Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 125 Akhir yang Bahagia


__ADS_3

Senyum tipis Shena membuat Leo merasa lega. Untuk kedua kalinya Leo merasakan rasa bersalah yang amat besar atas apa yang menimpa Shena. Dan itu semua disebabkan oleh keluarga Leo. Jika wanita lain, mungkin ia tidak akan pernah mau memaafkan keluarga besar Leo atas apa yang sudah mereka lakukan sehingga untuk waktu lama, Shena harus menderita walaupun kini, ia hidup bahagia bersama dengan Leo.


Ingin sekali Leo berlari merengkuh tubuh wanita pujaan hatinya dan memeluknya dengan erat. Gejolak cinta yang tumbuh di hati Leo untuk Shena, semakin bertambah besar dan dalam. Sebab inilah kenapa ia begitu mencintai Shena melebihi nyawanya sendiri. Itu karena Shena adalah wanita berhati mulia. Tak banyak wanita seperti Shena dan beruntungnya Leo karena wanita baik ini telah menjdi istri sekaligus ibu dari anaknya.


“Tidak Ibu,” ujar Shena lirih dan masih memeluk erat ibu mertuanya. “Ibu tidak perlu minta maaf padaku. Harusnya akulah yang minta maaf karena ayah dan ibu harus mengalami konflik batin seperti ini hanya karena merasa bersalah padaku. Sungguh, aku tidak apa-apa dan mengikhlaskan semuanya. Aku yakin, dialam sana … ayah dan ibuku juga sependapat denganku.” Shena melepas pelukannya dan menatap wajah sedih Biyanca. “Tolong Ibu … jangan berpisah dengan ayah … demi aku … aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa kalian berdua. Berjanjilah padaku, dalam keadaan apapun kalian berdua … tidak boleh berpisah.” Mata Shena berkaca-kaca menatap tajam mata Biyanca dan Byon secara bergantian.


“Tapi Sayang … kami berdua ….”


“Jika kalian tetap memaksakan diri berpisah, maka ….” Shena menelan salivanya dan menatap tajam kearah suaminya. Shena meminta persetujuan Leo untuk mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan, tapi … terpaksa Shena harus mengatakannya demi bisa membuat Biyanca dan Byon kembali bersatu.


Leo terpaku seolah mengerti apa yang akan dikatakan Shena. Ingin sekali ia buka suara dan menolak, tapi Shena meyakinkannya bahwa hanya dengan cara ini, mertua Shena bisa kembali bersama.


“Tidak Shena, jangan katakan itu?” tolak Leo melalui tatapan mata elangnya.


“Ini harus Leo, tak ada cara lain, aku tetap mencintaimu sampai mati.” Itulah jawaban tatapan mata indah Shena yang ditujukan pada suaminya.


Leo memejamkan mata untuk menekan perasaannya, berharap cara yang dipakai Shena berhasil menyatukan Byon dan Biyanca walau rasanya terdengar menyakitkan.


Shena kembali menatap Biyanca dan Byon sambil berkata, “Jika kalian bersikukuh untuk berpisah, maka … akupun juga akan berpisah dari Leo,” tandas Shena dan tentu saja Byon dan Biyanca terkejut mendengar hal itu.


“Apa?” seru ayah dan ibu mertua Shena bebarengan.


“Apa yang kau katakan ini, Shena?” tanya Biyanca.

__ADS_1


“Hanya cara inilah rasa bersalah kalian padaku jadi berkurang. Aku tidak mau kalian berpisah gara-gara aku. Jika itu tetap terjadi, maka akupun akan berpisah dengan Leo,” ujar Shena lagi. Ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan perasaan sedihnya.


“Tidak! Kenapa kau ….” Biyanca tidak sanggup melihat menantunya, tiba-tiba saja meminta cerai dadakan dari Leo. Ia beralih menatap wajah putranya yang sejak tadi terdiam dibelakangnya. “Leo! Kenapa kau diam saja? Apa kau … setuju dengan keputusan Shena?” tanya Biyanca.


Untuk sesaat Leo terdiam, sampai akhirnya iapun juga mengambil sebuah keputusan. “Aku tidak setuju Ibu, tapi … akupun tak bisa mengangkat kepalaku didepan Shena jika kalian berdua tetap memutuskan berpisah. Kami berdua saling mencintai, tapi kami tak bisa terus bersama jika masih ada rasa bersalah dihati kami masing-masing. Aku merasa bersalah pada Shena atas apa yang ibu lakukan dimasa lalu, dan Shena merasa bersalah atas pepisahan kalian berdua. Katakan Ibu, apa kami bisa bahagia setelah kalian berpisah?”


