
Begitu Leo pergi menyelamatkan istrinya Shena, Refald langsung bergegas mengikuti pengawal Rega yang membawa pengasuh Yeon kesuatu tempat seperti yang diperintahkan Rega. Mereka menggunakan mobil jeep dan ternyata tujuannya adalah daerah perbukitan dimana jalannya berkelok-kelok dan terjal. Tempat ini jarang dilalui orang karena jalurnya yang sulit sekali. Hanya orang-orang lihai dan profesional saja yang bisa melewati jalanan terjal dimana disetiap salah satu sisi jalannya terdapat jurang menganga lebar. Salah perdiksi saat mengemudi, sudah dipastikan bakal masuk jurang.
Tak lama kemudian, mereka berhenti dipinggir sebuah bukit yang dikelilingi jurang-jurang. Orang-orang suruhan Rega itu bersiap melempar bayi Yeon yang tak berdosa setelah berhasil merebut paksa Yeon dari gendongan pengasuhnya. Pengawal yang terdiri dari para preman pasar itu bahkan tak segan menggampar pengasuh Yeon hingga mendapat luka lebam diseluruh wajahnya.
“Jangan lukai tuan muda saya, Tuan. Saya mohon, biarkan saya saja yang menggantikannya,” ronta wanita paruh baya yang mengasuh Yeon sejak ia masih pertama kali dibawa keistana Leo.
“Huh, memangnya kau dibayar berapa, ha? Sampai kau rela mengorbankan nyawamu demi anak ini!” Tanya pengawal Rega dengan sinisnya.
Wanita itu tidak menjawab, bukan urusan pengawal itu untuk mengetahui apa alasan ia begitu menyayangi Yeon seperti putranya sendiri. Melihat wanita itu terdiam, pengawal tersebut langsung merebut Yeon dengan paksa dan langsung melempar bayi mungil itu kedalam jurang menganga.
Tepat disaat itu, Refald langsung mengambil alih tubuh Yeon yang terlempar bebas diudara sebelum bayi tersebut mencapai dasar jurang. Sayangnya, tubuh bayi Yeon menegang dan wajahnya berubah menjadi biru. Sepertinya terjadi sesuatu pada jantung putra pertama Leo.
“Tidak Yeon, bernapaslah!” teriak Refald yang saat itu masih melayang bersama Yeon diudara. Cuaca disini sangat dingin dan tubuh Yeon menggigil.
Ini pertama kalinya Refald mencemaskan sesuatu, ia sangat khawatitr dengan kondisi Yeon yang kritis. Jika ia memaksakan diri menghilang dan berteleportasi seperti yang biasa ia lakukan, Refald takut jantung Yeon tidak kuat lagi menghadapi tekanan udara disekitarnya sebab ia masih terlalu kecil.
“Gawat!” gumam Refald lagi. Ini pertama kalinya Refald diserang kepanikan yang amat sangat. “Tidak ada cara lain, aku harus melakukan sesuatu.” Refald menatap wajah keponakannya yang semakin lama semakin pucat saja.
Suami Fey itu mencoba mentransfer energinya untuk menyelamatkan nyawa Yeon agar jantungnya kembali menguat melalui tautan jari tangan Refald ditangan Yeon yang mungil itu. “Kau harus selamat Yeon, belum saatnya kau mati sekarang. Kau punya kehidupan indah dimasa depan.” Refald terus menatap putra Leo itu sembari menunggu reaksi apakah usahanya ini berhasil atau tidak.
Menit pertama, Yeon masih terdiam. Tidak ada perubahan pada bayi mungil itu. Refald mulai harap-harap cemas berharap usahanya menyelamatkan keponakannya ini berhasil. Dan untunglah dimenit kedua, Yeon mulai menangis dan itu membuat Refald sedikit lega.
“Fiuh … kau mengejutkanku, Yeon. Ayo kita kembali keatas dan memberi pelajaran orang-orang yang membuatmu mengalami ini.
Kemunculan Refald yang tiba-tiba dari dasar jurang ditambah suara tangisan Yeon yang kencang membuat kaget seluruh preman bayaran Rega dan mengejutkan pengasuh Yeon. Kondisi pengasuh itu sungguh mengenaskan. Ia dihajar habis-habisan oleh preman-preman tersebut tanpa belas kasih. Namun, wajahnya langsung tersenyum begitu mengetahui Yeon selamat dari maut. Suara tangisan itu menujukkan kalau Yeon baik-baik saja dalam gendongan Refald.
__ADS_1
“Tuan muda Yeon, syukurlah anda selamat,” ujarnya lirih karena ia juga sudah kehabisan tenaga.
“Sialan! Siapa kau!” teriak salah satu preman itu dengan kencang pada Refald.
“Kalau aku memberitahumu siapa aku … kau akan ketakutan!” Refald menatap tajam mata preman itu dan entah kenapa, bulu kuduk preman yang membentak Refald langsung berdiri sehingga tubuhnya gemetar ketakutan.
