
Polisi itu tidak menggubris aksi protes Larasati. Ia malah menggiring Larasati mendekat ke arah Shena. “Syukurlah kami datang tepat waktu, Nyonya Shena. Bagaimana dengan anda, apa anda baik-baik saja?” tanya polisi itu sangat ramah pada Shena sehingga membuat mata Larasati terbelalak tak percaya.
“Aku baik-baik saja,” ujar Shena sambil tersenyum.
“Hei kau polisi bodoh?” teriak Larasati tak terima. “Apa kau tidak tahu? Wanita ini adalah pembunuh berbahaya? Bagaimana bisa kau bersikap baik padanya? Harusnya kau tangkap dia dan hukum dia seberat-beratnya? Kenapa kau malah menangkapku? Apa kau buta?” Larasati terlihat marah.
“Kau itu yang buta? Apa kau tidak tahu siapa Nyonya Shena?” balas polisi itu dengan meneriaki Larasati. Seketika, Larasati terdiam karena ia memang tidak tahu apa-apa tentang Shena.
“Bu-bukankah … wanita ini … adalah pembunuh?” tanya Larasati mulai gugup, tapi matanya melirik tajam Shena.
“Pembunuh katamu? Semua orang di desa ini sangat mengenalnya dan juga menghormatinya? Bagaimana bisa dia jadi pembunuh?” teriak polisi itu dengan lantang.
“Me-memangnya … di-dia … siapa?” tanya Larasati lagi. Ia sungguh tak tahu apa-apa tentang siapakah sosok Shena dan bagaimana bisa masyarakat di desa ini menghormatinya.
“Dia istriku!” teriak seseorang dari belakang punggung Larasati dengan lantang sebelum polisi yang ada disebelah ibu angkat Yuna itu sempat buka suara untuk memberitahu tantang sosok istri dari pria yang kini ada dibelakang mereka.
Semua pandangan langsung mengarah kearah sumber suara yang tak lain dan tak bukan berasal dari si gangster Leopard Bay Pyordova. Pria tampan itu masuk ke dalam rumah dengan khas gaya coolnya. Ia berjalan pelan mendekat kearah Shena dengan tatapan penuh cinta yang bergelora. Shena hanya tersenyum saja melihat Leo.
“Akhirnya kau datang juga,” ujar Shena saat suaminya ini sudah berdiri dihadapannya. Tanpa bicara, Leo langsung memeluk pinggang istrinya dan mendekatkan tubuh Shena kedalam dekapannya lalu tanpa permisi lebih dulu, Leo langsung mencium mesra Shena dihadapan semua orang seperti biasanya.
__ADS_1
Larasati langsung terperangah melihat pemandagan eksotis yang baru pertama kali ia lihat. Sungguh pasangan yang tidak tahu malu, tapi itulah Shena dan Leo. Dimanapun mereka berada dan dalam keadaan apapun situasinya, mereka berdua tetap bisa beromantis ria seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Yeon yang sudah ada di dekat Yuna langsung menutupi wajah gadis itu dengan tanganya agar tak melihat adegan vulgar kedua orangtuanya.
“Apa yang kau lakukan?” protes Yuna kesal karena wajahnya dibekap Yeon dari belakang dengan tangannya. Entah sejak kapan Yeon ada di sini dan tiba-tiba saja membekapnya.
“Kau tak boleh melihat adegan tak pantas itu, belum saatnya. Kau belum cukup umur,” ujar Yeon sok bijak. Padahal kata-kata itu, juga berlaku untuknya.
“Lalu kau senditri?” tanya Yuna tak terima.
“Aku sudah biasa melihatnya,” jawab Yeon santai.
“Sama saja! Kau pikir kau sudah dewasa apa?” Yuna jadi keki mendegar jawaban Yeon.
“Aku sudah ada di sini sejak tadi Sayang. hanya saja aku tak ingin ikut campur saat kau mulai bersenang-senang,” ujar Leo setelah menyudahi ciuman mautnya. Benar-benar urat syaraf malu Leo sudah hilang entah kemana. “Meski begitu … bukan berarti aku tak bisa mendengar apa saja yang sudah wanita sinting ini katakan padamu.” Dengan gerakan kilat, Leo mengeluarkan pistol gold hitam andalannya dan mengarahkannya pada Larasati. Sementara tangannya yang lain masih memeluk erat pinggang Shena.
