
Saat sedang asyik-asyiknya Leo dan Shena bermesraan dan menikmati indahnya nuansa keromantisan mereka yang syahdu, mendadak ponsel Shena berdering. Tentu saja bunyi nada dering dari lagu ‘can you be my girlfriend’ yang dinyanyikan oleh artis idola Shena itu merusak suasana syahdu yang menyelimuti Leo dan Shena.
“Kau masih menggunakan lagu itu sebagai nada deringmu?” tanya Leo, ia baru tahu kalau istrinya menyukai lagu yang dulu pernah ia gunakan untuk menyatakan cinta pada Shena beberapa tahun silam dan bahkan langsung ditolak mentah-mentah oleh wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
“Ehm, kalau saja aku tahu kau adalah cinta pertamaku, maka aku tidak akan menolakmu waktu itu,” ujar Shena sambil tersenyum. Shena hendak mengangkat panggilan teleponnya tapi dicegah oleh Leo.
“Tidak, kau salah Sayang. Kalau kau menerimaku waktu itu, kisah kita tidak akan seru. Tidak akan ada adegan penculikan, penyanderaan dan pemaksaan. Dan cinta kita berdua tidak akan sekuat ini.” Leo memeluk erat tubuh Shena dari belakang sambil mengenang masa lalu mereka saat Leo memaksa Shena menjadi kekasihnya.
“Kau benar! Dulu ... aku sangat membencimu setengah mati, tapi sekarang ... aku bucin akut padamu sampai mati.” Shena menertawai ucapannya sendiri.
Benci yang dulu Shena rasakan pada Leo langsung hilang sirna tak berbekas dan terganti dengan rasa cinta yang luar biasa dalam sampai tak ada alat ukur apapun, mampu mengukur seberapa banyak cinta Shena pada Leo sekarang ini.
“Dulu, aku gila karena aku sangat mencintaimu. Sekarang, aku jadi jauh lebih gila karena terlalu mencintamu sepanjang waktu. Menjadi suamimu, adalah hal yang paling kuinginkan sepanjang hidupku. Aku bisa memlikimu seutuhnya sekarang. Selamanya, Shena akan menjadi milik Leo.” Leo mengecup mesra pipi Shena dan ponsel Shena kembali berdering.
Kali ini, Shena langsung mengangkatnya kerena itu dari bibi Eghatia. “Iya, Bibi ... ada apa? Apa Yeon menangis?” tanya Shena dan menyalakan loudspeakernya supaya Leo juga bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Yeon tidak hanya menangis, tapi ia sangat terkejut! Siapa orang gila yang berani menyalakan kembang api seramai itu ditempat ini? Aku ingin sekali mencincangnya. Dasar nggak ada akhlak! Awas saja kalau sampai aku tahu, aku bikin bergedel jagung orang itu. Kasihan Yeon, ia jadi tidak bisa tidur karena terlalu bising diluar,” ujar bibi Shena dari seberang sana tanpa tahu bahwa orang yang ia sebut gila adalah Leo, ayah Yeon sendiri.
Shena hanya tersenyum sambil melirik Leo. “Kami akan segera pulang Bibi, ajak Yeon keluar untuk melihat kembang apinya. Siapa tahu dia suka. Biar aku yang menangani orang gila itu karena sudah berani membuat Yeonku menangis.” Mata Shena tak henti memandang suaminya.
“Apa kau tahu siapa biang kerok yang menyalakan kembang api itu?” tanya bibi Shena terkejut.
“Ehm, aku tahu siapa orang yang bibi maksud, sebab orang itu ada bersamaku. Sampai ketemu nanti Bi, kami langsung berangkat pulang sekarang, bye.” Shena menutup sambungannya dan berjalan pelan kesamping mobil Leo.
Leo yang mendengar pembicaraan antara Shena dan bibinya, jadi merasa tersindir. Ia pun menatap Shena dengan tatapan mata yang menakutkan.
__ADS_1
“Siapa yang kau sebut orang gila, Sayang?” tanya Leo mendekat kearah Shena. Mata elangnya langsung memandang manik mata istrinya.
“Kaulah! Siapa lagi? Kan kau sendiri tadi yang bilang kalau kau sekarang jadi lebih gila karena terlalu mencintaiku.” Sebelum Leo marah dan melakukan hal-hal gila lainnya Shena langsung mencium mesra suaminya.
Dengan ganas, Shena mneyerang bibir suaminya dan sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk Leo bicara. Ia mempelajari teknik ini dari Leo sendiri. Lumayan juga Shena mencium suaminya sampai keduanya sama-sama kehabisan napas.
“Wauwww, Shenaku yang lugu, kini benar-benar ganas!” komentar Leo sambil tersenyum bahagia. Mendadak, suami Shena itu menjadi alim sekarang.
“Tentu saja, karena aku belajar banyak darimu. Bahkan aku merasa, aku lebih mirip denganmu, Leo. Kau harus bertanggungjawab sekarang. Kenapa aku merasa jadi seperti wanita nakal didepanmu?” Shena memijat-mijat kepalanya antara kesal dan juga malu.
