipi eskrim dari mulut Shena.
Dasar Leo gila! Batin Shena tapi ia berusaha tersenyum manis di depan Leo.
Tanpa buang waktu lagi, Leo melanjutkan aksinya menghabiskan eskrim dengan cara seperti yang tadi ia lakukan. Tentu saja aksinya itu mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan. Semua yang ada di kafe es krim ini hanya bisa melongo menatap aksi nekat Leo yang sok romantis itu.
Tak sedikit dari mereka sampai ada yang gigit jari karena iri melihat betapa sweetnya pasangan Leo dan Shena. Bahkan beberapa pasangan ikut mempraktekkan cara yang dilakukan Leo pada kekasihnya. Sebagian ada yang sukses tapi banyak juga yang gagal total.
Pasangan itu dikatakan gagal, karena aksi yang dilakukan dari hasil mencontoh Leo bukannya berakhir romantis, sang cewek malah menggampar wajah pacarnya dengan penuh emosi karena es krimnya tidak bertambah enak, melainkan berubah rasa menjadi sengit karena asap rokok yang dihisap sang pacar bercampur dengan ek krim tersebut. Kesimpulannya, pria yang merokok ini kena semprot sang pacar sehingga mereka bertengkar bahkan ada pula yang berakhir putus. Rupanya aksi Leo bisa juga mengundang petaka bagi sebagian pasangan.
“Ini adalah sendok yang terakhir, bagaimana rasanya?” tanya Leo masih terus menatap wajah istrinya yang sepertinya memang sedang terhipnotis oleh ciuman maut Leo.
“Rasanya manis sekali,” jawab Shena lirih sehingga membuat Leo tersenyum geli.
“Mulai sekarang, setiap kali kau makan es krim, aku akan menyuapimu seperti ini.” Leo menyuapi Shena untuk yang terakhir dan langsung mengisap es krim itu kembali dari mulut Shena.
“Hah?” Shena semakin terperangah, tapi ia juga tidak bisa berkata apa-apa.
Leo tidak suka ditolak, kalau suaminya sudah bilang begitu, artinya Leo memang akan melakukannya.
BERSAMBUNG
***
Episode ini sweet sweet dulu ya ... bis ini tegang lagi.
Dilarang senyam senyum sendiri kalau baca part ini. Dan juga jangan iri ... kecuali yang sudah punya pasangan hehehe ...
Terimakasih yang sudah ngasih hadiah koinnya ... aku jadi semakin semangat setelah kemarin sempat badmood. Love you all.
__ADS_1