Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 285 Pernyataan Yeon


__ADS_3

Sebenarnya, Yeon terkejut melihat Yuna tiba-tiba saja datang ke kamarnya. Namun tak dapat dipungkiri kalau ia juga senang melihat wajah manis Yuna meskipun ini adalah untuk terakhir kalinya. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi terlepas dari keputusan yang Yuna ambil untuk tetap tinggal di sini sementara dirinya harus kembali ke Swiss malam ini juga.


Karena Yuna tak kunjung bicara, maka Yeonlah yang mulai bersuara lagi. “Makanan siapa itu?” tanya Yeon.


Nah loh, bodoh sekali aku? Jelas- jelas tujuan datang kemari mengantarkan makanan untuknya, kenapa malah tidak bisa mengatakannya, jerit Yuna dalam hati.


“I-ini untukmu,” ujar Yuna gugup sambil menyerahkan nampan berisi makanan untuk Yeon yang tadi belum sempat Yeon habiskan. “Mumpung masih hangat, kau harus menghabiskan makanan ini agar aku tidak merasa bersalah padamu.”


“Aku tidak lapar, kau saja yang makan!” Yeon hendak menutup pintu tapi dicegah oleh Yuna.


“Aku tahu kau tidak lapar, tapi … bisakah kita bicara sebentar?” tanya Yuna penuh harap.


Sebelum berpisah, Yuna ingin memperbaiki hubungan dengan Yeon agar tidak ada dendam dan benci diantara mereka. Tanpa Yuna tahu, kalau bukan cinta atau benci yang dirasakan Yeon padanya. Melainkan cinta.


Yeon tak langsung menjawab. Ia membuka lebar pintu kamarnya dan menyuruh Yuna masuk ke dalam kamar Yeon.


“Masuklah,” pinta Yeon.


“Hah?” Yuna terbelalak tak percaya Yeon mempersilahkan dirinya masuk ke dalam kamarnya. tadinya Yuna pikir, mereka hanya akan bicara di depan pintu saja. “Ah, tidak. Di sini saja, tidak lama kok,” tolak Yuna halus sambil tersenyum.


Mendengar penolakan Yuna, Yeon tidak sabaran lagi dan langsung menarik gadis itu masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya. Kini, tinggal mereka berdua saja di dalam kamar dan saling menatap satu sama lain. Yuna segera sadar dan agak sedikit menjauh dari Yeon. Dengan perasaan gugup, ia meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja yang ada didekatnya.

__ADS_1


Ruangan Yeon benar-benar indah dan rapi. Tak banyak perabot di dalam kamar ini selain tempat tidur, meja dan rak buku kecil dimana hanya ada beberapa buku yang tertata. Mungkin ini bukan tempat tinggal Yeon sesungguhnya sehingga kamarnya tak banyak isinya. Namun dilihat dari arstitekturnya, Yeon sangat menyukai warna putih dan hitam sehingga ruangan ini di dominasi oleh kedua warna tersebut.


Enak sekali jadi anak sultan, punya kehidupan nyaman dan menjanjikan. Tapi …Yuna tetap tidak menyesali keputusannya. Biar bagaimanapun juga, Yuna harus bisa menikmati kehidupannya yang sekarang. Dengan begitu, Yuna bisa bangga menjadi dirinya sendiri.


“Katakan, apa yang ingin kau katakan?” tanya Yeon membuyarkan lamunan Yuna.


“Aku hanya ingin minta maaf padamu. Aku tahu kehadiranku ditengah-tengah keluarga ini, tak membuatmu nyaman dan mungkin malah banyak menyusahkanmu. Tapi aku tetap senang bisa mengenal keluarga yang sangat luar biasa ini. Aku hanya ingin kau tidak membenciku lagi. Aku tidak mau, kita berpisah dengan meninggalkan perasaan dendam dan benci. Dengan begitu jika suatu hari kita bertemu lagi, kita bisa menjadi teman, itupun jika kau tidak keberatan berteman dengan orang sepertiku.” Yuna menatap heran Yeon yang terus menatapnya tanpa berkata apa-apa.


Cukup lama juga mereka berdua bertatapan sehingga membuat Yuna jadi salting sendiri. Yuna tidak tahu apa yang ada dipikiran Yeon sampai menatapnya terus-terusan begitu. Dan yang lebih parah adalah, Yuna baru sadar kalau Yeon ternyata sangat tampan. Apalagi kalau ia berdiri tegap dengan wajah serius, Yuna jadi merasa kalau anak laki-laki dihadapannya ini benar-benar makhluk Tuhan yang sempurna.


