Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 210


__ADS_3

Shena tertegun melihat penyelamatnya yang tak lain adalah suaminya sendiri berdiri tegak sambil memegang batang kayu panjang yang entah ia dapat darimana. Kepanikan yang tadi menyerang Shena kini berangsur hilang karena Leo Selakau datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Shena tak bisa menjawab pertanyaan Leo karena mulutnya masih dilakban, sebagai gantinya, ia hanya mengedipkan mata kalau ia baik-baik saja.


Setelah memastikan orang yang hendak menculik istrinya terkapar tak bergerak, Leo bergegas melepas semua ikatan yang melilit tubuh Shena dan secara perlahan ia melepas lakban yang menutup mulut istrinya. Leo memeluk tubuh Shena yang masih shock agar wanita yang dicintainya ini tak ketakutan lagi.


"Tenanglah, Sayang. Kau aman bersamaku," ucap Leo merasakan tubuh Shena sedikit gemetaran.


Bertepatan dengan itu, datanglah segerombolan orang memakai pakaian kasual mendekat ke arah Leo dan Shena. Mereka itu ternyata adalah anak buah Leo yang sedang menyamar menjadi warga biasa.


"Maaf Tuan muda, kami terlambat. Ban kami bocor ditengah jalan sehingga kami kehilangannya tadi," lapor pengawal Leo itu sambil menundukkan kepala mereka.


"Aku tahu. Singkirkan orang ini dan gantikan posisinya, gunakan alat pengubah suara agar kalian tak dicurigai. bilang pada bosnya kalau orang ini telah salah culik orang dan langsung melepaskannya," perintah Leo pada anak buahnya.


"Baik Tuan muda," tandas semua pengawal itu dan langsung melaksanakan apa yang Leo perintahkan.


"Siapa lagi orang ini?" tanya Shena. "Kenapa dia menculikku? Apa dia mengenalku?"


"Ehm, orang itu adalah mata-mata yang diperintahkan untuk mengawasi kita. Sepertinya ia belum melaporkan kalau kita berdua masih hidup karena orang ini belum yakin 100%. Itulah kenapa tadi ia menculikmu untuk memastikan apakah kau benar-benar istriku atau bukan. Tak hanya kita saja yang diawasi, Roy dan Laura juga. Dan sekarang si kampret Roy sedang membereskan mereka satu persatu supaya tak bisa melaporkan apa yang terjadi pada orang yang ingin melenyapkan kita." Leo berjalan pelan sambil memeluk Shena. Pandangan matanya terlihat serius seolah sedang ada yang ia pikirkan. Bagaimanapun bentuk ekspresi Leo, ia tetap saja terlihat keren dan tampan.


"Aku tahu aku tampan dan menawan, Sayang. Kau tak perlu memandangiku sampai seperti itu, aku jadi ingin memakanmu, auurgh!" Leo mengaung seperti singa dan pura-pura menerkam Shena untuk menggodanya.


"Apaan, sih? Nggak lucu tahu! Lagian siapa yang ngliatin kamu? Dadar GeErr!" Shena membuang muka menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan terpesona pada Leo.


"Tidak perlu malu, Sayang. Berapa tahun kita hidup bersama, hm. Aku milikmu seutuhnya, kau boleh memandangiku sesuka hatimu. Tadi aku hanya bercanda." Leo memeluk Shena dengan erat. Dan tentu saja perlakuan sweet Leo ini membuat hati Shena jadi berbunga-bunga.


Shena tahu kalau Leo bersikap seperti hanya untuk menghiburnya agar tak terlalu mencemaskan persoalan yang sedang menimpa mereka. Namun, tetap saja Shena masih merasa gelisah memikirkan orang-orang yang ingin melenyapkannya hanya karena haus akan harta dan kekuasaan. Padahal kalau mereka mati mereka tak membutuhkan semua itu.


"Mereka benar-benar kejam," ujar Shena lirih dan sudah mulai merasa tenang dipelukan Leo.


"Heh, kau bilang apa, Sayang?" tanya Leo.


"Maafkan aku karena tadi tak mendengar ucapanmu. Harusnya aku tetap didalam mobil sampai kau datang kembali, habis aku sudah tidak bisa menahan lagi, aku ingin cepat-cepat pergi ke toilet untuk memenuhi panggilan alam."

__ADS_1


"Aku tahu, aku hanya pura-pura pergi karena aku melihat ada yang mengawasi kita dari balik mobil. Saat aku masuk ke MC D, orang itu langsung membuntutimu dari belakang dan aku bergegas kemari. Syukurlah aku tepat waktu. Akulah yang harusnya minta maaf padamu, Sayang. Karena telah menjadikanmu umpan. Aku benar-benar kesal."


"Padaku?" tanya Shena melihat wajah Leo berubah ekspresi lagi.


