
Pandangan mata Fey langsung tertuju pada suaminya. Sejak awal, Refald memang sudah memberitahunya perihal sesuatu yang bakal terjadi pada saudara iparnya. Kendati demikian, kali ini mereka berdua hanya bisa membantu seperlunya saja. Selebihnya, takdirlah yang akan menentukan semuanya. Namun jika dilihat dari ekspresi Refald, sesuatu belum diketahui itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.
“Haruskah semua ini terjadi, Refald?” Fey terlihat cemas. Ioa memadang Leo yang terus saja membujuk Shena supaya Shena bersedia punya anak lagi.
“Tenanglah, Honey. Ini bukan pertama kali Leo dan Shena mengalami takdir seperti ini. Bedanya … dulu karena ulahku, tapi sekarang, ini adalah takdir yang harus mereka jalani sebagai ujian cinta mereka berdua. Sampai sejauh mana kekuatan cinta mereka bisa bertahan. Kau tahu seperti apa Leo dan Shena kan? Jika mereka bisa melalui ini semua, mereka akan hidup bahagia selamanya. Ini adalah ujian cinta terakhir mereka. Semuanya, pasti bakal indah pada waktunya.”
Fey terdiam, bila suaminya sudah berkata seperti itu berarti memang tak ada yang perlu dicemaskan. Yang namanya cinta, pasti selalu saja ada rintangannya. Hal itu pula juga sudah dirasakan Fey dan Refald sejak pertama kali mereka dipertemukan. Perpisahan dan pertemuan sudah berkali-kali mereka alami bersama.
Begitupun dengan kisah cinta Leo dan Shena. Sejauh ini, tak peduli betapa sulitnya badai masalah yang menyerang, keduamya selalu bisa menyelesaikannya dengan baik. Fey hanya bisa berharap, kali ini … baik Leo ataupun Shena juga melakukan hal sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Honey … kau tahu tempat apa ini?” tanya Refald pada istrinya dan mengesampingkan urusan rumah tangga Shena dan Leo.
“Ini kuil suci. Di depan sana … ada pohon suci. Dulu, aku dan kakakku Sakura, sering datang ke tempat ini. Dan tempat itu ….”
“Dipenuhi aura mistis,” sahut Refald cepat dan Fey langsung tercengang menatap wajah serius suaminya. “Sakura dan Sauran pernah tersedot masuk ke dalam pohon suci itu, tepat di malam festival seperti malam ini.” nada suara Refald terdengar datar dan ekpresinya sangatlah tenang.
“Bagaimana bisa kau tahu, itu terjadi saat keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar seperti putra-putra kita. Dan itu sudah sangat lama sekali.” Fey terkejut Refald mengetahui insiden mistis yang pernah terjadi diantara kakaknya dan kakak iparnya. Dari situlah awal mula kisah Sakura dan Sauran mulai bersemi.
__ADS_1
“Kau mungkin lupa Honey. Aku … dulu juga pernah tinggal di sini untuk beberapa waktu sebelum kita berdua dijodohkan. Aku melihatnya, aku juga melihatmu. Tapi aku tak punya kekuatan apapun saat itu, jadi aku hanya diam dan berdiri saja tanpa bisa melakukan apa-apa,” terang Refald.
“Apakah insiden itu akan terulang lagi?” tanya Fey mulai panik.
“Tidak, apa yang terjadi dengan Leo dan Shena sama sekali tak ada hubungannya dengan pohon suci itu ataupun kejadian mistis yang pernah menimpa Sakura dan Sauran.”
“Terus?” alis Fey mulai berkerut, ia jadi bingung sendiri. Sebenarnya, kemana arah pembicaraan Refald kali ini.
“Apanya yang terus, aku hanya mengingatkanmu saja kejadian waktu itu.” Refald tertawa puas menikmati wajah tegang Fey yang ternyata sengaja Refald lakukan.
