
Refald yang menyamar sebagai dokter tak banyak bicara, ia memeriksa detak jantung dan nadi tangan Shena saja sambil mengamati adik iparnya yang masih belum sadarkan diri juga. Refald melirik sahabat Shena yang juga ikut mencemaskan keadaan Shena. Apalagi Roy, sejak tadi dia mondar-mandir kesana kemari dan setiap 5 menit sekali menelepon anak buah Leo untuk menanyakan apakah operasi Leo berjalan dengan lancar atau tidak.
Sementara Laura terus tertegun melihat wajah pucat sahabatnya. Sebenarnya wanita cantik itu ingin menangis, tapi ia tahan agar Roy tak mencemaskan dirinya. Daridulu, jika terjadi sesuatu pada Shena, Laura hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena tak bisa berbuat banyak untuk sahabat sejatinya. Yang bisa Laura lakukan sekarang cuma berdoa yang terbaik untuk Shena dan itu membuat Laura semakin sedih dan merasa buruk sekali.
"Dia baik-baik saja dan hanya butuh ruang untuk istirahat total. Sebentar lagi, Leo akan dibawa kemari karena operasinya berjalan dengan lancar. Kalian berdua bisa istirahat dengan tenang sekarang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan." Refald memberitahu kondisi terkini Shena dan Leo agar sahabat-sahabat Leo dan Shena ini tak terlalu cemas lagi.
Roy dan Laura langsung bernapas lega mendengar kabar baik dari dokter muda asing ini. "Benarkah itu, Dok? Leo baik-baik saja?" tanya Roy, matanya menatap lurus dokter yang tak lain adalah Refald.
"Itu benar, " jawab Refald singkat.
"Terimakasih dokter Rafl," ujar Roy membaca nama dokter yang ada di kartu identitas Refald.
"Sama-sama." Refald tersenyum tanpa berkata apa-apa dan langsung pamit undur diri.
Tanpa ada yang tahu, Refaldpun menghilang dari balik pintu meninggalkan rumah sakit kembali kerumahnya sendiri dimana Fey sudah menunggunya sejak tadi.
***
Beberapa jam telah berlalu, Shena mulai terjaga dan perlahan ia membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat saat ia sadar adalah langit-langit ruangan yang bernuansa putih. Jika dilihat dari dekorasinya, ruangan ini sama sekali tidak asing bagi Shena. Tidak salah lagi, Shena berada di ruang inap salah satu rumah sakit di Jepang tempat Laura masih dirawat pasca melahirkan.
Kepala istri Leo itu terasa pusing dan juga berat. Tiba-tiba saja rasa mual mulai menyerang saat ia mencium bau obat. Shena terkejut mendapati dirinya juga diinfus. Ia langsung shock lagi saat mengingat kejadian yang menimpa suaminya dan entah bagaimana keadaan suaminya sekarang. Buru-buru Shena bangun dari tidurnya dan hendak melepas selang infusnya agar bisa berlari keluar mencari keberadaan Leo.
__ADS_1
Seperti apa kondisi Leo sekarang? Apakah operasinya berjalan lancar atau tidak, Shena sungguh ingin tahu. Namun niat Shena untuk melepas selang infusnya tak jadi dilakukan karena ia melihat seseorang yang ia cari sedang terbaring lemas di sampingnya, di ranjang yang berbeda dengan Shena.
Shena mengusap-usap matanya untuk memastikan penglihatannya, apakah orang itu benar-benar Leo atau bukan. dan tidak salah lagi, seseorang yang terbaring di atas ranjang tak jauh dari tempatnya sekarang adalah suaminya sendiri. Shena tetap melepas selang infusnya dan berjalan pelan menunju Leo untuk memastikan sekali lagi, apakah yang ia lihat ini nyata ataukah hanya mimpi belaka.
Dan ternyata benar, seseorang itu adalah Leo. Suami Shena ini masih belum sadarkan diri pasca menjalani operasi. Shena buru-buru duduk disamping Leo dan menggenggam erat tangan suaminya. Berkali-kali Shena menciumi tangan itu sambil berurai air mata. Perasaan Shena kini campur aduk antara bahagia dan juga sedih. Jika Leo ada disini, artinya suaminya ini telah melewati masa kritis dan hanya tinggal menunggu ia sadar saja.
