
Shena dan Leo baru bisa berhenti berguling-guling setelah keduanya nyungsep masuk kedalam rimbunan tanaman teh yang ada diperkebunan milik Shena sendiri. Keduanya saling menatap satu sama lain setelah sempat bersitegang akibat rasa cemburu Leo yang berlebihan.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Shena jadi salah tingkah ditatap Leo. Ia hendak bangun, tapi suaminya malah memeluknya dengan sangat erat.
“Karena aku sangat mencintaimu,” jawab Leo sambil tersenyum.
“Sudahlah, ayo kita pergi dari sini? Bagaimana punggungmu?” Shena memutuskan untuk tidak menggubris rayuan Leo. Jika lama-lama disini mereka berdua bisa masuk angin.
“Kenapa mengalihkan pembicaraan?”
“Suamiku Sayang, jika lama-lama disini, kita berdua bisa sakit. Aku tidak ingin kau kenapa-napa karena ak ....”
Belum juga Shena selesai bicara, Leo langsung membalikkan tubuh Shena sehingga posisi mereka berdua tertukar. Kini giliran Leo yang ada diatas dan Shena berada dibawah.
“Berapa lama kita tidak main bulan tertusuk ilalang, Sayang?” Tak disangka Leo langsung to the poin.
“Hah?” Shena tersentak karena tiba-tiba saja, Leo menanyakan hal itu. Nah loh, Leo mulai kumat. Habislah aku sekarang! batin Shena.
“Jawab, Sayang?” Mata Leo terus menatap manik mata Shena.
“Ehm, sebulan lebih kayaknya,” jawab Shena gugup.
“Lama juga, ya? Bukankah kau juga baru selesai?” Leo tersenyum sambil membelai rambut Shena yang basah.
Aduh, gawat! Bagaimana Leo bisa tahu? Batin Shena lagi, dan ia sendiri juga tidak bisa menghindar bila Leo menuntut haknya sebagai suami.
“Apa ... kita ... akan melakukannya disini?” tanya Shena juga tak kalah to the poin, karena ia tahu kemana arah pembicaraan suami nggak ada akhlaknya ini.
“Kenapa? Kau keberatan?”
“Bukan begitu, masa harus ditempat ini? Ini lagi hujan loh, aku bahkan kesulitan melihat dan bicara kerena air hujan ini. Lagipula, bagaimana kalau ada orang yang melihat kita?”
“Biarkan saja, kan kita sudah menikah.”
“Tapi masa harus disini?”
Leo tersenyum mencurigakan. Ia bangun berdiri dan langsung menggendong tubuh Shena keluar dari rimbunan tanaman teh. Pakaian dan rambut mereka sangat berantakan. Daun-daun teh pada lengket dibadan dan kepala keduanya. Syukurlah hujan mulai reda sehingga Leo dan Shena bisa kembali pulang.
__ADS_1
“Bukankah kau sedang terluka? Kenapa malah menggendongku?” tanya Shena sambil melingkarkan tangannya dileher Leo.
“Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena telah cemburu berlebihan padamu.”
“Aku sudah memaafkanmu, orang bilang cemburu itu tanda cinta. Kau cemburu karena kau sangat mencintaiku. Sekarang turunkan aku. Aku tidak mau kau sakit.”
“Tidak mau! Aku ingin menggendongmu karena momen ini, adalah momen beharga bagiku.” Leo berhenti berjalan dan memandang sekeliling. “Apa kau ingat sesuatu, Sayang?” tanya Leo senang.
“Tentu saja, mana mungkin aku melupakan momen ini. Kau menyelamatkanku saat aku tersesat ditengah hamparan padang teh. Saat itu, aku mengira ... aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Tapi begitu aku memanggilmu, kau langsung datang dihadapanku. Itu adalah momen penting dalam hidupku karena aku mulai tahu segalanya tentangmu dan juga hubungan kita. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakan momen-momen indah kebersamaan kita.” Sebuah ciuman manis mendarat di bibir Shena yang basah karena habis terguyur air hujan.
“Hambar,” gumam Leo setelah selesai mencium Shena.
“Apanya?”
“Bibirmu, aku suka saat kau memakai lipstik rasa stroberi,” ujar Leo sambil tertawa.
“Kau ini ada-ada saja? Wajah kita berdua basah karena air hujan, wajar jika terasa hambar karena kau menghisap air hujan juga.” sekali lagi, Shena mendapat ciuman mesra dari Leo.
“Tidak masalah walaupun hambar, aku tetap suka.” Leo terus menatap wajah merah merona Shena.
