
Meskipun Shena sudah tahu kejadian kronologi sebenarnya tentang apa yang dilakukan suaminya diluar sana, Shena masih belum sepenuhnya bisa menerima rasa sakit hati yang dialami Shena walaupun insiden lipstik menempel di kerah baju suaminya bukanlah salah Leo sepenuhnya.
Mungkin ada kalanya, Shena ingin sejenak memisahkan diri dari belenggu cinta Leo sementara dan menikmati menjadi dirinya sendiri. Setidaknya, meskipun mereka berdua saling mencintai, cinta itu tetap tumbuh dan tak berkarat.
Sebab, entah kenapa, Shena mukai lelah dan merasa penat dengan semua hal yang terjadi diantara dirinya dengan Leo. Ia ingin sesekali sendiri dulu, untuk kembali memupuk cintanya agar nantinya hubungannya dengan Leo tak pupus di tengah jalan. Ada satu hal yang wajib dirasakan oleh pasangan sejoli yang saling mencintai, yaitu rasa 'rindu'. Shena ingin merasakan perasaan itu, tapi karena ia dan Leo tak pernah terpisahkan, Shena jarang merasakan satu rasa itu sehingga ia agak sedikit penat juga dengan kesehariannya selana ini. Karena itu, Shena sudah membuat keputusan tentang apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Ibu ... boleh aku meminta sesuatu?" tanya Shena pada ibu mertuanya yang kini tidur disebelah Shena.
Malam ini, Shena benar-benar tak ingin tidur dengan suaminya dan mengusir Leo supaya suaminya itu tidur dikamar lain. Kasihan sekali Leo, ia terpaksa tak dapat jatah malam ini lantaran Shena masih belum memaafkan dirinya sepenuhnya. Salah sendiri, siapa suruh tidak jujur dengan istri.
"Katakan, Sayang. Apa yang kau inginkan?" ujar Biyanca dengan lembut. Baru kali ini Shena meminta sesuatu darinya selama ia menjadi menantu dikeluarga Pyordova.
"Aku ... ingin pulang," ujar Shena dengan suara sedih yang menyentuh hati. Dan ucapan Shena ini membuat Biyanca bangun dari tidurnya.
"Pulang kemana? Ini kan rumahmu?" ujar Bii lagi. Ia menatap sendu wajah sedih Shena.
"Maksudku, pulang ke desa tempat asalku, Ibu."
"Apa Leo telah menyakitimu sedalam itu? Apa kau ingin aku memberi pelajaran padanya supaya tahu bagaimana cara menjaga perasaan istrinya?" Biyanca agak sedikit emosi. Meski Shena tidak memberitahu apa yang terjadi sebenarnya, ia sedikit mengerti perasaan Shena melihat menantunya ini sampai pingsan. Ia Djuga sudah mendapat laporan dari orang kepercayaan tentang apa yang sudah dilakukan Leo diluar sana.
"Tidak, Ibu. Aku dan Leo baik-baik saja sekarang, meskipun aku sempat marah padanya. Hanya saja, untuk saat ini aku ingin sendiri ... aku ingin pulang kerumah almarhum kedua orangtuaku."
"Kau tak bisa pulang sendiri Shena, seseorang harus ada yang menemanimu. Aku akan minta Leo untuk ikut denganmu pulang."
__ADS_1
"Justru aku tidak ingin ... Leo tahu, Ibu. Aku mohon, sementara ini aku hanya ingin sendiri."
"Tapi, kau sedang hamil, bagaimana bisa kau kubiarkan di sana sendirian? Aku akan ikut denganmu, dan membawa beberapa pengawal dan pelayan kita!"
"Tidak, Ibu. Aku rasa ... itu bukan ide yang bagus. Ibu tak bisa meninggalkan ayah."
"Aku akan paksa dia untuk ikut denganku juga kesana. Biarkan saja si cecunguk itu sendirian disini untuk merenungi kesalahannya."
"Ibu ... maafkan aku ... aku rasa Ibu tidak bisa ikut denganku."
"Kenapa?" tanya Biyanca bingung.
"Masalahnya, aku sudah meminta bibi Egha untuk tinggal dirumah almarhum kedua orangtuaku selama aku tidak ada. Apa ... ibu yakin ... masih mau ikut denganku?" tanya Shena dan Biyancapun baru sadar.
Ia terdiam dan mulai memikirkan banyak hal. Ada hal yang membuat Biyanca sampai detik ini tak pernah lagi datang ke desa tempat Shena tinggal sekarang. Salah satunya adalah keberadaan Egha. Meskipun masa lalu mereka telah lama berlalu, tetap saja ada rasa canggung yang begitu besar jika Samapi Biyanca bertemu dengan bibi Shena ini.
