
Setelah berhasil kabur dari tempat latihan, Leo membawa Shena jalan-jalan keliling desa dengan menggunakan mobil sedan hitam yang ia pinjam dari Kun. Shena sangat terkejut ternyata suaminya ini sudah menyiapkan semuanya dengan baik.
“Mobil siapa ini?” tanya Shena, sebab yang Shena tahu Leo tidak punya mobil seperti ini.
“Artis idolamu,” jawab Leo sambil tersenyum. Ia membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya.
“Aku heran, kenapa dia mau membantu kita. Jika semua orang tahu, habislah kita berdua,” ujar Shena saat keduanya sudah berada di dam mobil.
“Kita masih punya waktu sampai sore nanti, Sayang. Aku harap kembaranku itu bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, jangan sampai ia ketahuan sebelum kita selesai berkencan. Sudahlah jangan pikirkan itu, ayo kita berkencan saja dan bersenang-senang.” Leo menyalakan mesin dan keduanya melesat pergi meninggalkan tempat latihan ini.
Rupanya Leo tak mengajak Shena pergi jauh-jauh, ia hanya jalan-jalan mengitari desa yang indah. Karena ini musim semi, banyak sekali bunga-bunga memesona bermekaran di sepanjang perjalanan. Ditambah, sebentar lagi akan diadakan festival, maka seluruh penduduk desa sedang sibuk mempersiapkan acara festival yang akan digelar seminggu lagi.
Shena yang sudah hampir dua bulan tidak melihat dunia luar merasa takjub dengan keramaian para penduduk desa yang bekerja sama menghias desa dan membuat kreativitas lainnya agar persiapan vestifal nanti jadi sempurna dan berjalan dengan baik. Namun, rasa takjub itu berubah terkejut saat Leo tiba-tiba saja menghentikan mobilnya tanpa sebab dan mulai perlahan mendekati Shena sambil terus menatap wajah gadis pujaan hatinya itu lekat-lekat.
“Leo, apa yang kau lakukan?” tanya Shena bingung, tatapan mata elang Leo yang menatapnya serius seperti itu, mengingatkan Shena akan sesuatu hal yang tidak akan pernah ia lupakan.
Leo menyeringai nakal, ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Shena seolah hendak mencium gadis itu. “Kau ingat momen ini?” tanya Leo dengan suara menggoda.
Meski kejadian seperti ini bukan pertama kali dialami Shena, tapi kalau Leo mendekat dan manatapnya begitu, tetap saja membuatnya menjadi gugup.
“Tentu saja aku ingat, kau memaksaku datang ke acara festival yang ternyata itu adalah acara pertunangan kita sendiri.” Shena bergidik mundur karena Leo semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Shena. “Tapi, kau tidak perlu melakukan ini karena aku sudah melepas sabuk pengamanku.” Shena melirik tali sabuk pengaman yang sudah terlepas digenggaman tangan kirinya. Shena tidak mau tertipu oleh Leo dua kali.
“Siapa yang mau melepas sabuk pengamanmu, hm?” Leo memamerkan gigi putihnya yang rata. “Aku mendekatimu, karena ingin bermesraan denganmu, aku yakin kalau kali ini, kau tidak akan menolakku, sudah lama kita tidak melakukan ini.” Leo langsung mencium Shena dengan mesra, ******* bibir bagian atas dan bawah istrinya secara bergantian.
Keduanya sedang mencurahkan perasaan mereka masing-masing di dalam mobil. Leo mengakhiri ciumannya karena menyadari Shena hampir kehabisan napas.
“Kau lupa bernapas Sayang.” Leo menempelkan dahinya di dahi Shena sambil mulai mengatur napas kembali.
__ADS_1
“Aku belum siap, kenapa kau menyerangku tanpa memberi aba-aba dulu,” protes Shena.
“Oke, kita lakukan sekali lagi, bersiaplah.” Leo menyeringai nakal lagi.
“Eh, tunggu-tunggu!” Tangan Shena menghalangi tubuh Leo. “Bagaimana kalau kita melakukannya di rumah saja, tidak enak dilihatin banyak orang disini?”
“Kenapa? Kau istriku sekarang, tidak ada yang memarahi kita lagi karena kita sudah lama menikah.”
