Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 154


__ADS_3

Dugaan Leo dan Shena memang benar. Rival dalam kompetisi yang diikuti Leo ternyata adalah Refald. Pertanyaannya, apa alasan Refald mengikuti kompetisi ini dan apa tujuannya? Tidak biasanya, Refald membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang tidak penting. Itulah yang membuat Leo dan Shena penasaran.


Kalau Leo, sudah jelas. Awalnya, suami Shena mengikuti kompetisi ini untuk memberi pelajaran pada Aryani meskipun kini mereka berdua sudah kalah telak dari Leo dan tak bisa berkutik lagi setelah keluarga Pyordova memasukkan pasangan suami istri Aryani-Rega ke dalam ruang eksekusi. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi mereka sekarang ini. Yang pasti tidak baik-baik saja.


Sedangkan Refald, tidak ada yang tahu apa alasan dia mengikuti kompetisi ini. Bahkan keluarganya sendiri juga tidak tahu. Bagi mereka, mungkin Refald sedang ingin bermain-main. Tidak ada yang tahu apakah Refald punya maksud dan tujuan lain.


"Leo ... jangan-jangan, kak Refald ...." Shena tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Secepat kilat Leo bangun berdiri dan pergi dari ruang makan tanpa berkomentar apa-apa. Ia bahkan tak berpamitan pada seluruh keluarganya dan langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


Seluruh keluarga Leo hanya menatap bingung kepergian suami Shena dengan meninggalkan sejuta pertanyaan. Tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba saja Leo berubah kesal seperti itu.


"Ada apa dengan suamimu, Shena? Kenapa Leo mendadak begitu? Apa ... ada masalah?" tanya Meiliana pada keponakan iparnya.


¹Shena tidak bisa langsung menjawab pertanyaan ibu Refald, ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia katakan. Seperti halnya Leo, Shena juga sangat terkejut mengetahui lawan suaminya adalah kakak iparnya. Sungguh ini diluar dugaan.


"Ehm, saya sendiri juga tidak tahu, Bi. Saya akan menyusulnya, mungkin dia sedang ada masalah dengan pekerjaannya, permisi." Shena beralasan dan lebih memilih pergi melarikan diri sebelum keluarga Leo mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan yang pastinya akan sulit ia jawab.


Ada dua masalah besar yang sedang terjadi di sini. Pertama, masalah cinta segitiga antara mertua dan bibi Shena karena ada hubungannya dengan Aryani selaku sepupu Shena yang sudah berani cari gara-gara dengannya dan membuat marah keluarga Pyordova. Kedua, masalah rival suaminya di ajang kompetisi yang diikuti Leo, ternyata adalah kakak sepupunya sendiri. Entah ini kebetulan atau apa, yang jelas dua masalah ini cukup membuat puyeng kepala Shena.


"Kenapa bisa jadi begini, sih? Bagaimana ini, aku takut akan ada perang dingin antara ibu dan bibi Egha, serta Leo dan kak Refald. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Shena pada dirinya sendiri di saat ia sedang berjalan mencari keberadaan Leo.


Shena berhenti melangkah, ketika ia mendengar suara samar-samar yang sangat familiar ditelinganya. Shena menatap sebuah balkon salah satu istana Leo, dan mendapati suaminya sedang berbicara di telepon dengan seseorang.


"Hei, biksu Tong! Ada di mana kau sekarang, ha?" teriak. Leo pada seseorang yang tak lain adalah Refald. "Kenapa kau tak menjawab panggilanku ... apa! Dasar berengsek! Tunggu aku disitu! Aku mau berkelahi denganmu! Jangan coba-coba untuk kabur, ya!" Leo memutus panggilannya dan berbalik badan menghadap Shena yang sejak tadi berdiri di belakang Leo.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Shena. Matanya menatap tajam mata suaminya yang masih terlihat kesal.


"Aku harus bicara dengan kakakku," ujar Leo dan melanjutkan langkahnya. Namun Shena menghadang langkah suaminya.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan kak Refald? Memintanya mundur dan membiarkanmu menang?" tebak Shena dan itu memang benar. Sebab Shena sangat tahu seperti apa Leo.


