Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 180


__ADS_3

Dengan berani, Leo sengaja masuk ke dalam kedai seorang diri tanpa mau dikawal oleh anak buahnya. Semua pasukan Leo bersenjata lengkap, ada diluar kedai dengan penuh waspada.


Seluruh preman yang terganggu dengan kehadiran Leo, ingin sekali mencincang habis tubuh cowok sok cool itu. Namun, mereka menunggu aba-aba dari bos mereka sehingga mereka hanya bisa berdiam diri saja seperti banteng kelaparan.


"Oey, Bang?" Seru Leo pada pemilik kedai yang berdiri di samping preman berbadan besar itu.


"Iya, Den?" ujar pemilik kedai itu dengan sopan.


"Ambilkan air minum, aku haus sekali!" Leo memegang lehernya untuk menunjukkan bahwa ia sangat kehausan.


"Anda mau minum apa, Den?" tanya pemilik kedai itu lagi.


"Air kelapa saja!"


"Baik, tunggu sebentar." Pemilik kedai itu langsung masuk ke dalam dan mengambilkan pesanan Leo.


Suami Shena itu benar-benar terlihat santai habis menatap musuh-musuh yang ada dihadapannya. Padahal, kalau dilihat dari kilatan mata mereka, mereka seolah ingin sekali membunuh dan mencincang Leo. Namun, suami Shena itu tidak peduli, Leo bahkan tidak bicara lagi, ia malah asyik mengetuk-ngetuk kakinya di lantai dan bersiul sambil memainkan lagu kesukaannya. Tentu saja hal itu membuat para preman geram dan sudah tidak bisa bersabar lagi.


"Kenapa kita tidak menyerang dia, Bos?" bisik salah satu preman berambut gimbal pada preman bertubuh besar yang berdiri di hadapan Leo.


"Bos besar masih belum memberi aba-aba. Kita tak bisa bertindak seenaknya." Orang yang dipanggil 'bos' itu balas berbisik pada rekannya.


"Padahal ini kesempatan emas, Bos? Si kampret itu sendirian, orang-orangnya malah berjaga diluar."


"Tetap saja, kita harus menunggu perintah dari bos besar dulu. Jangan lakukan apapun jika kau masih ingin hidup lama," geram preman gempal itu.


Tak ada lagi kata-kata yang diucapkan oleh preman berambut gimbal tersebut. Lebih baik ia diam daripada nyawa melayang.


"Sebenarnya kau mau apa, ha?" tanya preman berbadan gempal.


"Sebenarnya, mau menghabisi kalian! Tapi aku lagi haus, jadi kutunda dulu," jawab Leo santai.

__ADS_1


Jawaban Leo langsung mengundang tawa seluruh preman kampung itu. Leo hanya diam saja menunggui mereka tertawa lepas.


"Kau bilang apa tadi? Mau menghabisi kami?" tanya preman itu masih sambil tertawa. "Jangan mimpi, Nak. Lebih baik kau pulang ke rumah dan main game sana? Jangan membuat lelucon di tempat ini dengan mengatakan mau menghabisi kami. Itu lucu sekali?" Preman itu terus tertawa begitupula dengan Leo yang juga ikutan tertawa.


"Lucu, ya?" ujar Leo terus tertawa.


Melihat tawa Leo yang aneh, para preman itu jadi agak sedikit tersinggung dan menghentikan tawanya. Mereka semua menatap Leo sambil menahan geram yang amat sangat. Asap mengepul mulai keluar di ubun-ubun mereka saking marahnya melihat Leo seakan meledeknya.


"Kenapa kau tertawa, ha?" bentak pemimpin preman itu.


"Kau bilang ada yang lucu! Ya aku tertawalah, masa menangis, itu namanya bukan lucu, tapi sedih." Gaya bicara Leo semakin membuat panas emosi preman-preman kampung ini.


"Aku sudah tidak bisa bersabar lagi! Kau benar-benar sudah kurang ajar sekali! Rasakan ini!" Teriak preman itu menyerang Leo dengan bogem mentahnya. Namun dengan cepat Leo menahan kepalan itu dengan tangannya. Sedetik kemudian, Leo menginjak kuat lengan preman yang ia tahan sampai terdengar bunyi 'klek'.