Pertanyaan Leo bagai hantaman besar bagi Byon dan Biyanca. Mereka berdua baru sadar kalau selama ini mereka tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Leo dan Shena akibat keputusan sepihak yang mereka ambil dan rasa egois mereka masing-masing. Biyanca langsung memeluk erat Shena dan kembali menangis dibahu menantu tercintanya.


“Jangan berpisah dari Leo Sayang, tak ada wanita lain yang pantas bersanding dengannya selain dirimu. Maafkan ibu, maafkan kesalahanku dan keegoisanku. Apapun akan aku lakukan asal kau dan Leo terus hidup bahagia.” Biyanca terus menangis dan Shenapun juga menangis.


“Kalau begitu,” isak Shena. “Ibu juga jangan berpisah dengan ayah. Hanya itu yang aku inginkan dari kalian berdua. Lupakanlah masa lalu dan mari kita menjalani hidup yang baru bersama-sama.” Shena melepas pelukan ibunya sambil mengusap sisa bulir air mata Biyanca dengan lembut.


“Baiklah, tapi … ini semua juga tergantung pada ayah mertuamu. Apakah dia masih mau menerima wanita sepertiku atau tidak, seorang wanita yang sudah menyebabkan kau dan Leo, tertimpa banyak masalah dan bahkan hampir merenggut nyawa kalian berdua.”


Byon semakin terharu mendengar ucapan menantunya. Ia pun berjalan pelan dan langsung memeluk Shena bersama dengan istrinya dalam diam. Ketiganya, saling berpelukan dan mencurahlan perasaan mereka masing-masing.


Sedangkan Leo, jangan ditanya lagi, ia hanya tersenyum menatap bangga Shena. Betapa luar biasanya istrinya yang rela memaafkan segala kesalahan orangtuanya walupun itu terjadi secara tidak sengaja.


“Bagus, sekarang siapa yang menjadi anak dan menantu dikeluarga ini,” gumam Leo sambil berkaca-kaca. “Meskipun begitu, aku tetap tidak terima dengan kata-kata yang tadi kau ucapkan Sayang, aku akan meminta kompensasinya nanti." Leo terus menatap tajam Shena seolah ingin menerkamnya.


“Kenapa kau tidak ikut berpelukan dengan mereka?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang dan mengagetkan Leo. Tentu saja Leo yang lagi baper akut langsung terkejut.


“Kau? Darimana kau datang? Dasar biksu Tong!” seru Leo menatap orang yang tidak lain adalah Refald.

__ADS_1


“Dari atas langit,” jawab Refald asal jeplak. “Kita terlambat, Honey. Keluarga Pyordova sudah bersatu meski tanpa ikut campur tangan kita,” ujar Refald pada istrnya yang datang sambil menggendong Yeon, putra pertama Leo dan Shena itu tertidur lelap dalam dekapannya.


“Yeon!” seru Leo sambil mengusap air matanya. Ia menegambil alih putranya dari gendongan kakak iparnya. “Terimakasih sudah menjaga Yeon untuk kami Kak,” ujar Leo pada Fey.


“Sama-sama, putramu sungguh anak yang pintar dan pengertian, Leo.” Fey tersenyum merasakan ada sejuta kebahagiaan ditempat ini. Matanya tak berhenti memandang pemandangan haru antara Byon-Biyanca-Shena yang saling berpelukan.


“Kau menangis?” ledek Refald sambil tersenyum melihat wajah Leo.


“Mataku kemasukan debu, bodoh!” elak Leo.


“Tidak usah malu, aku tahu kau sedang menangis. Walaupun kau seorang gengster, kaupun hanya manusia biasa,” ujar Refald tapi masih tersenyum menatap adiknya yang tiba-tiba saja jadi baper.


“Diam kau! Aku masih punya urusan denganmu yang belum selesai.” Wajah Leo berubah serius menatap kakak sepupunya. Leo kembali menyerahkan Yeon pada Fey. “Titip Yeon sebentar, Kak.”


Fey menerima Yeon dengan alis berkerut karena tidak paham dengan sikap dan ekspresi Leo. Tiba-tiba saja, sebuah bogem mentah ia layangkan pada Refald begitu saja tanpa peringatan apa-apa.


Buk!


Wajah tampan Refald langsung memar mendapat pukulan telak dari Leo dan kejadian itu membuat terkejut semua orang yang ada disini. Anehnya, meski Refald tahu kalau Leo akan memukulnya, ia sama sekali tidak mengelak dan membiarkan wajah tampannya terkena bogem mentah dari Leo.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2