
Leo mengajak Shena masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang menggunakan sidik jari dan kornea mata Leo untuk membuka ruang tersebut. Meski ini bukan pertama kalinya Shena melihat kecanggihan ini, tetap saja ia takjub dengan sistem keamanannya yang terbilang ketat. Tidak semua orang punya keamanan tingkat tinggi seperti ini sehingga tak seorangpun bisa datang kemari sembarangan.
Selain anak sultan, Leo juga cerdik dan selalu selangkah lebih maju dibandingkan musuh-musuhnya. Bahkan diusianya sekarang, ia bisa membangun markas yang pastinya tak bisa ditembus oleh siapapun kecuali orang-orang kepercayaannya. Kadang Shena berpikir, sebenarnya siapa Leo? Tak mungkin kalau suaminya ini hanya seorang gengster nggak ada akhlak biasa. Ia jauh lebih pantas disebut sebagai gembong mafia dibandingkan gengster. Sebab ia punya segala hal lebih dari ayahnya, sang mantan mafia.
Kedatangan Leo bersama Shena, langsung disambut gembira oleh beberapa orang yang bekerja untuk Leo. Orang-orang itu juga bukanlah orang-orang sembarangan, mereka semua adalah orang yang memiliki keahlian khusus terutama dalam bidang IT yang canggih dan modern sehingga mereka semua bisa menciptakan robot buatan menyerupai suami Shena.
"Selamat datang, tuan muda Leo. Senang bisa bertemu anda lagi setelah pertemuan terakhir kita 7 bulan yang lalu," ujar seseorang berjas hitam elegan sambil mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu dengan anda juga, Mr. Jack." Leo menerima uluran tangan orang itu. Keduanya berjabat tangan dan saling melempar senyum.
"Dia ... " Mr. Jack menatap Shena yang juga ikutan tersenyum.
"Ah, perkenalkan ini istri saya. Shena Narendra Bonscha." Leo beralih menatap istrinya. "Sayang, dialah founder di proyek ini. Mr. Jack adalah salah satu dosen pembimbing kak Xiaonai di universitas Beijing, China. Beliau juga teman akrab pamanku." Leo memperkenalkan orang yang sangat penting itu pada Shena.
"Suatu kehormatan bagi saya karena bisa bertemu dengan guru idola saya, Mr. Jack." Shena membungkukkan badannya ala khas orang China sebagai tanda hormat.
Mr. Jack memandang ke arah Leo karena ia bingung dengan arti ucapan Shena.
"Maksud istriku, dia salah satu fans murid anda Mister. Kakak sepupuku yang dulu populer dikampusnya. Saya harap anda tidak lupa. Dia adalah Xiaonai." Leo membantu menjelaskan.
"Ah, begitu rupanya. Senang juga bertemu dengan anda Nyonya Leo. Saya tidak menyangka anda adalah salah satu penggemarnya Xiaonai. Kalau begitu, mari ikut saya ... kebetulan, kami sudah menyelesaikan robot ciptaan kami yang sangat mirip dengan tuan muda Leo." Tanpa basa basi lagi, Mr. Jack membawa Leo dan Shena masuk ke sebuah ruang khusus untuk memperlihatkan pada Shena robot yang mirip dengan suaminya.
Istri Leo itu benar-benar terpukau melihat robot yang memang benar-benar mirip dengan Leo. Tak hanya wajahnya yang sama, robot tersebut juga bisa bicara seperti halnya Leo. Bahkan suaranya sama persis. Dan yang lebih menakjubkan lagi, saat Leo dan robot itu berjajar, keduanya bagai pinang di belah dua. Sangat mirip sekali. Jika orang luar melihat ini, pasti tidak bisa membedakan manakah robot dan manakah Leo yang asli.
__ADS_1
"Robot ini ...."
"Sama persis dengan boneka tiruan yang ada dirumah sakit, dan sekarang boneka tersebut sedang pura-pura diotopsi," sahut Leo sambil tersenyum seakan tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya.
"Wuah, Daebak! Kau seperti punya saudara kembar Sayang," ujar Shena takjub.
Leo yang mengamati robot itu, hanya manggut-manggut. "Ehm, kau benar. Meskipun aku sudah punya kembaran manusia sungguhan. Robot ini juga sangat mirip denganku," gumam Leo sambil terus menatap robot kembarannya.
Saat Shena asyik memerhatikan robot kembaran suaminya. Leo dan beberapa orang mulai membicarakan apa yang akan mereka lakukan nanti malam, yaitu mengeksekusi orang-orang yang telah berani berbuat keji pada Leo dan seluruh keluarganya dengan melakukan percobaan pembunuhan.
