
Ketegangan menghiasi wajah Leo dan Shena ketika melihat apa yang diberikan Byon pada Biyanca. Keduanya mulai berpikiran yang bukan-bukan dan hanya bisa menebak-nebak saja, apa isi dari berkas yang diberikan Byon itu. Mereka berdua takut kalau Byon benar-benar akan berpisah dengan Biyanca.
Jika dilihat dari tatapan mata ayah Leo terhadap ibunya, berkas tersebut bukanlah berkas sembarangan. Apalagi sepertinya, Byon sudah menyiapkan berkas itu jauh-jauh hari. Jika tidak, mana mungkin mantan gembong mafia itu membawa berkas tersebut kemari.
“Urusanku denganmu belum selesai, Bii. Tanda tangani ini,” ujar Byon lagi karena istrinya sejak tadi tidak bereaksi. Byon bahkan tidak peduli dengan ekspresi shock Shena dan Leo.
Seperti halnya putra dan menantunya, Biyancapun sebenarnya juga terkejut dan bertanya-tanya, mungkinkah … suaminya ini tetap akan meminta berpisah darinya? Sebab itulah dia datang kemari. Selain untuk menyelamatkan Leo, Byon juga ingin menyerahkan berkas perpisahan keduanya.
Mata Biyanca dan Byon saling menatap. Tangan Byon tetap terulur agar wanita yang sudah menjadi oma itu menerima berkas pemberiannya. Dengan ragu, Biyancapun mengambil berkas tersebut dan langsung membukanya walau hatinya terasa bergejolak seakan tidak terima jika dia harus berpisah dengan suami yang sudah separuh abad mendampingi hidupnya.
Namun ternyata dugaan Biyanca salah besar. Berkas yang diberikan Byon padanya bukanlah berkas perpisahan. Melainkan berkas yang dulu pernah ia dan Byon sepakati bersama. Mata ibu Leo itu melotot ketika membaca isi dari berkas itu. Iapun spontan menatap wajah Byon sambil berkaca-kaca.
“Sebelum kau memelukku, tanda tangani berkas itu, Bii. Lebih cepat lebih baik.” Byon tersenyum dan keteganganpun mulai cair.
Leo dan Shena juga terkejut walau mereka tidak tahu menahu apa isi dari berkas yang sempat membuat pikiran mereka traveling kemana-mana. Namun, setelah ayahnya berkata seperti itu, pasangan suami istri itupun saling pandang dan mulai lega. Sebab, sepertinya berkas itu bukanlah berkas perpisahan.
“Hei, pak tua. Ternyata kau benar-benar sudah tua. Bagaimana bisa aku menandatangani berkas ini jika kau tak memberiku pena juga?” Tanya Biyanca sambil tersenyum apalagi setelah melihat Byon merogoh seluruh sakunya tapi tak mendapati barang yang diminta istrinya.
“Sepertinya ketinggalan dirumah Bii, ayo kita pulang dan tanda tangani berkas itu supaya kita bisa menyerahkannya pada pasangan nggak ada akhlak itu!” ajak Byon sambil mengulurkan tangannya didepan Biyanca.
Tanpa pikir panjang, Biyanca menerima uluran tangan itu dan keduanya langsung berlalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi pada Leo dan Shena.
“Tunggu sebentar!” seru Biyanca tiba-tiba. Ia pun berbalik badan dan berlari kecil menghampiri Shena. “Berikan Yeon padaku, Shena. Aku sangat merindukan cucuku yang menggemaskan ini. Aku akan menghubungi kalian berdua jika Yeon membutukan ibunya. Sampai bertemu lagi dirumah,” ujar Biyanca dengan mata berbinar-binar senang.
Tanpa menunggu persetujuan dari Shena ataupun Leo, Biyanca mengambil alih Byon dalam gendongannya dan berlalu pergi sambil menimang-nimang cucunya yang terbangun sejak tadi. Anehnya, Yeon tidak menangis, bayi mungil itu malah menatap kedua kakek dan neneknya seakan tahu kalau mereka berdua amat sangat meridukan dirinya.
__ADS_1
“Apa-apaan mereka itu? Siapa yang nggak ada akhlak sekarang?” gerutu Leo pada Shena yang sejak tadi terdiam tanpa suara.
“Leo ….” panggil Shena masih tertegun menatap kepergian mertuanya.
“Apa, Sayang.” Leo merangkul bahu Shena.