"Terimakasih telah kembali, Suamiku," ujar Shena di sela-sela tangisannya. "Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa jadinya aku jika kau benar-benar pergi meninggalkanku. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu, kau dengar aku Leo?" Isak Shena, tapi yang diajak bicara masih belum bereaksi apapun.
Tiba-tiba saja Laura masuk ke dalam ruangan dan betapa terkejutnya ia setelah melihat Shena duduk di samping Leo. "Shena, kau sudah sadar? Apa yang kau lakukan? Jangan banyak bergerak dulu? Kenapa kau melepaskan selang infusnya? Kau juga butuh banyak istirahat. Pikirkan janin yang sedang kau kandung," cerocos Laura pada sahabatnya. Ia bahkan membimbing Shena untuk tidur kembali di ranjangnya.
"Kenapa Leo masih belum membuka matanya, Ra?" tanya Shena. Pandangan matanya tak pernah lepas dari Leo.
"Dokter muda?" tanya Shena.
"Iya, semua dokter yang ada di sini sangat mengaguminya. Hanya saja sekarang tidak ada yang tahu dimana keberadaan dokter keren itu sekarang. Gosip terbaru sih dia langsung pulang ke Jerman."
Shena tertegun mendengar penjelasan Laura. Jangan-jangan dokter muda yang Laura bicarakan adalah kak Refald, batin Shena.
"Istirahatlah dulu sebentar, aku akan panggil dokter untuk memberitahu kalau kau sudah sadar." Laura menepuk pelan bahu Shena dan pergi meninggalkannya berdua saja dengan Leo.
Malampun tiba, tapi Leo masih belum sadar juga. Dokter bilang, jika sampai 24 jam Leo masih belum sadarkan diri, maka terpaksa ia harus kembali dibawa ke ruang ICU dan menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah ada efek samping pasca operasi yang dijalani Leo.
__ADS_1
Mengetahui hal itu, Shena tampak sedih dan menatap sendu wajah pucat suaminya. Sekelebat kenangan manis antara dirinya dan Leo melintas begitu saja diingatan Shena.
Sejak keduanya menikah, hidup Shena bahagia dan sempurna. Leo selalu saja memberikan cinta tak terbatas untuk Shena. Bahkan luasnya samudra tak cukup untuk menggambarkan betapa besar rasa cinta Leo untuk Shena. Kini, hati Shena seakan hancur melihat laki-laki yang amat sangat ia cintainya ini terbaring lemah didepannya. Ini pertama kalinya Shena melihat suaminya seperti ini dan Shena hanya bisa menangis dalam diam.
"Aku merindukanmu, Leo. Sangat sangat sangat merindukanmu. Senyumanmu, suaramu, rayuanmu, kejahilanmu, kata-kata cinta yang keluar dari mulut manismu dan sikapmu padaku, aku merindukan semua itu. Apa kau tak rindu padaku?" Isak Shena sambil menggenggam tangan suaminya.
Shena bahkan merebahkan kepalanya disamping Leo seolah enggan melepas tangannya dari tangan Leo. Air matanya juga terus saja mengalir deras melihat tak ada rekasi apapun dari suaminya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau membuka matamu Leo," Isak Shena sambil terus menatap wajah tampan suaminya.
Tanpa sadar, Shenapun tertidur di samping Leo dan samar-samar, ia merasa kalau ada yang mencium ubun-ubun kepalanya sambil berkata, "Aku mencintaimu, Sayang." Sontak Shena terbangun dan ternyata, itu hanyalah mimpi belaka
Istri Leo itu yakin kalau yang menciumnya barusan adalah suaminya. Namun kenyataannya, Leo masih terbaring lemah di ranjangnya. Mata Leo juga masih tertutup rapat.
Semakin sedihlah Shena, padahal untuk sesaat ia bahagia karena mengira Leo telah sadar dari tidurnya, tapi ternyata tidak. Suaminya masih belum mau membuka matanya.
"Shena," ujar seseorang.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1