Orang-orang ini, adalah orang yang kebal dengan hukum. Mereka bisa membeli hukum dengan kekuasaan dan uang yang mereka punya. Oleh sebab itu, Leo ingin menghukum orang-orang itu dengan caranya sendiri. Tak hanya menggunakan cara mafia, tapi dengan cara yang eksotis dan elegan dimana orang-orang jahat itu, akan lebih memilih mati daripada hidup.
"Kita lakukan begitu Roy tiba bersama istrinya. Suruh orang-orangku bersiap siaga ditempatnya. Anda semua juga harus bersiap-siap. Pakailah pakaian termahal edisi terbaru. Tunjukkan pesona paripurna kalian, sebab kita akan menghadiri pesta yang mewah dan juga wah. Tak ada yang boleh tahu siapa kita yang sebenarnya." Leo berdiri menghadap kaca jendela ruangannya sambil memerhatikan gerak gerik Shena. Istrinya itu sangat mengagumi robot yang mirip dengannya.
"Apakah, Nyonya Shena juga ikut, Tuan muda?" tanya salah satu rekannya.
"Tapi, bagaimana bisa anda meninggalkan istri anda sendirian disini?" tanya orang itu lagi.
"Siapa bilang dia sendiri, Laura sebentar lagi sampai. Lagipula, robot yang mirip denganku juga akan menemaninya. Jangan khawatirkan apapun. Sebaiknya, kita cepat bersiap-siap," ujar Leo tenang. Namun, matanya tak pernah berhenti menatap Shena.
"Siap tuan muda," ujar para pria-pria itu. Mereka semua pergi ke tempat seharusnya mereka berada dan melakukan apa yang sudah menjadi tugas mereka.
***
__ADS_1
Ditempat lain, Roy masuk ke dalam ruangan gelap dimana hanya ada jendela kecil seukuran kepalan tangan orang dewasa yang berfungsi sebagai ventilasi udara. Dilihat dari ruangannya yang gelap dan lembab, sudah bisa dipastikan kalau tempat ini adalah ruang bawah tanah. Hanya ada cahaya yang berasal dari luar menyinari ruangan ini. Selebihnya tak ada apapun selain kegelapan.
Dengan langkah tegap, Roy berjalan santai ke tempat beberapa orang yang sedang berdiri mengelilingi sekelompok orang dimana orang-orang itu telah diikat disebuah tiang beton. Mereka semua babak belur habis dihajar masal oleh sekelompok orang yang berdiri mengelilinginya. Roy berhenti berjalan dan menatap semua wajah-wajah mengenaskan tersebut.
"Apa sudah semua?" tanya Roy. Ia menatap tajam orang-orang yang diikat satu persatu.
"Satu orang berhasil lolos tapi sudah dilumpuhkan oleh tuan muda Leo dilokasi. Sebentar lagi orang itu akan dibawa kemari," terang salah satu orang yang ada didekat Roy.
"Bakar mereka semua setelah orang yang kau maksud itu tiba. Jangan sampai meninggalkan jejak apapun. Setelah itu, bersiaplah bergabung dengan tim Leo. Kita harus tiba disana sebelum matahari terbenam. Aku akan pergi dulu. Kita bertemu lagi disana." Usai berkata seperti itu, Roy pergi meninggalkan ruang bawah tanah tersebut.
Sebagai sahabat dekat Leo, jelas Roy tak terima jika ada orang yang berusaha menyakiti temannya apalagi sampai merencanakan pembunuhan segala. Siapapun orang itu, Roy pasti akan menghabisinya tanpa ampun, termasuk apa yang sudah ia lakukan sekarang.
Sedangkan di ruang VIP, Laura masih menangis saat Roy kembali keruangannya. Tak ada yang bisa dilakukan Roy selain menenangkan istrinya yang masih berduka. Roy juga sudah meminta asistennya untuk berkemas dan meninggalkan rumah sakit ini setelah ia membereskan semua orang yang diperintahkan untuk memata-matainya. Kini Roy bisa bebas pergi kemanapun tanpa takut dibuntuti lagi. Sebab, orang-orang itu sebentar lagi akan pergi kealam baka bersama-sama.
"Ayo kita pergi Sayang," ajak Roy.
"Kemana?"
"Menemui seseorang. Ayo, kita tidak punya waktu. Akan aku jelaskan dijalan." Roy membimbing istrinya keluar dari ruangan dan keluar dari rumah sakit melalui pintu belakang sehingga para wartawan tidak menyadarinya.
Meskipun Laura sangat bingung dengan tindakan Roy, iapun menuruti ajakan suaminya pergi ke tempat yang tak lain adalah tempat Leo dan Shena berada. Roy dan Leo berencana menyembunyikan istri dan anak-anak mereka di markas yang sengaja mereka buat agar terhindar dari segala ancaman bahaya selagi duo somplak itu sibuk mengeksekusi para penjahat yang meresahkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***
Video visualnya bisa cek di igku ya ..yang untuk robot nya Leo, heheh . .