Bagaimana tidak? Preman itu melihat aura Refald begitu menakutkan. Seolah iblis paling mengerikan muncul disekelilingnya. Berkali-kali preman itu mengusap-ngusap matanya berharap penglihatannya salah dan hanya berhalusinasi melihat sosok Refald yang dikelilingi para pasukan dedemitnya. Namun yang ia lihat itulah faktanya. Sang raja dedemit itu memang sedang dikelilingi para pasukannya dimana wujud mereka akan terlihat menakutkan dimata orang lain, tapi tidak dimata Refald dan orang-orang terdekat Refald.
“Raja, biar kami yang menghabisi mereka, sebaiknya tenangkan tuan muda Yeon agar tidak menangis,” usul salah satu pasukan dedemit Refald.
“Biarkan dulu Yeon menangis untuk senam jantung, itu sangat baik untuknya. Kalian jangan khawatir, Yeon yang sekarang, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan jika aku membantingnya ke tanah, ia tidaka kan terluka. Dan juga … kalian jangan ikut campur, aku ingin bersenang-senang sebentar dengan para kutu-kutu itu. Kau lihat muka preman itu? Bada gede, berotot, dan dipenuhi tato. Tapi takut dengan demit seperti kalian?” Refald malah tertawa. “Sayang saja pak Po tidak bisa datang kemari, ia terlalu sibuk mengurusi putrinya yang baru lahir.”
“Harap maklum Raja, pak Po sedang menikmati jadi demit papah muda?” jawab mas Ger asal jeplak. Refald hanya tertawa sinis karena para preman itu mulai bersiap menyerangnya.
“I-itu … bukannya … itu ada … Ge-ge ….” Preman berbadan gempal dan bertato tersebut semakin gemetar menunjuk-nunjuk Refald dimana ada pasukan Refald yang berdiri diseklilinya.
“Kau ini bicara apa? Ge apa?” Tanya rekannya lagi.
“Aku yakin, i-itu adalah … gerandong!” ujar preman itu dan langsung disambut tawa lepas rekan-rekannyu setelah sesaat mereka terdiam.
“Haahahaha … apa kau habis melihat film mak Lampir? Itu film memang bikin semua orang merinding disko sampai kau berhalusinasi melihat makhluk gerandong itu? Siang-siang begini amana ada setan? Kau ini ada-ada saja!” ledek rekan-rekannya.
“Sungguh! Aku tidak bohong! Aku yakin makhluk itu adalah gerandong!” preman kekar itu mencoba meyakinkan rekan-rekannya.
“Tapi … bila dibandingkan dengan wujud gerandong yang gosong, pria tampan itu lebih mirip Sembara, hanya saja dia tidak pakai blangkon, buahahahaha ….” Tambah yang lainnya tetap tidak percaya dengan ucapan temannya.
__ADS_1
Pasukan dedemit Refaldpun juga ikut tertawa mendengar ledekan para preman itu karena telah berani mengatai rajanya sebagai ‘Sembara’, salah satu tokoh protagonis dalam serial kolosal dalam film ‘Misteri Gunung Merapi’.
“Sejak kapan Raja turun level?” Tanya mas Gen.
“Turun level gimana maksudmu? Tanya mas Ger yang juga jadi bahan ledekan para preman menyebalkan itu. Namun, bukannya marah, dia malah senang.
“Biasanya ratu memanggil Raja dengan sebutan ‘Refald ala Edward’, vampire tampan dan berkelas, tapi sekarang kenapa malah jadi Sembara?”
“Bagus, kan? Kalau raja kita ini ‘Sembara’ berarti ratu kita adalah ‘Farida’ dan akulah gerandongnya.” mas Ger terkekeh membanggakan dirinya sendiri difilmkan bersama dengan raja dan ratunya.
“Terus mak Lampirnya siapa?”
Belum juga mas Ger menjawab pertanyaan mas Gen, Refald langsung melempar seluruh pasukannya keudara dan menghilang bagai bintang dilangit sampai berbunyi ‘cling’.
“Wuaaaaaa, Rajaaa! Kenapa kami semua dilempar?” teriak mas Gen dan mas Ger bersamaan sampai suara mereka menghilang dibalik awan.
“Dasar demit nggak ada akhlak! Beraninya kalian menghibahiku tepat didepan mataku!” gumam Refald kesal. “Sembara? Apannya yang Sembara? Siapa dia? Ah, biar aku tanyakan Fey saja nanti.”
Tatapan mata Refald kembali menajam setelah melihat preman berbadan besar itu mulutnya menganga lebar melihat aksi yang dilakukan Refald barusan. Rupanya, preman tersebut memiliki indra keenam yang bisa melihat makhluk tak kasat mata. Tanpa pikir panjang lagi, preman itu langsung lari terbirit-birit karena ketakutan dan membuat heran semua rekan-rekannya.
BERSAMBUNG
***
Maaf, malam ini otakku lagi kongslet, jadi terpaksa kita senam mulut dulu dengan ulah Refald dan dedemitnya. Part selanjutnya baru kita kembali ke Leo yang bakal membuat perhitungan dengan Rega dan sepupu Shena. Terus dukung semua karyaku ya … love you all
__ADS_1