
Beberapa menit telah berlalu, Yeon tetap betah di tempatnya dan terus menatap Yuna dari kejauhan. Tak berselang lama, gadis manis itupun mulai tergolek dan perlahan membuka matanya yang langsung menghadap ke langit-lagit kamarnya.
Masih setengah sadar, Yuna ingin bangun dari tempat tidurnya tapi sekujur tubuhnya terasa sangat sakit terutama bagian bahunya yang cedera. Luka Yuna akibat insiden kala itu, memang tak membahayakan nyawanya. Tapi meninggalkan cedera akut sehingga Yuna tak bisa berolahraga berat yang banyak menggunakan kekuatan tangan.
“Auch,” rintih Yuna merasakan sakit yang amat sangat di bagian bahu dan kepalanya juga masih berkunang-kunang.
“Jangan bergerak dulu, berbaring saja. Apa yang kau inginkan? Biar kuambilkan untukmu?” tanya Yeon yang masih enggan mendekat ke arah Yuna.
“Apa yang kau lakukan disitu? Ada dimana aku?” tanya Yuna tak menghiraukan peringatan Yeon. Ia tetap bangun sendiri dan mencoba bersandar disandaran kasur sekuat tenaga.
“Huh, kau benar-benar keras kepala sekali.” Putra sulung Leo itu perlahan berjalan mendekati Yuna dan duduk di sebelahnya. “Ini rumah ibu, kau pingsan saat perjalanan pulang dari rumah sakit pasca insiden waktu itu.” Yeon menatap wajah Yuna yang mencoba mengingat-ingat semuanya. Ia juga mengamati bahu Yuna yang sepertinya jauh terlihat lebih baik dari sebelumnya.
“Oh,” jawab Yuna singkat. Ia berpaling dari tatapan mata Yeon dan beralih menatap jendela yang menandakan kalau hari sudah malam.
“Hanya, ‘Oh’?” tanya Yeon heran. “Kau terluka parah saat itu dan yang kau katakan hanya kata ‘Oh’?”
Yuna tak menjawab, ia malah tersenyum manis dan terus memandangi pemandangan malam yang ada di luar jendela seolah sedang memikirkan banyak hal.
“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Yeon tak ingin menyerah. “Kau tahu kalau aku sangat tidak menyukaimu, adik-adikku juga membencimu karena mereka merasa kau merebut ibu dari kami. Tapi kenapa … kenapa kau mengorbankan dirimu demi aku padahal jelas-jelas kau tahu aku benci padamu!”
“Aku tidak mengorbankan diriku demi dirimu. Jangan salah paham,” jawab Yuna lirih. Raut wajahnya tiba-tiba saja menjadi sedih.
“Lalu kenapa? Beri aku alasan!” desak Yeon.
__ADS_1
“Aku hanya … tak bisa melihat bibi Shena bersedih bila sesuatu yang buruk terjadi padamu. Bibi Shena sangat menyayangi anak-anaknya. Bagaimana aku bisa memaafkan diriku jika kalian terluka gara-gara aku? Hanya itu alasanku.”
“Apa kau tidak tahu? Kau bisa saja kehilangan nyawamu?”
“Aku memang sudah mati seandainya saja Bibi Shena tak datang tepat waktu menyelamatkanku. Dan ku tak takut mati asalkan ibumu bisa terus bahagia bersama kalian semua.”
“Apa?” Yeon memicingkan matanya melihat Yuna. Nada suaranya yang tenang seakan memberitahu kalau gadis itu rela mati asalkan Shena tetap bahagia. “Kenapa? Kenapa kau sebegitunya pada ibuku? Dia bukan ibumu? Kita bahkan bukan keluarga.”
“Aku tahu, kalian semua adalah orang asing yang sama sekali tak kukenal sebelumnya. Namun bagiku … bibi Shena adalah sosok ibu yang baik dan juga menyayangi keluarganya. Dimataku, dia adalah malaikatku. Ini pertama kali dalam hidupku, aku mengetahui seperti apa seorang ibu yang sebenarnya. Dan aku sangat mengidolakannya. Sebagai fans beratnya, tentu saja aku rela melakukan apa saja demi tetap membuatnya bahagia.” Sekali lagi, Yuna tersenyum manis. Namun matanya berkunang-kunang dimana ada kesedihan yang begitu dalam tersembunyi dibaliknya.
Tak dapat dipungkiri, Yuna ingin sekali memiliki ibu seperti Shena yang selalu bisa menyayangi seluruh putra putri dan keluarganya. Sayangnya, Yuna tak pernah merasakan kasih sayang seperti itu dari keluarganya sendiri. Untuk sesaat, iapun teringat akan kata-kata Yeon yang sempat memberitahunya seperti apa kisah Shena semasa kecil dulu dan hal itulah yang membuat Yuna menguatkan tekad tentang bagaimana ia akan melanjutkan hidup setelah ini.
