Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 21 Aksi Gengster Leo


__ADS_3

Shena yang matanya berbinar-binar karena rindunya sudah terobati, menatap wajah suaminya lekat-lekat. “Habisi mereka, Sayang. Mereka semua hendak berniat jahat padaku, mereka bahkan ingin aku melahirkan anak-anak mereka juga jika saja kau tidak datang tepat waktu.”


“Apa?” teriak Leo langsung marah. Tangannya mengepal kuat dan matanya mulai memerah karena menahan emosi. “Siapa yang berani mengatakan itu padamu?” tanya Leo sambil menggeretakkan kedua rahangnya. Tentu saja Leo tidak terima bila ada orang lain yang mencoba merebut Shena darinya. Siapapun orangnya, maka orang itu harus mati ditangan Leo saat itu juga.


Shena hanya diam menatap kemarahan suaminya. Tangannya menunjuk ke arah preman yang berdiri tidak jauh darinya. “Dia orangnya! Hampir saja tadi aku memutuskan bunuh diri jika sampai itu benar-benar terjadi. Ingin rasanya aku merobek-robek mulutnya kerena telah berani berkata seperti itu padaku. Bahkan dia juga bilang, kalau kau sengaja membuangku. Aku tidak akan pernah memaafkannya. Kau harus menghabisinya untukku!” Shena sengaja mengompori Leo agar preman itu jera dan tak lagi bersikap kurang ajar lagi pada wanita.


Mungkin, dengan datangnya Leo ditempat ini, merupakan neraka bagi para preman itu agar tidak lagi berbuat seenaknya pada setiap orang lemah yang mereka temui. Entah sudah berapa banyak orang yang menjadi korban kejahatan mereka termasuk anak remaja yang babak belur itu.


Walau Shena tidak mengerti duduk persoalannya, tetap saja apa yang dilakukan preman itu terhadap anak laki-laki yang masih dibawah umur ini tidak bisa dimaafkan begitu saja. Para preman itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang sudah mereka perbuat.


Tatapan mata elang Leo membuat nyali preman itu sedikit menciut. Leo hendak melangkah maju mendekati para preman tersebut, tapi langkahnya ditahan oleh Shena.


“Tunggu, Sayang. Ada yang ingin aku lakukan sebelum kau menghabisi mereka semua.” Shena menahan lengan Leo dan Leopun menuruti apapun yang dikatakan istrinya.


“Ehm, lakukan apapun yang kau inginkan, Sayang. Kita punya banyak sekali waktu.”


Shena mencium pipi Leo sambil tersenyum senang. Lalu ia beralih menatap seseorang. “Hei kau!” teriak Shena pada anak remaja yang sejak tadi hanya diam berdiri dalam cengkeraman tangan salah satu gerombolan para preman tersebut.


“Aku?” tanya anak remaja itu untuk memastikan apakah ia yang memang dipanggil Shena.


“Iya, kau! Cepat kemarilah!” seru Shena, tapi sayangnya anak remaja itu tak diizinkan pergi oleh preman yang mencengkeramnya.


“Kau menginginkan anak ini? Ambil saja kalau kau bisa, hahahaha!” preman itu tertawa mengejek Shena sehingga semakin marahlah Leo pada semua orang yang ada didepannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Leo mengeluarkan pistolnya dan ... Dor!

__ADS_1


Dengan cekatan, Leo menembak tangan preman yang mencengkeram anak remaja itu hingga preman tersebut mengerang kesakitan karena tembakan Leo tepat mengenai sasaran.


“Arrgghhhh!” erang preman itu sambil jatuh tersungkur menahan rasa sakit akibat timah panas yang menembus lengan tangan kanannya.


“Kau beruntung karena peluru itu tak menembus tulangmu. Jika aku mau, sekarang juga akan aku buat tanganmu itu diamputasi!” ujar Leo sambil meniup ujung pistolnya dengan gaya khas ala gengsternya. Kalau sedang marah, setanpun tak ada yang berani mendekati Leo.


Karena cengkeraman tangan preman itu terlepas, anak itu segera berlari ke arah Shena dan langsung berdiri dibelakangnya menahan semua rasa sakit akibat dibikin babak belur oleh preman-preman itu.


“Kau tidak, apa-apa?” tanya Shena pada anak laki-laki tersebut.


“Tidak apa-apa Nyonya, terimakasih,” ujarnya.


Setelah memastikan anak itu baik-baik saja, Shenapun kembali menatap suaminya sambil berkata, “Kau boleh beraksi, Sayang. Aku akan ada disini menunggumu,” ujar Shena sambil bergelendot manja dilengan Leo.


Leo sendiri bergeser menatap istrinya dan menyerahkan pistolnya diatas tangan Shena. “Gunakan pistol ini jika kau dalam keadaan terdesak. Mungkin aku akan sangat sibuk menghajar para tikus-tikus itu dan tidak bisa terus mengawasimu. Jaga diri baik-baik dengan ini, oke! Aku mencintaimu.” Sebuah kecupan mesra mendarat dibibir Shena sementara tangan Leo yang bebas menutup mata anak laki-laki yang berdiri diantara mereka berdua agar tak melihat adegan romantis ala Shena dan Leo yang belum saatnya anak remaja itu lihat.


