Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 166


__ADS_3

Amarah Byon dan Biyanca seakan mau meledak saat mendengar Agne mengatakan kata 'bom asap'. Kata itu adalah penyebab Shena dilarikan kerumah sakit dan entah seperti apa keadaannya sekarang. Bersamaan dengan itu, pengawal kepercayaan yang Biyanca suruh untuk menjaga dan melindungi Shena, mengirim sebuah pesan beserta foto wanita yang mencoba menghancurkan biduk rumah tangga Leo dan Shena melalui ponselnya.


Tak hanya itu saja itu saja, pengawal tersebut juga menceritakan kronologi kejadian yang terjadi diatas gedung vila mewah milik Agne yang sekarang sang pemiliknya berada satu mobil dengan Byon dan Biyanca. Semakin mendidihlah darah Biyanca setelah mengetahui semua yang terjadi pada putra dan menantu kesayangannya gara-gara wanita yang duduk di belakang kabin mobil Biyanca sendiri.


Istri Byon itu sama sekali tidak menyangka dan hampir tak percaya bahwa wanita yang menjadi biang keladi permasalahan Leo dan Shena ternyata adalah Agne. Wanita yang ia kira adalah wanita terhormat yang memiliki banyak prestasi mengagumkan di bidang fashion. Tapi ternyata, wanita berkelas seperti Agne, berani cari gara-gara dengan keluarganya. Tentu saja, Biyanca tak bisa membiarkan semua inj. Ia sudah bertekad untuk membuat perhitungan dengan wanita yang sudah menyebabkan Shena pergi dari rumahnya.


Apa yang dirasakan Byon sekarang juga sama dengan perasaan istrinya. Sebagai mantan mafia ternama, tentu ia tak bisa membiarkan orang yang sudah mengganggu ketenangan keluarganya bisa hidup dalam waktu lama. Apalagi orang itu, kini sudah ada dalam genggamannya. Byon, hanya tinggal memilih eksekusi jenis apa yang bakal diterima oleh Agne.


"Apa yang ingin anda tanyakan, tuan Byon?" tanya Agne penasaran tanpa ia tahu bahwa yang orang ia tanya, benar-benar ingin sekali membunuhnya.


"Apakah .... wanita yang mengacaukan pestamu dan membuatmu jadi gelandangan seperti itu memiliki badan langsing dan tinggi, berambut panjang hitam lebat, dan berkulit putih, juga berwajah oriental?"


"Ehm, kurang lebih seperti itu Tuan? Kalau tidak salah, namanya adalah ... Shena." Agne mencoba mengingat-ingat nama istri Leo itu. Ia harap ia tidak salah sebut. "Apa Tuan dan Nyonya mengenal wanita tidak tahu diri itu?" tanya Agne dengan beraninya. Padahal 2 orang yang duduk didepannya sudah memancarkan kilatan api kemarahan memuncak dan minta untuk diledakkan.


"Tidak tahu diri, katamu?" geram Biyanca. Napasnya sudah naik turun karena tak terima ada orang lain berani mengatai Shena tepat didepannya.


"Benar, Nyonya. Lihatlah! Gara-gara dia, aku jadi seperti ini. Wanita itu benar-benar menyebalkan sekali. Ia bahkan berani mengguyur kepalaku dengan bekas minuman yang ia minum lalu menjeburkanku ke kolam. Aku benar-benar ingin sekali mematahkan tulang-tulangnya." Agne benar-benar ingin cepat mati muda. Beraninya dia bicara seperti itu saat ada Byon dan Biyanca.

__ADS_1


Biyanca memejamkan mata sambil menggigit bibirnya saking emosinya. Ingin rasanya Biyanca turun dari mobil dan menjambak rambut Agne lalu menyeret tubuhnya keluar untuk ia lemparkan ke dalam jurang menganga, yang kebetulan ada di sisi kanan mobil Byon berada. Namun, niat itu ia urungkan karena tangannya di genggam erat oleh Byon seolah memberitahu bahwa untuk mengeksekusi wanita ini, tak perlu menggunakan emosi.


