
Betapa malunya wajah sang hakim melihat kelakuan tak pantas putrinya. Sebab, apa yang dikatakan Elise saat mengadu padanya, tidak sama dengan apa yang ada dalam video tersebut. Sebagai salah satu penegak hukum, tindakan putrinya itu memang tidak dapat dibenarkan dan sudah diluar batas rasa kemanusiaan. Padahal, sikap sosial sudah sang hakim ajarkan sejak putrinya itu masih kecil. Tapi sayangnya, ajarannya itu tidak diterapkan sang putri dalam kehidupannya sehari-hari dan malah membuat malu dirinya sendiri.
Semua orang yang menyaksikan video tersebut langsung memandang benci pada Elise atas sikap buruknya pada orang yang lebih tua dan tidak berdaya. Hujatan serta cacian langsung menggema diruang sidang sehingga suasana kembali gaduh, bahkan semua orang yang ada diruangan ini langsung melepas sendal mereka dan melemparkannya pada Elise saking geramnya. Bagaimana bisa putri dari seoorang hakim tertinggi di kota ini memaki-maki seorang kakek tua tak berdaya sekasar itu hanya kerena meminta sesuap makanan. Ini sangat sulit dipercaya.
Sebaliknya, mereka memandang kagum pada Shena dan juga suaminya yang rela kehilangan staf dan membuat onar hingga sampi terseret ke jalur hukum hanya demi membela seorang kakek tua yang bahkan tidak mereka kenal. Walau mereka sangat tajir melintir, tapi jiwa sosial mereka jauh lebih tinggi dari kaum borjuis lainnya yang memang kebanyakan lebih cenderung sombong dan hanya mementingkan diri sendiri saja.
Dua pasangangan somplak itu ternyata memiliki kebaikan hati bak malaikat tak bersayap. Bahkan Leo yang dulunya egois dan suka main hakim sendiri, kini sudah mulai tertular kebaikan hati Shena. Apapun akan Leo lakukan asal Shena bahagia.
Sidang kasus Leo kali ini memberi banyak sekali pelajaran bahwa sebagai manusia, tidak seharusnya memandang rendah orang lain apapun status sosial mereka. Kerena manusia itu adalah makhluk sosial yang kehidupannya berputar seperti roda. Ada kalanya manusia berada diatas dan ada kalanya juga suatu saat nanti mereka berada dibawah begitu juga sebaliknya dan seterusnya.
Alasan utama kenapa Leo tidak langsung memberikan video ini di awal kasusnya dan malah membuat banyak sekali kekacauan, itu hanya untuk memperlihatkan kepada lawan bahwa keosombongan tidak akan pernah menang. Kubu Elise selalu berpendapat kalau merekalah yang bakal memenangkan kasus ketidakadilan yang sudah Elise ciptakan. Sedangkan Leo, berusaha mematahkan kesombongan itu.
“Dasar nenek sihir! Nggak punya hati!” teriak salah satu emak-emak sambil melempar sendalnya yang baru saja ia beli ke arah Elise.
Gadis itu hanya diam sambil menatap wajah ayahnya alias sang hakim untuk meminta bantuan agar orang-orang berhenti melemparinya dan menghakiminya. Namun sang hakim sama sekali tak mau memandang wajah Elise dan malah merintih kesakitan akibat bengkak diseluruh wajahnya.
“Muka cantik, tapi sayang berhati busuk, malu-maluin aja!” sahut yang lainnya dan masih banyak lagi cacian dan umpatan lain ditujukan pada Elise.
__ADS_1
Sementara sang hakim sendiri hanya bisa menutup mata atas apa yang terjadi di ruangan ini. Ia pun menuliskan hasil keputsan dalam sidang kasus ini yang isinya membebaskan Leo dan Shena dari segala tuduhan secara terhormat karena mereka berdua tidak terbukti bersalah. Sebaliknya, hakim memutuskan menghukum putrinya sediri dengan mengikuti kegiatan bakti sosial dan menjadi relawan untuk kegiatan sosial lainnya yang ada dikota ini selama kurang lebih 3 tahun. Jika sampai putrinya itu mangkir dari tugasnya, maka hukumannya akan semakin ditambah. Itulah keputusan sidang yang keluar hari ini yang intinya untuk kesekian kalinya Leo dan Shena memenangkan kasus mereka.
Sorak sorai pun tedengar menggema diruang sidang mendengar putusan dari hakim. Mereka pun berhenti menghujat Elise karena merasa puas dengan hasil akhir sidang yang membuktikan bahwa apa yang dulakukan Leo dan Shena itu benar.
Begitu sidang ditutup, Shena langsung berlari kecil dan memeluk suaminya dengan erat penuh rasa bangga. Meski banyak cara nyeleneh dan aneh telah digunakan Leo dalam persidangan kali ini, tetap saja hal itu sukses membuat Shena terkagum-kagum akan sosok suaminya yang menurutnya keren habis.