“Bukan begitu ... aku malu sekali, kalau kau menciumku di tempat umum seperti ini.” Shena menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Melihat hal itu, Leo jadi tersenyum dan langsung memeluk Shena. “Kenapa harus malu? Kita tidak melanggar peraturan apapun kecuali sekarang aku lagi bolos latihan hanya demi dirimu. Aku takut kau bosan menghabiskan waktu seharian tanpaku. Karena itu hari ini aku menjadikan diriku hanya milikmu seutuhnya. Tidak ada yang bisa mengganggu kebersamaan kita sekarang.” sekali lagi Leo mencium kening Shena dan bergerak turun ke bawah setelah membuka kedua tangan Shena yang menutupi wajah cantiknya. Leo kembali mencium bibir merah delima Shena dengan penuh cinta.
Kata-kata Leo benar-benar bisa meluluhkan hati Shena. ia menatap wajah tampan suaminya sambil berkata, “Aku lapar, bisa kita cari makan dulu sebelum melanjutkan kencan kita?”
“Tentu, Sayang. Disana sepertinya ada tempat berjualan makanan. Kita pergi kesana saja.” Leo keluar dari dalam mobil dan berjalan mengitari mobilnya lalu membukakan pintu mobil tersebut untuk Shena.
Keduanya berjalan beriringan sambil berpelukan menuju warung makanan tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang sedng mengintai gerak gerik mereka berdua.
***
“Baiklah, sudah cukup bermain-mainnya. Sekarang katakan padaku, dimana cecunguk tengil itu?” tanya Mr. Chan dengan wajah serius.
Kun yang tidak mengerti jadi bertanya, siapakah cecunguk yang dimaksud Mr. Chan itu. “Maaf Master, siapakah cecunguk yang anda bicarakan itu?”
“Leo lah, siapa lagi?”
Setelah berpikir sejenak, Kun akhirnya sadar kalau ternyata master of kungfu ini sudah tahu bahwa dirinya bukanlah Leo yang sebenarnya.
__ADS_1
“Sejak kapan Master menyadarinya?” tanya Kun masih sambil tersenyum tanpa dosa. Ia merasa dikerjain habis-habisan oleh si master bengek ini.
“Sejak kau berlari tadi pagi. Caramu berlari sangat berbeda dengan Leo.” Mr. Chan terkekeh.
“Lalu ... kenapa anda terus melatih saya kalau anda tahu saya bukanlah Leo? Haish, sia-sia saja aku menyemir rambutku jadi hitam begini.” Kun memegangi rambutnya.
“Aku hanya tidak ingin membuat pengorbananmu sia-sia. Tidak ada salahnya sekali-kali kau ikut latihan. Entah apa yang sudah kalian rencanakan tapi, Leo ... sudah tidak punya banyak waktu. Cepat suruh dia datang kemari untuk melanjutkan latihannya,” pinta Mr. Chan sambil bersiap-siap latihan lagi.
“Ehm ... kalau itu ... saya tidak bisa memanggilnya kecuali kalau ia datang sendiri kemari.”
“Kenapa?” tanya Mr. Chan. Ekspresisnya mulai menunjukkan kecemasan.
“Si bocah yang anda sebut ‘cecunguk tengil’ itu sedang berkencan dengan istrinya di bawah sana, Master. Harusnya anda memberi ruang bagi mereka untuk menghabiskan waktu mereka bersama supaya tidak melarikan diri seperti itu. Leo adalah pembuat onar, ia tidak suka dikekang. Dan sekarang, lagi-lagi akulah yang direpotkan gara-gara ulah nggak ada akhlaknya itu ....”
“Gawat! Cepat panggil ayahmu! Kita harus segera mencari mereka!” seru mr. Chan memotong kata-kata Kun dengan cepat.
“Memanganya ada apa Master?” Kun jadi ikut bingung juga.
“Musuh Leo sedang berkeliaran diluar sana! Cepat panggil ayahmu dan segera susul aku!” Mr. Chan berlari keluar pintu gerbang dengan melompat layaknya elang yang sedang terbang.
Kalau orang normal biasa, pasti ia sudah mengalami patah kaki jika melompat diketinggian seperti itu. Namun, hal itu tidak berlaku bagi orang yang mendapat julukan sebagai ‘master of kungfu’.
Kun yang menyaksikan adegan luar biasa dan berbahaya itu hanya bisa bengong saja, tapi tak lama kemudian, ia pun melaksanakan apa yan diperintahkan Mr. Chan barusan. Kembaran Leo itupun begegas menemui ayahnya walau ia sendiri tidak tahu bahaya apa yang sedang mengancam pasangan suami istri yang sedang berkencan dan memadu asmara itu.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Mulai seru lagi, jangan bosan menunggu episode selanjutnya ya ... love you all