
Tak pernah terbayangkan dibenakku, kalau aku … bakal mencintai seseorang sedalam ini. Aku hanya tidak rela bila dia meninggalkanku secepat ini. Aku tidak mau hidup sendiri tanpa dia. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain dia. Leo … aku takkan biarkan dirimu mengorbankan nyawamu untuk kami semua. Karena aku … aku sangat mencintaimu. Biarlah aku menunjukkan betapa besar cintaku padamu. Maafkan aku, aku rasa, diantara kita berdua, akulah yang harus pergi dulu. Jika ini adalah akhir dari kebersamaan kita, maka matipun aku takkan pernah menyesal. Sepanjang sisa hidupku … aku sangat bahagia karena telah dicintai olehmu. Dicintai oleh seorang Leopard Bay Pyordova. Terimakasih Sayang … terimakasih untuk segala hal yang kau berikan padaku dan juga … selamat tinggal.
Kata-kata itu merupakan ungkapan hati Shena didetik-detik terakhir ia kehilangan kesadarannya begitu tubuhnya terhempas ke udara setelah tertabrak mobil taksi. Pandangan mata Shena mulai buram dan iapun langsung tak sadarkan diri.
Yah, itulah Shena yang rela menukar posisinya dengan posisi suaminya saat Leo berada diambang kematian dengan harapan ia bisa menyelamatkan Leo dari malaikat maut. Sebagai gantinya … dirinyalah yang harus berkorban nyawa.
“Shenaaaaaa!” teriak Leo dan iapun berlari mendapati tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri dengan luka dibagian kepala dan sekujur tubuh lainnya. “Tidak! Kau tak bisa lakukan ini padaku! Kenapa? Kenapa Shena!” pekik Leo antara shock dan juga panik.
Kecelakaan yang menyebabkan Shena terluka langsung membuat heboh semua warga. Kemacetan di jalan raya terjadi dimana-mana. Beberapa orang langsung berkerumun dilokasi kejadian dan Refald langsung bertindak cepat menolong Shena.
“Cepat, bawa istrimu ke rumah sakit sekarang!” seru Refald sambil meletakan telapak tangannya dikepala Shena yang terluka untuk menghentikan pendarahnnya. Tentu saja hal itu Refald lakukan tanpa kentara.
Setelah mendapat kode dari Refald, dengan hati-hati Leo menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil ambulans yang langsung tiba hanya dalam waktu hitungan menit. Kebetulan, letak rumah sakit dari tempat terjadinya kecelakaan yang menimpa Shena, tidak terlalu jauh sehingga Shena bisa segera mendapat perawatan.
Sementara Fey, mengambil alih semua anak-anak Leo dan juga Rey sendiri. Fey mencoba menenangkan mereka semua karena terlihat shock berat sampai tak bisa berkata-kata. Terutama Bima. Putra kedua Leo itu terus saja menangis tanpa henti. Dan memanggil-manggil, nama Shena. Sedangkan Lea, ia bersandar di bahu Rey dan Yeon secara bergantian. Syukurlah Rey dan Yeon terlihat jauh lebih tegar dibandingkan Bima dan Lea sehingga istri Refald itu tak terlalu mengkhawatirkan mereka berdua.
“Bibi … apa yang terjadi pada ibu? Kapan dia datang menemuiku, Bi? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Bima masih sambil menangis dipelukan Fey. Saat ini Fey sengaja membawa anak-anak itu ke sebuah tempat yang bisa bikin rileks suasana.
“Ibumu akan baik-baik saja, jangan menangis lagi Bima.” Fey memeluk lembut tubuh anak kecil itu dan ikut trenyuh juga melihat wajah sedihnya.
__ADS_1
Fey berharap pelukannya bisa membuat putra kedua Leo merasa tenang. Sementara Rey, Yeon dan Lea hanya diam dipojokan tanpa berani berucap apa-apa. Fey tahu apa yang sedang dirasakan anak-anak ini. mereka pasti menyalahkan diri sendiri atas insiden yang menimpa Shena.
Dibandingkan dengan keempat anak ini, Feylah yang paling merasa bersalah dan bahkan berencana lari dari kenyataan dan takdir ini. Meskipun dirinya dan Refald tahu kalau ini bakal terjadi pada Leo dan Shena, ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun Fey tak boleh lemah sekarang, terutama dihadapan putra putri Leo dan Shena yang sudah ia anggap seperti anak-anak Fey sendiri.
