
Keesokan harinya Leo dan Shena sudah tiba di Jepang. Saat di bandara, beberapa orang datang untuk menjemput sepasang suami istri itu dan menuntun merek amsuk ekdalam mobil limosin yang sengaja disiapkan untuk Shena dan Leo. Mereka berdua diantar kesebuah mension keluarga milik keluarga Leo sendiri yang terletak di kota Tokyo, Jepang. Asakusa dan Ueno yang berada di Tokyo bagian timur adalah wilayah menarik bagi para pelancong.
Sejak zaman Edo hingga sekarang, Asakusa telah berkembang menjadi wilayah bisnis dan hiburan. Ueno yang berada di dekat Asakusa juga terkenal dengan sejarah dengan kesenian dan industrinya. Tempat ini merupakan salah satu wilayah kekuasaan keluarga Pyordova. Sebab tempat ini termasuk wilayah metropolitan dan juga tempat wisata yang popular.
Sepanjang perjalanan, Shena terkagum-kagum dengan bangunan-bangunan yang ada di area ini. Dari sekian banyak pemandangan yang menyedapkan mata, tatapan istri Leo itu tertuju pada kuil megah dan juga indah berdiri kokoh di pinggir jalan yang dilintasi Leo dan Shena.
“Apa itu?” tanya Shena pada Leo.
Pandangan mata Leo tertuju pada apa yang ditunjuk istrinya. “Itu adalah kuil Asakusa, kuil itu paling terkenal di wilayah ini. Sebentar lagi, kita akan melintasi taman Ueno yang juga tak kalah megah dari kuilnya. Kapan-kapan kita berkencan disana seperti muda mudi lainnya. Tak jauh dari sini juga terdapat Tokyo Skytree, yaitu wilayah yang terkenal dengan seninya. Di Ueno, kita bisa menemukan museum Nasional Tokyo, museum Seni Tokyo, dan museum Sains Nasional. Kalau kau mau, kita bisa berkunjung ke tempat itu nanti. Sebab, kemungkinan besar kita akan lama tinggal di sini karena urusan bisnis yabng harus aku selesaikan.
“Museum Sains?” tanya Shena berbinar-binar senang. Sebagai mantan mahasiswi jurusan Sains, tentu saja Shena sangat tertarik ingin mengunjungi museum itu.
“Kau mau kesana? Aku akan membuat jadwalnya sekarang, aku akan menemanimu.” Leo menggengnggam erat tangan Shena yang sudah tak bisa berkata-kata.
“Terimaka ….” Belum sempat Shena menyelesaikan kalimatnya, Leo langsung mencium mesra istrinya.
__ADS_1
“Jangan berterimakasih padaku, atau adegan bulan tertusuk ilalang bisa saja terjadi di sini.” Ancaman yang manis dari Leo. Iapun kembali merapikan posisinya kembali seperti semula.
“I-itu … gedung apa?” tanya Shena lagi. Ia sangat penasaran, gedung apa itu.
Sebab, diantara gedung-gedung yang lainnya, gedung itulah yang paling indah, megah dan tinggi menjulang dibandingkan dengan gedung yang lain. Bagunannya lebih modern dan terlihat paling kokoh. Pasti kalau malam bakal lebih indah karena setiap sisi gedungnya dipenuhi dengan lampu-lampu yang spektakuler.
“Kau mau kesana?” tawar Leo.
“Memang boleh?”
Keduanya sampai di depan gedung tinggi megah yang dimaksud Shena tadi. Betapa terkejutnya dia saat beberapa orang berjas hitam berbondong-bondong dan langsung berduri sejajar menyambut kedatangan Leo dan juga Shena. Tak hanya itu, mereka semua menundukkan kepala dengan khidmat begitu pasangan suami istri itu berjalan beriringan memasuki gedung.
"Ada apa ini? Kenapa mereka semua menundukkan kepalanya pada kita?" tanya Shena bingung.
“Gedung besar dan tinggi menjulang ini adalah milik keluarga Pyordova grub, Sayang. Eahar kalau mereka bersikap pada pewaris tunggal perusahaan ini beserta istrinya," jawab Leo tenang.
__ADS_1
"Hah?" pekik Shena. "Ka-kau bilang apa? Gedung ini milikmu?"
"Ehm, ini milik kita. Ayah baru saja meresmikannya beberapa tahun lalu tepat dihari pertunangan kita dulu. Itulah alasan ayah tak langsng menemuimu setelah pesta pertunangan kita selesai. Sebab, ayah dan ibu harus meresmikan gedung itu.” Leo menjelaskan semua yang ia tahu pada Shena.
Sungguh Shena sangat takjub dengan segala hal yang dimiliki keluarga suaminya. Ia tidak pernah menyangka, kalau mertuanya ini benar-benar kalangan kaum borjuis sejati dan berada di tingkat paling atas. Harta bendanya ada dimana-mana. Pantas saja, bahaya dan musuh selalu mengancam mereka dimana-mana tapi tak satupun dari mereka semua bisa menumbangkan keluarga Pyordova yang terkenal kuat dan tak terkalahkan.
“Aku terkejut," ujar Shena lirih. "Kejutanmu ini, benar-benar luar biasa."
Leo langsung tertawa dan merangkul bahu istrinya. “Bukan ini kejutan yang ingin kuberikan untukmu, Sayang. Ada yang lain, tapi tidak bisa kutunjukkan hari ini. Untuk sekarang, aku ingin kita gunakan waktu sehari ini beristirahat total dimension. Besok, baru kuberikan kejutannya padamu. Namun, sebelum itu, ayo ke ruang kerja suamimu.” Leo berjalan sambil terus menggenggam erat tangan Shena seolah enggan mau dilepaskan.
Shena sendiri masih belum bisa bangun rasa takjubnya. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan suaminya. Mereka berdua menuju sebuah ruangan besar yang khusus dirancang untuk Leo sendiri dan itu atas perintah langsung dari ayah Leo. Itulah alasan Leo dulu dipanggil oleh ayahnya untuk membicarakan gedung yang baru saja ia bangun ini.
Hari pertama berada di Jepang, Leo dan Shena sengaja menggunakan waktunya untuk istirahat total di Mension mewah milik keluarga Pyordova. Hari kedua, barulah, Leo mengutarakan apa yang sebetulnya terjadi sehingga mereka datang kemari.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***