
Polisi berkumis tebal itu sangat heran dengan pria muda yang kini berdiri dihadapannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ada orang yang berani menodong dan mengancamnya dengan pistol, apalagi pistol itu ternyata hanyalah pistol mainan. Dan kali ini, pria muda asing yang berdiri tegap didepannya sengaja menghalangi jalannya seperti yang ia lakukan tadi saat menghadang semua pengendara yang lewat agar pejabat kota yang menjadikannya kaki tangan bisa lewat tanpa terkena macet untuk menghadiri pertemuan penting.
“Siapa kau? Beraninya kau menghadang jalan polisi?” tanya polisi berkumis tebal dengan tatapan meremehkan.
Tinggi Leo dan juga tinggi tubuh polisi itu sama, hanya bentuk tubuhnya saja yang berbeda. Walau berbeda, hal itu tak menciutkan nyali Leo untuk memberi pelajaran polisi yang suka bertindak sesuka hati tanpa mau memikirkan perasaan orang lain. Tubuh Leo memang tak sebesar tubuh polisi yang ada dihadapannya, tapi kemampuan Leo dalam beradu kekuatan juga tak kalah hebat dari polisi berbadan gempal itu. Tak ada yang meragukan keterampilan Leo dalam berkelahi.
“Aku ... adalah orang yanag akan membuat mata dan pikiranmu terbuka tentang bagaimana cara menjadi polisi yang baik dan melayani masyarakat yang membutuhkan pertolonganmu. Bukannya malah menjadi kacung para pejabat rusuh hanya demi mendapatkan kekayaan instan. Ketahuilah pak Polisi, tidak ada yang instan di dunia ini. Segala hal yang bebau-bau instan tidak akan pernah bisa bertahan lama.”
“Heh! Bocah ingusan! Apa kau bosan hidup, ha? Kau tidak tahu dengan siapa kau bicara! Jaga ucapanmu itu kalau kau tidak mau berakhir dipenjara!” teriak polisi itu marah pada Leo. Sedangkan yang diteriaki malah tenang-tenang saja.
“Harusnya kata-kata itu kau simpan untuk dirimu sendiri pak polisi. Asal kau tahu, aku juga baru saja keluar dari gedung sidang karena ada orang jahat yang ingin memenjarakanku, tapi ... seperti yang kau lihat, tidak ada seorangpun yang bisa memasukkanku ke dalam penjara kecuali jika aku menginginkannya sendiri. Kau tahu kenapa? Karena aku ... adalah Leopard Bay Pyordova, putra tunggal dari mantan mafia yang sekarang menjdi pengusaha tersukses di dunia, yang tetap ditakuti oleh semua musuh-musuhnya terutama saat mendengar nama ‘Byon Pyordova’.” Mata Leo menatap tajam pada polisi itu.
Wajah polisi tersebut langsung tertegun dan entah sejak kapan keringat dingin mulai mengalir dipelipisnya. Entah ia mengenali nama beken itu atau tidak, yang jelas kata-kata Leo tadi sukses membuat tubuhnya menegang seketika dan langsung terbujur kaku.
“Apa? Jadi ... ka-kau ... putra tuan Pyordova?” tanya polisi itu masih sambil terbengong-bengong seolah tak percaya bakal bisa bertemu dengan Leo disini.
“Huh, kenapa? Kau ketakutan hanya mendengar namanya? Ayahku memang terkenal diseluruh dunia, wajar kalau kau jadi shock saat kusebutkan siapa nama ayahku. Akan aku beritahu satu hal padamu. Jangan coba-coba menindak semua orang yang tadi kau halangi laju kendaraan mereka terutama wanita yang hendak melahirkan. Kalau sampai kau mengusik mereka semua, maka aku ... tidak akan segan-segan menghabisimu tanpa jejak. Silahkan saja dicoba kalau kau tidak percaya.
“Dan juga ... jadilah polisi yang baik mulai sekarang, kalau sampai aku menemukanmu melakukan kesalahan yang bertolak belakang dengan seragam yang kau kenakan, maka ... akan aku buat seragammu itu membungkus tubuhmu dalam-dalam di dasar tanah yang terdalam. Camkan itu baik-baik!” Ancaman Leo kali ini halus, tapi menakutkan. Dan Leo, tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia sudah memegang banyak bukti kejahatan yang dilakukan polisi ini, sekali polisi berbadan gempal itu menyalahgunakan kekuasaannya lagi, maka Leo benar-benar akan menenggelamkan polisi itu kedasar lautan yang dalam.