Astaga! Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku gugup sekali? Sadarlah Yuna, jangan berpikiran yang bukan-bukan, pikir Yuna menyadarkan dirinya sendiri yang terhanyut dalam pesona Yeon.


“Oke!” akhirnya Yeon buka suara juga mengiyakan keinginan Yuna sebelum keduanya berpisah. “Tapi … jika suatu hari kita bertemu lagi, aku tak mau jadi temanmu …” ujar Yeon sengaja menggantung kalimatnya dan pandangan matanya tetap serius menatap Yuna.


“Aku tahu,” ujar Yuna lirih sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa kecewa beratnya. “Hanya itu yang ingin aku katakan padamu. Maaf, sudah mengganggu waktu luangmu, permisi.” Yuna balik badan dengan wajah cemberut akut.


Meskipun sedih, tidak ada yang bisa dilakukan Yuna terhadap Yeon. Ia merutuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena mengharapkan bisa berteman dengan Yeon. Padahal jelas-jelas hal itu takkan pernah mungkin bisa terjadi. Secara, Yeon anak sultan yang tampan dan cerdas, pasti banyak sekali wanita cantik diluaran sana yang setara dengan Yeon dan lebih pantas menjadi pasangannya.


Apalah Yuna yang hanya gadis desa dengan kisah hidup yang memprihatinkan. Mana mungkin Yeon mau mengenalnya lagi setelah ini. Yuna hanyalah penyebab masalah bagi keluarga Leo. Keinginan Yuna untuk berteman dengan Yeon benar-benar tidak masuk akal dan takkan pernah mungkin terjadi. Itulah yang ada dipikiran Yuna saat ini.


Dengan memantapkan hati, gadis manis yang lagi sedih itu menyentuh gagang pintu dan bertekad untuk melupakan segalanya yang pernah terjadi begitu pintu itu terbuka. Yuna hanya akan menjadikan kebersamaannya dengan keluarga Leo sebagai kenangan terindah dihatinya. Yuna akan menjalani hari-harinya seperti sebelum ia bertemu dengan keluarga hebat ini. Yeah, itulah keputusan kuat Yuna.

__ADS_1


Pintu kamar Yeon terbuka dan Yuna hendak melangkah keluar, tapi Yeon menghentikan langkah Yuna dengan mengatakan kalimat yang membuat Yuna tercengang bukan kepalang.


“Jika kita besar nanti, aku tak ingin menjadi temanmu, tapi … aku akan manjadikanmu istriku! Kau … akan menjadi menantu pertama keluarga ini. Tunggu dan lihat saja … saat ini, aku hanya akan pergi sementara. Tapi jika aku kembali suatu hari nanti, kau harus siap menjadi istri dari Yeon Leon Pyordova,” ucap Yeon tegas, tandas dan pastinya sangat mengejutkan.


Bagai kejatuhan bom atom, Yuna serasa merinding mendegar perkataan Yeon barusan. Jantung Yuna semakin berdetak dengan sangat kencang seakan tidak percaya pada apa yang ia dengar. Seketika Yuna balik badan dan menatap wajah tampan Yeon yang tersenyum melihat ekspresi terkejut Yuna.


“A-apa? Ka-kau … tadi bilang apa?” tanya Yuna sekali lagi berharap pendengarannya salah.


Yeon tersenyum simpul dan berjalan mendekat ke arah Yuna. Ia menjulurkan satu tanganya dan menutup kembali pintu kamarnya. Yeon juga mendorong tubuh Yuna sampai bersandar di daun pintu dan terus menatapnya lekat-lekat.


“Anggap saja, kau … adalah calon istriku dan aku calon suamimu. Kita akan bertemu lagi nanti dan begitu aku kembali, kau harus siap menikah denganku,” Yeon mengulangi pernyataannya kembali. Kali ini dengan sangat jelas sehingga tak mungkin Yuna tidak mengerti makna dari ucapan Yeon.


“Sampai hari itu tiba … kau harus bisa membuktikan bahwa kau pantas menjadi pendamping hidupku. Ah … satu lagi, karena kau adalah milikku, maka kau tak boleh menjalin hubungan dengan pria manapun yang ada di dunia ini selain aku. Jika sampai kau berani menyukai pria lain, maka akan kupastikan, ia bakalan mati didepanmu!” nada suara Yeon benar-benar menakutkan dan juga sangat mengejutkan.


Mata Yuna serasa berkunang-kunang melihat Yeon terus saja melihatnya seperti itu. Perlahan, tubuhnya merosot dan Yuna kehilangan kesadarannya alias pingsan.


“Lah, malah pingsan.”


Itulah kata terakhir yang sempat Yuna dengar sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2