Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 181 Robin Hoodnya Indonesia


__ADS_3

Apa yang dilakukan Leo sungguh membuat kesal pemilik kedai itu. Susah payah ia memacok batok kelapa muda dan memberikannya pada Leo tapi si gengster itu malah tak ingin meminumnya. Bahkan dirinya sendiri yang disuruh minum. Leo benar-benar orang yang menyebalkan.


"Anda sudah memesan kelapa muda ini, Den. Masa saya sendiri yang minum?" protes pemilik kedai itu.


"Aku bayar!" Sengal Leo kasar. "Nih!" Leo mengeluarkan segepok uang dan melemparkannya pada pria lebih tua dikit darinya ini.


Uang pecahan 100 ribuan itu berhamburan kemana-mana dan tentu saja tak ada yang berani memungutnya. Bahkan para preman itu hanya diam membisu tanpa beranjak dari posisinya meski mereka tergiur dengan uang yang berserakan dihadapan mereka.


"Apa maksudnya ini, Tuan? Anda kasar sekali dan tidak bermoral," ujar pemilik kedai itu.


"Kasar, tidak bermoral? Tidakkah kau tahu apa julukanku? 'Gengster nggak ada akhlak'! Sangat tidak lucu bila aku bersikap sopan pada bos gembong sindikat perdagangan manusia yang paling dicari-cari kepolisian dunia. Mister Abraham Lonpey!" Leo menatap tajam mata pemilik kedai yang ternyata adalah pemimpin sindikat yang dicari-cari banyak orang.


Pantas saja para badan intelijen dunia kesulitan melacak dimana keberadaan pemimpin paling berbahaya ini. Ternyata, ia menyamar sebagai pemilik kedai sederhana yang dikenal ramah dan polos. Siapa yang mengira, orang baik ini, ternyata adalah dalang di balik semua tindak kriminal yang terjadi di kampung halaman Shena. Orang tidak akan pernah curiga dengan penampilannya yang bersahaja. Tapi di balik itu semua ada setan yang bersemayam dibalik kesederhanaan itu.


Mata pemilik kedai itu balas menatap Leo seolah menyangkal apa yang dikatakan Leo barusan dan pura-pura terkejut. Sedangkan para preman yang ada dipojokan jangan ditanya, mulut mereka sudah menganga lebar tak percaya bahwa orang yang sempat mereka tindas adalah pemimpin mereka.


"Pantas saja kita diperintahkan untuk tidak menyakiti pemilik kedai, kita hanya diperbolehkan buat onar saja di tempat ini, ternyata ...." ujar salah satu preman tak sanggup meneruskan kalimatnya dan iapun langsung mendapat lirikan tajam dari pria yang Leo sebut sebagai 'Abraham Lonpey', sang pemimpin sindikat mafia.


Lirikan tajam pria yang tadinya kalem dan baik hati itu sukses membuat gemetar preman yang berdiri dibelakangnya. Tanpa sadar, ia mundur dan bersembunyi di balik punggung salah satu rekannya.


"Ada dua Sitaramaraju di sana! Hii ... takut!" gumamnya sambil bergidik ngeri.

__ADS_1


"Disaat begini kau masih menunjukkan gila Bollywood mu! Jika pria bodoh itu adalah pemimpin kita yang sebenarnya, maka habislah kita semua. Kemarin kau sempat meludahi mukanya dan kini kau pasti bakal dijadikan sup daging panggang olehnya." Rekan preman itu malah memprovokasi.


"Kalau begitu, gawat! Bagaimana kalau kita kabur sekarang?" usul preman itu.


"Begitu kau melangkahkan kaki dari sini, maka timah panas dari pasukan pemuda tampan itu akan menembus kepadamu!"


"Lalu kita harus bagaimana?" Preman itu sudah mulai panik. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Tubuhnya juga gemetar.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu giliran," ujar teman preman itu pasrah.


"Giliran apaan?"


"Giliran, kapan pemakaman kematian kita." Mata kedua preman itu saling pandang.


Sementara si Abraham, mati-matian ia mencoba menyangkal semua pernyataan yang Leo tuduhkan padanya. "Anda jangan menuduh orang sembarangan, Tuan. Saya hanya orang desa biasa. Bagaimana mungkin saya menjadi pemimpin para preman-preman kampung ini?" sangkal pria pemilik kedai.


