
Ternyata, rumah sakit bersalin tempat Fey melahirkan tak jauh dari lokasi Leo dan Shena berada. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam, keduanya sampai dirumah sakit dan langsung menuju kamar VVIP Fey dan bayinya berada.
Saat membuka pintu ruangan, Shena langsung berlari pelan memeluk kakak iparnya yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya. “Selamat atas kelahiran putra pertamamu, Kak.” Shena mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca karena ikut merasa bahagia.
“Terimakasih Shena, sebentar lagi ... kau juga akan menyusulku.” Fey tersenyum dan membalas pelukan istri adik iparnya itu.
“Bagaimana perasaanmu sekarang, Kak?” tanya Shena yang beralih duduk disamping Fey, sedangkan Refald sedang tertidur sambil memangku putra pertamanya dalam gendongannya disebuah kursi panjang.
“Sangat bahagia. Kau pasti akan segera merasakan hal sama seperti yang kurasakan sekarang.”
Fey ikut mengusap lembut perut buncit Shena dan ia merasakan ada tendangan kecil didalamnya.
Kedua wanita ini saling melempar senyum karena buah hati Shena dan Leo sangat aktif didalam. Untuk sesaat, Fey jadi teringat kalau beberapa jam yang lalu ia masih mengandung Rey dalam perutnya.
Shena tersenyum menatap wajah sumringah kakak iparnya. Senyum mengembang juga terpancar jelas di wajah Shena ketika melihat Refald yang begitu tenang saat memangku putranya yang juga tertidur dalam gendongannya.
“Mereka berdua ... ayah dan anak yang sesungguhnya. Bagaimana bisa kak Refald tidur nyenyak sambil menggendong putranya seperti itu?” Shena takjub melihat Refald. Kalau orang biasa pasti si jabang bayi sudah terjatuh.
“Ehm, aku sendiri heran, Rey juga tidak menangis saat Refald menggendongnya. Padahal sebelumnya, ia rewel sekali tadi. Begitu tangan Refald menyentuhnya, Rey langsung diam dan sekarang keduanya tertidur seperti itu,” terang Fey. Matanya terus memandang kearah suami dan putranya.
“Wuah ... daebak.” Shena jadi terharu melihat pemandangan ayah dan anak yang kompak.
Leo yang sejak tadi diam langsung mengabadikan momen Refald tertidur bersma degan putranya yang juga tidur dalam gendongannya. Tak lupa ia juga mneyuruh para pengawal meletakkan semua hadiah yang ia bawa di atas meja.
“Bagaimana keadaanmu, Leo? Kau baik-baik saja?” tanya Fey pada Leo.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja, Kak. Berkatmu!” jawab Leo santai sambil mendekat ke arah Fey dan duduk di samping Fey tepat disebelah Shena. Ia menggenggam erat tangan kakak iparnya sambil berkata, “Terimakasih karena sudah lebih memilihkan keselamatanku daripada kakak sendiri. Aku sangat menyayangimu, kak Fey. Bolehkah aku memelukmu?” tanya Leo.
Fey tersenyum dan hendak mengulurkan tangannya, tapi niatnya ia urungkan kerena mendengar suara Refald.
“Singkirkan tanganmu dari istriku! Kalau kau sampai berani memeluk Fey akan kupatahkan lehermu!” ancam Refald dan langsung bergerak cepat menghalangi tubuh Leo mendekat ke arah Fey setelah ia meletakkan putranya di box bayi.
“Kenapa? Dia kan kakak iparku?” protes Leo.
“Peluk saja istrimu sendiri? Kenapa kau ingin memeluk istriku, ha?” sengal Refald.
“Haissh, kau ini lebay sekali? Masa kau cemburu pada adikmu sendiri?”
“Kau sendiri? Apa kau rela kalau aku memeluk Shena didepanmu, ha?” bentak Refald sehingga Rey langsung terbangun. Sang bayi kecil mungil itu menangis sekencang-kencangnya hingga perdebatan tidak jelas antara Refald dan Leo pun terhenti. “Maaf Sayang, kau terkejut ya? Pamanmu itu memang benar-benar menyebalkan!” ujar Refald sengaja mengkambinghitamkan Leo sambil menggendong kembali putranya agar tidak menangis lagi.
“Hei kalian berdua! Bisakah kalian berhenti berdebat? Kalian berdua seperti anak kecil saja!” ujar Fey agak marah. Sementara Shena hanya menyimak saja di belakang punggung Leo. “Dan kau juga Refald, apa salahnya jika Leo memelukku, dia juga adikmu! Dasar kau ini, kenapa jadi over posesif begitu?” Fey mulai mengomeli Refald. “Berikan Rey padaku, mungkin saja dia lapar,” lanjut Fey karena putranya tak juga berhenti menangis. Ditambah lagi, ada dua orang tukang buat onar di ruangan ini.
“Ayo! Kita pergi dari sini!” tanpa peringatan, Refald menyeret tangan Leo dan membawa adiknya itu keluar ruangan secara paksa.
“Tunggu!Aku tidak mau, aku datang kesini untuk melihat kakak ipar! Bukan melihatmu! Kenapa kau menyeretku keluar, ha?” protes Leo lagi sementara Shena dan Fey saling melempar senyum melihat tingkah konyol para suami-suami mereka.
“Istriku mau menyusui putraku? Apa kau bosan hidup, ha?” bentak Refald dan ia pun terus memaksa Leo keluar ruangan bersamanya.
Wajah Leo langsung kikuk, tapi ia tak punya pilihan lain selain menuruti kakak sepupunya itu keluar sebelum Refald berubah jadi kalap. Kedua lelaki itu meninggalkan istri-istri mereka berdua saja di dalam.
Sesaat, Leo membayangkan Shena sedang duduk sambil menyusui putranya jika sudah lahir ke dunia. “Seksi sekali,” guman Leo.
__ADS_1
“Apa kau bilang? Siapa yang kau maksud?” bentak Refald ketika keduanya sudah berada di luar ruangan.
“Istrikulah, memangnya siapa lagi?” sewot Leo. Refald yang bisa membaca pikiran adiknya itu juga tak bisa berkata lagi karena yang ada di otak Leo hanya berisi tentang Shena saja.
“Singkirkan otak mesummu itu! Kau itu memalukan sekali? Sempat-sempatnya kau membayangkan yang aneh-aneh tentang istrimu sendiri.”
“Biarkan saja? Ini otakku, mau berpikir apa tentang istriku bukan urusanmu!” bentak Leo tak kalah sewot dari Refald. Mereka berdua terus saja berdebat untuk hal yang sama sekali tidak penting diperdebatkan.
“Astaga, kakak beradik itu benar-benar membuatku emosi,” ujar Fey sambil menyusui putranya. Jelas-jelqs ia mendengar apa yang dibicarakan Refald dan Leo.
Sedangkan Shena, hanya tersenyum melihat betapa bahagianya Fey saat sedang menyusui. “Tapi meski begitu ... mereka berdua juga saling menyayangi.” Shea ikut berkomentar mengenai duo somplak bersaudara tersebut.
BERSAMBUNG
***
bonus 1 episode lagi aku up nanti malam ...
Leo
Refald
__ADS_1