“Ini juga bukan salah kalian,” hibur Fey pada Rey, Lea dan Yeon. “Aku harap, kalian tidak menyalahkan diri sendiri. Shena adalah wanita yang sangat kuat. Berkali-kali ia menghadapi maut seperti ini dan pada akhirnya ia tetap bisa bersama dengan kita hingga sekarang. Kali inipun pasti juga sama. Percayalah padaku dan hati kalian masing-masing, bahwa Shena akan baik-baik saja. Kalian semua yang ada di sini, juga harus kuat demi menyambut Shena kembali hadir di tengah-tengah kita.” Fey sengaja mengucapkan kata-kata penyemangat untuk malaikat-malaikat kecilnya yang sedang bersedih ini. Ia merentangkan kedua tangannya dan meminta Rey serta yang lainnya untuk memeluk dirinya.
“Benarkah Bibi Shena akan baik-baik saja, Ibu? Ibu berkata seperti itu bukan hanya untuk menyenangkan kami, kan?” tanya Rey masih belum bisa percaya semua ini.
Pertama kalinya sepanjang ia dilahirkan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kejadian mengerikan itu bisa terjadi dihadapannya hanya dalam hitungan detik saja. Rasanya, ini semua adalah mimpi belaka. Mustahil bagi bibinya untuk selamat terlepas dari apa yang menimpanya.
“Ehm.” Fey mengangguk mencoba berusaha tegar sekaligus meyakinkan dirinya sendiri. “Kau punya ayah dan paman yang sangat hebat. Mereka berdua takkan membiarkan bibimu kenapa-napa. Kau mengerti maksudku kan, Rey?” Fey mengelus pelan rambut putranya.
Awas kau! Ryuzaki Sano! Batin Rey sambil menatap tajam jendela luar.
***
Dirumah sakit The University of Tokyo. Shena langsung dibawa menuju ruang operasi. Refald dan Leo juga memakai seragam dokter untuk memantau langsung jalannya operasi yang akan dijalani Shena. Rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit terbaik di dunia, jadi Shena pasti akan mendapat perawatan maksimal disini.
Para dokter ahli dalam bidangnya sudah berkumpul dan bersiap untuk melakukan operasi. Tak sama seperi saat operasi Leo beberapa tahun silam, kali ini Refald tak diperbolehkan ikut andil dalam operasi Shena kecuali kalau dalam keadaan genting. Sebab peraturan di rumah sakit besar ini sangatlah ketat dan terstruktur.
__ADS_1
Siapapun harus mematuhi seluruh prosedur yang berlaku bila ingin ikut adil dalam operasi Shena sekalipun itu adalah kerabat Shena sendiri. Raja dedemit itu tak ingin ribet makanya ia terpaksa menuruti peraturan dan prosedural yang diterapkan dalam rumah sakit ini. Mau tidak mau, baik Refald ataupun Leo sendiri, harus menyerahkan sepenuhnya nyawa Shena ditangan dokter-dokter ahli di rumah sakit ternama ini.
"Apapun yang terjadi, tolong selamatkan istri saya, Dok!" ujar Leo sesaat sebelum dokter itu memulai operasinya.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan muda. Tunggulah diruangan lain hingga operasi ini selesai."
Leo menurut, Refald membisikkan sesuatu pada dokter itu dan iapun berdiri disamping Leo mengamati jalannya operasi.
“Istrimu pasti akan baik-baik saja. Percayalah padaku,” hibur Refald pada Leo yang menatap dingin meja operasi dari balik kaca jendela yang disediakan khusus untuknya dan juga Refald.
“Kau sudah tahu kalau hal ini bakal terjadi, tapi kau sengaja tak memberitahu kami,” tebak Leo dan tebakannya itu memang benar.
“Jika aku memberitahumu, hal yang lebih mengerikan bisa saja menimpa kalian semua. Lebih baik kau tidak tahu daripada kau akan kehilangan segalanya. Tentu saja aku tak suka pilihan kedua. Ini adalah takdirmu dan takdir Shena. Jika kalian berdua bisa melalui ini semua bersama … maka, aku pastikan kau akan hidup bahagia bersama istrimu selama-lamanya.”
Leo terpaku mendengar penjelasan kakaknya. Pandangan matanya memang fokus menghadap Shena, tapi pikiran Leo melayang entah kemana. Leo kembali teringat akan firasat hati yang pernah Shena ungkapkan padanya jauh sebelum kecelakaan ini terjadi. Dari sini, Leo baru mengerti. Inilah yang dimaksud Shena waktu itu.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1