“Kau luar biasa, Leo! Aku cinta padamu!” seru Shena dipelukan Leo sambil terus tersenyum senang.
“Aku juga jatuh cinta padamu. Dari dulu suamimu ini memang sudah keren, Sayang.” Leo juga memeluk erat tubuh Shena. Sesekali ia mengusap perut buncit Shena dan merasakan pergerakan didalamnya. “Ayo kita pulang, sepertinya Leo junior ingin segera kukunjungi.” Leo mulai kumat lagi.
“Kalau bersamamu, memang cuma itu yang bisa aku pikirkan, Sayang. Hehe ....” Leo terus saja menggoda Shena.
Keduanya berjalan beriringan sambil saling berpelukan meninggalkan ruang sidang. Sementara Abas masih tinggal di gedung pengadilan untuk mengurus beberapa surat-surat kemenangan Leo.
Kali ini, Leo ingin bermanja ria dengan Shena dalam perjalanan pulang ke hotel. Karena itu, ia meminta salah satu pengawalnya menjadi sopir mereka.
Di dalam mobilpun, Leo tak pernah lepas dari Shena. Keduanya lengket seperti perangko yang menempel satu sama lain dan susah dipisahkan. Banyak hal yang sedang mereka obrolkan berdua selama diperjalanan. Sesekali, Leo mengecup lembut wajah istrinya disela-sela obrolan asyik mereka. Pokoknya mereka berdua benar-benar romantis habis.
__ADS_1
Ditengah perjalanan, tiba-tiba keduanya terjebak macet parah sehingga membuat Shena menjadi mulai gerah dan tidak nyaman. Bukan karena tidak ada AC, tapi karena pemandangan disekitarnya dipenuhi dengan polusi udara sehingga membuat Shena tidak nyaman dan pengap. Yang lebih membuat Shena geram, ternyata kemacetan ini disebabkan oleh polisi yang menghentkan laju keadaaan semua pengendara karena ada salah satu pejabat kota yang mau lewat dihadapannya.
Leo memerhatikan sekeliling dan tepat disamping mobilnya, ada seorang ibu-ibu merintih kesakitan karena hendak melahirkan. Wanita hamil tersebut menjerit kencang menahan rasa sakit yang amat sangat sehingga suaminya bingung harus bagaimana. Suami wanita itu memohon pada polisi yang berjaga agar diizinkan lewat karena istrinya akan melahirkan, tetapi polisi itu tetap tidak mengizinkan. Polisi tersebut malah menyuruh Bapak-bapak itu kembali ke mobilnya dan menunggu rombongan salah satu pejabat kota lewat, barulah papan penghalang itu dibuka dan semua pengendara boleh lewat.
Shena yang menyaksikan hal itu jadi ikutan panik sekaligus marah. Bagaimana bisa polisi itu lebih mementingkan pejabat kota lewat daripada wanita hamil yang sedang mepertaruhkan nyawanya demi melahirkan anaknya.
Wanita hamil itu tiba-tiba berteriak kencang karena air ketubannya sudah pecah. Tidak ada yang bisa dilakukan suaminya selain menunggu polisi membuka penghalang agar mobil yang ia tumpangi bisa lewat dan istrinya yang melahirkan bisa segera dibawa kerumah sakit. Shena benar-benar tidak tega melihat apa yang ada dihadapannya. Ia membayangkan kalau hal itu terjadi padanya. Tanpa sadar, Shenapun ikut menangis melihat betapa tersiksanya ibu hamil yang hendak melahirkan itu.
“Leo, kasihan ibu-ibu itu, sepertinya dia mau melahirkan. Ketubannya pecah dan itu sangat berbahaya jika mereka tidak sampai tepat waktu kerumah sakit. Lakukan sesuatu Leo, aku tidak tega melihat ibu-ibu itu.” Air mata Shena terus mengalir membasahi pipi memohon pada suaminya agar mau menolong wanita hamil itu dan suaminya.
Leo mengusap air mata yang mengalir diwajah cantik istrinya sambil berkata, “Jangan menangis, Sayang. Kau tunggu disini, Oke! Jangan kemana-mana sampai aku kembali.” Leo mengecup kening Shena dengan mesra lalu turun ke bibir ranum istrinya. Setelah itu, iapun keluar dari dalam mobil mewahnya menuju kearah polisi itu berada.
Shena terus mengelus lembut perut buncitnya sambil mengamati gerak gerik suaminya. Sebagai wanita yang sama-sama hamil, Shena bisa merasakan seperti apa rasanya terjebak kemacetan disaat genting seperti itu.
***
__ADS_1