
Intimidasi Leo sukses membuat Shena tak bisa melakukan apa-apa. Ia lupa kalau suaminya ini bisa melakukan apa saja yang membuatnya mati kutu. Bahkan bisa bertindak nekat tanpa merasa malu. Untungnya, di ruangan ini hanya ada Laura dan Roy saja, jadi Shena masih bisa bertahan meskipun Leo sudah membuatnya malu habis di depan sahabatnya atas ulah Leo yang kumat nggak ada akhlaknya.
“Leo, lepaskan aku! Aku mau bertemu dengan Yeon.” Shena mulai beralasan.
“Yeon sedang tidur. Aku baru saja menyuruh bibi pengasuh untuk meletakkan Yeon di tempat tidur.” Leo sengaja mematahkan alasan Shena.
“Aku mau ke toilet!” ujar Shena.
“Bagus, aku juga! Ayo, kita ke toilet sama-sama.”
“Leooo,” rengek Shena.
“Iya Sayang! Kau mau kugendong?” Leo terus menjahili Shena yang sudah sangat kesal padanya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Shena menyerah, ia tak punya tenaga untuk meladeni Leo si tukang jahil ini.
Dengan senyuman manis yang dibuat-buat, Leo membisikkan sesuatu di telinga Shena sehingga membuat mata istrinya itu terbelalak menatapnya. “Sekarang?” seru Shena. “Apa kau sudah gila?” seru Shena.
“Iya, aku gila karena cinta,” jawab Leo sok puitis.
“Masa harus sekarang?” tanya Shena lagi.
__ADS_1
“Ehm.” Leo mengangguk pelan. “Katakan, mau melakukannya secara sukarela, atau kupaksa.” Leo memberikan pilihan yang membuat jantung Shena jadi kembang kempis menghadapi kejahilan suaminya.
Dasar nggak ada akhlak! Kapan sifatmu yang menyebalkan itu hilang, ha? batin Shena kesal. Ia sangat tahu tak ada kata penolakan dalam kamus Leo. Shena tak ingin menimbulkan masalah di sini, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, Shena terpaksa menuruti suaminya.
“Ayo! Kita cari tempat lain saja!” ujar Shena dengan ekspresi super duper kesal menatap wajah tampan Leo.
Mendengar ucapan Shena, perlahan, Leo melepas pelukannya sambil tersenyum puas karena istrinya sangat kooperatif sekali. Begitu dekapan Leo terlepas, tanpa suara, Shena berlalu pergi tanpa mau menoleh pada Roy dan Laura lagi. Bukannya apa-apa, Shena cuma tidak ingin sahabatnya itu melihat seperti apa ekspresi badmood Shena sekarang.
Namun, baru juga selangkah tubuh Shena langsung digendong Leo dari belakang dan membawanya keluar ruangan. Leo terus menatap wajah Shena yang enggan menatapnya. Tatapan mata Shena kosong karena ia terlalu kesal dengan Leo.
“Kami pergi dulu, kado kejutanmu yang asli akan tiba nanti, bye!” ujar Leo senang. Roy dan Laura sama sekali tak bereaksi, mereka hanya diam melihat Leo dan Shena secara bergantian.
“Mereka berdua … jangan bilang ….” Laura tak sanggup melanjutkan kalimatnya. “Yang benar saja, masa iya siang-siang begini Leo nekat minta jatah, ditambah lagi Shena kan sedang hamil muda sekarang. Itu namanya penyiksaan verbal, dasar si kampret itu! Pengen banget kujedotin ke dinding aja itu kepalanya!” geram Laura.
“Kok kamu mala belain dia, sih? Kasihan Shena loh.” Laura jadi sewot pada Roy.
“Sayang, apa yang kita lihat hanyalah ulah jahil Leo saja. Dia begitu mencintai Shena melebihi nyawanya sendiri, Leo takkan menyakiti wanita yang dicintainya dalam bentuk apapun.” Roy meyakinkan Laura kalau ulah Leo tadi cuma akting belaka, aslinya sih tidak seperti itu.