“Aku sangat suka wajahmu yang seperti tomat itu, Sayang. Kau semakin cantik.”
“Berhenti merayuku. Kita sudah bukan anak remaja lagi.”
“Siapa yang peduli, aku suka sekali merayumu apalagi jika kau jadi malu-malu tapi mau.” Leo terkekeh.
“Sebenarnya, apa yang tidak kau suka dariku.”
“Tidak ada? Aku suka semua yang ada dalam dirimu termasuk keromantisan kita yang tiada tandingannya ini.”
“Heeeeuuuhhh.” Shena menghela napas panjang. “Terserah kau sajalah. Kau itu bukan romantis, tapi nggak ada akhlak!” Shena mencoba mencium pipi suaminya untuk mengetahui seperti apa reaksi Leo. “Kenapa kau tidak merah merona sepertiku?” tanya Shena.
Leo menyeringai. “Bukan wajahku yang merona jika kau menciumku begitu Sayang, tapi etalibunku! Dia jadi ingin juga.”
“Hah? Kau ini sungguh mesum sekali!”
Leo tertawa keras melihat wajah Shena menjadi semakin merah. Saking malunya Shena menenggelamkan wajahnya didada Leo.
__ADS_1
Dasar Leo nggak ada akhlak! Batin Shena, tapi entah kenapa ia juga sangat bahagia karena bisa bersama Leo selamanya. Bahkan ia sungguh senang karena masih bisa mengulang adegan teromantis pertemuan mereka setelah sempat terpisah gara-gara dikerjai Byon.
“Sepertinya sekarang, kita sedang mengulang adegan saat aku menemukanmu setelah kau kabur dariku. Hanya saja posisi kita terbalik, kaulah yang menemukanku.” Leo menempelkan dahinya di dahi Shena dengan penuh cinta.
Keduanya saling melempar senyum mengenang masa lalu indah mereka. Leo membawa Shena ke sebuah rumah yang tidak jauh dari tempatnya berada. Tempat itu adalah rumah orang tua Shena yang kini sudah menjadi milik Shena berkat Leo. Keduanya saling tertawa riang dan Leo langsung membawa Shena masuk ke dalam kamar. Leo hendak merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur sama seperti yang dulu pernah Leo lakukan, tapi Shena langsung mencegahnya.
“Tunggu, Leo. jangan rebahkan aku diatas tempat tidur!” sergah Shena dan Leopun mengurungkan niatnya, tapi masih tetap menggendong istrinya.
“Kenapa Sayang?”
“Lihat tubuh dan pakaian kita, kotor sekali!”
“Aku bisa menggantinya dengan yang baru nanti.” Leo hendak merebahkan tubuh Shena lagi tapi untuk kesekian kalinya Shena kembali mencegahnya.
“Apa tidak sebaiknya, kita berdua mandi dulu? Kau dan aku kotor sekali sekarang.”
“Nah, ide yang bagus, kenapa aku bisa lupa. Baiklah kita mandi dulu.”
Shena menghela napas lega karena akhirnya bisa menunda sedikit ritual yang sudah lama tidak mereka mainkan, tapi anehnya kenapa Leo tidak juga menurunkan tubuhnya.
“Kenapa kau tidak menurunkanku?” tanya Shena.
“Kenapa aku harus menurunkanmu?” Leo malah balik bertanya.
“Turunkan aku, aku mau mandi dulu!”
“Siapa bilang kau boleh mandi dulu? Kita mandi sama-sama.” Leo menyeringai nakal dan langsung membawa Shena masuk ke dalam kamar mandi. Ia menurunkan Shena dan kembali berjalan mundur untuk mengunci pintu kamar mandi rapat-rapa supaya Shena tidak melarikan diri.
Selangkah demi selangkah, Leo mulai mendekati Shena sambil melepas satu persatu pakaian yang dikenakannya. Pandangan mata Leo tak pernah lepas dari istri tercintanya. Sedangkan Shena sendiri mendadak jadi gugup setengah mati, ia tahu apa yang bakal terjadi setelah ini, tapi sejujurnya Shena sama sekali belum siap. Ini adalah kali pertama ia harus melakukan ritual bulan tertusuk ilalang dengan suaminya pasca melahirkan putra pertamanya.
Gawat! Apa yang harus aku lakukan, sekarang? batin Shena dan Leo terus saja mendekatinya.
BERSAMBUNG
****
Dilarang senyam-senyum sendiri, tanggung sendiri akibatnya. hehehe ....
__ADS_1