
Shenapun merasa trenyuh, dan ikut duduk di depan bibinya. “Maafkan aku, Bi. Aku tidak memberitahumu ataupun mengundangmu di pesta pernikahan kami waktu itu. Aku kira, bibi akan sangat semakin membenciku dan tidak ingin melihatku. Namun, setelah Yeon lahir, sungguh aku sangat merindukanmu Bi, aku sangat berterimakasih pada Leo karena bersedia mengantarkanku kemari, maafkan aku, Bi. Maaf karena telah membiarkan Bibi harus hidup seperti ini,” isak Shena.
“Kau tidak perlu minta maaf Shena. Akulah yang banyak salah padamu? Kenapa kau terus-terusan meminta maaf padahal kau tidak salah apa-apa. Akulah yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa merawatmu dengan baik, bahkan aku membuangmu dan menelantarkanmu begitu saja. Aku tidak pantas menjadi bibimu, Shena. Kau boleh membunuhku jika kau mau.” Bibi Shena mengatupkan kedua tangannya didepan Shena sebagai tanda permintaan maaf, tapi Shena malah menggenggam erat tangan itu.
Shena langsung memeluk bibinya sambil bercucuran air mata. Keduanya sama-sama menangis untuk mencurahkan perasaan masing-masing. “Tidak Bi, bagaimana bisa Bibi berkata seperti ini padaku. Aku sangat menyayangi Bibi, baik dulu hingga sekarang, aku tetap menyayangimu. Bagaimanapun juga, Bibi adalah Bibiku, Bibi adalah adik kandung ayahku, dan aku adalah keponakanmu. Sampai kapanpun, kita akan selalu mejadi keluarga. Aku tidak mempermasalahkan masa lalu kita. Asal Bibi mau menerimaku kembali sebagai keponakanmu, aku sangat bahagia Bi,” ujar Shena dengan sepenuh hati.
Tangis Eghatia semakin kencang setelah mendengar kata-kata keponakannya, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya pada Shena dulu. Wanita paruh baya itu memeluk keponakannya dengan erat. Seandainya ia bisa kembali memutar waktu, ia tidak akan pernah membuat hidup Shena menderita.
“Kau dalah gadis berhati malaikat Shena, pantas kau juga mendapatkan pangeran tampan yang luar biasa seperti suamimu sekarang,” ujar Bibi Shena disela-sela tangisannya. Keduanya saling tersenyum sambil menangis bersama-sama.
“Aku tahu Bi, Suamiku Leo memang tidak ada duanya. Dia yang terbaik untukku, dan aku beruntung menjadi satu-satunya wanita yang mendapatkan cintanya.” Shena melepaskan pelukannya dan membantu mengusap air mata bibinya. “Bibi mau bertemu dengan Yeon, dia juga tampan seperti ayahnya.”
“Ehm, tentu.”
Shena membantu bibinya bangun berdiri dan berjalan pelan kearah Leo yang sejak tadi hanya diam berdiri sambil menggendong putranya. Suami Shena itu ikut merasa lega karena masalah yang megganjal hati istrinya sudah menemui titik terang. Leopun tak ragu menyerahkan Yeon pada Bibi Shena tanpa berkata apa-apa.
Sebenarnya, sewaktu di rumah sakit, Leo memerhatikan raut ekspresi istrinya saat melihat ibunya dan ibu Refald saling berpelukan. Sekali lihat, Leo tahu apa yang ada dalam pikiran Shena. Karena itulah, Leo mengajaknya kemari agar tidak ada lagi yang mengganjal di hati wanita pujaan hatinya.
Rasa bahagia menyelimuti hati Egha, ia sungguh seperti mendapat sebuah berkah luar biasa dengan melihat wajah putra pertama Shena dan Leo. Apalagi, keponakannya yang cantik ini sudah memaafkan dirinya atas semua kesalahan yang pernah ia perbuat di masa lalu. Dalam hati, Egha benar-benar ingin menjadi orang yang lebih baik dari ini.
“Dia sungguh tampan seperti kakakku, dia mirip dengan kakeknya, Shena. Sungguh putramu mirip sekali dengan ayahmu.” Egha tersenyum dan air matanya mengalir membasahi pipi saat melihat Yeon.
Malaikat kecil itu seolah mengingatkan Egha pada mendiang kakaknya yang juga sangat menyayanginya melebihi apapun, tapi Egha yang dulu punya tabiat buruk, malah tidak memedulikan kakaknya sama sekali. Egha sungguh ingin kembali ke masa lalu agar bisa membalas semua kebaikan yang diberikan kakaknya pada Egha.
__ADS_1
“Berarti, aku sama tampannya dengan ayah mertua,” Leo mulai berkomentar untuk mencairkan suasana.
"Lebih dari itu. Putra kalian berdua, sangat tampan sekali." Egha tersenyum melihat wajah Yeon yang tergolek. Bayi mungil itu benar-benar menggemaskan.
