Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 182


__ADS_3

Sebuah bogem mentah dari Abraham, dilayangkan ke arah wajah tampan Leo. Namun yang namanya Leo, pasti langsung menangkis serangan dadakan itu hanya dengan menggunakan satu tangannya lalu balas menyerang menggunakan tangan yang lain. Kali ini, pukulan Leo tepat mengenai pipi pemimpin mafia itu sehingga cengkeraman tangannya di kerah Leo terlepas dan pria itu terhuyung ke belakang. Leo terus menyerang bajiingan tersebut dengan serangan bertubi-tubi. Keduanya berkelahi dengan sengit dan pastinya, Leolah yang lebih unggul.


Tak hanya wajah yang mendapat bogem mentah dari Leo, tubuh pria itu juga dibikin babak belur oleh suami Shena itu. Leo memang jago sekali berkelahi, gerakannya cepat dan juga gesit sehingga tak bisa ditebak oleh lawan. Semua benda yang ada disekelilingnya ia gunakan termasuk meja dan kursi untuk menghajar orang yang sudah berani melenyapkan anak buahnya serta merusak ketenangan desa kelahiran istrinya. Leo benar-benar kalap sampai para preman yang melihat aksi gila Leo jadi gemetaran.


Sebagai jurus pamungkas, Leo meninju ulu hati pemilik kedai itu secara bertubi-tubi hingga darah segar keluar dari mulutnya dan orang itu terduduk lunglai menahan rasa sakit yang amat sangat.


"Ba-bagaimana kau ... bisa mengambil uangku yang sudah kusimpan rapat-rapat dibrankas? Kau juga tahu kalau aku pemimpin mereka? Uhuk ... uhuk!" Pria yang bernama Abraham itu terbatuk-batuk menahan sakit akibat pukulan dari Leo.


Leo menyeret kursi yang masih utuh dan duduk diatasnya sambil menatap tajam pria yang berlutut dihadapannya. "Mudah saja, sejak pertama kali melihat preman itu datang ke kedai ini, aku sudah curiga ada yang aneh dengan dirimu. Hampir setiap hari mereka datang ke kedaimu tapi mereka tak pernah menyakitimu seperti saat preman itu menyakiti warga lain yang ada di kedai meskipun mereka juga memaksamu untuk menyerahkan semua uangmu. Hal itu karena mereka diperintahkan untuk tidak menyakiti pemilik kedai dan mereka pikir kalau kau memang orang boodoh yang tak berguna bagi mereka." Leo membungkuk menatap sinis wajah babak belur dihadapannya.


Apa yang dikatakannya benar sekali. Para preman itu menganggap kalau pemilik kedai bukanlah orang yang berbahaya. Namun, nyatanya, ia lebih berbahaya melebihi siapapun.


"Kedua," lanjut Leo lagi. "Kau memperbaiki kedai setiap hari bekas pengrusakan yang dilakukan anak buahmu sendiri. Padahal jelas-jelas, kalau uang hasil berjualanmu juga dirampas oleh mereka. Tapi kau masih bisa memperbaiki kedai ini. Pertanyaanku, kau dapat uang darimana? Kau bahkan tak pernah meninggalkan kedaimu selama 24 jam. Itu karena ... kau menyembunyikan sesuatu di dalam sana.


"Huh, kau tadi bertanya bagaimana caraku mengambil uangmu? Selagi kau sibuk memacok kelapa, anak buahku yang ahli di bidang ini masuk ke dalam ruanganmu dan membuka brankasmu hanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Itulah caraku mendapatkan uangmu!" Tandas Leo sambil tersenyum sinis. Tentu saja aksi Leo itu ada ikut campur tangan dari Refald yang sejak tadi masih bersantai mengamati aksi adiknya dari kejauhan seakan sedang menunggu sesuatu.

__ADS_1


Diluar dugaan, pemimpin sindikat itu tertawa terbahak-bahak dengan keras. Leo yang melihat sikap menggelikan pria bengis itu hanya diam menunggu sampai tawa lepas sang bos mafia mereda dengan sendirinya.