"Bukan, pada orang yang telah merusak momen bahagia kita. Harusnya kita sudah melakukan ritual bulan ...."


"Kau ini!" Shena memukul bahu Leo dan memotong ucapannya.


"Auch," rintih Leo sambil membungkukkan tubuhnya. "Sakit Sayang, luka bekas tembak dipunggungku masih terasa."


"Maaf, aku lupa. Habisnya kau menyebalkan sekali. Dalam keadaan begini, masih saja kau berkata seperti itu."


"Nyatanya, memang seperti itu Sayang. Seandainya aku tak tetembak mungkin ..."


"Sudah cukup, aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Kita fokus dulu pada orang-orang yang berniat jahat pada kita. Sampai kapan perang ini akan berakhir, sepertinya dimanapun kita berada selalu ada saja bahaya."


"Sampai malam ini. Akan aku pastikan padamu. Begitu terbit fajar, tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik ketenangan hidup kita. Percayalah padaku." Leo mengecup kening Shena dengan mesra. "Tapi sebagai hadiahnya ...."


"Oke-oke, aku tahu. Jangan diteruskan lagi," potong Shena cepat sebelum Leo semakin membuatnya kesal.


"Iya, aku tahu." Shena semakin sewot pada Leo.


"Terus?"


"Apanya yang terus?"


"Kau bilang, kau tahu?"


Shena memejamkan mata dan mencoba bersabar menghadapi sikap bengek Leo yang terus saja memancingnya mengatakan hal yang tak ingin ia katakan.


"Terus ...," ujar Shena membuka matanya dan menatap tajam mata Leo.

__ADS_1


"Teruskan." Leo tersenyum senang.


"Terus ... kau ... harus ... buka ...." Shena sengaja menggantungkan kata-katanya.


"Wah, ini yang ingin aku dengar, buka apa?" tanya Leo dengan suara yang menggoda.


"Bukaaaa ..." Mata Shena mengedip jahil pada Leo.


"Iya ... buka apa, Sayang?" tanya Leo sudah tidak sabar.


"Bukakan pintu mobil itu untukku. Kita harus lanjutkan perjalanan dan cari tempat makan yang aman. Aku sudah lapar sekali." Shena merengek manja pada suaminya yang langsung keki karena jawaban Shena tak sesuai ekspektasi Leo.


Leo membuang muka menutupi rasa kesalnya, ia kira Shena bakal membicarakan hal-hal eksotis dengannya, tapi termasuk tidak. Istrinya itu malah minta dibukakan pintu. Tak ada yang bisa dilakukan selain menuruti permintaan Shena. Ia membukakan pintu mobil. Keduanya masuk ke dalam dan melanjutkan perjalanannya. Shena tersenyum puas karena berhasil menjahili Leo.


Rasakan, memangnya cuma kau saja yang bisa jahil? Aku juga bisa, batin Shena puas menikmati wajah manyun suaminya.


***


Dua jam lebih telah berlalu dan kini Shena tiba di sebuah vila yang letaknya ada di tengah hutan. Vila ini memiliki pagar dinding yang menjulang tinggi dimana setiap jarak tertentu dipasang senjata api otomatis dan dilengkapi dengan cctv yang tersebar disetiap sudut area vila ini. Sepertinya, sistem keamanan di sini sangat ketat dan juga super duper canggih. Bahkan burung-burung yang terbang diatas area vila ini langsung tertembak mati oleh senjata otomatis yang sudah terpasang ditempatnya.


"Tempat apa ini?" tanya Shena.


"Ini markas rahasiaku. Aku meminta Roy membangun markas ini beberapa bulan yang lalu. Didalam sana, ada tempat pembuatan robot yang mirip sekali denganku. Kau mau lihat? Akan aku tunjukkan padamu jika kau mau.."


"Wuah, benarkah? Tentu saja aku mau lihat," seru Shena tak bisa menyembunyikan rasa terpukaunya. Ia tak pernah menyangka kalau suaminya Leo bisa terpikir untuk membuat markas luar biasa seperti ini.


"Selama di sini, jangan sembarangan menyentuh apapun, Sayang. Sistem sensor di sini sangat ketat. Jika ada pergerakan aneh diluar kendali sensor, maka senjata otomatis yang terpasang disekeliling dinding ini akan melenyapkanmu. Seperti ini, dor!" Leo menembak kepala Shena dengan jari telunjuknya untuk menakut-nakuti istrinya sendiri.


"Dasar gengster!" ujar Shena sambil terus menatap wajah suaminya yang sejak tadi berubah-ubah ekspresi.


Sebentar terlihat serius, sebentar telihat menyebalkan, sebentar terlihat keren dan cool, sebentar lagi terlihat kekanak-kanakan. Itulah Leo gengster nggak ada akhlak yang susah sekali ditebak.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2