Sontak, semua orang yang ada dalam rumah ini terkejut setengah mati melihat aksi Leo yang tiba-tiba saja menodongkan pistolnya ke arah ibu angkat Yuna. Larasati sendiri langsung kesulitan bernapas saking takutnya melihat pistol dan tatapan api kemarahan Leo. Jangtungnya bahkan seolah berhenti berdetak sampai ia kesulitan menelan air liurnya sendiri.
Tidak ada yang berani menghalau Leo jika suami Shena itu sudah mengangkat senjatanya terhadap seseorang atau orang itu akan ikut mati juga. Suasana tegang kembali terjadi. Mereka semua was was kalau kalau bakal ada pembunuhan keji di desa ini.
__ADS_1
“Kau bilang apa tadi? Setan? Iblis? Psikopat? Pembunuh berdarah dingin?” Leo mengulang makian dan umpatan yang dilontarkan Larasati terhadap Shena. “Beraninya kau mengatai istriku dengan sebutan kata yang lebih pantas kau sandang ketimbang permaisuriku. Kau tidak tahu siapa istriku tapi kau berani memaki dan mengumpatinya? Apa kau sudah bosan hidup, ha?” Leo hendak menarik pelatuknya dan bersiap menembak kepala Larasati.
Wanita itu memejamkan matanya karena suaranya tak dapat dikeluarkan saking takutnya dirinya. Badannya gemetar dan keringat dingin bercucuran disekujur tubuh Larasati. Namun, Leo tak jadi menarik pelatuk pistol karena tangan Shena ikut memegang senjata Leo.
“Kau tak punya hak untuk membunuh wanita ini Sayang,” tandas Shena menatap tajam mata suaminya. “Biarkan Yuna yang memutuskan, apakah wanita ini layak hidup atau tidak.” Kata-kata Shena sungguh terdengar bijak.
Dengan begini, hidup mati seorang Larasati kini ada di tangan Yuna. Inilah rencana yang diutarakan Yuna pada Shena tadi, yaitu membuat takut ibu angkatnya menggunakan Leo dan Shena sebagai perisai Yuna.
“Bagaimana Yuna, jika kau tak keberatan, maka setan ini akan kumusnahkan sekarang juga seperti saat aku melenyapkan Datuk Situroja,” ucap Leo semakin menakut-nakuti Larasati.
Yuna tak langsung menjawab, Yeon sudah melepaskan bekapannya dan mundur selangkah dari posisi Yuna berdiri. Ia tak banyak bicara karena semua keputusan ada di tangan calon tunangannya.
“Ibu …” ujar Yuna dengan suara lembutnya. “Aku … akan membiarkan ibu hidup asalkan kau … mau menerimaku. Aku tahu, kau membenciku karena ayah, tak bisa menjadi tulang punggung keluarga lagi akibat kecelakaan yang juga merenggut nyawa kedua orangtuaku. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kalian. Aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri. Jadi aku mohon, terimalah aku, aku tak minta lebih dari itu. Aku janji, aku akan membantu kalian semua agar kita bisa tetap bertahan hidup. Jangan benci aku lagi karena aku … tulus menyayangi kalian semua.” Yuna menundukkan kepalanya karena tak kuasa menahan linangan air mata.
Seketika, Larasti terduduk lunglai. Ia tak menyahut kata-kata Yuna dan pasrah saja akan nasib hidupnya. “Terserah kau saja, aku … tak butuh belas kasihanmu. Kau tak tahu bagaimana perasaanku ketika tahu orang yang kucintai sudah tak bisa diandalkan lagi. Aku meninggalkan keluargaku demi bisa menikahinya. Berharap kami bisa hidup bahagia, tapi sejak kedatanganmu. Lihat bagaimana hidupku? Kau pikir ini mudah? Tidak Yuna. Kau tak tahu apa-apa!” mata Larasati pun berkaca-kaca. Tapi ia sama sekali tak terlihat menyesali perbuatannya.
“Aku tak memaksa ibu untuk menyayangiku, aku sadar aku memang tidak tahu bagaimana perasaan ibu, tapi … izinkan aku tinggal di sini, agar aku bisa membalas budi baikmu yang sudah merawatku selama ini. Jika kau tak ingin menganggapku keluarga, setidaknya … biarkan aku membalas semua jasa yang sudah kalian berikan padaku, dengan begitu aku takkan punya hutang apapun.”
“Baik, jika memang itu yang kau inginkan. Lakukan apa saja yang ingin kau lakukan!” pekik Larasati masih tetap kukuh dengan keegoisannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***