Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 56 Pertemuan


__ADS_3

Waktu 30 menit pun sudah berlalu. Pilot terpaksa harus bersiap untuk lepas landas. Sedangkan Shena sangat panik karena suaminya tak kunjung datang juga. Ia bergegas keruang pilot agar pilot tersebut tidak memberangkatkan pesawatnya dulu sampai Leo kembali. Sebab, Shena yakin suaminya itu masih hidup dan baik-baik saja.


“Hentikan dulu pesawatnya, Sir. Jangan berangkat dulu, tunggulah sebentar lagi, Leo pasti datang kemari,”pinta Shena.


“Tidak bisa nona Shena. Ini sudah lebih dari 30 menit tapi mereka tak juga kembali. Maafkan saya Nona, dengan berat hati saya harus lepas landas saat ini juga, jika tidak nyawa kita semua dalam bahaya. Keselamatan anda dan semua orang yang ada disini, adalah prioritas utama kami.”


“Kalau begitu, turunkan aku dari sini! Aku akan pergi mencari suamiku.” Shena bersiap untuk turun tapi beberapa pengawal berdiri menghadangnya.


“Minggir kalian!” bentak Shena.


“Maafkan kami, Nona. Ini adalah perintah, kami tidak bisa membiarkan anda keluar dari sini sekalipun anda membunuh kami.”


“Siapa yang memberimu perintah, ha?” bentak Shena lagi lebih kencang dari sebelumnya.


“Tuan muda Leo yang memberikan perintah itu, Nona. Beliau ingin anda tetap berada di pesawat ini meski 30 menit sudah berlalu dan beliau belum kembali. Kami tidak bisa melanggar perintah itu.”


“Kalian tidak bisa! Tapi aku bisa! Minggir, dan buka pintunya!” Shena mulai berteriak marah.


“Jangan lakukan itu nona, Shena.” kali ini, pilot itu ikut bersuara. “Tuan Byon pasti akan sangat marah jika sampai anda keluar dari pesawat ini.”


“Apa kau pikir aku bakal baik-baik saja tanpa suamiku? Hanya berdiam diri saja disini sementara Leo sedang berjuang antara hidup dan mati disana?” teriak Shena. Ia bersikukuh ingin turun tapi pilot itu juga tetap tidak mau membuka pintu pesawatnya.


“Saya mengerti apa yang anda rasakan, Nona. Kami akan mengirim pesawat susulan untuk mencari tuan muda Leo. Sekarang, kami harus membawa anda ke tempat yang lebih aman dan menyelamatkan tuan muda Leo secepatnya. Bala bantuan sedang menuju kemari jadi anda jangan khawatir. Percayalah pada kami.” Pilot itu mencoba menenangkan Shena meski iya sendiri tidak yakin apakah Leo dan anak buah paman Leo itu selamat atau tidak.

__ADS_1


Shena langsung lemas tak berdaya. Air matanya mengalir memikikan Leo tak kunjung kembali hingga detik ini. Sang pilot juga sudah mulai memberangkatkan pesawatnya dan dalam hitungan menit pesawat itupun tinggal landas meninggalkan bandara dimana Leo dan beberapa anak buah ayah Refald masih tertinggal disana.


“Tidak! Leo! Leoooo!” teriak Shena histeris dan juga panik, ia tidak percaya sekaligus tidak rela kalau dirinya bakal berpisah lagi dengan Leo. Shena terus menatap bandara melalui jendela kaca. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. “Leo! Leooo,” isak Shena. “Kenapa kau tidak datang. Cepat datanglah dan susul aku! Apa kau tidak mau bertemu denganku lagi? Kau janji bakal kembali! Kau harus penuhi janjimu Leo! Kau tahu aku tak bsia hidup tanpamu, kau dengar aku!” Shena terus saja berteriak berharap Leo muncul dan menyusulnya terbang seperti yang sudah pernah ia lakukan.


Suaminya itu selalu muncul disaat-saat genting dengan gaya khas kerennya. Kali ini, Shenapun juga berharap Leo muncul lagi seperti itu walau kemungkinannya sangat kecil sekali. Namun, pesawat ini sudah terbang diatas awan dan Leo tak kunjung datang juga. Shena merasa putus asa dan ia pun menangis tersedu-sedu.


Para pengawal yang menyaksian keadaan Shena, jadi ikut trenyuh juga. Tanpa terasa air matanya pun ikut mengalir membasahi pipi mereka. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu Shena selain membiarkan istri Leo itu mencurahkan isi hatinya dengan menangis.


Sepanjang perjalanan, Shena menangis tanpa henti, ia terbayang-bayang wajah Leo sebelum suami tercintanya itu pergi menyelamatkan polisi itu. “Leo ...” ujar Shena lirih dan terus memanggil-manggil nama suaminya. Air matanya mengalir deras memikirkan Leo yang entah bagaimana kabarnya. Sungguh miris keadaan Shena saat ini. Ia tak bisa menghentikan tangisannya karena ingin sekali bertemu dengan Leo.


