Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 85 Marah


__ADS_3

“Ehem!” Leo berdeham untuk memberi peringatan pada pria yang tidak lain adalah Arga. Putra dari guru Shena, bu Dewi. Sekaligus sahabat kecil Shena yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


Arga sendiri juga tidak sadar kalau apa yang ia lakukan telah membawa petaka bagi hubungan Shena dan Leo. Apalagi Leo sedang dalam perasaan galau akut akibat memikirkan seseorang yang ia temui sewaktu dimakam almarhum mertuanya. Leo sangat yakin, orang itu adalah orang yang sangat Leo kenal dan ia juga sudah melenyapkan orang tersebut. Kini, ia jadi semakin dongkol melihat perlakuan Arga pada Shena meskipn sebenarnya Leo hanyalah salah paham belaka.


“Oh, maaf. aku kelepasan. Sebab, sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan Shena.” Arga agak menjauh dari Shena karena tidak enak pada Leo yang sudah memasang bola api kecemburuan yang membara.


“Jika kau melakukannya lagi, akan aku habisi kau!” Leo menarik tubuh Shena dekat kedalam pelukannya untuk menunjukkan pada Arga bahwa Shena hanyalah miliknya.


Shena yang juga terkejut cuma bisa menyapa Arga dalam pelukan Leo supaya suaminya yang pencemburu ini tidak bikin onar disini. “Hai kak Arga,” sapa Shena sambil tersenyum dan Leo langsung meliriknya tajam. “Apa? Aku hanya menyapa saja? Masa tidak boleh?” Shena langsung cemberut karena Leo memelototinya.


“Sapa sih, sapa? Tapi kau tidak perlu tebar pesona padanya? Didepanku lagi?” Leo benar-benar dilanda cemburu akut sekarang.


“Siapa yang tebar pesona? Masa aku menyapa kak Arga sambil menangis? Kan, aneh?” Shena heran, hanya karena masalah sepele, Leo jadi cemburuan begini.


“Tetap saja kau tidak boleh tersenyum pada siapapun selain padaku!”


“Masa kau suruh aku menangis pada setiap orang yang aku temui?”


“Bukan begitu maksudku!” Leo tetap ngotot dan Shena semakin emosi melihat Leo bersikap kekanak-kanakan seperti ini.

__ADS_1


“Hei kalian berdua, hentikan!” Arga mencoba menengahi perdebatan antara Shena dan Leo yang sudah mulai diluar kendali. “Dengarkan aku baik-baik, Leo.” Arga menatap tajam Leo. “Bagiku, Shena sudah kuanggap seperti adikku sendiri, tidak lebih dari itu. Aku datang kemari karena melihat orang-orang berkerumun diluar sana. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi dan sejujurnya, aku sangat terkejut saat melihat kalian berdua ada disini. Dan aku terlalu senang akhirnya bisa bertemu kembali dengan Shena. Kami sudah lama tidak pernah bertemu sejak ia menikah denganmu. Tolong jangan salah paham.” Arga berharap api cemburu Leo bisa padam setelah mendengar penjelasannya.


“Huh, kenapa masa kecilmu selalu dikelilingi banyak laki-laki, samurai itu? Arga? Rega? Lalu siapa lagi?” Leo mendengus kesal dan ia pun pergi keluar rumah begitu saja.


Shena langsung terpana mendengar Leo bisa berkata seperti itu? Ia tidak menyangka suaminya itu masih hafal semua laki-laki yang jatuh cinta padanya. Kecuali Arga, karena Shena dan Arga sudah seperti saudara. Ini bukan Leo yang Shena kenal. Pasti ada sesuatu hingga membuat Leo jadi posesif begini.


“Ada apa dengannya? Apa yang barusan ia katakan?” Shena hanya bisa menatap kepergian Leo. Ia ingin mengejar suaminya, tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Leo, sebab Shena sendiri juga kesal sekali dengan suaminya itu. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Leo marah tanpa sebab.


“Sepertinya ada yang mengganjal di hati suamimu? Makanya dia cemburu begitu? Dan aku datang disaat yang kurang tepat. Ngomong-ngomong, siapa samurai yang ia maksud?” tanya Arga.


