
Shena terbangun dipagi hari karena secercah cahaya mentari menyinari wajah cantiknya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku akibat ulah suaminya semalam. Leo junior juga sepertinya sudah bangun, Shena merasa geli karena ada gerakan-gerakan kecil di dalam perutnya. Shena menoleh kesamping dan sedikit terkejut karena Leo tidak ada disampingnya. Ia mengamati ke segala arah dan mendapati suaminya sedang bertelepon dengan seseorang di depan jendela kamarnya.
“Ehm, aku tahu. Aku akan menunggu istriku bangun dan segera kembali kesana. Kau urus dulu semuanya sampai aku kembali.” Leo menutup sambungan teleponnya dan tersenyum simpul melihat sepasang tangan melingkar erat diperutnya. “Kau sudah bangun, Sayang.” Leo melepas pelukan tangan tersebut dan berbalik badan menatap sang pemilik tangan. Siapa lagi kalau bukan Shena, istri tercintanya.
“Siapa yang bicara denganmu, tadi. Wajahmu serius sekali? Apa ada masalah?” bukannya jawaban, Shena malah mendapat ciuman manis dari Leo.
Leo menggenggam erat kedua tangan Shena lalu mencium punggung kedua tangan mungil itu. “Abas, sekarang dia menggantikan ayahnya, pak Bas sebagai pengacara keluarga kita. Kita harus kembali ke hotel dan menghadiri sidang pertama.”
Shena mengerutkan dahinya mendengar pernyataan Leo barusan. “Sidang? Sidang apa?”
“Sidang dari kekacauan yang kau buat. Apa kau lupa, Sayang? Kau menggampar wanita jalaang yang ada dihotel waktu itu. Sekarang dia menuntut balik kita atas perlakuan yang tidak menyenangkan.” Alih-alih cemas, Leo malah tertawa sehingga membuat Shena jadi semakin bingung dengan ekspresi suaminya itu.
“Kenapa kau tertawa? Apa kau sedang merencanakan sesuatu yang buruk?”
Leo memeluk pinggang istrinya dan menempelkan tubuhnya ke perut buncit Shena sambil masih tersenyum simpul. Sepertinya, suasana hati Leo sedang baik sekarang, karena ia lebih banyak tersenyum dari biasanya.
“Mungkin aku belum pernah memberitahumu sebelumnya, Sayang. Aku selalu punya cara sendiri saat menghadapi sidang tuntutan atas segala kekacauan yang sering aku buat untuk mengacaukan bukti-bukti mengarah padaku. Terutama ketika aku masih berada di Jerman. Aku suka membuat onar diruang sidang, apalagi yang menjadi hakim adalah ayah dari wanita jalang itu. Aku sudah tidak sabar lagi ingin bermain-main dengan mereka. Sepertinya, aku harus menggunakan caraku yang biasanya untuk menghadapi sidang di negara ini atas kekacauan yang sudah istriku buat kali ini. Pasti menyenangkan sekali.” Leo mengusap lembut perut buncit Shena seolah merasakan ada gerakan didalamnya.
“Cara? Apa itu?” Shenapun ikut mengusap perutnya bersama-sama dengan Leo. Mereka berdua terlihat sweet dan romantis sekali seperti yang sudah diprediksikan Kun kemarin. Semarah apapun Leo, pasti langsung luluh dengan Shena.
“Sebuah cara yang ekstrim untuk buat onar, Sayang. Kau tahu pekerjaan sampinganku selain sebagai gengster adalah tukang buat onar. Roy menyebut cara yang aku lakukan sebagai ‘cara mafia’.” Leo mengecup lembut bibir istrinya dengan cepat.
“Wuah, kedengarannya mengerikan.”
__ADS_1
“Tidak Sayang, justru sebaliknya. Cara mafia yang kugunakan ... menggelikan!” Leo memamerkan gigi putihnya pada Shena sehingga gadis itu semakin bingung saja. Selain dikenal sebagai gengster nggak ada akhlak, Leo juga suka berbuat aneh dan nyeleneh jika berhadapan dengan musuh-musuhnya.
“Kenapa aku jadi kasihan sama mereka, ya?” Shena mungkin tidak tahu apa yang akan Leo lakukan pada wanita dan hakim di acara sidang nanti, yang jelas itu bukan sesuatu yang baik. Entah kenapa, Shena jadi merasa iba.
“Salah sendiri, siapa yang suruh mereka cari gara-gara dengan istriku! Lupakan tentang wanita jalaang itu dan minumlah vitamin ini. Setelah itu kau harus makan banyak.”
“Setelah apa yang kau lakukan semalam, sekarang kau memberiku vitamin?” tiba-tiba saja, Shena jadi badmood kalau Leo menyuruhnya minum vitamin.
