
Aksi Shena yang mendadak mendorong tubuh Laura masuk ke dalam kamar, membuat Laura bingung, ada apakah gerangan. Laura hendak bicara tapi langsung ditahan oleh Shena agar ia diam dulu. Mau tidak mau, istri Roy itu hanya memerhatikan gerak gerik Shena yang sedang mengintip dari balik pintu dan langsung menutupnya ketika rombongan pasukan Leo mendekat kearah ruangannya.
“Sial! Bagaimana bisa si gangster itu ada di sini! Gawat!” gumam Shena sambil menggigiti ujung jari kukunya.
“Ada apa?” tanya Laura ikutan cemas melihat ekspresi tegang Shena.
Dengan pelan, Shena memberitahu perihal kedatangan Leo dan Roy berserta pengawal-pengawalnya kemari. Laurapun terkejut dan langsung dengan cepat mengendalikan diri kembali. Ia paham dan mengerti situasinya.
Beruntung, kamar yang mereka masuki adalah kamar wanita yang sedang Shena dan Laura incar. Tadinya mereka kira kamar Magdalena berada di lantai atas, tapi ternyata malah dekat dengan ruang pesta. Leo dan rombongannya mungkin juga mengira kalau wanita yang mereka incar ada diruangan atas sehingga mereka melewati ruangan ini. Ruangan yang didalamnya terdapat Shena dan Laura. Entah apa jadinya jika Leo langsung masuk ke dalam sini.
Sungguh kebetulan yang sangat menguntungkan bagi para istri-istri gangster ini. Tanpa perlu susah payah, kedua wanita tangguh itu menemukan target mereka lebih dulu dari suami-suami mereka. Sekarang hanya tinggal sedikit waktu yang mereka punya untuk mencari chip dan flashdisk sebelum Leo dan Roy menyadari keberadaan mereka di rumah ini.
“Bagus, wanita ular itu pingsan. Sepertinya ia baru saja meminum kopi lattenya. Cepat kita cari chip dan flashdisk hello kitty, Ra. Sebelum si gangster itu menggeledah tempat ini,” ujar Shena dan mereka berdua langsung mengobrak-abrik seluruh isi ruangan untuk menemukan benda-benda yang mereka cari.
***
Roy dan seluruh pengawal Leo heran bukan kepalang melihat pemandangan aneh di rumah yang mereka masuki. Setelah berhasil menyingkirkan para penjaga yang berjaga di depan rumah, mereka langsung masuk ke kediaman Magdalena yang ternyata, semua penghuninya sedang terkapar tak berdaya dan tertidur pulas disembarang tempat. Jelas terlihat kalau mereka semua telah diracuni. Tapi siapa yang melakukannya? Itulah yang menjadi pertanyaan di benak Leo dan Roy.
“Ada yang aneh, Leo. Sepertinya, kita kecolongan!” ujar Roy sambil berkacak pinggang mengamati sekeliling, tak ada satu manusia hiduppun di sini yang bisa diajak bicara.
__ADS_1
Suami Shena itu hanya diam. Ia sedang memeras otaknya untuk mencari tahu siapa dalang di balik peristiwa mengejutkan ini. Penjagaan di luar sangat ketat, tidak semua orang bisa masuk kemari kecuali orang itu, bukanlah orang sembarangan, apalagi sampai berani meracuni banyak orang.
“Siapa orang itu? Siapa orang yang telah berani berbuat seperti ini?” gumam Leo masih penasaran karena belum bisa menemukan jawabannya. Iapun beralih pada seluruh pengawalnya dan memberikan perintah, “Cepat periksa seluruh ruangan ini dan temukan wanita yang bernama Magdalena. Cari chip dan flashdisknya! Kalian harus mendapatkan kedua benda itu bagaimanapun caranya!” seru Leo pada seluruh pengawalnya sambil mengamati keadaan di lantai bawah dari atas. Firasat Leo mengatakan kalau ia sedang melewatkan sesuatu, tapi entah apa itu?
Seruan Leo dari lantai atas, samar-samar terdengar diruangan Shena dan Laura. Kedua wanita ini saling pandang setelah mendengar suara Leo saking kerasnya. Semakin paniklah mereka dan mempercepat pencarian. Untunglah, Laura berhasil menemukan flashdisk hello Kitty yang berisi kejadian sebenarnya saat Roy dijebak.