“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Sejak dari pemakaman, Leo sudah bersikap aneh dan menanyakan hal-hal yang tidak aku mengerti. Mungkin kakak benar, sepertinya Leo menyembunyikan sesuatu dariku tapi aku tidak tahu apa itu.”


“Sebaiknya, biarkan dia menenangkan diri dulu. Aku khawatir kalian akan bertengkar lebih heboh lagi kalau emosinya belum reda. Aku yakin ia sedang ada masalah sekarang dan belum bisa mengungkapannya padamu. Makanya dia jadi sensitif.” Arga beralih menatap bibi Egha yang sejak tadi lebih fokus pada Yeon daripada ikut campur urusan anak-anak muda yang ada dirumah ini. “Apa dia anakmu? Boleh aku melihatnya?” Tanya Arga senang walau ia merasa tidak enak hati pada Shena karena telah menyebabkan Leo dan Shena bersitegang.


“Nama yang bagus.” Arga medekat ke arah Yeon yang sedang asyik berinteraksi dengan Egha. Ia menyapa bayi menggemaskan itu sambil tersenyum. “Halo, Yeon. Ini pamanmu Arga. Selamat datang kedunia kami. Semoga kelak kita bisa berteman baik, oke!” Arga tidak menyangka, Yeon merespons ucapannya dengan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. “Putramu ini sungguh luar biasa, Shena.”


“Terimakasih, Kak.” Shena tersenyum, tapi hatinya menangis memikirkan Leo.


Syukurlah Yeon tidak rewel selama ia berada disini, jadi Shena tidak terlalu repot menenangkan putranya. Saat ini, ibu satu anak itu hanya menerka-nerka apa yang terjadi pada suaminya sekarang. Tak dapat dipungkiri, ia jadi cemas juga memikirkan Leo yang masih belum juga kembali. Cuaca diluar tiba-tiba saja mendung.

__ADS_1


“Kakak, tolong jaga Bibi, dan Yeon. Aku khawatir pada Leo. Aku akan menyusulnya,” ujar Shena pada Arga. Ada sejuta kecemasan diwajahnya.


“Ehm, pergilah. Aku akan menelepon ibu supaya datang kemari juga. Jangan khawatirkan Yeon.” Arga memenuhi permintaan tolong Shena dengan senang hati. Sebab, ini juga salahnya. Ia lupa kalau Shena sudah berkeluarga.


“Terimakasih, Kak. Bibi, aku pinjam payungnya.” Shenapun pamit pergi setelah bibinya mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa dikatakan Egha sebab ia tidak mau ikut campur urusan tumah tangga Shena dan Leo.


“Dasar anak muda zaman sekarang, dan semua itu gara-gara kau, Ga!” bibi Egha tersenyum menggoda Arga. Sedangkan Arga hanya bisa garuk-garuk kepala saja.


Sementara itu, Leo berjalan lurus menuju perkebunan teh milik Shena yang sudah ia beli atas nama istrinya dulu. Raut wajah dan tatapan tajam mata Leo membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri. Namun, Leo sama sekali tidak peduli. Mungkin reaksinya ini terlalu lebay dan berlebihan, tapi amarah Leo udah tak bisa dibendung lagi.


“Sial! Aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku!” ujar Leo, lagi-lagi ia mendengus kesal. Bukan pada Shena atau yang lainnya, melainkan pada dirinya sendiri. Leo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. “Halo,” ujar Leo begitu panggilannya terjawab. “Ada dimana kau? Temui aku sekarang karena ada yang ingin aku bicarakan!” tukas Leo dengan ekspresi menyimpan api kemarahan yang begitu besar. Ia menutup sambungannya dan tak berselang lama, seseorang yang diminta Leo datang, tiba-tiba saja muncul dan berdiri disamping Leo.


“Ada apa?” tanya seseorang itu dan tentu saja, Leo langsung melayangkan tinjunya kearah pria yang berdiri dekat dengannya.


BERSAMBUNG


***


Siapa yang kena tinju Leo, ya?

__ADS_1


Maaf kalau ganti cover lagi .. hiks hiks ... lagi gabut soalnya.



__ADS_2