
Leopun keluar mobil dan mengamati supir yang sedang mengotak-atik mobil ini. “Apa yang terjadi?” tanyanya saat Leo berdiri disamping sang supir.
“Sepertinya, saya butuh air untuk mendinginkan mesinnya Tuan muda. Tolong Tuan tunggu di sini, biar saya mencari air disekitar sini.” Supir Leo mengambil jurigen kecil yang ada di bagasi mobil dan hendak menuruni jalan menuju sungai.
“Tunggu! Kau tetaplah di sini ! Biar aku saja yang ambil air,” seru Leo menghentikan langkah sang sopir.
“Tapi Tuan muda …”
“Jangan banyak protes! Berikan jurigen itu!” perintah Leo sambil mengamati istrinya yang berjalan-jalan ke tengah hamparan padang teh.
Tidak salah lagi, wanita cantik yang sedang berjalan pelan sambil menciumi aroma pucuk daun teh itu adalah Shena. Rupanya, begitu Leo keluar dari pintu mobil, Shenapun ikut keluar juga karena terpesona dengan pemandangan indah yang disuguhkan padanya.
Itulah mengapa, tadi Shena tak menyahuti Leo dan lebih fokus pada apa yang ia lihat. Shena sangat senang dengan perkebunan teh ini. Udara segar, suara kicauan burung-burung dan suasana yang adem, sangat menenteramkan hati serta jiwa Shena. Tanpa sadar, Shena memutar-mutar tubuh mungilnya sambil memejamkan mata dan bersenandung riang seolah ikut menari mengikuti hembusan angin yang menembus kulitnya.
Tiba-tiba saja, entah mengapa sekelebat bayangan seorang wanita dan pria berpelukan ditengah-tengah perkebunan teh ini terlintas dikepala Shena. Seketika, Shena berhenti menari karena kepalanya kembali terasa sakit. Mata Shena berputar-putar sehingga membuat tubuhnya oleng. Namun, seseorang dengan cepat menangkap tubuh Shena sehingga ia tak jadi jatuh ke tanah dan orang itu … orang yang menangkap tubuh Shena, siapa lagi kalau bukan Leo, suaminya sendiri.
Keduanya saling bertatapan mesra dan itu cukup membuat jantung Shena berdegup dengan kencang. Dan untuk menghindari agar Leo tak bisa mendengar detak jantungnya, dengan lantang Shena berkata, “Cepat lepaskan aku!”bentaknya.
“Baik!” Karena bentakan itu, refleks Leo melepaskan tangannya dari tubuh Shena. Sialnya, karena Shena belum siap, iapun jatuh terjerembab ke tanah yang lumayan becek akibat hujan semalam.
Buk!
Tubuh Shena mendarat mulus di tanah dan itu mengejutkan Leo dan Shena sendiri.
"Auchh!” Erang Shena sambil merasakan sakit dipunggungnya.
Apalagi, tanah di sini memiliki kemiringan hampir 70 derajat. Wajar jika tadi Shena langsung kehilangan keseimbangan begitu tangan Leo terlepas dari tubuhnya.
“Oh, maaf!” ujar Leo terkejut karena Shena malah terjatuh begitu dia melepaskan tangannya.
“Kenapa kau melepas tanganmu?” tanya Shena marah. Seluruh pakaiannya jadi kotor karena lumpur.
__ADS_1
“Kau sendiri yang memintaku?”
“Tapi aku belum siap!”sengal Shena tidak terima.
“Mana aku tahu kalau kau sudah siap atau belum Sayang. Aku hanya menuruti permintaanmu. Sini, aku bantu.” Leo mengulurkan tangannya untuk membantu Shena berdiri.
“Tidak usah, aku bisa bangun sendiri!” cetus Shena kesal dan langsung nyelonong pergi meninggalkan Leo yang sejak tadi menahan tawa melihat Shena.
“Kau mau kemana, Sayang?” tanya Leo dengan lantang.
“Ke sungai!” jawab Shena jutek. “Jangan hentikan aku!”teriak Shena sok PD tanpa mau menoleh lagi pada Leo. Sebenarnya ia malu atas kejadian barusan.
“Tapi …
"Sudah kubilang, aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi!” sela Shena sebelum Leo selesai bicara.
“Baiklah, aku tidak akan dekat-dekat denganmu, tapi … aku hanya ingin bilang ….”
“Sayang … kau salah arah. Sungainya ada di sana!” teriak Leo dan Shena langsung menghentikan langkahnya.
