
"Terimakasih Ayah," isak Shena. "Aku merasa kalian berdua bukanlah mertuaku. Melainkan orangtua kandungku. Yang kalian lakukan dan berikan padaku lebih dari cukup. Sebenarnya aku tidak menginginkan apapun. Bisa menjadi bagian dari keluarga kalian saja, aku sudah sangat bahagia." Shena mencoba tak jadi cengeng di depan Byon. Namun, rasa bahagianya yang begitu besar membuat Shena tak bisa membendung lagi air matanya.
"Tentu saja, kami tahu kau bukanlah wanita yang gila akan harta. Sebab itulah kami sangat menyayangimu karena kau berbeda dengan wanita manapun yang pernah kami temui di dunia ini. Bahkan saat Leo menggodamu, kau tetap menjaga harga dirimu didepannya. Itulah yang kami suka darimu Shena. Tak ada wanita lain yang pantas menjadi bagian dari keluarga ini selain dirimu."
Shena melepas pelukannya dan menatap wajah ayahnya dengan ekspresi terkejut. "Bagaimana ... Ayah bisa tahu? Aku kira ... masalah itu hanya aku dan Leo saja yang tahu, apa Leo ...,"
"Tidak ada yang tidak aku ketahui bagaimana jalan cerita kisah cinta kalian dimulai," sela Byon. "Bukan Leo yang memberitahuku. Ada orang lain, tapi sudahlah jangan dibahas lagi. Ini sudah larut malam, sebaiknya kau istirahat. Tidak baik untuk kesehatanmu jika tidur terlalu malam. Apalagi kau sedang hamil muda. Jaga cucu keduaku ini dengan baik, oke." Byon beralih menatap Leo. "Antar istrimu istirahat dikamar."
"Baik, Ayah." Dengan senang hati Leo merangkul bahu Shena dan membimbingnya masuk ke kamar supaya Shena bisa beristirahat.
"Leo, Yeon bagaimana?" bisik Shena saat Leo dan Shena sudah keluar dari ruang pesta.
Leo mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video yang baru saja ia terima. "Lihat, itu dia ... sekarang, ia sedang tertidur pulas. Ada 10 orang yang sedang menjaga Yeon dengan baik. Semuanya sudah terlatih dan profesional. Yeon baik-baik saja dan tidak kekurangan apapun."
Shena tercengang melihat putranya dijaga orang sebanyak itu. Rupanya pola asuh anak sultan itu gitu, ya? Sejak kecil memang sudah dirawat dan dikawal dengan sangat ketat, batin Shena.
"Leo, menurutmu ... siapa yang memberitahu Ayah soal ...,"
"Siapa lagi?" sela Leo langsung. "Pasti si biksu Tong itulah."
"Ah benar juga. Tapi aku tak melihat kakak ipar dan istrinya tadi?"
"Mereka sedang ada urusan yang tak bisa ditinggal. Tapi katanya, mereka sudah menyiapkan kejutan spektakuler untuk kita."
"Oh iya? Kejutan apa?"
"Entahlah, mereka tidak mau memberitahu. Mereka cuma bilang begitu saja. Lagian kalau diberitahu, namanya bukan kejutan lagi, Sayang."
Memasuki kamar mereka berdua, Shena langsung merebahkan dirinya sebentar di atas kasur untuk melepas penat sebelum ia membersikan diri di kamar mandi. Mendadak Leo memeluk tubuh Shena dengan erat dan berbaring disampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shena saat melihat tangan Leo melingkar didadanya.
__ADS_1
"Memelukmu, apalagi?" jawab Leo sambil memejamkan mata tepat disamping wajah Shena.
"Tapi kenapa tanganmu ada di atas dadaku?" tanya Shena lagi.
"Karena istriku sedang hamil muda, aku tidak mau membebani perut yang berisi anakku didalamnya," jawab Leo seenaknya, ia masih memejamkan mata. Shena sampai bisa merasakan hembusan napas suaminya karena jarak mereka terlalu dekat.
"Lepaskan aku, aku mau membersihkan diri dulu," ujar Shena pelan, tapi dekapan Leo bukannya mengendor malah semakin menguatt.