"Kau ... kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa," ujar pemilik kedai itu masih sambil tertawa tapi Leo hanya diam dan tenang. "Kau pikir cuma kau saja yang bisa membuat orang marah? Aku juga bisa." Abraham masih saja tertawa tapi Leo sama sekali tak bereaksi apa-apa. Melihat hal itu, pria berpenampilan sederhana ini mencoba menghentikan tawanya supaya bisa menjelaskan apa maksud ucapannya.


"Begini," ujar Abraham setelah tawanya mereda. "Apa ... kau yakin istrimu ada di rumah dan dia baik-baik saja? Sebab, aku mendapat kabar kalau dia ... sedang keluar bersama seseorang. Aku khawatir, wanitamu itu ... pulang hanya tinggal nama saja. Hahahahaaa!" Abraham itu tertawa lagi melihat wajah Leo yang berubah menjadi tegang.


Leo tak ingin terprovokasi yang bisa membuatnya emosi dan melakukan hal ceroboh yang bisa merugikan dirinya sendiri. Buru-buru suami Shena itu menelepon ke rumah untuk memastikan apakah yang dikatakan begundal ini benar atau tidak.


"Halo, dimana istriku?" tanya Leo pada salah satu orang yang ada di rumah dan kebetulan yang mengangkat teleponnya adalah pelayan rumahnya.


"Sedang keluar bersama nyonya muda Fey Tuan," jawab pelayan itu dari seberang sana.


"Tidak Tuan, nyonya muda Fey tak ingin ada pengawal yang mengawal mereka sebab mereka pergi ke pasar."


Tak ada sahutan lagi dari Leo setelah mendengar informasi dengan siapa Shena sekarang. Iapun memutus sambungan teleponnya lalu memasukkannya kedalam sakunya. Kini, gilliran Leo yang tertawa lepas sehingga membuat bos mafia itu heran.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa? Istrimu akan mati. Anak buahku akan membunuhnya di pasar!" teriak Abraham, gantian dia yang jadi jadi emosi melihat tawa Leo. "Huh, ternyata kau tak sesayang itu pada istrimu. Sepertinya, kau bahagia bila dia mati!" Abraham Lonpey itu menuduh Leo yang bukan-bukan. Leo sendiri masih menunduk menyembunyikan tawanya.


"Kau salah, mister Abraham Lonpey. Aku Benar-benar terpedaya olehmu. Itulah kenapa aku tertawa. Tadinya aku kira bakal menghancurleburkan dirimu dan memberikan kematian yang tak pernah terbayangkan olehmu jika sampai terjadi sesuatu pada istriku. Namun, niat itu aku tunda dulu karena ternyata, kau ... tak paham dengan siapa kau berurusan.


"Aku khawatir dalam hitungan detik, kau kehilangan anak buahmu lagi dan tinggallah kau sendiri di dalam sini, seorang diri, menunggu mati ... wauw ... pas banget nih kalau dijadikan puisi dengan judul 'detik-detik kematian sang bos mafia'." Leo tersenyum penuh makna dan kembali bersikap tenang seperti sebelumnya.


"Kau lah yang akan mati!" teriak Abraham dengan penuh emosi. "Harusnya sekarang kau pergi menyelamatkan istrimu selagi masih sempat ...."


"CK ck ck ... itu tidak perlu, mister Abraham Lonpey. Harusnya kau pelajari dulu seperti apa kekuatan musuhmu. Kau salah memilih musuh. Orang yang pergi bersama istriku adalah istri dari kakakku. Ia takkan bisa kau bunuh dengan mudah kecuali kau berubah jadi setan. Tapi untuk menjadi setan, kau harus mati dulu, kan?"


"Aku tak mengerti apa maksud perkataanmu!" mata Abraham menatap tajam mata Leo.


"Aku turut prihatin pada anak buahmu yang kau suruh untuk melenyapkan istriku. Sebab, bukan istriku yang akan kehilangan nyawa di sana, tapi anak buahmulah yang akan mati!" tandas Leo sambil tertawa sinis.


Gilliran Abraham Lonpeylah yang tegang sekarang. Dari kata-kata Leo, pasti anak buahnya telah gagal membunuh istri si gengster nggak ada akhlak ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2