Senyum mengembang terpancar diwajah Leo. Ia menanggalkan jaketnya dan memakaikannya pada Shena. Leo mengeluarkan sarung tangan hitamnya yang selalu ia gunakan saat ia sedang berkelahi. Kilatan mata elangnya mulai ia pancarkan lagi pada semua preman yang akan ia habisi ditempat ini. Leo bahkan melepas ikat pinggangnya yang akan ia gunakan sebagai senjata untuk memulai aksinya.


“Leo, kenapa kau melepas ikat pinggangmu? Bagaimana kalau ....” Shena tidak bisa meneruskan kata-katanya karena malu pada anak remaja yang berdiri dibelakangnya.


“Kau tenang saja, Sayang. Aku hanya memperlihatkan ikat pinggangku pada mereka. Hanya kau saja yang bisa melihat isi dibalik celanaku. Jadi, kau tidak perlu khawatir karena celana ini akan tetap aman ditempatnya meski tanpa ikat pinggang.”


Mulut Shena menganga lebar mendengar ucapan suaminya. Dasar gengster nggak ada akhlak. Bisa-bisanya dia bicara seperti di depan anak dibawah umur, batin Shena. Gadis itu mengamati Leo yang berdiri tegak sambil menggulung rapi ikat pinggang dalam genggaman tangannya.


Kilatan mata yang amat tajam dan seringai bengis Leo sudah mulai ia munculkan. Aura membunuh Leopun juga terpancar jelas dimatanya. “Tamatlah riwayat kalian kali ini, beraninya kalian berpikiran ingin memiliki Shenaku. Tiada ampun lagi bagi kalian sekalipun kalian menangis darah dan memohon ampunan dariku!” hardik Leo siap menghabisi mereka tanpa sisa.

__ADS_1


Para preman itu mulai bergidik ngeri sampai mereka semua menelan Saliva hampir bersamaan. Belum apa-apa nyali mereka benar-benar ciut kala berhadapan dengan Leo. Tanpa sadar, beberapa preman itu melangkah mundur karena takut. Sedangkan yang lain masih berusaha sok kuat dan siap menghadapi Leo dengan anggapan bahwa mereka tidak mungkin kalah hanya oleh bocah ingusan seperti Leo. Ditambah lagi, jumlah mereka jauh lebih banyak. Pastilah mereka yang menang.


Semua preman mulai bersiap-siap dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang Leo. sementara Leo sendiri masih tetap berdiri santai sambil terus menggulung pelan ikat pinggangnya dalam satu kepalan tangan.


“Suami Nyonya keren sekali, preman itu mulai takut padanya,” ujar anak laki-laki itu takjub dengan keberanian Leo saat menghadapi para preman bengis dan kejam itu.


“Itu masih belum apa-apa. Kau diam dan lihat saja, suamiku itu benar-benar luar biasa. Apalagi saat ia beraksi menghajar orang-orang jahat itu.” Shena tersenyum membanggakan suaminya sendiri.


Para preman itu mulai mengepung Leo dan bersiap-siap menyerang Leo secara bersamaan. Namun, Leo sudah memprediksi gerakan mereka. Pengalamannya berkelahi sudah tidak bisa diragukan lagi. Para preman ini, bukanlah tandingan Leo.


“Kita lihat apakah kau masih bisa sombong setelah ini. Dasar kau bocah ingusan!” teriak salah satu preman yang ditatap Leo dengan tajam.


“Kita lihat apakah kau masih bisa berkata-kata setelah kau kujadikan daging guling! Dasar brengseek!” teriak Leo tak mau kalah juga.


Begitu salah satu preman itu maju bergerak menyerang Leo. Suami Shena itu langsung menangkis serangannya dan mencengekram kuat pundak preman tersebut lalu menjadikannya sebagai tumpuan agar Leo bisa melompat. Ia bermaskud menggunakan kedua kakinya untuk menendang preman-preman yang menyerangnya bersamaan dengan gerakan memutari tubuh preman yang ia jadikan tumpuan.


Alhasil, satu persatu para preman itu jatuh tersungkur akibat tendangan keras tepat mengenai wajah mereka secara bersamaan. Sedangkan preman yang dijadikan tumpuan tangan Leo saat melompat tadi langsung mendapat hadiah bogem mentah darinya.


Beberapa gigi preman itu rontok karena tangan yang digunakan Leo untuk memukul, sudah ia lapisi dengan ikat pinggangnya sehingga kekuatan tanganya jauh lebih besar dari biasanya. Pukulan Leo kali ini, benar-benar mematikan. Siapapun akan pingsan bila terkena bogem mentah Leo secara langsung.


“Ayo! Kenapa kalian diam saja? Apa cuma segitu kekuatan kalian? Aku bahkan belum berkeringat!” Leo mengayunkan salah satu tangannya dan memberi kode para preman itu untuk menyerangnya.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


mau tahu selanjutnya ... tunggu aja ya ... hehhe ..maksih yg udah ngasih hadiah hatinya ...jadi makin bersemangat deh ...love you all forever.



__ADS_2