Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 230 Ledakan


__ADS_3

Rupanya, guru BK Yeon mendatangkan bala bantuan lain untuk menyingkirkan putra pertama Leo. Ia terlihat serius dan tidak main-main dengan niat jahatnya itu.


Beberapa orang tambahan suruhan guru BK tersebut, datang bersamaan dan mengepung Yeon sehingga anak itu tak bisa lari kemana-mana. Hanya ada satu jalan jika Yeon ingin meloloskan diri, yaitu dengan menerjunkan diri ke dasar tebing yang pastinya, itu tak mungkin dilakukan Yeon.


Orang-orang dewasa itu sengaja memojokkan Yeon dengan terus melangkah maju mendekati anak yang berdiri di bibir jurang. Menyadari kakinya sudah ada di pinggiran tebing, Yeon berhenti berjalan mundur dan memutar otak untuk bisa meloloskan diri dari sekelompok orang suruhan guru BK nya.


"Hahaha ... kau tak bisa lari lagi dari sini, Nak. Tak ada jalan lain lagi bagimu untuk bisa lolos dari kami. Kalau kau mau, terjun saja ke laut sana. Nanti titip salam sama almarhum nenekku, ya?" ledek orang yang ada dihadapan Yeon.


"Nenekmu pasti malu punya cucu keparaat sepertimu." Yeon sama sekali tak takut dan malah terkesan menantang.


"Apa kau bilang! Beraninya kau berkata seperti itu. Kau benar-benar minta dilempar kelaut,!" Salah satu orang yang paling dekat dengan Yeon marah sambil memasang wajah seram. Ia hendak meraih tubuh Yoen tapi mendadak seseorang muncul dari balik punggung anak itu dan langsung menembaki orang-orang yang ada disekelilingnya tanpa belas kasih.


Orang itu, siapa lagi kalau bukan Leo. Beberapa orang langsung tumbang seketika akibat peluru yang keluar dari senjata api sang ketua gengster.


"Kau tidak apa-apa, Yeon." Leo melindungi putranya dengan berdiri di depan Yeon sambil bersiap menembak lagi jika ada yang bergerak.


"Ayah!" seru Yeon terkejut, ia tidak menyangka ayahnya akan muncul dari balik tebing entah bagaimana caranya. Sepertinya Leo sengaja manjat tebing curam itu dan dibantu oleh Roy demi menyelamatkan putranya.


"Ada apa dengan suaramu, kau kecewa karena bukan pamanmu yang datang?" tanya Leo masih sambil mengamati orang-orang yang ada dihadapannya. Peluru Leo tinggal sedikit jadi ia harus berhemat.


Kali ini, Leo lagi sial. Saat menaiki tebing tadi, seluruh peluru cadangannya tak sengaja terjatuh dan tidak mungkin bagi Leo untuk mengambilnya kembali. Untunglah senjata apinya tak ikut jatuh dan bisa ia gunakan di saat genting seperti yang ia lakukan barusan.


"Sedikit," jawab Yeon lirih. Ia memang kecewa karena bukan pamannya yang menyelamatkannya. Padahal Yeon sangat merindukan Refald.

__ADS_1


"Apa?" Leo memutar tubuhnya menatap putranya yang terlihat sedih. Awalnya Leo tak terima, tapi melihat wajah murung Yeon, Leo jadi ikutan sedih.


"Yeon, pamanmu sedang sibuk. Banyak hal yang harus dia urus. Tak mungkin pamanmu harus menjagamu selama 24 jam. Kau masih punya aku. Apa kau tidak melihat betapa kerennya ayahmu ini?" Leo mencoba menenangkan putranya dan disaat bersamaan, Yeon melihat ayahnya diserang musuh dari belakang.


"Ayah! Awas!" teriak Yeon sekencang mungkin.


Leo balik badan dan langsung menghalau serangan orang-orang yang hendak memukulnya dengan batu. Naas, pistol Leo terpental jauh dan jatuh ke dasar jurang sehingga Leo terpaksa harus menyerang orang-orang itu dengan tangan kosong.


Bunyi bak buk bak buk terdengar keras ditelinga Yeon. Dalam hati, Yeon terkagum akan ketangkasan ayahnya saat berkelahi dengan para musuhnya. Meski sendirian, Leo jauh lebih unggul dan tidak terkena pukulan sama sekali. Sebaliknya, orang-orang berjas hitam itu sudah tumbang berkali-kali akibat serangan membabi bita ayahnya yang jago sekali berkelahi melebihi Jet Li.


"Wuah, ayahku sangat hebat." Yeon tersenyum senang sekaligus kagum pada Leo yang sudah membuat babak belur orang-orang jahat itu.


