Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 227 Keberanian Yeon


__ADS_3

Disaat semua orang sudah tertidur lelap, Yeon menerima pesan singkat yang membuatnya tertegun. Ia membaca sekilas pesan singkat itu dan meletakkannya di atas meja sambil memikirkan sesuatu. Malam ini sepertinya ia tidak bisa tidur.


"Kau sudah tidur, Kak?" tanya Bima yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar kakaknya.


"Belum, kenapa kau kemari?" tanya Yeon cuek sambil memunggungi adiknya.


"Aku tak bisa tidur, aku merasa ... ayah sedang merencanakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa itu," ujar Bima mulai mengutarakan uneg-unegnya pada Yeon secara langsung.


"Kau tak perlu tahu urusan orang dewasa. Mereka semua itu rumit, anak kecil seperti kita cukup buat onar saja," ujar Yeon seenaknya.


"Itulah masalahnya, kenapa aku punya kakak sesesat diirimu?" Bima melangkah maju dan langsung merebahkan dirinya disamping kakaknya.


"Apa yang kau lakukan?" sengal Yeon terkejut karena Bima tiba-tiba berbaring didekatnya.


"Tidur," jawab Bima singkat tanpa peduli wajah kesal kakaknya.


"Tidur saja dikamarmu sana!" usir Yeon.


"Tidak mau! Aku mau tidur denganmu. Pintu kamar ayah dan ibu dikunci jadi aku tidak bisa masuk, Lea juga sudah tidur pulas, cuma kau saja yang belum tidur. Makanya aku kemari."


"Harusnya kau dobrak saja pintu kamar ayah dan ibu, pasti mereka sengaja mengunci pintu kamar mereka supaya diantara kita semua tidak ada yang bisa masuk kesana." Yeon berdecak kesal. Kalau ayak dan ibunya sudah ada di dalam kamar, maka mereka tidak akan mau diganggu dan tidak akan keluar kamar kecuali kalau ada kebakaran.


"Bagaimana kalau kita bakar rumah ini supaya mereka keluar kamar?" entah muncul darimana ide gila Bima.


"Bakar saja, aku sedang malas melakukan apapun."


"Tumben? Biasanya kau sangat antusias kalau kita membuat pusing kepala ayah?"


"Sudah kubilang, aku tidak mood melakukan apapun. Sudah pergi sana kalau kau mau buat onar! Jangan ganggu aku."


"Nggak jadi, lain kali saja. Aku mulai ngantuk." Perlahan Bima tertidur disamping kakaknya. Rasanya kurang afdol.kalau berbuat onar sendirian tanpa kakaknya.

__ADS_1


Sebenarnya, Yeon sendiri tidak bisa tidur sama sekali. Matanya tetap terjaga sepanjang malam memikirkan pesan yang ia terima melalui ponselnya. Namun ia sengaja merahasiakan isi pesan itu kepada semua orang meskipun pamannya Refald pasti sudah tahu. Jika sampai besok pagi pamannya tidak datang menemuinya, artinya tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Lihat saja! Habislah kalian," gumam Yeon lirih dan agak keki mendengar suara dengkuran adiknya yang tertidur lelap.


***


Roy dan Laura datang bersama ke rumah Leo dan Shena tepat disaat keluarga kecil itu sedang sarapan bersama. Shena mempersilakan sahabat-sahabat mereka untuk ikutan sarapan dan duduk bersama di meja makan.


"Apa hari ini, Yeon dan Bima tidak masuk sekolah?" tanya Laura sedangkan Roy langsung berbincang-bincang mengenai pekerjaan mereka dengan Leo.


"Ayahnya sedang sibuk hari ini. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Leo tak ingin Bima dan Yeon masuk dulu. Aku rasa itu lebih baik, karena putra-putra tampanku ini selalu saja bikin ulah dimanapun mereka berada kecuali di rumah."


Laura menatap kedua putra sahabatnya secara bergantian. Mereka hanya diam dan makan saja tanpa bicara sepatah katapun. Di rumah, mereka memang tampak patuh dan penurut, tapi begitu diluar, ada saja ulah yang yang mereka lakukan sehingga bikin kepala keliyengan. Tidak ada yang bisa Laura lakukan selain menyemangati Shena mengurus kedua putranya yang bengal ini. Semoga saja nakalnya tak berlanjut hingga mereka dewasa.


Sedangkan Lea, ia masih disuapi oleh Shena saat makan. Gadis manis itu sangat berbeda dengan kedua kakak-kakaknya yang suka bikin masalah. Lea lebih mirip Shena ketimbang Leo yang tak suka melakukan hal aneh-aneh seperti Yeon dan Bima.


"Kita berangkat sekarang," ujar Leo begitu ia selesai sarapan. "Lea Sayang. Berangkat bersama ayah, ya. Nanti biar ibumu yang menjemput." Leo menatap wajah manis putri kecilnya.


"Yeon, Bima. Kalian tetap di rumah dan dilarang keluar kemana-mana. Aku sudah izinkan kalian untuk tidak masuk sekolah hari ini. Kalian mengerti?"


"Mengerti Ayah," jawab Yeon dan Bima bersamaan.


Leo berjalan mendekat ke arah Shena dan mencium mesra kening istrinya. "Aku berangkat dulu, Sayang. Sampai nanti."


"Ehm, hati-hati." Shena berdiri dan mengecup mesra pipi Leo.


Kedua pasangan suami istri ini ingin menunjukkan pada anak-anak mereka bahwa mereka semua adalah keluarga yang harmonis dan penuh dengan cinta. Roy dan Laurapun tak kalah mesra. Mereka juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Leo dan Shena.


