Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 284 Pilihan Yuna


__ADS_3

Ada banyak hal dan pertimbangan yang sudah dipikirkan Yuna terkait masalah masa depan hidupnya. Yuna, ingin menjadi seperti Shena yang tak pantang menyerah dan terus menghadapi segala macam cobaan hidup tak peduli seberapa pahit kehidupan yang akan ia jalani nanti. Namun, itu adalah hal yang sudah menjadi takdir Yuna dan ia tak bisa melarikan diri. Untuk itulah, Yuna memutuskan menghadapi takdir sebagaimana yang sudah digariskan padanya dengan berani.


“Paman … Bibi …” ujar Yuna sambil menahan segala rasa pedih yang ada di dalam hatinya. Semua orang juga langsung diam untuk mencari tahu jawaban apa yang akan diberikan Yuna mengenai hal yang Leo tawarkan. “Aku … sangat senang dan juga sangat berterimakasih kepada kalian semua kerena sudah peduli padaku dan berniat mengajakku untuk tinggal bersama dengan kalian, tapi … maaf, bukannya aku tidak ingin tinggal dengan kalian. Aku … aku hanya tak bisa meninggalkan keluargaku meskipun mereka semua jahat padaku.” Air mata Yuna mulai jatuh, tapi ia mencoba untuk menahannya.


“Bibi,” ujar Yuna pada Shena yang agak terkejut mendengar penolakan Yuna untuk tinggal bersamanya. “Bibi pernah bilang padaku, kalau hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah memaafkan. Dengan begitu, cinta keluarga akan kita dapatkan cepat atau lambat. Kata-kata itu akan selalu aku ingat dan ingin aku terapkan dalam hidupku. Karena itu … aku … tak bisa ikut kalian dan meninggalkan keluargaku di sini.


“Bibi juga pernah bilang, tak ada mantan keluarga di dunia ini. Seburuk apapun perlakuan mereka terhadapku, mereka tetaplah keluarga bagiku. Maafkan aku Paman, maafkan aku Bibi … aku sungguh ingin tinggal dengan kalian, tapi … aku tidak bisa. Disinilah tempat tinggalku, bersama keluargaku, maafkan aku! Aku sungguh-sungguh minta maaf.” isak Yuna tersedu-sedu. Ia menangis sesenggukan dan membuat Yeon langsung berdiri tegap dari mejanya.


Tanpa bicara, dan mengucap sepatah katapun, Yeon pergi meninggalkan ruang makan tanpa permisi. Bima yang bingung dengan situasi ini langsung mengikuti kakaknya begitupula dengan Lea. Sementara Leo dan Shena, masih diam di posisinya sambil menunggui Yuna menangis.


Hati siapa yang tak trenyuh melihat betapa baiknya hati Yuna kerena lebih memilih tinggal dengan keluarga yang sudah memperlakukannya dengan sangat buruk. Jika orang lain, pasti akan lebih memilih tinggal dengan Leo dan Shena ketimbang dengan keluarga jahatnya. Namun Yuna berbeda. Gadis kecil itu ingin menghadapi segala cobaan hidupnya seorang diri dengan berdiri tegak di atas kakinya sendiri tanpa ingin membebankan hidupnya pada orang lain. Sungguh gadis tangguh yang luar biasa atau lebih tepatnya, Shena kedua.


Sesuai janji, baik Leo ataupun Shena … sangat menghargai apapun keputusan yang Yuna pilih. Tentu saja mereka juga takkan lepas tangan begitu saja. Demi menjaga keamanan dan kesejahteraan hidup Yuna, Leo sudah menyiapkan banyak cara dan perlindungan untuk Yuna yang suatu saat nanti bakal menjadi menantunya.

__ADS_1


Sambil mengusap bulir air mata yang membasahi pipi Lembut Shena, perlahan … istri Leo itu berdiri dan mendekat kearah Yuna. Shena memeluk gadis cantik itu agar ia kembali merasa tenang.