"Aku tidak suka ini, Shena. Aku bisa terima jika rivalku orang lain. Tapi kenapa harus kakakku? Aku tidak bisa melawan Rerald."


"Kenapa? Kau takut kalah pamor darinya?" tebak Shena lagi. Dan Leo terdiam seolah membenarkan. "Leo, sudah kubilang, hentikan semua ini. Tujuan kita mengikuti kompetisi ini sudah berakhir. Kau tak perlu melanjutkan kompetisi ini."


"Tidak Shena. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai," tandas Leo. "Aku akan meminta si biksu Tong itu mundur."


"Kenapa? Itu curang namanya. Kau sama saja tak percaya pada dirimu sendiri."


"Bukan itu masalahnya. Ah, kau tidak akan mengerti meskipun aku menjelaskan semuanya."


"Aku tahu, tapi aku harus menemui biksu Tong dulu!"


"Aku ikut," pinta Shena. Ia tidak ingin suaminya bertindak gegabah.


"Tidak, Sayang. Kali ini, kau di rumah saja! Aku tidak akan lama. Kau jangan khawatir." Leo mencium kening Shena dengan lembut lalu berlalu pergi menemui Refald.


Entah apa yang akan dilakukan suaminya itu diluar sana. Apakah benar ia akan berkelahi dengan kakak sepupunya sendiri atau Leo hanya sekedar emosi sesaat. Shena sungguh tidak tahu. Ia hanya berharap semuanya baik-baik saja. Leo memang terkenal dengan sifat tak mau kalah dan tak kenal dengan kata mengalah, ia akan melakukan segala macam cara untuk bisa menang sekalipun lawannya adalah Refald.


***

__ADS_1


Malampun tiba, tapi Leo masih belum juga datang. Shena memutuskan untuk tidur terlebih dulu karena ia sudah sangat ngantuk sekali. Kehamilan keduanya ini lebih sering membuat Shena mager alias malas gerak. Ia juga gampang sekali boring dan juga badmood. Walaupun saat ini Shena masih mencemaskan Leo, tak dapat dipungkiri kalau matanya ini sudah tak bisa diajak kompromi.


Akhirnya, Shena memutuskan untuk tidur di kamarnya. Namun, baru juga beberapa menit Shena terlelap, sebuah ciuman lembut mendarat di pipi dan kening Shena sehingga membuat bumil itu terjaga. Shena membuka mata dan mendapati Leo ada diatasnya dan menatap tajam mata Shena.


"Kau sudah pulang?" tanya Shena lirih. Ia mengusap-usap lembut matanya.


"Apa aku membangunkanmu?" Leo balik bertanya. Ia membelai mesra rambut istrinya.


"Tidak." Shena menggeleng. "Aku memang menunggumu!" tiba-tiba mata Shena langsung menatap tajam sesuatu berwarna merah marun menempel sempurna di kerah Leo.


Shena memicingkan matanya berharap apa yang ia lihat ini tidak nyata. Tapi penglihatan Shena masih baik dan jelas-jelas sesuatu berwarna merah marun itu adalah bekas lipstik seseorang.


Tidak salah lagi, itu bekas lipstik seorang wanita. Dan yang membuat Shena shock adalah, Shena tak punya lipstik dengan warna itu. Semua lipstik Shena berwarna pink ataupun merah biasa. Shena tidak suka lipstik yang warnanya terlalu mencolok.


"Apa itu?" tanya Shena dengan nada suara gemetar.


"Apanya?" Leo malah balik bertanya.


"Itu ... yang ada dikerah bajumu?" tunjuk Shena.


Leo mencoba melihat apa yang ditunjukkan istrinya. Karena tak terlihat, maka Leo melepas kemejanya dan iapun juga terkejut setelah tahu apa yang menempel di kerah baju Leo.


"Ini?" mata Leo terbelalak melihat bekas lipstik yang menempel dikerah bajunya.


Lebih dari itu, air mata Shena sudah tak bisa dibendung lagi. "Leo ... kau ...." ujar Shena.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2