“Kira-kira … itu … berkas apaan?” tanya Shena sangat penasaran.
Sebelum menjawab, Leo tersenyum tipis pada istrinya. “Aku tidak tahu, aku yakin mereka akan memberitahu kita bila saatnya tiba.” Leo mengajak istrinya keluar dari tempat ini dengan senyum mengembang.
Sebenarnya, suami Shena itu tahu apa isi berkas tersebut bila dilihat dari map ayahnya. Namun, Leo memang sengaja tidak memberitahu Shena karena ia sangat tahu, apa isi dari berkas tersebut.
“Hei kalian berdua! Kenapa kalian lama sekali! Ayo! Sekarang giliranku,” ujar seseorang yang tidak lain adalah kembaran Leo alias artis idola Shena. “Aku sampai lelah tidur disini. Cepat bawa aku dan lakukan seperti yang sudah kau katakana, Leo.” Artis tesebut menatap Leo dengan tajam.
“Oke! Bersiap-siaplah, Xionai baru saja mengirimiku pesan.” Leo tersenyum senang menatap wajah kembarannya yang juga ikut tersenyum mendengar ucapan Leo.
“Ikut aku!” Leo berjalan menuju mobilnya sambil menggandeng tangan Shena yang sudah bingung bukan kepalang mendengar pembicaraan antara artis idolanya dengan suaminya ini. Kun sendiri juga langsung masuk kedalam mobilnya untuk mengikuti Leo dari belakang.
“Sebenarnya, ada apa Leo? Apa yang akan kalian berdua lakukan?” tanya Shena saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Kali ini, Leo sendiri yang menyetir.
“Kun bertengkar dengan pacarnya karena suatu hal. Xiao Lung menghilang tanpa jejak dan ia memnita bantuanku tepat disaat aku juga membutuhkan bantuannya. Akhirnya, kita barter. Dia harus membantuku untuk menyelamatkanmu dan sebagai balasannya, aku akan membantunya menemukan kekasihnya. Tentu saja, itu adalah tugas Xionai, hehe.” Leo menjelaskan sambil tersenyum.
“Lalu … kita akan pergi kemana, sekarang?”
“Ketempat diaman kekasih artis idolamu itu berada. Kun akan konser disana, dan kita akan mempertemukan mereka berdua.”
__ADS_1
“Oh … aku baru tahu, rupanya selain menajdi gangster nggaka da akhlak, kau juga bisa beralih profesi sebagai biro jodoh juga, ya?” ledek Shena sambil terus menatap pesona Leo yang sedang menyetir.
“Tentu saja, aku terpaksa melakukannya agar kau tidak terus-terusan ngefans padanya jika dia sudah menikah nanti.”
“Leo suamiku, berapa kali aku harus bilang … kaulah idolaku yang sesungguhnya, bukan dia? Jika saja wajahnya tidak mirip denganmu, aku tidak akan menjadi fansnya.”
“Cium aku kalau begitu, baru aku bisa yakin padamu.”
“Masa sekarang?” Shena langsung membuang napas melihat sikap nggak ada akhlaknya Leo kumat.
“Kau ingin aku berhenti?”
“Jangan!” sergah Shena langsung. “Orang-orang dibelakang kita pasti juga akan ikut berhenti. Diam disitu dan fokus saja menyetir.” Shenapun memutuskan menuruti permintaan suaminya. Dengan cepat, ia mencium mesra pipi Leo sambil melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya yang masih fokus memegang kendali setir mobil.
“Kau senang sekarang?” bisik Shena lembut setelah selesai memberikan hadiah ciuman manis pada suaminya.
“Harusnya aku tadi meminta sopir supaya aku bisa membalas ciumanmu, Sayang.” Leo menggerutu.
“Aku tidak mau orang lain melihat kemesraan kita. Sisanya bisa kita lanjutkan lagi nanti di rumah.”
“Kalau begitu, teruslah memelukku seperti ini sampai kita tiba di lokasi. Kalau sampai kau melepas pelukanmu, maka habislah kau Sayang!” ancam Leo.
Walau tanpa diancampun, Shena memang enggan melepaskan pelukannya dan ingin terus bergelandot manja ditubuh suaminya. Kenangan-kenangan manis mereka berduapun terlintas jelas diingatan Shena dan ia sangat bahagia menjadi istri dari seorang Leopard Bay Pyordova.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***
Akhirnya, bisa up juga