Tak mudah bagi gadis seusia Yuna harus menaggung beban hidup yang begitu berat. Namun, Yuna bagai cerminan diri Shena yang dulu. Ia percaya suatu hari, jika Yuna sudah dewasa nanti, gadis manis ini akan mendapatkan kebahagiaan yang layak melebihi apa yang sudah Shena dapatkan sekarang. Juga seorang pangeran tampan yang tak lain adalah Yeon, putra Shena sendiri.


“Kau adalah gadis kecil yang sangat luar biasa Yuna. Aku kagum padamu. Kau punya tekad dan semangat hidup yang kuat. Jarang-jarang ada gadis sepertimu di dunia modern ini. Kau mengambil keputusan yang tepat. Kau hebat,” seru Shena dan semakin pecahlah tangis Yuna mendapat pujian dari idolanya.


“Terimakasih, Bibi. Aku bisa seperti ini berkat Bibi. Entah apa yang terjadi padaku seandainya aku tak bertemu dengan Bibi.” Yuna membalas pelukan Shena dan keduanya saling berpelukan erat sambil menangis bersama.


Leo yang melihat dua wanita berbeda usia itu jadi teringat ibunya yang begitu menyayangi Shena melebihi dirinya yang sebagai putra kandungnya. Kini, Leo memahami alasan dibalik sikap ibunya itu. Dibandingkan menyusul kepergian Yeon, Shena lebih memilih menenangkan Yuna. Bukan berarti Shena tidak sayang pada putranya, tapi Yuna, jauh lebih membutuhkan Shena ketimbang Yeon. Leo tersenyum melihat kemiripan Biyanca dan Shena yang lebih sayang terhadap menantu-menantu mereka.


“Kalau begitu, bersiap-siaplah, Yuna. Kami akan mengantarkanmu pulang.” Leo berjalan mendekat ke arah Shena dan menatapnya penuh makna. “Kau ikut denganku sebentar, Sayang,” bisik Leo mesra ditelinga Shena. Shenapun mengangguk setuju dan melepas pelukan Yuna.


“Kami pergi dulu, beritahu aku kalau kau sudah siap pulang,” ujar Leo lalu ia pergi sambil merangkul bahu istrinya meninggalkan ruang makan dan Yuna sendirian.

__ADS_1


Samar-samar Leo membicarakan banyak hal yang tak bisa di dengar oleh Yuna. Gaya Leo saat memperlakukan Shena sungguh membuat para jiwa jomblo meronta-ronta apalagi bagi yang baca. Meski begitu, senang bisa melihat keromantisan pasangan suami istri somplak yang terkenal nggak ada akhlak itu.


Tanpa sadar, Yuna menatap piring Yeon yang masih penuh dengan makanan. Artinya putra sulung Leo sejak tadi tak menjamah makanannya. Yuna jadi merasa bersalah dan bangun berdiri dari kursinya. Ia berjalan pelan ke tempat Yeon tadi duduk dan mengambil piring itu lalu mengantarkannya ke kamar Yeon untuk berbicara banyak hal padanya.


Sesampainya di depan kamar Yeon, Yuna berdiri mematung. Ia tahu Yeon sangat membencinya, tapi biar bagaimanapun juga, Yuna harus tetap minta maaf sekaligus mengucapkan salam perpisahan. Agak ragu, Yuna hendak mengetuk pintu kamar Yeon dan belum sempat tangannya menyentuh daun pintu, tiba-tiba saja pintunya terbuka dan tangan Yuna hampir mengenai wajah orang yang muncul di balik pintu tersebut.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Yeon yang terkejut melihat kepalan tangan Yuna tepat persis berada di depan hidung mancung Yeon.


Sontak Yuna kaget dan langsung menyembunyikan tangannya dibalik punggungnya. Yuna gelagapan dan juga salah tingkah. Ia tidak tahu harus berkata apa, padahal dari tadi ia sudah menyiapkan banyak kata-kata perpisahan, tapi begitu bertemu dengan Yeon, otaknya langsung blank alias kosong.


Aduh, aku tadi mau bicara apa, ya? Kok aku lupa? Batin Yuna sambil menundukkan kepalanya dan mengingat-ingat apa yang akan ia bicarakan dengan Yeon.


BERSAMBUNG

__ADS_1


****


__ADS_2