
Tanpa ampun dan belas kasih, Leo benar-benar melumpuhkan semua preman yang sengaja membawa paksa Shena meninggalkan tempat ini. Pukulan-pukulan kuat serta tendangan maut Leo tak berhenti ia layangkan pada orang-orang suruhan Rega. Dalam sekejap, orang-orang tersebut jatuh terkapar tak berdaya bahkan sebagian besar dari mereka langsung pingsan seketika akibat serangan dari Leo yang membabi buta.
“Ini balasan untuk kalian karena sudah berani macam-macam dengan istriku. Siapa suruh tangan kotormu ini menyentuh kulit lembutnya, ha? Katakan selamat tinggal pada jari jemarimu!” teriak Leo dengan penuh emosi sambil mematahkan kelima jari para preman yang tadi sempat menyeret paksa Shena.
Preman-preman itu mengerang kesakitan dan akhirnya jatuh pingsan. Shena langsung berlari mendekat kearah Leo dan memeluk suaminya erat-erat. Leopun membalas pelukan istri tercintanya dengan mesra.
“Kau tidak apa-apa, Sayang? Apa kau terluka?” Leo memegang kedua pipi Shena untuk memastikan tidak ada luka apapun disana. Ada kecamasan di raut wajah Leo.
Shena menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa. Aku selalu aman bersamamu.” Shena merebahkan kepalanya di dada suaminya. Sungguh Shena bahagia memiliki Leo disisinya yang selalu bisa menjaga dan melindunginya.
Dari belakang tubuh Leo, ada salah satu preman mencoba menyerang Leo yang sibuk memeluk Shena. Namun, Leo yang memiliki pendengaran jitu, langsung tahu pergerakan musuhnya. Iapun menendang tubuh preman yang menyerangnya dari belakang sebelum preman tersebut berhasil menyerangnya. Masih sambil menggandeng erat tangan Shena, Leo langsung memberikan tendangan maut tepat di ulu hati orang tersebut hingga ia kembali terhuyung mundur kebelakang bahkan sampai memuntahkan darah segar. Tak berselang lama, preman itupun ikut tumbang seperti yang lainnya.
Tiba-tiba saja, terdengar suara tembakan dari sebuah senapan yang sangat Leo kenal. Iapun tertegun dan langsung menghentikan aksi berkelahinya lalu menatap tajam sumber arah suara tembakan itu berasal.
“Ayah!” gumam Leo lirih sambil berkaca-kaca.
Leo sangat yakin dengan pendengarannya dan pengetahuannya akan seluruh jenis senjata berserta pelurunya, dugaannya pasti benar. Terlebih lagi, Leo sangat hafal jenis senapan apa yang sering digunakan Byon jika ayahnya itu mulai beraksi mengangkat senjata.
Shenapun ikut terkejut mendegar suaminya tiba-tiba berkata seperti itu. Tak terasa airmatanya mengalir menatap arah dimana Leo melihat tajam lokasi tempat Kun disekap.
“Leo … benarkah … ayah sudah datang? Kau … tidak salah, kan?” nada suara Shena terdengar sedikit gemetar.
__ADS_1
“Ehm, aku yakin itu ayah,” jawab Leo sambil memeluk Shena. “Kau akan segera bertemu dengan ayah mertuamu, Sayang.” Leo mencium kening Shena.
“Aku sangat merindukannya Leo. Itu benar-benar ayah, kan?” Shena mulai menangis dipelukan suaminya.
“Aku yakin itu suara senapan yang sering ayah gunakan, Sayang. Senapan itu adalah senapan AK-74 M yang biasa dipakai oleh tentara Rusia dan ayah sangat menyukai senapan itu. Sebab perusahaan ayahlah yang menciptkannya. Huh, akhirnya dia datang juga. Pasti ayah mengira Kun yang sedang disekap di dalam sana itu adalah aku.” Leo tersenyum tipis menatap sebuah gedung yang lumayan jauh dihadapannya.
“Ayo kita kesana Leo, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah.” Shena menarik tangan suaminya agar segera menuju kesana.
“Sebentar, Sayang. Kau harus menunggu seseorang dulu.” Leo menatap wajah istrinya dengan sendu. Sedangkan Shena sendiri sama sekali tidak mengerti dengan sikap tenang suaminya ini seolah sedang ada yang ia sembunyikan darinya.
