Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 288 Firasat Yeon


__ADS_3

Kebaikan hati Shena dan Leo, sempat membuat goyah Yuna. Namun, keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Yuna ingin membuat Shena bangga padanya dengan menjadi dirinya sendiri dan menghadapi takdir hidupnya. Itulah alasan kuat yang membuat Yuna berani mengambil jalan sulit ini. Selain itu, Yuna ingin tahu seberapa kuat ia bisa bertahan menghadapi hari-harinya seorang diri tanpa kasih sayang dari keluarga. Gadis kecil itu berharap kebencian dan dendam yang menyelimuti keluarganya menghilang dengan seiring berjalannya waktu.


“Bibi jangan menyalahkan Yeon terus, aku datang ke kekamarnya hanya untuk minta maaf padanya karena kehadiranku sudah membuat repot keluarga ini, juga Yeon sendiri.”


“Kenapa kau minta maaf pada Yeon? Harusnya dia yang minta maaf padamu? Kau sudah mengorbankan hidupmu demi menyelamatkannya.” Shena menghela napas panjang sambil terus menatap gadis kecil yang ada dihadapannya. “Yuna,” ujar Shena lirih. “Kau tahu kalau kau mengalami cedera luka yang serius akibat insiden waktu itu. Kau tak boleh melakukan aktivitas berat mulai dari sekarang. Sebenarnya, aku keberatan dengan keputusanmu yang tetap memilih tinggal di sini sementara kau terluka gara-gara kami. Namun aku dan Leo juga sudah sepakat untuk tetap menghargai keputusanmu, apapun pilihanmu.


“Kau masih bisa memikirkannya lagi dan ikut dengan kami. Aku janji akan segera mengurus semua hal yang kau perlukan selama kau tinggal dengan kami. Kau layak bahagia Yuna. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu jika kau terus ada di sini.” Tanpa sadar, Shena telah mengungkapkan uneg-unegnya pada Yuna. Ia juga menggenggam erat tangan Yuna untuk meyakinkannya agar gadis manis itu mau mengubah keputusannya.


“Bibi … maafkan aku … karena … aku tak bisa mengubah keputusanku. Terimakasih karena sudah memikirkan kebahagiaanku, tapi … aku sungguh tak bisa meninggalkan keluargaku meskipun mereka membenciku. Aku sudah memaafkan mereka semua dan ingin mengubah kebencian mereka menjadi kasih sayang. Aku tahu niatku ini tak mudah dilakukan. Tapi aku tidak akan menyerah. Bukankah itu yang bibi lakukan dulu? Maaf jika aku lancang, aku tahu kisah anda sewaktu masih seusiaku dari Yeon. Karena itulah aku berani mengambil keputusan ini, aku ingin menjadi seperti Bibi.” Mata Yuna mulai berkaca-kaca meminta agar Shena percaya padanya kalau ia akan baik-baik saja.


Berat rasanya memikirkan bahwa Yuna bakal berpisah dari Shena dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Namun apa daya, Yuna sudah membulatkan tekadnya. Inilah tujuan hidup Yuna sekarang. Ia tak ingin merepotkan keluarga Leo lebih dari ini. Shenapun juga tak bisa memaksakan kehendaknya pada Yuna. Masih kecil saja Yuna sudah berani mengambil resiko, ia yakin suatu hari nanti, calon menantunya ini akan menjadi wanita yang sukses melebihi dirinya. Tak salah jika Shena memilih menantu seperti Yuna.


“Baiklah, kalau begitu. Sekarang bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang. Kau yakin kau baik-baik saja? Atau … kau ingin istirahat total di sini dulu? Sampai kondisimu benar-benar pulih. Aku tidak yakin keluargamu akan memperlakukanmu dengan baik kalau kau tinggal dengan mereka.” Shena mengusap lembut rambut hitam panjang Yuna.


“Tidak masalah, Bi. Aku sudah terbiasa dan aku baik-baik saja. Mulai sekarang, jangan terlalu mencemaskanku karena aku janji pada Bibi, aku akan menjadi wanita paling kuat di negara ini. Dengan begitu, aku bisa menegakkan kepalaku saat kita bertemu lagi suatu hari nanti.” Yuna mencoba tersenyum agar Shena senang. Ia ingin membuktikan pada Shena kalau ia juga bisa menjadi wanita tangguh seperti dirinya. Dengan begitu, Yuna akan merasa bangga menjadi fans berat Shena.


“Kita pasti bertemu lagi, dan saat itu … adalah saat yang paling indah dalam hidupmu.” Shena memeluk Yuna dengan erat sehingga membuat gadis itu menangis. Bukan karena makna dari ucapan kata-kata Shena, melainkan karena Yuna bahagia bisa mengenal sosok seorang ibu yang penyayang seperti nyonya Leopard Pyordova ini.


