
Shena memang sengaja menggores kecil dagu Agne yang secara tidak langsung, istri Leo itu sudah merusak wajah cantik wanita yang sudah berani menggoda suaminya. Sebisa mungkin ulat bulu itu melawan dengan melayangkan tangannya hendak menggampar wajah Shena. Namun, dengan cepat pula, Shena menangkis serangan itu dan memiting tangan Agne kebelakang punggungnya. Wanita itu mengerang kesakitan dan Shena malah mendorong kuat tubuh seksi Agne hingga ia terjebur ke dalam kolam.
Byuuurr!
Agne terjatuh dan masuk kedalam air.
"Huh rasakan! Siapa suruh kau cari gara-gara denganku! Jika wajahmu itu bukan oplas, maka luka goresan kecil didagumu akan segera pulih secepatnya. tapi ... aku tidak bisa jamin akan kembali seperti semula kalau ternyata kecantikan yang kau miliki itu palsu," ujar Shena menepuk-nepukkan kedua tangannya setelah puas menceburkan siluman rubah itu ke dalam air.
Aksi Shena ini mengundang geram teman-teman Agne dan mereka mulai menyerang Shena. Namun, belum juga tangan teman-teman Agne menyentuh tubuh istri Leo, para pengawal Shena dengan sigap menyerang para wanita-wanita yang mencoba membela Agne. Dalam sekejap, semua wanita yang hendak menyerang Shena, dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh para pengawal Shena. Namun, sayang ... kemenangan Shena ini tak bertahan lama. Sebuah tragedi membuat kubu Agne dengan cepat mengembalikan keadaan.
Dor!
Tiba-tiba saja sebuah peluru, menembus punggung salah satu pengawal Shena sehingga pengawal tersebut tumbang seketika. Dan peluru itu, berasal dari teman-teman pria Agne yang ternyata mereka membawa senjata ilegal ke tempat seperti ini.
Para pengawal Shena yang tersisa bergerak cepat melindungi Shena dan mengeluarkan pistol-pistol mereka. Adegan baku tembak pun terjadi di atas gedung vila ini dengan sengit. Meski para pengawal Shena ini sudah terlatih, tetap saja, mereka kalah jumlah. Mau tidak mau, para pengawal Shena ini memilih mundur sementara.
"Bawa Nyonya Shena keluar dari sini. Biar aku yang akan menghadang mereka. Sepertinya, mereka bukan warga sipil biasa. Peluru yang mereka pakai sama seperti yang biasa dipakai oleh terooris!" seru salah satu pengawal Shena.
"Baik!" jawab pengawal Shena yang lain tanpa protes.
"Tidak!" teriak Shena tidak setuju. "Kau juga harus pergi denganku! Jangan ada yang terluka lagi!"
"Sudah tugas kami melindungi keselamatan anda Nyonya, jangan khawatirkan kami," ujar pengawal itu. "Cepat bawa pergi nyonya Shena dari sini! Kita tidak punya banyak waktu!"
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau!" Kukuh Shena. "Aku tidak akan pergi dari sini jika kau tidak ikut denganku. Kita datang bersama, maka kitapun juga harus pergi bersama-sama."
"Mengertilah, Nyonya. Situasinya sedang gawat sekarang! Kita kalah jumlah. Kalaupun bantuan datang, saya khawatir itu akan terlambat karena kami semua tak bisa melindungi anda lebih lama lagi," terang pengawal Shena.
Belum sempat Shena membuka suara, tiba-tiba saja Agne berteriak dengan lantang dan adegan baku tembakpun berhenti seketika.
"Hentikan!" teriak wanita itu. "Jangan ada yang menembak lagi!" serunya lagi.
Agne keluar dari dasar kolam dengan pakaian basah kuyub. Seseorang membawakan handuk untuknya dan membantu memakaikannya. Sementara Shena dan para pengawalnya, tetap berdiri diam dengan penuh waspada.
"Kau bilang apa tadi? Aku salah cari gara-gara denganmu? Hahaha ...." Agne tertawa terbahak-bahak melihat situasi sudah berbanding terbalik. "Sekarang lihat! Kau terjebak, kan? Mereka semua adalah mantan teeroris yang berhasil melarikan diri dari negaranya. Aku merekrut mereka semua untuk berjaga-jaga kalau hal ini bakal terjadi padaku. Sepertinya, bukan aku yang salah pilih orang, tapi kaulah yang sudah salah memilih musuh. Kau masuk ke dalam kandang singa dengan sukarela. Sekarang, tamatlah riwayatmu!"
