
Seperti dugaan Leo sebelumnya, latihan yang ia jalani bersama dengan master of kungfu tak semudah yang ia bayangkan. Setiap pagi hingga malam, ia harus latihan dan latihan. Bahkan untuk pemanasan saja, Leo harus berlari mengelilingi tebing yang luasnya hampir dua kali lipat dengan lapangan golf milik Leo sendiri.
Sebenarnya latihan yang ia jalani bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan latihan yang pernah Refald berikan saat ia masih berusia anak-anak. Yang membuat hati Leo menjadi berat adalah waktunya bersama Shena jadi berkurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Mereka memang tidur dan tinggal bersama, tapi setiap kali Leo pergi, Shena masih tertidur pulas karena hari masih terlalu pagi. Dan ketika Leo pulang, Shena juga sudah tertidur karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Jika sudah begitu, Leo tak tega membangunkan istrinya mengingat semakin hari, perut Shena semakin besar saja.
Seperti malam ini, dengan lembut, Leo membelai perut istrinya. Tak terasa, hampir dua bulan sudah Leo berada di tempat ini tapi tak sekalipun Leo bisa bercumbu mesra dengan Shena. ketika ditinggal Leo latihan, istrinya ini menghabiskan waktu bersama bibi Eshild yang juga sudah mulai berangsur sembuh. Mungkin ia senang ada Shena disini sehingga ia punya kesibukan dan teman ngobrol yang bisa diajak berbagi rasa.
Shena sendiri menganggap bibi Eshild sebagai ibu keduanya karena ia dengan senang hati mau membantu Shena mengkonsumsi makanan yang baik untuk dirinya dan calon buah hatinya supaya saat persalinan nanti bisa berjalan dengan lancar. Alhasil, meski Leo tidak punya waktu untukya dan terus sibuk latihan, Shena tidak merasa kesepian dan tetap menjalani hari-harinya dengan senang sembari menunggu detik-detik persalinannya yang sudah mulai mendekati hari H.
Sentuhan lembut tangan Leo berhasil membuat Shena terjaga. Ia tersenyum manis saat pertama kali membuka mata, sudah ada Leo dihadapannya. Suami tampannya itu tersenyum simpul pada Shena sambil membelai lembut pipinya.
“Kau terbangun. Sayang?” ujar Leo dengan suara khasnya yang merdu.
Tanpa sadar, mata Shena mulai berkaca-kaca. Sejak hamil, ia memang gampang sekali menangis. Perlahan, Shena memegang tangan Leo yang mengusap lembut pipinya lalu meletakannya di dadanya seolah melepaskan semua rindu yang terpendam dihatinya semenjak Leo menjalani latihan kerasnya.
Melihat Shena yang menangis tanpa sebab, Leo langsung memeluknya dengan erat seolah enggan melepaskannya lagi.
“Kenapa kau menangis, hm?” tanya Leo sambil terus menciumi kening Shena.
“Aku ... sangat merindukanmu. Sudah lama kau tidak memelukku seperti ini,” isak Shena dalam pelukan Leo.
“Sayang ... setiap hari aku memelukmu seperti ini, kau saja yang tidak menyadarinya karena tidurmu sangat nyenyak sekali. Kau bahkan tidak tahu kapan suamimu pergi dan kembali. Maaf sudah meninggalkanmu sendirian disini, tapi mau bagaimana lagi, latihan itu menyita banyak waktuku.”
“Kau tidak perlu minta maaf, akulah yang membuatmu seperti ini.”
“Tidak, Sayang. Ini bukan karenamu, tapi ini semua untuk kebaikan kita dan seluruh keluarga kita. Apa kau tidak merasakan sesuatu?”
“Merasakan apa?” tanya Shena bingung. Ia menengadah dan memerhatikan wajah Leo dengan seksama.
__ADS_1
“Merasakan kalau cintaku semakin lama semakin kuat untukmu meski kita jarang bertemu selama dua bulan terakhir ini. Sebentar lagi Leo junior kita akan lahir, jadi aku tidak bisa mengunjunginya, tapi sebagai gantinya ... bagaimana kalau besok kita pergi berkencan.”
“Kencan?” Shena agak terkejut kerena tiba-tiba saja suaminya mengajaknya pergi berkencan disaat seperti ini. “Bagaimana dengan latihanmu?”
“Kau tenang saja, ada seseorang yang bersedia menggantikanku.” Leo tertawa sendiri.
“Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu? Siapa yang menggantikanmu?” Shena berpikir sejenak. Sepertinya Shena mulai tahu siapa orang yang dimaksud Leo. “Jangan-jangan orang itu ....” Shena tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Ehm. Dialah yang akan menggantikanku besok, tapi ... tidak ada yang gratis di dunia ini. Akupun juga harus membantunya.”