Tangan preman itu sepertinya mengalami patah tulang sehingga tubuhnya terduduk dengan lutut menyentuh tanah.


"Arrrrgghhhhh!" Preman tersebut berteriak sekencang-kencangnya menahan sakit yang amat sangat. Bahkan suara teriakan preman berbadan gempal itu terdengar menggema di telinga Refald yang sedang duduk santai di tengah-tengah area perkebunan teh sambil menggunakan teropong pengamat. Rupanya sejak tadi, Refald terus memerhatikan aksi adiknya dari kejauhan tanpa melakukan apapun seolah sedang menunggu sesuatu.


"Tubuhmu ini jauh lebih besar dariku. Tapi ... cuma seginikah kemampuanmu?" Ledek Leo tanpa mau melepaskan cengkeraman tangannya pada preman itu.


Para anak buah preman itu hendak menembak, tapi mereka tak bisa menarik pelatuknya karena seluruh anak buah Leo mengepung preman-preman kampung tersebut. Bila diantara mereka ada yang berani menarik pelatuk, maka sudah dipastikan semuanya bakal musnah jadi abu didetik ini juga.


"Lepaskan, aku! Sakit! Tu-tulang tanganku patah!" ujar preman tak berdaya itu dengan terbata-bata meminta Leo melepaskannya.


"Oh iya? Tapi aku tidak lihat? Kau kan juga sering melakukan adegan seperti ini pada orang yang berani melawanmu! Aku hanya melakukan apa yang sering kau lakukan." Leo memelintir tangan preman yang patah itu hingga lagi-lagi preman tersebut mengerang kesakitan.


"Aaaaarrrggh!" Teriakannya malah jauh lebih kencang dari sebelumnya.


"Ayo! Siapa lagi yang maju?" tantang Leo dengan kilatan api kemarahan.


Nyali semua preman itu ciut dan tanpa sadar mereka melangkah mundur saat menatap mata Leo.

__ADS_1


"Si ... Si ... Sitaramaraju!" ujar salah satu preman it mu ketakutan melihat Leo.


Mendengar hal itu, Leo sangat terkejut. Darimana orang ini tahu panggilan Refald padanya. Sebenarnya siapa Sitaramaraju yang dimaksudkan dan kenapa Leo dipanggil begitu?


"Hei kau! Kenapa kau memanggilku Sitaju, ha? Siapa dia?" Leo benar-benar penasaran.


"Kau tidak tahu, kah? Dia terkenal sebagai pahlawan revolusi India yang bisa mengalahkan ratusan preman sekaligus tanpa meneteskan keringat sedikitpun. Se-seperti yang kau lakukan sekarang!" jelas preman itu masih gugup.


"Apa?" Pekik Leo. "Dasar biksu Tong, seenak jidatnya saja menyamakanku dengan sembarang orang! Awas kau nanti!" gumam Leo marah.


Leo mendorong keras tubuh preman berbadan gempal itu sampai membentur tubuh rekan-rekan premannya yang lain. Mereka semua membantu bosnya berdiri dan membawanya pergi dari sini sebelum Leo menyiksanya lagi.


"Katakan! Dimana bosmu yang asli atau kalian semua yang ada disini akan mati."


"Kami tidak tahu, kami hanya diperintah memalui nomer tak dikenal," jawab salah satu preman.


"Sudah kuduga, bajiingan itu takkan berani menampilkan batang hidungnya," ujar Leo.


Si gengster itu kembali duduk santai di kursinya sembari menunggu kedatangan Refald tanpa Leo tahu bahwa kakaknya itu sudah mengamati gerak-gerik Leo dari kejauhan. Pemilik kedaipun datang sambil membawakan minuman kelapa yang sudah dipesan Leo tadi.


"Ini, Den ... minumannya!" ujar pria itu.


Leo tak langsung menerima air kelapa yang diberikan pemilik kedai. Ia mengamati kelapa muda itu dengan tatapan aneh.


"Kau saja yang minum, aku tidak jadi haus." Leo berubah jadi ketus.


"Hah?" pemilik kedai itupun terkejut. Giliran dia yang jadi kesal sekarang.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2