Yeon sendiri tercengang mendengar penjelasan yang menurutnya tidak masuk akal bagi seorang Yuna. Sudah jelas terlihat kalau gadis kecil asing ini begitu menyayangi ibunya melebihi anak-anak Shena sendiri. Ada perasaan aneh yang timbul dihati Yeon, marah, benci, kagum dan juga takjub, bercampur jadi satu. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia katakan sekarang. Tanpa suara, dan juga tanpa pamit, Yeon meninggalkan kamar Yuna dan pergi keluar begitu saja.
Yuna yang melihat kepergian Yeon, juga cuma bisa diam saja. Luka-lukanya masih terasa sakit dan ia kembali berbaring diranjangnya. Gadis malang itu kembali merenung sendiri sambil melihat sinar bulan purnama yang meneranginya dari balik jendela kamar Yuna.
***
Leo dan Shena tiba di rumah ketika melihat Yeon berlari keluar dan menuju taman air mancur. Pasangan suami istri itu hanya bisa saling pandang melihat putra sulungnya tiba-tiba saja bersikap aneh begitu.
“Apa yang terjadi pada Yeon? Tidak biasanya ia keluar rumah dan berlari seperti itu? Apalagi ini sudah tengah malam?” tanya Shena.
“Masa kau tidak tahu, Sayang? Seorang anak laki-laki berubah drastis dari kebiasaan yang biasa ia lakukan, itu pasti karena dia … sedang jatuh cinta,” jawab Leo seenaknya.
__ADS_1
“Kau ini bicara apa? Yeon masih anak-anak. Bagaimana mungkin dia jatuh cinta?”
“Aku juga jatuh cinta padamu saat kita masih anak-anak dulu, Sayang? Aku harap kau tidak lupa.” Leo merangkul bahu istrinya dan mengajaknya berjalan mendekati Yeon.
“Benar juga sih, tapi cinta kita dulu itu cinta monyet?” kilah Shena.
“Siapa bilang cinta kita itu cinta monyet? Cintaku padamu asli murni dan tulus. Bahkan aku tak bisa jatuh cinta pada wanita lain selain dirimu seorang. Ada ribuan wanita dihidupku tapi yang kucintai hanyalah dirimu? Tega sekali kau mengatakan kalau cintaku dulu adalah cinta monyet.” Mendadak suami Shena itu malah ngambek nggak jelas. Wajahnya manyun dan ia berhenti berjalan lalu memainkan kakinya dipermukaan tanah mirip seperti anak kecil kalau sedang merajuk.
“Eleuh, eleuh … si tuan muda Leopard ngambek.” Shena mencubit kedua pipi suaminya supaya ia tidak ngambek lagi. “Gemes banget kalau liat suami gengsterku ini ngambek, so cute …” Shena menggoyang-goyangkan kedua pipi Leo ke kanan dan ke kiri.
Leo tidak mau kalah, ia juga membalas mencubit kedua pipi istrinya. Alhasil, pasangan somplak ini malah cubit-cubitan layaknya anak-anak.
“Ayah, Ibu … kalian berdua sedang apa?” tanya Yeon yang mulai menyadari kehadiran Leo dan Shena.
Hanya saja, Yeon terkejut melihat betapa anehnya tingkah kedua orangtuanya. Sungguh Yeon baru tahu kalau Leo dan Shena bisa juga bersikap menggelikan. Mereka berdua tak tampak seperti orang dewasa sungguhan. Sontak Shena langsung melepas cubitannya di pipi Leo dan berdiri agak jauh dari suaminya.
“Yeon,” seru Shena berlari kecil menghampiri putranya. “Kenapa kau ada diluar. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur. Besok malam, kau harus kembali ke Swiss untuk melanjutkan studymu bersama dengan adik-adikmu.” Shena memegang kedua bahu putranya sekaligus mengalihkan perhatian agar Yeon melupakan aksi cubit-cubitannya dengan Leo.
“Apa? Besok? Secepat itu?” tanya Yeon bingung. Wajahnya kembali terlihat kalut seperti benang kusut.
“Kenapa Yeon? Masa liburanmu di sini sudah selesai. Kau harus kembali,” ujar Shena lagi tapi pandangan mata Yeon menatap ke arah lain dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Leo yang menyadari kalau ada something wrong pada putranya, hanya diam menatap tajam wajah Yeon sambil tersenyum simpul. Entah apa yang ada dipikiran ayah dan anak ini, yang jelas, ada sesuatu yang sedang direncanakan Leo untuk putranya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***