“Kau memang tanggungjawabku, Sayang. Kau boleh jadi nakal dan liar, tapi hanya saat sedang bersamaku saja. Aku akan bertanggungjawab penuh padamu.” Leo mengecup kening istrinya dan membukakan pintu mobil untuk Shena dengan sejuta rasa cinta tiada terkira.
Shena sendiri akhirnya bisa bernapas lega karena suaminya telah kembali seperti semula. Dibalik punggung Leo, senyum Shena memudar karena memikirkan kondisi rumah tangga mertuanya. Entah apa alasannya sehingga Byon dan Biyanca memutuskan berpisah. Hal itu sangat membuat Shena penasaran untuk mengetahui kebenarannya. Namun sepertinya, butuh waktu lama bagi Shena untuk mengetahui akar permaslaha yang menimpa mertua Shena dan ia hanya bisa berharap segalanya bisa kembali seperti semula.
“Jika itu keputusan kalian, aku hanya bisa mendukung apapun yang kalian inginkan. Aku akan membantu Shena mengurus putramu sebagai balas budiku pada kalian berdua karena masih mau memaafkan dan menerima kembali orang sepertiku. Itupun jika kalain setuju. Entah mengapa, aku jadi tidak bsia terpisah dari Yeon. Sempat terpikir olehku untuk meminta kalian tinggal disini beberapa hari, tapi ternyata kalian malah ingin menetap disini. Sungguh ini kabar yang membahagiakan bagiku.”
“Terimakasih, Bi. Aku akan menyuruh pengacara keluargaku untuk mengurus semua berkas-berkas yang diperlukan seputar kepindahan kami kemari.” Leo bangun berdiri dan duduk disamping istrinya. Ia melihat Yeon begitu tampan saat sudah tertidur lelap. Leo mengusap lembut kepala putranya yang semakin lama semakin menggemaskan.
“Dia mirip sekali denganmu, Leo.” Shena tersenyum menatap putranya.
“Ehm, tapi bibirnya sangat mirip denganmu.” Leo menatap Shena dan putranya secara bergantian.
“Benarkah, tapi sepertinya memang iya. Bibir Leo junior kita ini merah delima sepeti bibirku, tapi ketampanannya mirip dengan ayahnya.”
Leo memeluk Shena dari samping sambil terus mengamati Yeon yang terlelap. Bayi mungil itu begitu menggemaskan.
__ADS_1
Melihat betapa mesranya Shena dan Leo, sekarang. Eghatia jadi teringat akan kenangan almahrum orangtua Shena. Tanpa sadar, airmata bibi Shena kembali mengalir dan itu membuat Shena dan Leo jadi penasaraan, apa yang membuat Egha tiba-tiba menangis tanpa sebab.
“Ada apa, Bibi? Kenapa menangis?” tanya Shena.
Mendengar pertanyaan Shena, tangis bibinya tak bisa dibendung lagi. Eghapun menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berusaha menekan perasaan bersalahnya. “Kalian berdua ... benar-benar mengingatkanku pada almarhum kakak, dan kakak ipar,” isak Egha.
Shena dan Leo terdiam dan juga saling pandang. Shena menyerahkan Yeon ke dalam gendongan Leo untuk menggantikannya. “Ayah dan ibu sudah tenang di alam sana, Bibi. Jangan bersedih lagi, aku sangat bahagia sekarang. Kerena aku memiliki Leo dan juga keluarganya yang sangat menyayangiku. Bahkan sekarang aku masih punya Bibi. Aku yakin, ayah dan ibuku tersenyum melihat kita kembali berkumpul bersama. Lain kali, aku akan mengajak bibi ke makam mereka.”
“Apa? Makam? Bukankah, ayah dan ibumu jatuh ke jurang? Bahkan sampai sekarang jasadany amsih belum bisa ditemukan?” Egha terkejut mendengar ucapan Shena.
“Ayah mertuakulah yang menemukan jasad mereka, Bi. Dan memeberikan tempat peristiratan tekahirteridah yang tidak akanpernah bisa kita berikan untuk almarhum ayah dan ibuku.”
“Apa? Tapi ... bagaimana bisa ayah mertuamu menemukannya? Apa orantua Leo ...
“Kenal baik dengan ayah Shena Bibi.” Leo bantu menjawab. “Ayah bilang, kedua orangtua kami berteman baik, bahkan Shena ada di dunia ini berkat campur tangan ayahku. Jadi, aku sedikit paham kenapa Shena hanya tercipta untukku dan aku sangat mencintainya.” Leo melirik istrinya.
Mulut Egha menganga lebar, “Siapa nama ayamu, Leo?” tanya Egha was was.
“Byon Pyordova,” jawab Leo. “Kenapa, Bi? Apa ada masalah dengan ayah?” tanya Leo tidak mengerti karena bibi Egha terlihat sangat shock.
BERSAMBUNG
****
Ada yang tahu kenapa bibi Shena shock?
__ADS_1