“Oh iya? Apa yang dia minta darimu?”
“Seminggu lagi, akan ada festival tahunan di desa ini, si pirang itu mengadakan pertunjukan konyol dan aku harus ikut bersamanya.”
“Apa kau disuruh menggantikannya konser?” tebak Shena. Belum apa-apa Shena sudah tertawa membayangkan Leo ikut konser bersama artis idolanya. Ia jadi eringat saat leo dulu menggentkan Kun menyanyi di atas panggung dan hampir mengacaukan semuanya kalau saja Shena tidak datang tepat waktu.
Shena hanya tersenyum dan menuruti ajakan tidur suaminya. Ia juga bahagia karena ternyata Shena selalu dipeluk Leo setiap hari seperti ini. Ia pun tertidur pulas dalam dekapan Leo tanpa mimpi.
***
Di pagi harinya, Leo membangunkan Shena dan mengajaknya pergi sebelum semua orang disini terbangun. Mereka berdua pergi secara diam-diam agar tidak ada yang tahu kalau hari ini Leo bolos latihan dan lebih memilih berkencan dengan Shena. Sesampainya di pintu gerbang, Leo menggendong Shena menuruni tangga cinta yang sama seperti saat Leo dan Shena pertama kali datang kemari.
“Kau sudah siap berkencan denganku, Sayang?” tanya Leo sambil menuruni anak tangga.
“Siap, tapi ... kita mau kemana?” Shena melingkarkan kedua tangannya di leher Leo.
“Tentu saja bersenang-senang. Hari ini aku milikmu seutuhnya,” jawab Leo sambil menempelkan dahinya di dahi Shena. Keduanya saling tersenyum bahagia karena untuk pertama kalinya selama mereka menginjakkan kakinya di tempat ini, mereka baru bisa berkencan dan menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Bila Leo dan Shena sedang bersenang-senang. Lain halnya dengan Kun sang kembaran Leo. Ia terpaksa menuruti kemauan Leo karena suami Shena itu bersedia menjadi partnernya di acara festival yang nantinya akan diadakan di desa ini.
Agar mirip seperti Leo, Kun pun menyemir rambutnya menjadi hitam. Alhasil, tidak ada yang tahu kalau Leo yang kini sedang melakukuan latihan pemanasan dengan berlari mengelilingi tempat ini adalah Kun yang sedang menyamar. Untunglah sang artis sudah terbiasa menjalani aktivitas seperti ini dengan jogging setiap hari saat tinggal dikediamannya sendiri. Jadi, latihan ini idak terlalu berat baginya.
Memasuki siang hari, sang artis yang sedang menyamar mulai kelelahan dan juga bosan. Ia mencoba mencari cara agar pelatihnya, sang master of kungfu bersedia memberinya kelonggaran untuk beristirahat lebih lama.
Namun sang pelatih tak ingin memeberi keringanan apapun. Kali ini, ia melatih Kun yang ia kira sebagai Leo, ilmu bela diri yang sudah sangat ia kuasai. Kun yang tidak terbiasa dengan gerakan itu malah mengajak bercanda pelatihnya dengan memberikan contoh salah satu gerakan tariannya saat menari diatas panggung konsernya.
“Bagaimana kau bisa menari dengan gerakan seperti itu.” tanya Mr, Chan heran.
“Cobalah Master, ini sangat menyenangkan sekali.” Kun alias Leo palsu, menunjukkan lagi gerakan tariannya yang unik tadi.
Awalnya sang pelatih keki juga melihat gerakan tarian aneh itu, tapi saat memerhatikan gerakannya unik, sang pelatihpun ikut meniru gerakan tersebut meski hasilnya jadi lebih aneh dari Kun yang menyamar sebagai Leo.
“Bagus, Master, anda bisa beralih profesi menjadi penari latar,” ujar Leo palsu sambil mengacungkan dua jempol di depan masternya.
“Benarkah? Bagaimana kalau kau ajari aku menari lagi? Sepertinya asyik juga?” pinta Mr, Chan.
“Tentu saja, dengan sangat senang hati, perhatikan gerakan ini.” Leo palsu memberikan gerakan unik ala Michael Jackson yang langsung membuat sang pelatih terpana. Iapun mulai mengikuti gerakan itu.
Kini dua orang beda usia dan genre itupun malah asyik belajar menari bersama daripada belajar kungfu. Benar-benar aneh!
BERSAMBUNG
****
__ADS_1
Master of Kungfu lagi belajar nari ... wkwkwkwk