
Pistol Udav yang ada di tangan Leo, sengaja Leo arahkan kepada orang yang tadi sudah menjawab pertanyaannya. Sontak saja orang yang ditodong itu langsung marah karena merasa ditipu mentah-mentah oleh Leo. Ia tak terima dan meneriaki Leo dengan berbagai macam umpatan.
“Bedebaah! Berengsek kau! Kau bilang kau bakal melelpaskanku jika ak menjawabmu! Dasar bajingan tengik!” teriak orang itu dengan kasar sehingga anak buah Faid ikutan geram mendengarnya dan hendak menghajar orang itu. Tapi lagi-lagi, mereka dicegah oleh Roy agar tidak ikut campur dulu jika Leo sudah beraksi.
“Siapa yang bilang kalau aku akan melepaskanmu? Aku hanya bilang kalau aku akan membantumu pergi ke tempat terindah. Dan terindah untuk orang sepertimu adalah … neraka!” Leo menarik pelatuknya dan … Dor!
Peluru itu langsung melesat cepat menembus kepala orang yang meneriaki Leo tadi. “Pergilah kau ke neraka … semoga kau bahagia di sana,” ujar Leo sambil melihat targetnya sudah tidak bernyawa.
Suasana mendadak hening, sunyi dan senyap seketika. Mulut semua orang yang ada diruangan gelap ini, menganga lebar tanpa bisa dikatupkan lagi. Pamor Leo yang katanya sadis bin kejam ternyata bukan hanya kabar burung belaka. Kini, mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana cara Leo menghabisi musuhnya tanpa perlu basa-basi.
Beberapa rekan orang yang sudah mati kena tembak Leo itupun langsung gemetar ketakutan, bahkan ada yang sampai terkencing di celana. Karena posisi tubuh mereka terbalik maka air seninya itu malah membasahi wajah mereka sendiri. Sungguh mengenaskan kondisi para penjahat-penjahat kelamin ini. Namu, semua yang mereka alami, tak sepadan dengan apa yang pernah mereka perbuat.
Bukan tanpa alasan mengapa Leo langsung menghabisi orang yang tadi bicara dengannya dengan keji. Informasi yang ia dapat dari anak buah Leo, orang-orang yang digantung Faid ini telah banyak melakukan kejahatan sosial dan tindak kriminal diluar batas normal seorang manusia, seperti penculikan anak, pemerkosaan dan perdagangan manusia yang rata-rata ada di bawah umur. Lebih parahnya lagi, mereka semua menggunakan narkoba saat melancarkan aksi kejahatan mereka.
Para anak gadis yang diculik, dirudapaksa secara brutal lalu dibunuh, bahkan organ intimnya dijual ke sindikat perdagangan organ tubuh illegal. Sedangkan yang berparas cantik, dijual ke para pria hidung belang dengan harga fantastis. Sungguh orang-orang seperti ini bukanlah manusia dan tak layak hidup di dunia ini. Bahkan hukuman matipun takkan pernah cukup untuk menebus dosa-dosa mereka atas apa yang sudah mereka lakukan terhadap wanita dan anak-anak tak bersalah.
“Mr. Faid,” ujar Leo pada pemimpin mafia yang ada di kota ini. “Aku serahkan sisanya padamu. Aku sarankan, potong saja etalibun mereka supaya tak banyak meresahkan. Di sini bau sekali, jika kau menghilangkannya, maka kemungkinan besar akan mengurangi pencemaran udara diruangan ini.” saran yang sangat sadis dari Leo. Bagi seorang pria, lebih baik mati daripada tidak punya etalibun.
“Etalibun? Apa itu Tuan muda?” tanya Faid pada Leo, baru kali ini ia mendengar istilah aneh dari Leo.
__ADS_1
Roy sudah tidak sabar lagi, ia langsung membisikkan sesuatu di telinga Faid untuk memberitahu apa itu etalibun versi Leo. Faid pun mangggut-manggut dan jadi kikuk sendiri mendengar istilah asing bin nyeleneh ini yang ternyata sangat sensitif untuk diungkapkan.
