Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 174 Duo Batman


__ADS_3

Mau tidak mau Leo harus memakai topeng yang diberikan Refald padanya. Tak hanya Leo saja, Refald juga memakai topeng sama seperti yang dipakai Leo. Entah kenapa dua kakak beradik ini terlihat lebih keren saat memakai topeng Batman ketimbang Batman aslinya. Hanya saja mereka memakai pakaian ala gaya stylish mereka masing-masing tanpa perlu menggunakan jubah hitam ala Batman sungguhan.


Keduanya segera melesat pergi ke suatu tempat seperti yang direncanakan Refald selanjutnya dengan menggunakan Lamborghini hitam milik Refald. Sepertinya, suami Fey ini ingin berlagak mejadi batman masa kini yang lebih modern melebihi film Batman aslinya. Sedangkan Leo sih cuek bebek aja, karena ia tak begitu tertarik dengan penampilan. Ia hanya ingin menghabisi semua orang yang sudah berani melenyapkan anak buah kepercayaannya sehingga membuat Leo tak bisa menghabiskan waktu dengan Shena.


Maafkan aku, Sayang. Aku harus pergi tanpa memberitahumu terlebih dulu, batin Leo. Refald hanya tersenyum simpul mendengar pikiran adiknya.


"Kenapa kau tersenyum? Memangnya ada yang lucu, apa?" tanya Leo.


Refald tidak menjawab dan lebih memilih fokus pada jalan. Sebab saat ini, mereka sudah memasuk area jalan tol. Sesampainya di gerbang tol Refald mengatakan sesatu kepada petugas gerbang dan melakukan apa yang Refald perintahkan. Setelah itu, ia kembali melesat masuk dengan kecepatan maksimum dan berhenti mendadak dalam posisi malang melintangi jalan.


"Sekarang, apa yang bakal kita lakukan?" tanya Leo setelah Refald mengajaknya berdiri disamping mobil Lamborghini hitamnya tepat di tengah jalan tol yang bakal dilewati oleh truk incaran Refald.


"Menggagalkan rencana mereka dan menangkap orang-orang yang terlibat. Badan intelijen Amerika sudah tiba dan sedang dalam perjalanan kemari.


"Apa paman yang memimpin?"


"Ehm, karena itulah ayah memintaku menghentikan mereka." Refald menatap lurus jalan yang ada didepannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Baik Leo ataupun Refald, sama-sama bersandar di badan mobil dengan coolnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tak jadi anggota SWAT saja? Dengan kekuatan yang kau punya, dunia bakal aman tanpa kriminal." Mata Leo memandang lurus ke depan seolah sedang menanti sesuatu.


Bukan menanti sebuah jawaban, melainkan menanti sebuah truk berisikan manusia yang mereka yakini didalamnya ada beberapa anggota polisi hilang beserta anak buah Leo. Entah mereka semua masih hidup atau sudah mati, Leo sungguh tidak tahu dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang ada.


"Itu bukan takdirku, Leo. Aku bukan superhero seperti yang ada di film-film. Lagipula, hidupku hanya untuk menghabiskan waktu bersama Fey seorang. Aku mau melakukan ini, karena ayahku yang meminta. Itupun hanya karena ada penjahat kelas kakap yang tak bisa ditangkap olehnya dengan mudah. Baru ayah meminta bantuanku, dan aku ... tak bisa menggunakan kekuatanku sembarangan lagi. Aku harus berhati-hati."


"Kau kan raja ... kau tak terikat dengan aturan apapun. Berbeda kau yang dulu, saat masih menjadi pangeran."


"Memang benar, tapi aku tak bisa menyalahgunakan kekuatanku ...." Refald tak melanjutkan kalimatnya. Badannya langsung berdiri tegak ketika melihat yang mereka tunggu tunggu akhirnya tiba juga. "Mereka datang, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Leo."


Leo mengambil pistol gold hitam kesayangannya dan mulai bersiap-siap. "Tentu, aku hanya perlu membawa truk itu ke tempat yang seharusnya." Mata elang Leo menatap truk yang semakin lama, semakin mendekat kearahnya.