Ingin rasanya Shena melompat turun meski ia sadar kalau pesawat ini sudah melayang tinggi diudara. Ia sendiri juga tidak berdaya, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Shena tidak bisa sembarangan mengambil keputusan. Sambil terus menangis dan membayangkan Leo disisinya, Shena mengusap lembut perut buncitnya.


“Ayahmu, pasti baik-baik saja Sayang. Aku yakin itu ... aku akan menunggunya. Aku akan terus menunggu ayahmu sampai dia kembali.” Shena menatap kosong awan-awan putih melalui jendela pesawat. Ia tak henti-hentinya memikirkan keadaan Leo.


Hampir satu setengah jam lebih pesawat itu mengudara dan akhirnya mereka sampai dibandara. Walau Shena sudah berada di tempat aman dan jauh dari musuh yang mengincar nyawanya, tetap saja Shena tak bisa bernapas lega karena sampai detik ini, masih belum ada kabar dari Leo. Tidak ada yang tahu apakah suaminya itu selamat atau tidak, belum ada yang bisa mengkonfirmasi.


“Mari ikut kami nona Shena,” ajak salah satu pengawal yang bertugas mengawal Shena sejak tadi. Pengawal itupun juga ikut sedih melihat kondisi Shena yang seolah hidup enggan matipun tak mau itu.


Tanpa suara, Shena pun mencoba berdiri dan berjalan gontai menuruni badan pesawat. Shena terus menunduk seolah tak ada tenaga lagi untuk mengangkat kepalanya. Ia pun menangis sampai air matanya berjatuhan di setiap langkah kakinya. Hati dan pikirannya hanya dipenuhi Leo dan tak peduli dengan orang-orang disekitarnya.


Beberapa pengawal mencoba berbicara pada Shena tapi gadis itu hanya diam dan melamun saja. Ia sudah mirip dengan robot berjalan. Tak ada semangat untuk hidup lagi. Shena tidak sadar kalau dari kejauhan sudah ada seseorang yang menatapnya dengan tajam. Orang itu menunggu Shena datang kearahnya.


“Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa kau merindukanku?” tanya seseorang itu dari kejauhan.

__ADS_1


Shena yang masih belum sadar karena terlalu tenggelam dalam kesedihan, merasa mulai berhalusinasi mendengar suara Leo, suaminya.


“Leo ...” suara Shena mulai parau karena kebanyakan menangis. “Sial, aku bahkan berhalusinasi mendengar suaranya. Dimana kau Leo? Apa kau benar-benar meninggalkanku sendiri?” isak Shena lagi sambil terus menyeka air matanya yang berjatuhan.


“Aku tidak meninggalkanmu Sayang, kau yang meninggalkanku!” jawab seseorang itu lagi, tapi sepertinya Shena masih belum sadar juga.


“Siapa yang ...” Shena berhenti berkata sebab ia mulai tersadar bahwa yang ia dengar barusan bukanlah halusinasinya belaka, melainkan benar-benar suara suaminya, Leo.


Seketika, langkah Shena terhenti. Perlahan ia mengangkat kepalanya untuk memastikan bahwa dugaannya ini benar atau salah. Dan betapa terkejutnya Shena ketika melihat Leo berdiri didepannya. Berkali-kali Shena mengusap matanya yang penuh dengan air mata berharap bahwa penglihatannya tidak pudar. Ternyata, memang benar. Seseorang yang ada di hadapannya itu benar-benar Leo.


Jarak keduanya, hanya sekitar 10 m saja. Tanpa pikir panjang, Shena berlari ke arah Leo sambil berlinang airmata karena terlalu bahagia bisa melihat Leo lagi.


“Sayang, jangan lari! Berhenti!” teriak Leo dengan penuh kekhawatiran yang amat sangat. Seketika Shenapun menghentikan larinya, ia mulai merasa sedikit keram diperutnya karena memaksakan diri berlari. “Jangan bergerak Sayang, aku yang akan menghampirimu. Diam disitu, oke.” Leopun berlari kencang menghampiri Shena dan langsng memeluk tubuh istrinya dengan menjaga jarak agar tidak menabrak perut buncit Istrinya. Leo mengusap pelan perut Shena yang tadi sempat membuat Shena kesakitan.


“Kau tidak apa-apa, Sayang? Kenapa kau lari, ha? Bagaiamana kalau terjadi apa-apa padamu dan Leo junior kita? Kau harus hati-hati, Sayang.” Leo kembali memeluk Shena dan mencium kening istrinya berkali-kali.


Sementara tangis Shena langsung pecah dalam dekapan Leo. Ia bahkan sampai belum bisa berkata-kata. Perasaan Shena kali ini campur aduk tak karuan antara bahagia, senang dan juga lega karena suami tercintanya telah kembali padanya entah bagaimana caranya.


BERSAMBUNG


****


__ADS_1



__ADS_2