
Yuna tak bisa berkomentar apa-apa, ia hanya diam seribu bahasa. Gadis itu sedang memikirkan sesuatu hal yang bisa menjadi senjata andalannya untuk bertahan hidup ketika ia tinggal dengan keluarga ini nantinya. Yuna berharap sesuatu itu bisa membuat dirinya tak lagi dianiaya oleh siapapun.
Pertama kalinya dalam hidup Yuna, ia melihat Larasati ketakutan amat sangat. Sebelumnya, ia hanya tahu ibu angkatnya itu suka marah-marah dan sangat membenci apa saja yang tidak ia suka termasuk Yuna sendiri. Jarang sekali Yuna melihat ibunya ketakutan seperti sekarang ini sekalipun ia melihat hantu sungguhan didepannya. Namun, intimidasi Shena telah berhasil membuat ibu angkat Yuna yang jahat itu lari terbirit-birit ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah. Akhirnya, Yuna punya cara agar ibunya tak lagi menyiksanya seperti dulu.
“Bibi …,” panggil Yuna mulai tersenyum pada Shena.
“Ada apa Yuna, apa kau berubah pikiran untuk ikut dengan kami?” tanya Shena antusias.
“Tidak Bibi, justru sebaliknya. Aku punya cara agar mereka semua tak lagi menyiksaku ataupun memperlakukanku seenak mereka lagi. Dan itu semua berkat Bibi.” Yuna langsung membisikkan sesuatu di telinga Shena. Istri Leo itu langsung ikutan senang mendengar rencana Yuna.
“Kau benar Yuna, dengan begitu mereka takkan berani menyakitimu lagi,” ucap Shena setelah ia mengetahui rencana calon menantunya. “Baiklah, aku rasa aku terlalu meremehkanmu, tapi ternyata … kau anak yang cerdik juga, sama seperti si tengil Yeon.”
“Aku belajar banyak dari kalian semua.” Yuna tersenyum. Sudah tidak ada lagi raut kesedihan di wajah Yuna. Mulai sekarang, ia akan menjalani hidup seperti anak-anak normal pada umumnya tanpa perlu takut lagi dengan siksaan lahir dan batin keluarga angkatnya.
Larasati masih mengintip Shena dan Yuna yang terus saja betah berbincang-bincang dihalaman rumahnya. Ia pun bergegas menyambar ponselnya dan tanpa pikir panjang lagi, ia menelepon polisi lalu menyuruhnya datang kemari.
“Hallo, ini kantor polisi? Saya ingin melaporkan seorang pembunuh berdarah dingin sedang berkeliaran di depan rumah saya. Tolong pak, amankan pembunuh itu, kami sekeluarga takut keluar rumah, sepertinya pembunh itu tidak ingin pergi dari rumah ini, ia sedang bersama anak kecil pak. Cepatlah datang kemari!” seru Larasati yang ketakutan dan juga panik sampai-sampai melaporkan Shena sebagai pembunuh yang mengintainya.
__ADS_1
Wanita yang bernama Larasati itu benar-benar tidak waras. Ia belum tahu saja kalau polisi takkan pernah bisa menyentuh Shena apalagi sampai menangkapnya. Sebab, Leo si gangster nggak ada akhlak takkan pernah membiarkan hal itu terjadi. Ibu angkat Yuna itu langsung menutup panggilannya begitu laporannya diterima oleh pihak kepolisian.
“Laras, apa yang kau lakukan?” tanya Rizal selaku suami dari Larasati yang sebenarnya sangat menyayangi Yuna.
Sayangnya, pria berumur ini adalah tipe STI alias Suami Takut Istri sehingga ia tak bisa membela Yuna jika istri dan kedua putrinya menganiaya gadis malang itu. Padahal Rizal adalah teman dekat dari ayah dan ibu kandung Yuna, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Kau diam saja! Jangan ikut campur!” sengal Larasati tanpa ada rasa hormat pada suaminya.
Rizal hanya geleng-geleng kepala. Kakinya yang cacat akibat kecelakaan beberapa tahun silam membuatnya tak berdaya karena ia tak bisa bekerja lagi dan hanya mengandalkan istrinya. Akibatnya ia dianggap remeh oleh keluarganya.
Kecelakaan yang terjadi pada Rizal juga terjadi pada kedua orangtua Yuna. Demi menyelamatkan Rizal dari maut, kedua orangtua Yuna rela mengorbankan nyawanya. Sebagai balasannya, Rizallah yang harus mengurus Yuna yang saat itu masih berusia 2 tahun. Orangtua Yuna berasal dari luar negeri dan tidak punya sanak saudara di negara ini. Kematian mereka yang begitu mendadak, ditambah Yuna yang tidak tahu apa-apa tentang keluarganya hanya bisa pasrah diadopsi oleh keluarga Rizal dan menjadi putri bungsu mereka.