Dan yang dikatakan Roy memang benar. Leo tak benar-benar melakukan apa yang ia minta pada Shena. Leo memang sengaja membuat Shena kesal supaya ia punya waktu banyak dengan wanita yang sedang ngambek ini. Sebab, mulai besok Leo akan sangat sibuk dengan Roy. Si gangster itu sangat tahu, kalau Shena sudah bertemu Laura, maka dirinya pasti dinomerduakan oleh Shena. Satu-satunya cara agar Shena memisahkan diri dari Laura adalah dengan cara seperti ini, yaitu membuat Shena Be-Te akut dan mengajaknya pergi. Dengan begitu, Leo jadi punya banyak waktu berduaan saja bersama Shena.
Tadinya, Shena kira Leo bakal membawanya kesebuah ruangan dan melakukan apa yang ia minta, tapi ternyata dugaannya salah. Leo tidak membawanya keruangan manapun, sebaliknya ia malah dibawa Leo naik ke atas balkon rumah sakit dan melihat pamandangan indah kota Tokyo yang kebetulan, lokasinya sangat dekat dengan Tokyo tower. Shena sangat takjub dengan pemandangan di area sekitar ibu kota negara Jepang ini.
__ADS_1
Seketika, rasa kesal Shena mendadak hilang dan berubah senang setalah melihat tower ikon kota Tokyo terpampang jelas di depan matanya. Tower tersebut mengingatkan Shena akan film animasi kesukaannya, yaitu detektif Conan. Dalam film animasi tersebut ada adegan yang mengambil setting Tokyo tower. Dari sejuta ketegangan yang disuguhkan dalam cerita itu, ada momen romantis antara Ran dan Sinichi. Dan itulah yang membuat Shena sangat menyukai film itu.
Melihat ekspresi Shena yang tak lagi ngambek, Leo menurunkan tubuh Shena. Refleks istrinya itu langsung berjalan pelan menuju pagar balkon sambil terus memandangi Tokyo tower. Mata Shena terkagum-kagum melihat betapa indahnya pemandangan Tokyo dari sini. Ingin rasanya Shena berteriak untuk melampiaskan perasaannya, tapi ia tahan karena takut mengganggu kenyamanan penghuni rumah sakit. Ia menoleh pada Leo yang berdiri diam dibelakangnya. Tanpa suara, Shena langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.
“Terimakasih sudah membawaku ke sini, aku sungguh menyukai tempat ini, terutama tower itu.” Shena mulai menangis dan itu membuat Leo jadi heran.
“Ada apa? Kenapa nangis?” tanya Leo sambil mengangkat dagu Shena supaya mau menatap wajahnya. “Kau masih marah padaku?” tanya Leo sekali lagi. “Aku tadi hanya bercanda, Sayang. Cuma itu yang bisa kulakukan agar kau mau pergi meninggalkan Laura. Makanya ….”
“Bukan itu,” sela Shena memotong penjelasan suaminya. “Aku menangis bukan karena aku marah padamu, tapi … “ Shena menundukkan kepalanya lagi dan menangis di dada Leo.
Untuk sesaat, Shena menangis sesenggukan seolah ada beban yang ia pendam dan berusaha ia keluarkan. Leo yang masih penasaran cuma bisa diam dan menenangkan istrinya, Ia benar-benar tidak tahu kenapa Shena tiba-tiba saja menangis tanpa sebab.
“Katakan Sayang, ada apa? Apa yang membuatmu menangis sesenggukan begini? Maaf kalau aku menyakiti hatimu, sungguh aku tadi cuma bercanda,” terang Leo setelah Shena mulai bisa mengontrol emosinya.
“Bukan itu,” Shena mengusap air matanya dan mencoba menenangkan hatinya sendiri.
“Lalu apa? Jangan buat aku mati penasaran, Sayang?” Leo bingung, selama ini tidak ada yang tidak ia ketahui tentang wanita yang amat dicintainya ini.
Leo kira, ia tahu segalanya tentang Shena, tapi ternyata ada yang tidak diketahui Leo sehingga istrinya jadi menangis sesenggukan dipelukannya dan itu membuat Leo jadi merasa buruk. Sebab, ia sudah berjanji di depan makam almarhum orangtua Shena bahwa ia takkan pernah membuat Shena menangis.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***