“Baiklah, saya mengerti. Saya akui, anda memang sangat luar biasa dan sangat sulit ditebak. Tak salah jika anda mewarisi darah dari mafia paling bersejarah, tuan besar Byon Pyordova. Sekarang, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?” tanya Faid yang mendadak kagum akan cara Leo saat menghabisi para kriminal itu.
“Aku harus segera pergi ke area hotel Raphael untuk mendapatkan chip itu. Setelah itu … akan menghukum istriku dengan main bulan tertusuk ilalang dengannya karena pergi menghilang begitu saja,” ujar Leo mulai kumat.
Lagi-lagi, suami Shena yang bengek itu, menggunakan istilah yang sama sekali tak dimengerti oleh Faid dan semua anak buahnya. Faid menoleh ke arah Roy untuk meminta penjelasan. Sambil membuang napas menghadapi kegilaan Leo, Roypun membisikkan arti dari kata ‘Bulan Tertusuk Ilalang’.
Mata Faid terbelalak, kali ini ia hanya bisa diam tanpa berkomentar apa-apa antara malu dan tak percaya. Seorang Leo yang terkenal sadis dan kejam, ternyata nggak ada akhlak juga.
***
Pakaian Shena memang tak nampak seperti baju pesta pada umumnya, tapi karena seorang Shena yang memakainya, pakaian apa saja yang dikenakan terlihat elegan dan menawan. Apalagi, paras Shena yang begitu cantik menambah sempurna penampilannya. Model papan atas saja kalah pamor dengan kecantikan Shena yang paripurna. Wajar, kalau Leo sangat tergila-gila dengan Shena.
Begitu pula dengan Laura, ia juga tidak ingin berpenampilan berlebihan karena tujuannya hanya ingin membalas dendam dan menghancurkan wanita bernama Magdalena dengan cara gangster ala Shena. Kedua wanita cantik inipun mulai beraksi untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh musuhnya tanpa ada yang boleh tahu siapa identitas Shena dan Laura sebenarnya.
“Bagaimana cara kita bisa masuk ke dalam rumah itu? Penjagaannya ketat sekali. Setiap tamu dimintai undangan sebagai bukti kalau mereka diundang. Sedangkan kita … tak punya undangan apapun,” ujar Laura yang berdiri tegak di samping Shena begitu keduanya keluar dari pintu hotel.
“Kau tenang saja, sebentar lagi kita pasti bisa masuk ke sana.” Shena terlihat santai seolah sedang menunggu seseorang. Sesekali, ia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu setempat.
__ADS_1
Tak berselang lama, tiba-tiba saja ada seorang pria berjas hitam dan bertopi hitam ala caplin tak sengaja menabrak tubuh Shena dari belakang sehingga tas kecil yang dibawa Shena jatuh ke lantai. Pria itu berjongkok untuk membantu Shena mengambilkan tas diornya sembari meminta maaf.
“Maaf, Madam, saya tidak sengaja,” ujar pria itu sambil memberikan tas Shena.
“Tidak, apa-apa.” Shena hanya tersenyum manis menatap pria yang terus saja menundukkan kepalanya sambil memegangi topinya agar wajahnya tak terlihat. Pria itupun berlalu pergi begitu saja setelah selesai minta maaf pada Shena.
Tanpa curiga, Laura mengamati pria asing itu yang anehnya, langsung menghilang ditikungan jalan. Ada yang janggal sebenarnya, tempat ini tak banyak orang berlalu lalang, masa jalan sesepi ini saja, pria itu sampai menabrak Shena. Sepertinya, pria tersebut memang sengaja, entah karena tujuan apa. Namun, karena tidak ada sesuatu yang terjadi. Laurapun diam saja dan menyimpan uneg-unegnya dalam hati.
“Ayo, Ra. Kita masuk ke rumah Magdalena dan buat onar di sana,” ujar Shena menirukan kata-kata Leo yang sering ia ucapkan kalau berhadapan dengan musuh.
“Hah? Bagaimana caranya? Kita tak punya undangan,” ucap Laura bingung.
“Sekarang kita punya.” Shena menunjukkan dua kertas undangan, sama persis dengan undangan para tamu yang diundang Magdalena. Mata Laura langsung melotot menatap dua buah undangan tersebut.
“Da-darimana kau … mendapatkan undangan itu?” pekik Laura shock.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1