“Apa maksudmu, ha? Kau mengerjaiku?” tanya Fey.
Fey memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya karena kesal. Napasnya naik turun saking emosinya. Refald dan Leo ternyata sama-sama gila. Pantas mereka bisa bersaudara karena kelakuan mereka nggak ada bedanya.
“Dasar kau ini! Bikin jantungku copot saja!” Fey mulai memukuli bahu suaminya untuk melampiaskan amarahnya, “Aku pikir akan ada insiden mistis lagi di sini, aku sudah berpikiran yang bukan-bukan tentang Leo dan Shena. Tapi dengan entengnya kau bilang kalau pembicaraan kita tadi hanya untuk mengingatkanku pada kejadian itu? tidakkah kau tahu kalau aku trauma? Kakakku tiba-tiba menghilang bersama Sauran tepat di depan mataku meskipun pada akhirnya mereka bisa kembali. Tapi tetap saja … aku tak bisa melupakan kejadian mengerikan itu!” pekik Fey menahan geram.
“Aku tahu, tapi hentikan seranganmu, Honey!” pinta Refald agar Fey berhenti memukulinya. “Orang akan mengira aku tak memberimu jatah jika kau terus menyerangku seperti ini!”
__ADS_1
“Aku tidak peduli, kau memang pantas mendapatkan ini! Aku yakin kau bisa mendengar detak jantungku! Aku sudah khawatir setengah mati tadi, takut kalau Leo dan Shena bakal mengalami hal sama seperti yang dialami kakakku! Apa yang terjadi pada mereka masih meninggalkan trauma dihatiku dan kau mencoba mengungkitnya? Akan kucekik kau!” Fey semakin gemas dengan Refald.
Refald menghindari serangan istrinya yang sedang kalap dengan berlari kecil tanpa peduli pada semua tatapan aneh orang-orang disekitarnya. Kini tak hanya Leo dan Shena yang sedang kejar-kejaran, tapi Refald dan Fey juga. Jika Leo mengejar Shena supaya istrinya itu mau menuruti keinginannya, maka lain halnya dengan Refald yang dikejar Fey karena ulah jahilnya.
Pemandangan sok sweet itu sedang diamati oleh beberapa pasang mata anak kecil sambil menepuk jidat mereka. Diseberang jembatan tempat anak-anak itu berdiri, Leo dan Shena masih saja kejar-kejaran seperti Tom and Jerry. Leo berusaha keras supaya Shena mau diajak program anak lagi, tapi sang istri tetap kukuh tidak mau. Shena terus saja menghindar dan tidak mau dekat-dekat dengan Leo. Disisi lain, Refald terus saja menghindari serangan istrinya. Sungguh, keempat orang dewasa itu terlihat seperti anak kecil mengalakan anak-anak kecil sungguhan.
Rey, Bima, dan Yeon hanya diam berdiri di tengah-tengah suasana aneh yang menyelimuti para orangtua mereka. Mata mereka terus melihat Refald-Fey dan Leo-Shena secara bergantian di tempat yang berbeda.
“Kenapa kita bisa punya orangtua seperti mereka?” tanya Bima memulai pembicaraan.
“Entahlah, aku juga tidak mengerti … sebenarnya, yang jadi anak-anak di sini itu siapa? Mereka atau kita?” jawab Yeon singkat.
“Inilah yang dinamakan takdir!” Rey menambahkan. Matanya kemudian tak sengaja tertuju pada sosok yang mengundang perhatiannya.
Jauh diseberang sana, Lea sedang didekati oleh seorang anak laki-laki asing tak dikenal. Gadis kecil itu agak risih dan mencoba menghindari laki-laki itu, tapi dia terus saja mengganggu Lea. Rey menyenggol kedua lengan Yeon dan Bima lalu mengajak mereka berdua pergi ke tempat Lea berada saat ini. Tentu saja, Rey takkan membiarkan siapapun mencoba mengganggu ataupun mengusik Lea.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***