
Wanita yang bernama madam Silvi itu mengernyitkan alisnya mendengar permintaan dari Leo. Hanya seorang mafia saja yang tahu peraturan tentang bagaimana berinteraksi dengan para anggota kaum elit yang ada di sini. Secara, mereka semua rata-rata adalah seorang mafia yang tak sembarangan berinteraksi dengan orang luar tanpa melalui perantara. Namun, Leo sepertinya tahu betul, tata cara untuk bisa berinteraksi dengan orang yang diincarnya.
Suami Shena ingin tetap menjaga tata krama perkumpulan mafia tanpa ada keributan karena masalah Leo adalah masalah pribadi dan tak ingin membangunkan sekumpulan Gorila yang sedang lapar. Hanya saja, ia butuh kekuatan penuh agar sang Datuk yang lebih punya banyak kekuasaan tak bisa berkutik lagi bila berhadapan dengan Leo nanti. Sungguh cara Leo ini memang tak bisa ditebak dan ia benar-benar putra dari seorang mantan mafia. Menjatuhkan lawan dikandangnya sendiri adalah tindakan yang nekat dan menantang.
Keinginan Leo ini membuat madam Silvi jadi bertanya-tanya. “Siapa kau?” tanyanya. Mata wanita itu menatap tajam wajah santai Leo.
“Bukan siapa-siapa,” ujar Leo sambil meneguk minumannya. “Sungguh, saya hanyalah pengusaha muda sukses dan ingin berbisnis dengan kalian semua yang ada di sini. Bisnis ini bukan sembarang bisnis dan orang pertama yang saya ingin ajak bekerjasama adalah rekan anda, Madam. Yaitu … Datuk Situroja,” tandas Leo tanpa ragu. Dari apa yang dikatakan suami Shena ini, ia sungguh mengenal betul setiap orang yang hadir di pesta ini. Bahkan bisa saja, Leo juga tahu kelemahan-kelemahan mereka semua.
“Jelaskan padaku, apa yang kau bisniskan dengan Datuk?” tanya Silvi dengan penuh wanita.
“Saya … ingin barter dengannya, tentu saja ini bukan barter biasa dan agak sedikit pribadi. Sebab itulah saya butuh ruangan lain yang hanya ada kami berdua saja dan pastinya perwakilan dari kalian untuk menjadi penengah kami.” Mata elang Leo benar-benar terlihat menegangkan.
“Kau pemuda yang mengagumkan,” ujar madam Silvi dan iapun langsung bangkit berdiri.
Tanpa suara, wanita cantik itu berjalan pelan menghampiri orang yang bernama Datuk Situroja. Ia langsung membisikkan sesuatu di telinga pria tua tersebut. Datuk pun langsung menatap tajam Leo yang dengan santai meneguk minumannya sambil menikmati hidangan yang ada di meja. Sesekali ia tertawa penuh makna dan ikut nimbrung pembicaraan sekumpulan para mafia yang duduk satu meja dengannya.
“Kau sudah siapkan surat-surat yang dibuatkan Abas?” tanya Leo pada pengawalnya yang sejak tadi berdiri didekatnya dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
“Sudah Tuan, semuanya sudah siap,” jawab pengawal Leo.
Leo tersenyum puas. Ia sangat yakin kalau rencananya ini akan berjalan dengan lancar selancar air yang mengalir dari hulu ke hilir.
“Apa kau mengenal orang itu?” tanya madam Silvi pada Datuk.
__ADS_1
“Tidak, tapi wajahnya serasa tidak asing bagiku. Siapa dia?”
“Aku sudah meminta orang-orangku untuk menyelidikinya, tapi nihil. Tak ada yang tahu identitas aslinya. Ini aneh, orang itu sangat bersih. Dia warga sipil biasa tapi harta kekayaannya tak terhingga. Kepribadiannya juga sangat mengagumkan. Kau akan tahu bila sudah berbicara dengannya. Aku rasa … tak ada salahnya kau mencoba berbisnis dengan tuan muda itu.”
“Bilang saja kalau kau terpesona dengan daun muda. Aku akui dia tampan, wanita sepertimu, pasti akan meleleh melihat senyumnya. Karena itulah kau mendesakku supaya meu bekerjasama dengannya.”
“Kau sok tahu! Aku masih punya harga diri tinggi. Pria itu sudah beristri dan beranak tiga, aku tak begitu tertarik pada pria seperti itu.”
“Sekarang mungkin tidak, aku bicara seperti ini karena kita punya banyak kesamaan.”