“Ketemu! Ini flashdisknya. Ada nama Roy juga di sini!” seru Laura girang, tapi Shena langsung memberi kode agar ia tak bersuara keras.
“Ssssst! Pelankan suaramu! Mereka bisa mendengar kita. Cepat! Ayo pergi dari sini!” Shena bergegas membuka jendela kamar dan menyeret Laura untuk melompat keluar. Dan benar saja, salah satu pengawal Leo yang sedang berpencar mendengar suara bising dari balik kamar tempat istri majikannya berada.
“Tapi Shena, kita belum menemukan chipnya!” berontak Laura, kini ia duduk di pintu jendela dan menahan dorongan tangan Shena.
Sambil mengendap-ngendap. Shena dan Laura melewati dinding luar rumah Magdalena dan dengan hati-hati, mereka menyelinap keluar sebelum ketahuan. Keduanya berjalan seperti tak terjadi apa-apa begitu memasuki jalan di sekitar hotel Raphael. Mereka bahkan langsung memasuki hotel dan menuju kamar mereka tanpa meninggalkan kecurigaan apapun kalau keduanya baru saja melakukan tindak kriminal dan tak seorangpun tahu.
Setelah berada di dalam kamar dan merasa aman, Shena baru sadar kalau ia sudah kehilangan pistol Udavnya saat melompati jendela tadi.
"Aduh, Ra … gawat! Pistol Udavku terjatuh!” pekik Shena dengan wajah panik sepanik-paniknya. “Bagaimana ini?”
“Asataga! Kau ceroboh sekali!”
__ADS_1
“Aku panik, Ra. Apa yang harus aku lakukan sekarang, benda itu bisa membuat Leo tahu kalau yang membuat semua orang tertidur seperti itu adalah aku. Pistol itu adalah senjata api buatan ayah mertuaku yang terbaru. Dan Leo pasti mengenali senjata itu, omegot … bagaimana bisa aku seceroboh ini? Masa iya kita ke sana lagi untuk mengambil pistolnya?” Shena hampir mencak-mencak saking cemasnya kalau Leo menyadari bahwa apa yang terjadi di sana adalah ulahnya.
Laura sendiri juga bingung harus berkata apa, sebagai gantinya, ia hanya mondar mandir kesana kemari memikirkan cara untuk mengatasi kecerobohan Shena. Sayangnya, ia tak menemukan cara jitu untuk memecahkan masalah ini.
Shena sendiri langsung mengintip ke balkon menggunakan teropong apakah ada peluang untuk ia kembali ke rumah itu atau tidak. Jika ada, ia ingin kembali ke sana dan mengambil pistol Udavnya. Sayangnya terlambat, salah satu pengawal Leo menemukan pistol Shena yang terjatuh di dekat jendela.
“Gawat! Habislah aku sekarang!” gumam Shena sambil memerosotkan tubuhnya ke lantai saking lemasnya.
Melihat tubuh sahabatnya yang langsung tak bertenaga, membuat Laura jadi merasa bersalah pada Shena. Ia sangat tahu seperti apa Leo apalagi tindakan yang dilakukan Shena sangatlah beresiko. Satu kesalahan saja, bisa mengakibatkan banyak masalah besar bagi keluarga suami sahabatnya.
“Maafkan aku, Shena. Semua ini salahku. Gara-gara aku, kau dalam masalah besar sekarang,” ujar Laura sedih dan duduk di samping Shena.
Ekspresi Shena langsung berubah mendengar ucapan temannya. “Kau tidak perlu minta maaf, Ra. Akulah yang ceroboh, ini kesalahanku, bukan kesalahanmu.”
“Bukan itu maksudku, harusnya aku tak bersikap seperti ini. Apa yang terjadi pada Roy adalah bagian dari masa lalunya. Harusnya aku bisa menerimanya karena aku mencintainya. Aku seperti anak kecil saja yang tak bisa memaafkan kesalahan yang bahkan Roy melakukannya tanpa sadar, dan itu terjadi jauh sebelum ia bertemu denganku. Aku egois Shena. Ini semua salahku! Akulah yang membuatmu terjebak dalam masalah besar seperti sekarang. Jika aku tidak seegois ini, kita mungkin tidak akan mengalami semua ini.” Laura menangis dan Shena langsung memeluk erat sahabatnya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1