"Kita gunakan caraku, Bii. Tenanglah," ujar Byon tenang dengan ekspresi sedatar mungkin. Ia tetap memandang lulus ke depan tanpa menoleh pada istrinya. Byon memutar kunci dan kembali menyalakan mesin mobilnya menuju suatu tempat.


Tak ada yang bisa dikatakan Biyanca jika Byon sudah berkata seperti itu. Cara yang digunakan suaminya memang jauh lebih elegan dan menakutkan. Ciri khas suaminya ini adalah melenyapkan musuh tanpa jejak dengan cara mafianya. Seperti sekarang ini, Byon menghentikan laju mobilnya tepat di bibir sebuah jurang menganga yang tak diketahui seberapa dalam kedalaman jurang ini.


Agne yang sedari tadi merasakan ada yang aneh pada dua pasangan sejoli ini langsung heran, kenapa Byon dan Biyanca membawanya ke tepi jurang dan bukannya mengantarnya pulang.


"Ada apa Tuan, kenapa kita datang kemari? Apakah anda sedang ada janji temu dengan orang lain?" tanya Agne setengah bingung.


Melihat hal itu, semakin tidak enaklah perasaan Agne. Kenapa orang berpengaruh besar seperti Byon malah bersikap seperti penjahat yang hendak membunuh musuhnya.


"Ka-kalau be-begitu ... bisakah anda mengantarkan saya pulang, Tuan?" Agne mulai takut dan juga gugup.


Selama ini, Agne jarang bicara pada Byon dan hanya saling tegur sapa saja, tak lebih dari itu. Ia tidak menyangka, kalau aura Byon, bisa menakutkan ini ketika berada didekatnya.


Inikah sisi lain Byon? batin Agne. Ia mulai tegang sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya, kami berdua datang kemari karena putraku memberitahu, kalau istrinya dibawa ke rumah sakit disekitar sini akibat ulah seseorang yang mencoba merusak keharmonisan rumah tangga mereka. Kami sangat ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Sebab, menantu kesayangan kami itu sedang mengandung cucu kedua kami. Siapapun orang yang mencoba mengusiknya, maka orang itu ... harus berurusan dengan kami," terang Byon dengan tenang setenang permukaan air kolam meski ada nada ancaman didalamnya.


Namun Agne, masih belum sadar juga siapa yang dibicarakan Byon ini. Dan dengan gebleknya, wanita itu malah mengucapkan selamat dan sok turut prihatin atas apa yang menimpa menantu Byon dan Biyanca yang tidak lain adalah Shena, istri dari Leo yang digoda oleh dirinya sendiri.


"Wah, selamat ya tuan Byon, dan juga anda nyonya Biyanca. Kalian akan memiliki cucu lagi. Dan saya berharap semoga menantu anda tidak apa-apa dan janin yang dikandungnya selamat." Agne memaksakan diri untuk tersenyum walaupun ia tidak tahu apakah yang ia ucapkan itu benar atau tidak. "Memangnya ... apa yang terjadi sampai menantu anda harus dilarikan kerumah sakit?" tanya Agne dengan polosnya.


"Oh itu ..." Byonlah yang masih bicara. Sebab, Biyanca masih mati-matian menahan amarah yang begitu besar sehingga ia lebih memilih bunkam. "Menantuku, terkena bom asap yang dilemparkan musuhnya," jawab Byon yang menatap tajam wajah Agne dari balik kaca spion mobilnya.


"Oh bom asap," Agne manggut-manggut tapi ia mulai menyadari sesuatu. "Tunggu! Bom asap? Kenapa menantu anda bisa terkena bom asap?" tanya Agne mulai was-was. Jantungnya mulai berhenti berdetak saking takutnya. Pikirannya mulai kacau sekarang karena firasatnya tidak enak.


"Karena ... seperti yang kau bilang tadi, temanmu ... sengaja melemparkan bom asap demi bisa menyelamatkanmu. Bom asap itu tak sengaja dihirup oleh menantuku dan untunglah suaminya, langsung membawanya kerumah sakit agar segera mendapat perawatan." Kali ini, Byon menoleh kebelakang menatap wajah pucat pasi Agne yang akhirnya tahu, siapakah putra dan menantu yang dimaksud Byon ini.


"Ti-tidak mungkin ....," gumam Agne dan tubuhnya langsung lemas.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2