Tak ada lagi yang bisa dikatakan Biyanca mengenai keputusan yang sudah Shena ambil. Sebagai sesama wanita, Biyanca mengerti bagaimana perasaan Shena. Iapun juga tak bisa mencegah keinginan Shena untuk pulang kampung dan menenangkan gejolak cinta dihatinya. Mungkin ini yang bisa dilakukan Shena agar terus bisa bertahan di sisi Leo selamanya.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Biyanca.
"Sekarang, aku ingin berangkat sekarang, Ibu."
"Tapi ini sudah hampir pagi. Kau juga butuh istirahat, besok pagi saja kau berangkat dan aku akan meminta beberapa pengawal serta pelayanan untuk menemani dan menjagamu. Apa kau juga membawa Yeon?"
__ADS_1
"Tentu, Ibu. Yeon masih membutuhkanku. Aku janji tidak akan lama. Aku pasti kembali."
Lagi-lagi Biyanca hanya bisa menghela napas panjang. Meski berat hati, mau tidak mau, Biyanca harus menyetujui keputusan Shena. Malam ini juga ia membangu menyiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan Shena selama ia berada di kampung halamannya. Ia juga meminta beberapa pengawal dan orang kepercayaan Biyanca untuk menjaga dan melindungi Shena selama 24 jam penuh dan melaporkan apa saja yan terjadi di sana setiap 3 jam sekali. Tentu saja, yang dilakukan Biyanca ini tanpa sepengetahuan suami dan putranya sebab inilah permintaan Shena.
Setelah 2 jam berkutit dengan segala hal untuk persiapan keberangkatan Shena, akhirnya Shena dan putranya Yeon sudah siap untuk berangkat. Biyanca mengantar Shena hingga sampai samping mobil Limosin yang akan dinaiki Shena. Yeon masih tertidur lelap di gendongan bibi pengasuhnya.
"Hati-hati di jalan, Sayang. Aku pasti akan merindukanmu dan juga cucuku." Tanpa sadar Biyanca menangis. Ia mencium lembut kening cucunya yang terlelap.
Melihat hal itu, hati Shena sempat goyah. Entah keputusan yang ia ambil ini tepat atau tidak, sebab Shena terkesan seolah sedang melarikan diri dari Leo. Namun, ia harus menguatkan hati karena ada hal yang harus ia lakukan setelah ini.
"Maafkan aku, Ibu. Bukan maksudku memisahkan Yeon dari Ibu. Aku janji, secepatnya aku akan kembali." Shenapun jadi ikut menangis.
"Aku mengerti perasaanmu. Akupun juga mengalami hal ini beberapa waktu lalu, kau ingat? Jangan khawatirkan aku. Tenangkan dirimu dulu. Kau memang butuh waktu untuk sendiri tanpa harus selalu diikuti bayang-bayang Leo."
Shena langsung memeluk Biyanca dengan erat. Ia sangat beruntung memiliki ibu mertua yang pengertian seperti Biyanca. Kebanyakan mertua pasti menyalahkan menantunya bila ada masalah rumah tangga yang terjadi pada anak-anak mereka. Namun, Biyanca berbeda. Alih-alih membela Leo selaku putra kandungnya, istri Byon itu malah lebih memihak dan mendukung menantunya. Hal inilah yang membuat Shena tak bisa meninggalkan mertuanya. Ia tak hanya mendapatkan suami yang tajir melintir, tapi juga mertua yang sangat menyayanginya melebihi putranya sendiri.
"Aku berangkat Ibu," pamit Shena.
"Ehm, sering-seringlah meneleponku." Biyanca menepuk bahu Shena dan membukakan pintu mobil untuk menantunya. "Aku akan selalu menunggu kepulanganmu. Jangan lama-lama disana dan jaga dirimu baik-baik."
Shena hanya mengangguk sambil tersenyum. Tangis Biyanca langsung pecah begitu mobil yang dinaiki menantu dan cucunya pergi meninggalkan istana ini.
"Dasar wanita jaaalang! Kaulah penyebab kekacauan ini. Lihat saja! Besok adalah hari terakhirmu menghembuskan napas. Beraninya kau mengusik rumah tangga putraku dan membuat menantuku pergi dari rumah ini. Awas kau! Tunggu pembalasanku!" geram Biyanca sambil mengepalkan kedua tangannya. Iapun masuk ke dalam rumah dan langsung mengadakan rapat dadakan dengan anak buah kepercayaannya ditempat yang sunyi dan sepi untuk merencanakan sesuatu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***