Semenjak, Rizal cacat, yang menjadi tulang punggung keluarga adalah istrinya. Awalnya Rizal diam dan selalu mengalah sat istrinya itu suka bersikap seenaknay dan semena-mena teradap dirinya dan juga Yuna. Hal itu karena Rizal tak bisa berbuat apa-apa mengingat bagaimana kondisinya. Bahkan saat istri dan anak-anaknya menyiksa Yuna, iapun juga tak bisa berbuat banyak selain menenangkan dan menghibur Yuna untuk bisa memaafkan perlakuan keluarganya. Kalau diingat-ingat, sungguh miris dan menyedihkan kisah hidup Yuna selama tinggal dengan keluarga Rizal.
Terakhir, kejadian paling memilukan adalah saat Yuna dipaksa untuk dijadikan budak oleh Datuk dan dibawa pergi oleh mafia tua itu sebagai penebus hutang-hutang keluarganya. Itu adalah hal paling menyakitkan bagi Rizal karena tak bisa menolong Yuna. Bahkan ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya, tapi niatnya ia urungkan karena ada seseorang datang menyelamatkan Rizal sewaktu ia ingin menerjunkan diri ke dasar jurang.
“Yuna akan hidup bahagia, Sir. Aku jamin itu. Jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi padanya. Gadis malang itu akan menemukan kebahagian yang layak bila sudah saatnya tiba. Kau harus tetap hidup untuk melihat Yuna bahagia. Supaya kau punya muka untuk bertemu dengan kedua orangtua Yuna di alam sana nanti.” Itulah kata terakhir yang dikatakan pria asing yang ia temui saat datang menyelamatkannya.
__ADS_1
“Bahagiaman anda bisa tahu? Siapa anda?”
“Kita akan bertemu lagi cepat atau lambat. Hanya itu yang bisa aku katakana sekarang. Jika kau penasaran, kau harus tetap hidup sampai kita bertemu lagi, bye.” Pria itu tersenyum dan masuk ke dalam mobil land cruiser putihnya lelu melesat pergi jauh meninggalkannya. Kejadian itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu tapi Rizal tidak akan pernah melupakan perkataan pria asing yang tidak ia tahu siapakah dia sebenarnya.
Sejak saat itu, Rizal bertekad untuk tetap terus hidup dan betapa senangnya ia ketika melihat Yuna dan seorang wanita cantik yang tidak ia kenal, kini ada dihadapannya. Dari situlah Rizal mulai paham makna dibalik perkataan pria asing yang menyelamatkannya kala itu.
Dari kejauhan, Rizal bisa melihat betapa bahagianya Yuna saat bersama dengan wanita yang tidak lain adalah istri Leo. Tak ada raut kesedihan di sana dan Yuna juag terlihat baik-baik saja. Rizal benar-benar lega dan bahagia, tapi perasaan senang itu lenyap ketika istrinya mulai buat ulah lagi dengan memanggil polisi dan menuduh wanita cantik itu dengan tuduhan sebagai pembunuh sadis. Sungguh sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa wanita secantik Shena bisa menjadi pembunuh berdarah dingin?
“Laras, apa kau yakin kalau wanita itu adalah pembunuh?” tanya Rizal untuk memastikan kebenarannya. Jika benar, ia jadi khawatir pada keselamatan Yuna juga.
“Dia sendiri yang bilang kalau dia dan suaminyalah yang membunuh Datuk. Kau tahu sendiri seperti apa Datuk itu, jika wanita itu bisa melenyapkannya, artinya dia bukan orang sembarangan. Wanita itu berbahaya,” terang Laras masih mengintip dari balik tirai jendela rumahnya dan ia langsung terkejut karena halaman rumahnya kosong dan tidak ada siapa-siapa di sana.
Kali ini, Shena dan Yuna sudah tidak ada di pekarangan. Mereka tiba-tiba saja menghilang. Tentu saja Larasati langsung panik dan jadi parno sendiri. Ia mengitari setiap sudut rumahnya melalui jendela untuk mencari tahu dimana Shena dan Yuna. Namun, yang dicari-cari mendadak raib tanpa meninggalkan jejak apapun. Padahal beberapa waktu lalu, mereka berdua masih ada, tapi sekarang entah hilang kemana.
“Kemana mereka?” gumam Larasati mulai was-was.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***