Agne berjalan mendekat ke arah Shena tapi pengawal Shena menodongkan senjata apinya tepat di kepala Agne. Sedangkan para mantan terooris itu juga menodongkan senjata apinya disetiap kepala pengawal Shena. Jika ada satu saja peluru yang keluar, maka sudah dipastikan semua orang yang ada di sini, akan mati.
Shena tidak ingin mengambil resiko. Iapun memegang salah satu tangan pengawalnya dan memintanya untuk menurunkan senjatanya. Tak ada yang bisa dilakukan pengawal itu selain menuruti perintah Shena.
Mata Shena dan Agne saling beradu pandang satu sama lain. Hanya saja, Shena masih bersikap sangat tenang meskipun ia sedang dalam keadaan terdesak.
"Bagaimana kalau kita bicara ..." tawar Agne.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," sela Shena langsung.
"Kau sudah mau mati tapi masih bisa songong juga, ha?" bentak Agne.
__ADS_1
"Aku tak takut mati, untuk apa tunduk padamu?" Shena masih saja terlihat tenang setenang permukaan air kolam.
Tak seperti musuh-musuh Agne sebelumnya yang langsung memohon pengampunan nyawa bila sudah terdesak seperti ini. Itulah alasan utama kenapa Agne dipanggil 'madam' yang punya kekuasaan penuh terhadap nyawa musuhnya. Sebaliknya, bukannya takut ataupun sedih, Shena malah terlihat santai dan terkesan menantang Agne.
"Kau memang lawan yang tangguh, aku salut padamu. Sayang sekali, hidupmu takkan lama lagi, tapi ... aku akan memberikan kesempatan padamu untuk hidup lebih lama asal kau ... menyerahkan suamimu padaku!" Agne memberikan tawaran yang mengejutkan.
Alih alih marah ataupun kesal mendengar ucapan Agne, Shena malah tertawa keras sampai membuat semua orang heran melihatnya. Cukup lama juga Shena tertawa, dan itu membuat Agne jadi terpancing emosi.
"Kenapa kau tertawa, ha? Apa kau kira aku bercanda?" tanya Agne marah.
"Buahahahaha ... kau bilang apa tadi?" tanya Shena masih sambil tertawa. "Kau ... membiarkanku hidup asal kuberikan Leo padamu?" Shena berusaha menghentikan tawanya. "Kau pikir Leo mau menerima wanita sepertimu? Huh, kau ini lucu sekali, ha? Mana mungkin Leo mau bersanding dengan wanita rendahan sepertimu? Yang ada kau bisa dibikin pepes ikan olehnya. Kau tidak percaya? Coba saja kau hubungi dia. Aku jamin dalam kurun waktu 30 menit, kau dan semua pasukan teerorismu itu, akan segera dikirim Leo pergi bertamasya ke alam baka!" Senyum sinis Shena langsung membuat Agne naik pitam.
Ulat bulu itu berbalik badan dan menyahut pistol milik salah satu temannya lalu ia langsung menodongkan pistol tersebut pada Shena.
"Kau menyebalkan sekali? Percuma aku bicara denganmu! Bagaimana kalau kau saja yang lebih dulu pergi ke neraka sana!" teriak Agne dan bersiap menarik pelatuknya.
Para pengawal Shena pun sigap mengangkat kembali senjatanya dan bersiap menembak juga untuk melindungi Shena. Namun, belum juga adegan baku tembak itu terjadi, terdengar sesuatu yang mengejutkan semua orang, termasuk Shena sendiri.
Dor!
Sebuah peluru tiba-tiba menembak tangan Agne sehingga pistol yang ada ditangan wanita itu terlepas dan pistolnya terlempar jauh masuk ke dalam kolam. Bersamaan dengan itu, beberapa helikopter datang menuju lokasi tempat Shena berada dan orang-orang yang ada di dalam helikopter itu menembaki satu persatu orang-orang Agne yang memegang senjata tanpa ampun.
"Sayang! Aku datang! Apa kau merindukanku?" teriak salah satu orang yang ada didalam helikopter paling depan. Laki-laki itu menggantungkan tubuhnya di pintu utama helikopter sambil memegang sebuah senapan mahal.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***