"Itu karena mereka tidak tahu, kalau kaulah majikan mereka yang sesungguhnya. Seandainya mereka tahu, tak mungkin mereka berani bikin onar di tempat ini. Huh, aku akui, idemu menyamar di kedai ini benar-benar brillian. Tempat ini sangat cocok untuk menyembunyikan pundi-pundi kekayaanmu." Leo mendekat ke arah pemilik kedai alias bos sindikat sebenarnya yang bernama Abraham untuk sedikit memberikan penekanan bahwa kedok yang pria ini tutupi rapat-rapat selama ini, sudah diketahui oleh Leo.


"Aku sama sekali tidak mengerti apapun ucapanmu! Tidak ada bukti yang membenarkan kalau aku adalah pemimpin yang kau cari." Pria itu tertawa menatap Leo.


"Begini saja, bagaimana kalau kau ... berubah jadi Robin Hoodnya Indonesia, hitung-hitung beramal saleh supaya dosa-dosamu berkurang dengan mengurangi angka kemiskinan yang terjadi di negara ini akibat ulah orang-orang sepertimu." Leo tersenyum penuh makna tapai ngena juga.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Abraham lagi.


"Ayolah, jangan pura-pura bego begitu. Kau tahu apa maksudku ... apaaa ... kita mulai saja pertunjukannya?"


Pemilik kedai itu masih bersikap sok suci. Ia tetap saja berpura-pura tidak mengerti dengan segala hal yang dituduhkan Leo padanya. Melihat ekspresi pemimpin sindikat yang menyamar sebagai manusia biasa ini begitu santai, maka Leo tak ada pilihan lain lagi selain menunjukkan taring dan giginya kepada musuh dalam selimut ini.


Suami Shena itu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Lakukan sekarang!" perintah Leo pada orang yang tidak lain adalah anak buah Leo.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara helikopter dari atas kedai dan berhenti sejenak di atasnya. Setelah itu, helikopter itupun pergi membawa sebuah karung besar menjauh dari kedai menuju tempat yang padat penduduknya. Leo dan semua orang yang ada di dalam kedai, hanya mengamati gerak-gerik helikopter itu.


Dari atas helikopter, anak buah Leo menembaki karung itu hingga rusak dan berhamburanlah seluruh isi karung tersebut di udara. Betapa terkejutnya Abraham dan preman lainnya bahwa yang berhamburan itu adalah uang pecahan ratusan ribu dan lima puluh ribuan yang turun bagai hujan dari atas langit-langit.


Seluruh masyarakat setempatpun langsung shock berat tapi mereka juga senang ketiban rezeki tak terduga begitu. Siapa sih yang nggak senang, tiba-tiba saja ada hujan uang?


Tanpa dikomando, semua orang dikampung Shena memungut uang yang ditebarkan oleh helikopter milik Leo. Dan pastinya uang tersebut adalah milik Abraham Lonpey yang ia dapat dari hasil kejahatannya selama ini.


"Apa yang kau lakukan pada uangku, ha?" teriak Abraham dengan penuh amarah. Ia bahkan sampai mencengkeram kerah Leo kuat-kuat dan mendorongnya hingga membentur tiang dengan keras.


"Wow, wow ... tenang, brays! Tahan dulu! Belum saatnya kita berkelahi. Yang kulakukan ini adalah mengabulkan apa yang sudah kau ucapkan. Tidakkah kau tahu kalau ucapan itu adalah doa?" Leo masih tetap santai meski kerahnya dicengkeram kuat oleh Abraham yang sedang kalap karena uangnya sudah hilang. "Kau kan tadi bilang, kalau kau tidak punya uang untuk memperbaiki kedai ini bila rusak. Sudah kukabulkan ucapanmu. Kau tak punya uang lagi sekarang. Aku baik hati, kan?" Leo tersenyum sinis menatap wajah marah dihadapannya. Keduanya saling beradu pandang dengan kebencian masing-masing.


"Beraninya kau!" geram pria itu dengan amarah yang meluap-luap."

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2