Karena tak memerhatikan jalan dan asyik menikmati perkelahian ayahnya, tanpa sengaja pergelangan kaki Yeon tergelincir sehingga ia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Mirisnya lagi, posisi Yeon ada di bibir jurang sehingga tubuhnya yang tak seimbang itu mau tidak mau harus menuruti daya tarik gravitasi bumi atau dengan kata lain, Yeon terjatuh dari atas tebing hanya dalam waktu sekejap.


"Ayaaaaah!" teriak Yeon mengagetkan Leo didetik-detik terakhir ia terjatuh.


"Yeooonnn!" Leo ikutan berteriak dan berlari secepat kilat ke bibir tebing agar ia bisa meraih tangan mungil putranya.


Sayangnya terlambat, tangan Leo tak bisa menggapai tangan putranya. Didepan mata Leo, ia melihat Yeon melayang bebas jatuh kebawah dan sudah ditebak apa yang akan terjadi bila anak itu sampai menyentuh tanah.


"Tidak! Yeooonnn!" teriak Leo menggelegar dengan berurai air mata karena tak kuasa melihat Yeon semakin jatuh jauh dari pandangan Leo. "Kau tidak akan sendirian, Yeon! Ayah akan menemanimu!" tandas Leo nekat setelah berhasil menguasai diri.


Suami Shena itu bergegas bangun berdiri dan hendak melompat turun mengikuti putranya, tapi niatnya ia urungkan setelah melihat sesuatu yang semakin lama, semakin mendekat kearahnya. Leo berkali-kali mengusap matanya berharap bahwa penglihatannya ini tidak salah.

__ADS_1


"Yeon!" Seru Leo, putranya itu kembali ke atas dan bukannya jatuh ke bawah seperti dugaannya.


Leo sangat yakin dengan apa yang ia lihat ini. Yeon melayang semakin dekat kearahnya dan ia tidak sendiri. Ada Refald bersamanya. Yah, tidak salah lagi, Yeon ada dalam gendongan paman yang sangat dirindukan putranya, yaitu Refald.


Memastikan hal itu nyata, Leo langsung terduduk lunglai. Hampir saja ia jantungan jika ia benar-benar kehilangan putra pertamanya. Leo bahkan tidak peduli pada orang-orang yang tadi berkelahi dengannya, telah melarikan diri dan mengira bahwa Yeon sudah mati begitu mereka melihat kondisi Leo saat ini.


Namun nyatanya, Leo seperti itu bukan karena sedih atas apa yang terjadi pada putranya, justru ia bisa bernapas lega karena kakaknya selalu saja datang tepat waktu menyelamatkan orang-orang yang disayanginya.


"Syukurlah," gumam Leo. Ada guratan senyum menghiasi sudut bibirnya.


"Kau datang Paman!" seru Yeon girangnya melihat Refald menggendongnya. "Yeee, Paman sudah datang! Paman kemana saja? Kenapa jarang sekali menemuiku!" Yeon yang tadinya sok keren dan sok cool dihadapan musuh, langsung berubah manja bila ada didekat Refald.


"Banyak yang harus paman urus Yeon. Kau jangan nakal kalau paman tidak ada, oke!" Refald mencubit pipi Yeon yang menggemaskan. Ia juga sangat menyayangi keponakannya ini.


Leo hanya tersenyum sinis melihat kedekatan putra dan kakaknya. Beberapa detik lalu, Leo terlihat putus asa, dan tidak tahu bagaimana ia menghadapi Shena jika istrinya tahu insiden ini, tapi begitu Refald datang, rasa itu telah sirna seketika.


"Kenapa kau membiarkan mereka pergi. Ini bukan dirimu, Leo! Kau terkenal tanpa ampun," tanya Refald pada Leo.


"Siapa bilang aku membiarkan mereka lolos begitu saja, Kak." Leo bangun berdiri dan mengusap lembut kepala Yeon yang ada dalam gendongan Refald. "Tutup mata dan telingamu, Yeon!" perintah Leo dan Yeon langsung menurut.


Begitu melihat putranya melakukan apa yang ia katakan Leo tanpa syarat, suami Shena itu mengeluarkan sebuah remot kecil dan menekan asal tombol hitam yang ia pegang. Sedetik kemudian, terdengar suara bom meledak dan muncul api beserta asap yang berasal dari kelompok musuh-musuh Leo itu melarikan diri.


"Aku sudah memasang bom mini pada tubuh mereka semua saat berkelahi tadi. Itu hanya permulaan. Kabar meninggalnya Yeon akibat jatuh ke jurang, harus terdengar oleh guru BK itu. Baru mereka semua kuledakkan. Aku ... takkan pernah mengampuni siapapun yang berniat menyakiti keluargaku. Siapapun itu." Mata Leo menatap tajam bekas ledakan tubuh orang yang diledakkan Leo barusan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2