__ADS_1
Melihat orang yang ada dihadapannya hanya diam tak bereaksi, maka Leo menganggap polisi tersebut sudah mengerti maksud ucapannya. Ia pun kembali masuk kedalam mobilnya dan langsung duduk disamping Shena yang sejak tadi was-was kalau-kalau suaminya itu benar-benar akan membunuh polisi berbadan tegap itu ditempat ini, tapi ternyata lagi-lagi dugaan Shena salah besar. Leo sudah tak sesadis dulu yang suka bertindak seenak jidatnya dan main hakim sendiri tanpa memikirkan apa akibat dari tindakannya.
Kali ini, Leo masih memikirkan cara lain untuk membuat jera musuh-musuhnya yang tak kalah keren dari cara sadis yang biasanya ia pakai. Hal itu cukup membuat Shena semakin jatuh cinta pada suaminya ini. Matanya tak henti-hentinya memandang Leo.
“Kalau kau menatapku seperti itu, kau akan semakin jatuh cinta padaku Sayang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau cintamu semakin bertambah besar padaku.”
“Bukannya kau senang jika aku semakin mencintaimu?”
“Tidak,” Leo menatap tajam mata istrinya. “Kau tidak boleh mencintaiku lebih besar dari cintaku padamu."
"Hah, maksudnya?" tanya Shena tidak mengerti.
"Cintaku padamu, harus lebih besar dari cintamu padaku, titik. Aku tidak suka dibantah.” Leo langsung mencium mesra bibir Shena tanpa peduli bahwa masih ada pengawal Leo yang menjadi sopir berada diantara mereka berdua.
“Nggak mau!” Leo masih tersenyum menggoda Shena dan semakin mengeratkan pelukannya. “Cepat jalan, kita langsung ke hotel. Selama satu jam kedepan jangan ada yang menggangu kami, kalau ada pesan atau telepon masuk kau tampung saja dulu, baru berikan padaku setelah kami keluar dari kamar. Kalau sampai kau melanggar, akan aku hancurkan kepalamu. Kau mengerti!” perintah Leo pada pengawalnya. Leo juga menyuruh semua anak buahnya pergi dari tempat ini.
“Mengerti, Tuan muda!” jawab pengawal itu dengan lantang.
Sedangkan Shena, sepertinya harus menarik kembali ucapannya tentang Leo yang sudah tidak sadis lagi. Suaminya ini, masih tetap sama. ‘Nggak ada akhlak'.
__ADS_1
Sementara, polisi itu hanya menatap tajam mobil Leo yang sudah jauh pergi meninggalkannya dengan pandangan mata kosong sampai suara ponselnya berdering keras membuyarkan lamunannya.
“Iya, halo Sir ... apa? Geng kapak? Mereka sudah tiba?” Polisi itupun menutup sambungan ponselnya dan meremas ponsel itu kuat-kuat seolah sedang menahan amarah yang amat sangat besar.
“Sir,” panggil sopir mobil yang sejak tadi berada di dalam mobil. “Para pejabat kota sedang menunggu anda.”
Polisi berkumis tebal itu tak bersuara dan pergi masuk kedalam mobilnya dengan masih menatap tajam ke depan. Tangannya sampai detik ini masih mengepal kuat. Ia tidak tahu bagaimana cara melampiaskan api kemarahannya ini, yang jelas untuk sekarang ia harus menahan amarah itu sampai waktunya tiba ia lepaskan.
“Sersan, carikan aku nomer ponsel anak itu segera! Sekarang juga! Beritahu aku jika kau sudah mendapatkannya.” Sebuah guratan senyum terpancar di mata polisi bertubuh tegap itu.
“Siap, Sir!” tandas sopir itu.
“Kau sudah tumbuh besar rupanya, huh dasar bocah tengik!” gumam polisi itu sambil terus menopang tangannya dimulutnya untuk memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
BERSAMBUNG
****
Jam 12 malam nanti aku up lagi. Terimaksih buat semua yang sudah memberi hadiah koin dan poinnya yang membuat aku semakin bersemangat. Maaf kalau upnya sedikit lama karena kesibukan di RL. Tunggu keseruan episode selanjutnya ya ... kali ini mulai seru.
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya ya ... biar lebih semangat lagi nulisnya ... love you all.