“Kenapa? Kau tidak suka? Haruskah artis idolamu yang memberikannya supaya kau mau meminumnya?” sindir Leo sambil menatap tajam Shena.
Rupanya Leo masih saja cemburu dengan kembarannya sendiri, sehingga membuat Shena jadi dongkol. "Dasar kekanak-kanakan! Cemburumu itu terlalu berlebihan, Leo.”
“Oh, iya? Lalu kau ingin aku bersikap bagaimana? Haruskah aku pergi dan mengikhlaskan dirimu bersamanya?”
“Kau balas dendam padaku?” Fik. Leo benar-benar menyindir Shena.
“Ah, aku lupa kalau kau belum mendengar penjelasanku. Kenapa kau tidak bertanya kenapa aku menyuruh artis idolaku secepatnya pergi semalam?” Shena mencoba bersikap tenang menghadapi Leo yang masih saja cemburu.
“Sudah jelaskan? Agar aku tidak bisa menghabisinya.”
“Kau tidak akan pernah melakukannya, karena seperti yang kau bilang, dia adalah putra dari mantan tunangan ayah dan sahabat dekat ayah. Kalau kau membunuhnya, sama saja kau berurusan dengan ayah.”
“Kau tidak takut kalau aku benar-benar menghabisi artis idolamu?”
__ADS_1
Shena menatap mata Leo sambil membelai lembut pipi suaminya. “Tidak? Aku tidak takut dan tidak peduli jika kau membunuhnya. Yang aku takutkan adalah setelah apa yang kau lakukan padanya. Kekacauan yang kau buat akan menimbulkan banyak bencana bagi keluarga kita. Itu yang aku takutkan. Tapi ... hal itu tidak akan pernah terjadi. Kerena antara aku dan idolaku hanya sebatas artis dan fans fanatiknya saja, tak lebih dari itu.”
“Sungguh kau tidak punya perasaan apapun padanya? Wajahnya bahkan mirip denganku. Bisa saja kau menyukainya juga!”
Shena menghela napas panjang. Entah apa yang merasuki pikiran Leo sampai suaminya itu meragukan cinta dan kesetiaannya. “Kau dan dia berbeda Leo. Kau suamiku, sedangkan dia hanya idolaku. Tentu saja suamiku adalah segalanya bagiku. Kau masih tidak percaya?"
"Yakinkan aku supaya aku percaya padamu bahwa cuma akulah satu-satunya pria yang kau cintai. Tidak hanya hari ini, tapi esok, lusa dan selamanya," tandas Leo.
"Begini saja, aku setuju kalau kita punya banyak anak seperti yang kau inginkan agar kau percaya kalau aku hanya mencintai ayah dari anak yang sedang kukandung ini.” Shena melipat kedua tangannya didada sambil cemberut karena Leo tidak percaya dengan cintanya.
Mendengar ucapan Shena, Leo jadi merasa senang. Ia berjalan mundur dan mengamati perubahan bentuk badan Shena yang kian lama makin berisi saja.
“Deal, oke ... aku percaya padamu, Sayang. Kita sepakat bakal punya banyak anak!” Leo tersenyum senang. Ia mencubit pipi Shena yang cemberut padanya. “Sekarang katakan kenapa kau menyuruh Kun pergi dan harus memberi kabar padamu? Memangnya apa yang akan dia lakukan?” wajah Leo berubah kembali serius kalau membicarakan soal kembarannya.
“Menikah!” jawab Shena cepat.
“Apa?” Leo tersentak. “Kau bilang apa tadi? Siapa yang menikah? Kau mau menikah dengannya? Tapi kan kau masih istriku yang sah?” mata Leo terbelalak menatap Shena.
Shena langsung memukul pelan bahu Leo. “Siapa yang menikah dengannya, bodoh? Bukan aku yang akan Kun Nikahi, tapi kekasihnya, Xiao Lung. Bagaimana bisa kau punya pikiran aku bakal menikah dengan orang lain sementara aku sudah bersuami? Apa itu masuk akal? Baru saja kau bilang kalau kau percaya padaku? Kenapa sekarang malah menuduhku yang bukan-bukan? Dituduh itu nggak enak, tahu! Serendah itukah aku dimatamu? Kau bahkan tidak percaya kalau cuma kau saja yang aku cintai! Kau benar-benar membuatku kesal Leo, aku tidak mau bicara lagi, padamu!” bentak Shena marah dan langsung pergi keluar kamar sambil membanting pintu dengan keras sampai terdengar bunyi, brak!
Leo hanya bengong menatap kepergian Shena yang sedang merajuk tiba-tiba. “Huh, bedebah itu mau menikah? Ini sungguh mengejutkan,” gumam Leo. “Tunggu aku, Sayang! Jangan ngambek!” Leo bergegas mengejar Shena walau kabar tentang pernikahan kembarannya masih belum sepenuhnya ia percaya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****