“Berhenti membicarakan soal kita, aku tidak sam sepertimu, kau itu psikopat! Sampai anak kecil saja mau kau embat. Seperti tak ada perempuan lain saja!”
Datuk Situroja agak sedikit tersinggung mendengar ucapan madam Silvi. Ia pun mencekik leher rekannya sendiri kuat-kuat sambil menahan api kemarahan.
“A-apa … yang kau lakukan?” tanya madam itu dengan kesal karena tiba-tiba dirinya disakiti oleh Datuk. Pria tua yang terkenal sangat arogan dan mudah tersinggung.
Madam Silvi sendiri terbatuk-batuk akibat cekikan Datuk, pria tua itu memang sudah tua, tapi tenaganya cukup kuat juga. Silvi sendiri tak bisa melawan karena datuk adalah orang paling berpengaruh disini. Siapapun yang cari gara-gara dengannya, sudah bisa dipastikan bakal tinggal nama dalam sekejap.
“Katakan pada pemuda itu untuk menemuiku diruangan biasanya. Pastikan ia bersih!” ujar Datuk tetap dengan sikap arogannya.
Wanita cantik itu bangun berdiri dari kursinya dalam keadaan kesal tanpa suara. Iapun kembali berjalan ke tempat Leo berada sambil ngedumel sendiri.
“Dasar si tua Bangka menyebalkan, sudah bau tanah masih saja bikin ulah! Andai saja ada orang yang bisa menghabisi si kakek peot itu, maka akan kuhadiahi apapun yang orang itu minta,” gumam madam itu dan tentu saja Leo bisa mendengarnya melalui alat penyadap yang diletakkan Leo di tas Dior kecil wanita itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, madam Silvipun datang dan memberitahu Leo kalau rekannya, si Datuk Situroja bersedia berbisnis dengan Leo. Suami Shena itu diminta bertemu di sebuah ruangan yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin barter secara pribadi.
“Silahkan Tuan muda, ikutlah dengan saya. Akan saya tunjukkan ruangannya.” Madam Silvi meminta Leo untuk mengikutinya masuk ke dalam gedung yang ada di lantai dua tanpa ia tahu kalau si Leo tertawa penuh kemenangan dibelakangnya.
***
Sementara Shena, ia terjaga dari pingsannya dan mendapati Refald sedang berdiri tegap menghadap jendela seakan tersenyum mengetahui sesuatu. Tentu saja sang raja dedemit itu tahu apa saja yang sedang dilakukan adiknya termasuk pemanipulasian data seorang Leo dengan bantuan sepupunya yang lain. Siapa lagi kalau bukan Xiaonai. Saudara mereka yang ahli di bidang IT.
Sebelum memasuki pesta, Leo sudah meminta saudaranya untuk menyembunyikan semua akses yang memuat data informasi tentang Leo. Hal itu untuk mengantisipasi orang-orang yang pastinya ingin tahu siapa Leo begitu ia ikut bergabung ke dalam pesta dan ternyata memang benar.
Orang-orang suruhan madam Silvi mencoba mencari informasi tentang siapa Leo tapi mereka tak menemukan informasi apapun selain seorang pengusaha kaya raya. Hanya itulah yang mereka dapat tentang siapa Leo yang sesungguhnya. Itulah yang membuat Refald tertawa akan kecerdikan adiknya yang selalu selangkah di depan dari lawannya.
“Kakak,” ujar Shena lirih.
“Kau sudah sadar?” tanya Refald mulai mendekat ke arah Shena.
“Di mana Leo? Kenapa malah kakak yang ada di sini? Bagaimana dengan Yuna dan Yeon?” tanya Shena yang sudah mulai ingat semuanya. Ia juga ingat kondisi terakhir putranya saat bersama dengan Yuna.
“Tenanglah, Yuna baik-baik saja, Yeon sedang tidur di rumah dan aku barus saja mengantarnya. Anak-anakmu yang lain juga aman bersama Fey dan Rey. Kau tak perlu risau atau khawatir lagi. Senang kau sudah bisa mengingat semuanya kembali, Shena.”
“Lalu … Leo?” tanya Shena masih was-was. “Di mana dia? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Dia … melakukan apa yang harus ia lakukan. Dia akan kembali dan langsung menemuimu begitu urusannya selesai,” jawab Refald tandas dan tegas seolah mendukung sepenuhnya apa yang bakal dilakukan Leo pada orang yang bernama Datuk Situroja.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****