“Apa?”kali ini, barulah Shena mau menoleh pada Leo dan mau mengikuti arah petunjuknya.
“Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau salah arah, sungainya ada di bawah sana? Dulu kau yang memberitahuku sungai itu.” Leo menatap Shena sambil menyembunyikan tawanya.
“Dasar begundal, kenapa tidak bilang daritadi, haduuh … memalukan sekali!” gumam Shena pelan sambil berjalan melewati Leo sambil terus menundukkan wajah malunya.
Leo tertawa tanpa suara mengikuti Shena dari belakang. Meskipun istrinya ini hilang ingatan, tetap saja tak mengubah karakter aslinya. Inilah Shena, gadis sederhana yang unik dan menggemaskan, bagaimana Leo tidak jatuh cinta dengan tingkah lucu Shena yang selalu apa adanya. Leo merasa ia kembali ke masa-masa indah dirinya bersama Shena dulu.
“Tunggu! Kenapa kau masih mengikutiku? Kau bilang tadi tidak mau dekat-dekat denganku?” tanya Shena balik badan menghadap Leo.
“Aku tidak mengikutimu?” terang Leo jujur.
__ADS_1
“Lalu? Kenapa kau ada di sini?” selidik Shena.
Leo mengangkat jurigen kecil yang sejak tadi ia bawa dihadapan Shena. “Untuk mengisi ini.” Leo mengayunkan jurigen putih itu pada Shena. “Kita searah nyonya Leopard Bay Pyordova, makanya aku berjalan dibelakangmu. Sekaligus untuk menjagamu agar kau tak terjatuh lagi seperti tadi.” Leo memamerkan pesonanya pada Shena.
Hati siapa yang tak meleleh bila ditatap Leo seperti itu. Sungguh degup jantung Shena semakin kencang dan ia tak bisa lagi menguasai dirinya sendiri. Leo sendiri memerhatrikan wajah Shena yang menatapnya tanpa kedip.
“Kenapa wajahmu merah? Kau tidak apa-apa?” tanya Leo hendak memegang kening Shena untuk memeriksa apakah Shena demam apa tidak. Namun dengan cepat tangan Leo ditepis kasar oleh Shena.
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir,” ujar Shena gugup dan balik badan meninggalkan Leo dengan cepat. Ia memegang kedua pipinya yang terasa panas. “Aduh, ada apa denganku? Apa … aku … jatuh cinta padanya? Tidak mungkin, aku kan memang mencintainya? Masa iya jatuh cinta lagi? Sadarlah Shena, mungkin kau hanya terbawa suasana.” Shena bergumam sendiri dan terus menghindari Leo.
Sesampainya di sungai, Shena membersihkan pakaiannya yang kotor sementara Leo mengisi air jurigennya sampai penuh. Keduanya sama-sama menjaga jarak tapi saling mencuri pandang satu sama lain seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Karena tak memerhatikan pakaian yang Shena cuci sendiri, tanpa sengaja ia salah tarik baju sehingga tubuhnya oleng dan jatuh kedalam sungai yang dangkal.
Byurr!
Shena tercebur kedalam sungai dan seluruh tubuhnya tentu saja jadi basah kuyub. Kejadian itu sukses membuat tawa Leo meledak seketika. Ekspresi Shena yang lucu benar-benar membuat Leo tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Leo bahkan sampai memegangi perutnya.
“Sudah puas tertawanya, ha?” sengal Shena kedinginan dan menatap tajam wajah senang suaminya.
Tawa Leo langsung mereda begitu Shena keluar dari dalam air dan kembali duduk dipinggiran sungai. Ekspresi Leo berubah waspada dan iapun mulai menegakkan tubuhnya. Tanpa suara, suami Shena itu menanggalkan pakaiannya sehingga tubuhnya yang seksi jadi terlihat. Sedangkan Shena, sibuk memeras sendiri pakaiannya yang basah kuyub dan sangat terkejut saat melihat Leo sudah bertelanjang dada dihadapannya.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Shena seketika. Ia menelan salivanya saat melihat Leo setengah telanjang dan berdiri didekatnya.
“Lepaskan pakaianmu!” pinta Leo serius.
“Hah?” mata Shena melotot dan seketika menutupi dadanya dengan kedua tangan.
“Buka bajumu Sayang,” ujar Leo lagi.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Ternyata sementara ini Leo dan Shena belum bisa tamat, maaf ya ... mungkin aja bosan dengan kisah mereka. Tapi mau gimana lagi, terpaksa kisah Leo dan Shena sedikit kuperpanjang.