Mereka bertiga tertawa bersama dan Egha mempersilakan pasutri itu masuk kedalam rumahnya. “Maaf kalau gubuk ini tidak layak huni, tapi beginilah aku sekarang. Silahkan kalian cari sendiri tempat yang nyaman untuk duduk, aku akan buatkan teh untuk kalian,” ujar Egha sambil terus menggendong Yeon. Entah ada ikatan apa, bibi Shena itu tidak ingin berpisah dari putra pertama Shena dan Leo.
“Tidak Bi, Bibi tidak perlu repot-repot. “ Shena mencegah bibinya masuk ke dalam dapur. “Bibi duduk saja disini, dan habiskan waktu Bibi dengan Yeon. Biar aku yang buat teh untuk semua orang yang ada disini. Aku titipkan Yeon padamu sebentar.”
Shena hendak pergi, tapi bibi shena mencekal lengan Shena. “Kau adalah nyonya besar sekarang, mana mungkin suamimu mengizinkanmu membuat teh untuk orang sepertiku.”
“Aku tidak pernah melarang istriku melakukan apapun yang ia suka, Bibi. Shena tetaplah Shena. Meski ia adalah ratuku, di rumah ini, ia tetap keponakanmu.” Leo menggantikan Shena menjawab dan Shena langsung melempar senyuman manisnya untuk suaminya tercinta. Sebab, apa yang Leo katakan sungguh membuat Shena ingin berlari memeluknya.
Nanti saja aku memelukmu, aku tidak ingin bibi jadi salting dengan kemesraan kita. Itulah makna tatapan mata Shena untuk Leo, dan Leo hanya mengangguk senang tanda mengerti sambil mengedipkan salah satu matanya.
“Bagaimana bisa bibi bertahan hidup dengan cara seperti ini?” Shena menyeka air matanya yang mengalir membasahi pipinya melihat betapa mirisnya dapur bibinya ini.
“Ada apa, Sayang?” tiba-tiba saja Leo memeluk pinggang Shena dari belakang sambil mencium mesra pipi Shena.
“Aku terkejut melihat dapur Bibi, Leo. Padahal dulu tidak seperti ini, kenapa sekarang jadi begini?” ujar Shena lirih.
“Kau tidak perlu khawatirkan soal itu, aku ibu perimu sekarang. Hanya sekali menjetikkan jari, aku akan mengubah gubuk ini menjadi istana yang megah. Mau lihat?” Leo memutar balikkan tubuh Shena supaya menghadapnya dan tetap memeluk pinggang istrinya dengan erat. “Beri aku ciuman dulu, baru aku akan menyulap tempat ini.”
Shenapun tersenyum dan menuruti permintaan suaminya tanpa syarat apapun. Dengan mesra, Shena mencium bibir Leo. Setelah itu, Leo langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
__ADS_1
“Segera bawa semua barang yang sudah aku kirim daftarnya pada kalian tadi, aku tunggu 1 x 24 jam dan semua barang itu harus sampai kemari tepat waktu. Ah satu lagi, kirim beberapa makanan dan minuman yang aku pesan dalam waktu 30 menit, lebih dari itu ... aku pecat kalian semua!” Leo menutup sambungannya dan kembali menatap wajah Shena yang menganga melihatnya. “Beres, kau bisa kemasukan lalat kalau menganga lebar seperti itu, Sayang.” Leo tersenyum sambil membantu mengatupkan mulut Shena lalu menciumnya dengan lembut.
“Aku kira kau akan memanggil kak Refald kemari untuk membuat keajaiban seperti ibu peri sungguhan. Ternyata, kau mengancam semua anak buahmu!”
“Kau lupa dengan siapa kau menikah Sayang, tak butuh ibu peri sungguhan untuk mengubah rumah ini menjadi istana yang nyaman untuk bibimu.”
“Aduh gawat,” gumam Shena sedikit lemas.
“Apanya yang gawat?” Leo jadi penasaran dengan kata-kata Shena.
“Sepertinya, aku sudah jatuh cinta lagi padamu! Sekarang aku tahu kenapa para wanita di dunia ini lebih memilih menikahi anak sultan, ternyata ini alasannya.” Shena tersenyum lalu mencium mesra bibir suaminya. Leo sendiri langsung membalas ciuman maut istrinya, ia senang kalau Shena juga merasa senang.
“Tidak semua anak sultan sepertiku, Sayang. Aku akan terus membuatmu jatuh cinta padaku di setiap waktu. Bukan karena aku adalah anak sultan ataupun seorang gengster, tapi karena aku adalah Leo. Hanya Leo yang pantas menjadi pendamping hidup Shena, baik dikehidupan ini, ataupun dikehidupan selanjutnya.” Leo memeluk Shena dengan erat.
BERSAMBUNG
***
Huuu .... so sweetnya Leo, jangan nangis ya .... hehe ...
__ADS_1