"Sial! Siapa mereka? Kenapa menghalangi jalan?" umpat sopir truk itu pada rekannya. Ia menekan klakson kuat-kuat supaya Leo dan Refald menyingkir ke tepi. Namun bukan Refald dan Leo namanya kalau gentar hanya dengan mendengar bunyi klakson itu.


Dengan posisi tegap Leo mengangkat satu tangannya yang sedang memegang pistol dan siap menembak. Sementara Refald, masih santai sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Keduanya terlihat sama keren. "Dasar gila! Mereka tak mau menyingkir, juga!" Geram sopir truk itu.


"Tabrak saja, tidak ada siapapun di sini. Kita harus lekas sampai tepat waktu sebelum polisi itu tiba!" seru rekannya sambil celingak-celinguk ke segala arah apakah ada orang lain selain mereka.

__ADS_1


Sementara Leo dan Refald tetap standby berdiri ditempatnya menunggu kesempatan untuk menyerang diwaktu yang tepat. Dua kakak beradik ini kalau sedang beraksi terlihat kompak dan jarang bertengkar. Masa-masa ini, kembali mengingatkan Leo, saat mereka melawan penjahat Kenzo waktu itu. Bedanya, kali ini mereka bakal lebih brutal dari yang dulu.


"Sepertinya, mereka berniat mau menabrak kita." Leo tersenyum sinis.


"Hati-hati. Mereka berbahaya, kau ambil alih saja kemudinya. Begitu semuanya beres, aku akan menyusulmu! Jangan bertindak gegabah sebelum aku datang!" Refald memperingatkan.


Yang namanya Leo, tentu saja tak mengindahkan peringatan Refald. Ia mulai beraksi menembaki kaca depan mobil truk yang ada dihadapannya dengan brutal. Dengan keahlian Leo, ia tak takut kehabisan peluru karena tangannya sangat terampil saat mengisi ulang pelurunya dengan gerakan super duper cepat. Peluru-peluru Leo, tepat mengenai sasaran dan menembus kepala sopir truk hingga ia tewas seketika.


Kerena sang pengemudi truk meninggal ditempat, maka laju truk itu jadi tak terkendali bergerak kesana kemari tak tentu arah. Refald yang mengetahui hal itu, langsung bergerak cepat menuju truk yang oleng dan menghentikan laju kendaraan besar tersebut dengan menggunakan kekuatannya. Benda besar seberat ribuan ton itupun berhenti seketika.


"Leo! Sekarang!" teriak Refald dan Leo langsung berlari mendekati truk lalu naik ke bangku kemudi setelah ia melempar jasad pengemudi yang sempat ia tembak tadi seperti melempar tong sampah saja. Sedangkan rekan sopir yang masih sadar, langsung ditendang keluar oleh Leo tanpa ampun. Orang itupun jatuh terkapar tepat di bawah truk.


Sesuai rencana, Leo mengambil alih kemudi dan melajukan truk tersebut ke markas tersembunyi para kumpulan penjahat kelas kakap. Sedangkan rekan pengemudi yang tewas tadi berhasil dilumpuhkan oleh Refald bersamaan dengan datangnya bala bantuan yang terdiri dari kumpulan anggota SWAT.


Refald menyerahkan orang yang sempat ditendang oleh Leo kepada anak buah ayahnya untuk ditindak lanjuti sementara ia sendiri berlari cepat menyusul Leo. Dengan cepat, Refald meraih gagang pintu lalu membukanya dan melompat masuk ke dalam duduk di samping Leo. Kini, merekalah yang mengambil alih membawa truk itu kerumah sakit terdekat untuk menyelamatkan orang-orang yang masih bisa diselamatkan. Dibelakang mereka sudah ada mobil polisi yang berisikan anggota SWAT lainnya siap mengawal Leo dan Refald.


"Setelah membawa korban ke rumah sakit, kita harus ke markas mereka. Aku sudah tahu dimana lokasinya. Kali ini kita, akan mendapat ikan kakap besar," seru Refald tapi Leo hanya diam dan fokus menyetir.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2