***

__ADS_1


Setengah jam sudah berlalu, Leo dan Yeon tiba di depan rumah salah satu penduduk desa. Tak banyak rumah disekitar sini karena penduduknya tak sepadat di kota. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah lainnya sangatlah jauh, mungkin karena di pedesaan, lahan yang digunakan penduduk desa masih belum terlalu banyak. Tak seperti di kota yang bangunannya padat merayap bahkan untuk berjalan saja kesulitan kalau masuk diperkampungan.


Meskipun ayah dan anak ini sudah berhenti berjalan, Leo tak langsung memasuki pekarangan dan tetap berdiri dipinggir jalan. Bangunan rumah itu sangat sederhana. Tidak terlalu besar, tetapi memiliki halaman yang cukup luas. Sayangnya, halaman seluas itu dibiarkan kosong begitu saja dan banyak ditumbuhi rumput serta ilalang liar. Rumahnya juga tak terlihat rapi dan cenderung dibiarkan apa adanya.


Pagar rumah ini hanya terdiri dari tumpukan batu-batu tertata rapi. Cat rumahnya juga sudah usang karena bertahun-tahun tidak di cat ulang. Tak banyak yang bisa dilihat dari rumah sederhana ini. Bila dibandingkan dengan rumah Leo, sangatlah kalah jauh.


“Kenapa kita berhenti di sini, Ayah?” tanya Yeon pada Leo tapi ayahnya itu tidak langsung menyahut. Leo malah sibuk sendiri dengan gawainya.


“Halo, apa kau yakin ini rumahnya?” tanya Leo pada seseorang melalui sambungan telepon.


“Iya, Tuan muda. Kami yakin, kami sudah memantaunya daritadi,” jawab seseorang itu yang tak lain adalah para pengawal Leo.


“Ada di mana kalian sekarang?” tanya Leo lagi sambil celingak-celinguk kesana-kemari.


Kedua pria ber jas hitam itu langsung menundukkan kepalanya begitu mereka tiba dihadapan Leo. “Apa anda ingin masuk sekarang, Tuan?” tanya salah satu anak buah Leo.


“Di mana mereka semua? Kenapa rumah itu sepi sekali?” tanya Leo.


“Ada di dalam Tuan,” jawab pengawalnya. “Mereka tidak keluar kemana-mana.”

__ADS_1


“Bagus.” Leo kembali menatap rumah sederhana itu. Ia sempat melihat ada orang sengaja mengintipnya dari jendela rumah. Tapi Leo hanya diam saja seolah tak melihat apa-apa. “Apa ada kafe disekitar sini?” tanya Leo, ia melihat sekeliling rumah yang tampak sepi.


“Diujung sana, Tuan. Mari ikut kami.” pengawal itu menunjuk seberang jalan di mana ada kafe kecil di depan rumah sederhana itu. Kafe itu terlihat sepi dan tak banyak pengunjungnya.


Sambil menunggu kedatangan Shena, Leo mengajak Yeon untuk duduk santai di kafe itu. Yeon sendiri tidak mau bertanya apa-apa lagi dan memilih mengamati serta mempelajari situasi sembari menebak-nebak apa yang sedang direncanakan ayahnya ini. Entah kenapa, Yeon merasakan ada yang tidak beres.


“Kau mau pesan apa, Yeon?” tanya Leo saat ayah dan anak itu duduk di meja kafe. Sementara para bodyguard Leo setia dibelakang mereka dengan penuh waspada.


“Aku … jus lemon saja,” jawab Yeon singkat, dan Leo langsung tersenyum. “Kenapa ayah tertawa?” tanya Yeon. Ia merasa tidak ada yang lucu dengan ucapannya. Ia penasaran kenapa ayahnya malah tersenyum mencurigakan.


“Kau mirip sekali dengan ibumu. Dia juga sangat menyukai jus lemon. Dimanapun aku kencan dengannya, selalu jus lemonlah yang menjadi minuman favoritnya,” terang Leo agar putranya tidak lagi salah paham.


“Syukurlah kalau begitu, untung aku tidak mirip dengan ayah,” ujar Yeon jujur dan Leo langsung keki mendengar jawaban putranya.


“Kau adalah campuran antara aku dan Shena. Dalam dirimu, mengalir darahku. Hanya saja, karena ibumu mengidolakan pamanmu saat mengandung dirimu, sikap menyebalkan kakakku juga menurun padamu. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun juga kau adalah buah pertama dari cinta kami. Seperti apapun dirimu, aku tetap menyayangimu.”


Yeon tidak menyahut karena ia tak mengerti ucapan ayahnya. Ia lebih memilih melihat-lihat jalan dan juga rumah sederhana yang ada dihadapannya. Dalam hati, ia bertanya-tanya rumah siapa itu dan kenapa ayahnya mengajaknya kemari? Ini sangat aneh bin ajaib. Tidak biasanya Leo mau mengajaknya ke tempat seperti ini.


Namun Yeon akan mencoba mengikuti permainan ayahnya. Jika ada hal yang tidak disukai Yeon dari rencana tersembunyi Leo ini, maka ia tinggal bikin onar saja seperti yang biasa ia lakukan. Itu adalah keahliannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2