"Jika Rai tahu kalau ayah dan ibunya sama nggak ada akhlaknya seperti kedua orangtua kita, dia pasti muntah," bisik Bima pada Yeon.


Yeon tak bereaksi, sepertinya, ia sedang berkutat dengan pikirannya sendiri dan tak mengindahkan ocehan Bima.

__ADS_1


"Kak, kau dengar aku?" tanya Bima kesal karena ia dicueki kakaknya.


"Aku mau ke kamar. Jangan ganggu aku atau kucincang kau hidup-hidup kalau sampai menggangguku." Yeon berlalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan dan berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya rapat-rapat.


"Ada apa dengannya?" tanya Bima bingung.


****


Saat semua orang sedang sibuk dengan aktivitasnya, Yeon menyelinap keluar pergi ke suatu tempat seorang diri. Putra sulung Leo ini memang pemberani. Diusianya yang masih belum genap 10 tahun, Yeon berani menghadapi bahaya sendirian dan tak takut pada segala hal yang tak membuatnya nyaman.


Seperti yang ia lakukan saat ini. Ada seseorang tak dikenal menantang Yeon untuk bertemu di suatu tempat. Kebetulan, lokasi tempat yang dipilih seseorang itu, tidak jauh dari kediaman keluarga besar Pyordova, jadi Yeon hanya tinggal berjalan kaki saja. Ia tak menyangka lokasi yang dipilih sang pengirim pesan dekat dengan pantai wilayah keluarga besarnya. Benar-benar cari mati itu orang jika Leo tahu. Apalagi jika orang itu berani macam-macam dengan keluarganya.


"Huh, kau memang benar-benar putra seorang gengster. Nyalimu besar sekali dengan berani datang kemari sendiri seperti yang kuharapkan." terdengar suara seseorang dari suatu tempat begitu melihat Yeon berjalan ke dekat pantai yang penuh dengan bebatuan. Disamping kanan Yeon, ada tebing menjulang tinggi.


"Tentu saja, kau bilang jika aku tak datang sendiri, maka kau akan menculik Lea. Aku takkan pernah memaafkan siapapun orang yang berani menyakiti adik-adikku, bahkan sekalipun orang itu adalah guru BK ku sendiri." Yeon dengan berani menebak orang yang sejak tadi belum menampakkan diri.


Terang saja orang itu langsung terkejut karena Yeon sudah mengetahui siapa identitas asli dirinya. Sungguh diluar dugaan. Padahal orang itu bermaksud menakut-nakuti Yeon dan ingin menjatuhkan mental putra sulung Leo itu, tapi sepertinya rencananya telah gagal total. Malah dialah yang sedang dijatuhkan mentalnya oleh seorang anak kecil pula.


"Wah wah ... kau cerdas seperti Conan Edogawa, heh? Tak salah jika kau tinggal di Jepang. Kau masih anak-anak, tapi pikiranmu sudah seperti orang dewasa."


Tebakan Yeon mengenai siapa yang mengirim pesan itu memang benar. Sesosok pria kekar muncul dari balik batu dan orang itu ... adalah guru BK Yeon sendiri. Pria itu berjalan mendekat tempat Yeon kecil berdiri dengan santai.


"Pak guru ... aku harap kau tidak lupa ... bahwa aku adalah putra sulung keluarga Leopard Pyordova. Aku sangat mengagumi ayahku dan juga pamanku Refald. Sekali lihat saja, aku tahu ... seperti apa orang sepertimu itu. Beraninya kau menjadikan karakterku sebagai alat untuk bertemu dengan ibuku. Tak hanya ayah yang tak terima melihat kegenitanmu. Akupun juga, dan kau menggunakan adikku Lea untuk memancingku kemari? Apa kau bosan hidup, Pak?" tanya Yeon tanpa punya rasa sopan santun pada gurunya. Bahkan ucapan Yeon tak pantas diucapkan oleh seorang anak kecil sepertinya.


Yeon memang tak terlihat seperti anak-anak seusianya. Dia berbeda, sangat-sangat berbeda. Ketimbang mirip Leo, Yeon lebih cenderung mirip dengan Refald. Pamannya itu jarang sekali menemuinya, dan Yeon berpikir, jika ia sering buat onar dan dalam keadaan bahaya besar, maka Refald akan datang untuk menolongnya. Itulah alasan utama kenapa putra sulung Leo suka cari masalah.


"Buahahahaha ... tahu apa kau soal persoalan orang dewasa, ha? Bocah bau kencur yang masih ingusan sepertimu sebaiknya memikirkan tentang bermain petak umpet saja. Untuk apa kau menerorku dengan membuat onar disekolah dan menambah bebanku? Kau sengaja? Kau kan yang mengirim bangkai ayam di lokerku?" gertak guru BK tersebut.


"Itu karena kau berani menatap ibuku dengan tatapan menjijiikkan. Kau pikir kau itu siapa? Berani melihat wajah cantik ibuku?" Yeon mulai mengeluarkan amarahnya. "Aku akan selalu buat onar di sekolah sampai kau tak berani menatap wajah ibuku lagi. Ini peringatan terakhir. Jika tidak, aku mungkin akan melakukan hal yang biasa dilakukan orang dewasa. Jangan pikir aku tidak bisa meskipun aku masih anak-anak." Yeon menatap serius wajah gurunya dan berlalu pergi meninggalkannya begitu saja. Wajah guru BK itu terpana dan tidak menyangka kalau Yeon bisa seberani itu padanya bahkan mengancamnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2