"Aku ikut." Lagi-lagi Leo bicara masih sambil memejamkan mata.
"Kau tidur saja, sepertinya kau sangat lelah." Kali ini sudah tidak ada sahutan, napas Leo juga mulai teratur. Suaminya ini rupanya langsung menuju pulau kapuk dalam waktu sekejap alias tertidur lelap.
"Dasar! Katanya minta main bulan tertusuk ilalang dobel. Belum apa-apa saja sudah tepar," gumam Shena. Ia tersenyum memandangi wajah tampan suaminya. "Dia pasti kelelahan, tapi masih bisa bersikap sok keren didepanku. Siapa suruh kau menggendongku, tadi?"
Shena mencoba lepas dari tangan Leo supaya ia bisa bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hampir kurang lebih 1 jam telah berlalu dan Shena sudah selesai membersihkan dirinya. Kini, ia jauh lebih fresh dan rileks. Shena merasa badannya jauh lebih enteng, rasa lelah yang menyerangnya tadi juga sudah hilang setelah ia selesai mandi. Kini Shena hendak istirahat karena besok ia juga harus melakukan banyak aktivitas sehari-hari.
"Menungguimu mandi?" jawab Leo singkat tanpa ekspresi.
"Kau mau mandi juga? Kebetulan aku sudah selesai mandi. Kau bisa masuk ke dalam ...." belum juga Shena menyelesaikan kalimatnya, mendadak Leo menggendong tubuh Shena dan meletakkannya diatas tempat tidur. Tanpa berkata-kata Leo langsung menyerang Shena dengan ciumannya sehingga gadis itu kesulitan bernapas.
"Leo, apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba jadi ganas begini?" tanya Shena disela-sela serangan ciuman maut Leo.
"Kenapa kau mandi sendiri, Sayang. Sudah kubilang aku ingin ikut mandi denganmu," jawab Leo lalu ia kembali menyerang Shena tanpa henti. Shena bahkan sampai mendesah akibat serangan dadakan dari Leo.
"Kau terlihat lelah tadi, aku tak tega membangunkanmu saat kau tertidur," jelas Shena.
"Kalau begitu kita harus main bulan tertusuk ilalang triple, bukan dobel lagi. Aku tidak suka dibantah!"
Mendengar itu Shena tak jadi buka suara. Dia hanya diam menatap manik mata suaminya yang sudah dipenuhi dengan gelora cinta yang membara.
__ADS_1
Adegan bulan tertusuk ilalang pun terjadi. Baik Shena atupun Leo sama-sama menikmati malam-malam syahdu mereka berdua layaknya sepasang pengantin baru.
***
"Kapan kontesmu dilaksanakan?" tanya Shena saat ia dan Leo selesai menyalurkan hasrat birahi mereka berdua dengan sempurna.
"Lusa," jawab Leo singkat dan mendekap tubuh Shena dengan mesra.
"Apa kau sudah tahu siapa lawanmu dalam babak final nanti?" tanya Shena lagi.
"Tidak tahu, para tim kompetisi itu luar biasa canggih karena bisa merahasiakan lawanku dengan baik. Tak ada yang tahu siapa orang yang akan menjadi rivalku."
"Ehm, misterius sekali. Kok jadi aku yang deg degan, ya? Jadi penasaran, siapa lawan suamiku ini." Shena memeluk Leo dengan mesra.
"Katakan padaku, Sayang. Kau ingin aku menang atau kalah?"
"Menang atau kalah, bagiku kaulah juara dihatiku. Tak peduli siapapun lawanmu. Didalam hidupku ... kaulah yang nomer satu."
Shena langsung mendapat hadiah ciuman manis dari Leo. "Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga, sekarang pergi mandi sana!"
"Tidak mau, kita main bulan tertusuk ilalang lagi."
"Hah? Apa kau tidak lelah?"
"Aku yang sekarang sangat kuat. Mau main sampai pagipun aku juga tetap bugar. Hehehe."
Shena hanya bisa menelan salivanya melihat senyuman mengerikan dari Leo. Malam ini, Shena benar-benar diterkam singa Leopard yang ganas.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***