***
Kembali ketempat Aryani yang ditinggal pergi begitu saja oleh Rega entah kemana. Wanita itu begitu kesal dan juga marah karena suaminya ternyata telah mengkhianatinya dan hendak menikamnya dari belakang dengan menikahi Shena secara paksa. Walau pada akhirnya, pernikahan ini telah gagal total karena sepupunya itu berhasil melarikan diri, tapi tetap saja Aryani masih tidak terima dengan perlakukan Rega terhadapnya. Apalagi sikap suaminya sekarang begitu kasar. Aryani sama sekali tidak menyangka Rega bakal berani menggamparnya hingga sudut bibirnya berdarah.
Aryani hendak pergi juga dari tempat ini, tapi ia terkejut ketika melihat ada seorang wanita paruh baya dengan wajah oriental tiba-tiba berdiri dihadapannya sambil menodongkan senjata api dan siap menembak kepalanya.
“Si-siapa … kau?” Tanya aryani sangat gugup karena waniat pruh baya yang cantik itu sipa menarik pelatuknya. Ia terus maju selangkah demi selangkah mendekat kearah Aryani yang juga mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya sepupu Shena itu membentur dinding dan tak bisa berjalan lagi.
“Beraninya kau mengusik kehidupan putraku dan menantuku! Bahkan kau berani menculik cucuku yang masih berusia 3 bulan dan menempatkannya dalam bahaya? Kurang ajar sekali kau? Apa kau bosan hidup, ha? Apa kau tidak tahu kau berurusan dengan siapa?” teriak wanita yang tidak lain adalah Biyanca. Ibu Leo yang salama ini menghilang entah kemana.
Aryani yang baru tahu kalau ternyata Shena memiliki mertua seseram ini, jadi mulai merasa sedikit gemetar ketakutan. Apalagi, berkali-kali Biyanca sengaja memainkan pelatuk senjata apinya dan siap menembak kepalanya.
__ADS_1
“A-apa … ma-maumu?” Tanya Aryani pura-pura tegar walau aslinya ia sudah ketakutan.
“Mauku? Membuat kau membayar semua perbuatanmu pada Shena dengan nyawamu!”
Dor!
Terdengar suara tembakan keras dari senjata api milik Biyanca. Ia sengaja mengintimidasi Aryani dengan menembakkan salah satu pelurunya dibawah kaki wanita itu. Tentu saja Aryani sangat ketakutan dan refleks ia berteriak mengira dirinya sudah mati akibat tembakan dari peluru Biyanca. Namun ternyata, peluru itu tidak mengenainya dan hanya mengenai lantai tepat dibawah kakinya.
“Huh, tidak semudah itu kau mati ditanganku. Kau harus mendapat hukuman yang setimpal atas apa yang sudah kau lakukan. Bahkan kematianmupun masih belum cukup menebus perbuatan kotormu!” geram Biyanca dengan tatapan penuh kebencian. “Pengawal!” panggil Biyanca pada pengawalnya yang sejak tadi setia berdiri dibelakangnya.
“Iya Nyonya,” jawab pengawal itu.
“Seret wanita ini menuju tempat eksekusi keluarga besar Pyordova. Ikat tangan dan kakinya serta tutup wajahnya dengan kain hitam. Jangan biarkan dia mati dulu sebelum aku datang kesana. Aku harus pergi menemui putra putriku serta cucu kesayanganku.” Tatapan tajam mata Biyanca membuat Aryani seakan mati kutu. Tapi ia juga iri karena ternyata Shena punya ibu mertua yang amat sangat menyayanginya.
Sungguh ia tidak pernah menyangka kalau keluarga Leo sangat sadis dan kejam juga. Mendengar kata ‘ruang eksekusi’ saja sudah membuat nyali Aryani ciut. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa ruangan itu. Pasti mengerikan sekali.
“Tidak Nyonya! Tolong lepaskan aku. Jangan sakiti aku! Aku mohon … aku akan minta maaf pada Shena atas semua perbuatanku padanya. Tapi … tolong lepaskan aku. Aku janji! Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi.” Aryani berlutut dibawah kaki Biyanca sambil mengeluarkan air mata buaya. Sayangnya, Biyanca sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan wanita jahat ini.
“Hah … minta maaf? Tidakkah kau berpikir kalau kata maafmu itu sudah terlambat?” teriak Biyanca semakin marah dan bahkan ia menendang tubuh Aryani hingga jatuh tersungkur. “Dasar tidak tahu diri! Membusuklah kau di ruang eksekusi keluarga Pyordova yang bahkan jauh lebih mengerikan dari neraka!” tandas Biyanca.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***
Ka Ariju Ari ..makasih hatinya ya ... lope lope you ... dan terimakasih untuk kalian semua yang ngasih like dan komentarnya serta hadiah-hadiahnya ... aku sungguh terus semangat nulis dan tetap bertahan di Noveltoon karena aku sayang kalian yang tetap setia mau menunggu upnya Leo dan Shena ... love you all