
“Leo, ada apa ini?” tanya Shena mulai panik.
Rasa khawatir dan cemas yang amat sangat menghantui Shena seketika. Ia menatap orang yang dimaksud suaminya sebagai ketua geng kapak itu lekat-lekat. Rasanya, Shena tidak ingin percaya bahwa laki-laki muda, seumuran dengan Refald itu adalah ketua geng kapak yang mengincar nyawa suaminya, tapi Leo tidak mungkin bercanda dalam situasi seperti ini. Banyak sekali teka-teki dan misteri tentang alasan ketua geng kapak itu memburu Leo.
Melihat istrinya diserang rasa khawatir yang berlebihan, Leo menggenggam erat tangan Shena lalu mencium punggung kedua tangan tersebut dengan mesra. Sebenarnya, Leo merasa bersalah pada Shena kerena momen kencannya harus berakhir seperti ini. Namun, Leo tidak ingin lari lagi, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Leo harus menghadapi ketua geng kapak itu dan segera membereskannya sehingga ia dan Shena serta seluruh keluarganya bisa hidup aman, tenang dan damai selamanya.
“Dengarkan aku, Sayang. Aku sudah siap berhadapan dengannya. Jika aku merasa aku bisa mengalahkannya, untuk apa aku harus terus bersembunyi? Aku tidak bisa membuatmu kesepian dan menderita lebih lama lagi gara-gara bedebaah gila itu. Kau sudah mengalami banyak hal sulit gara-gara aku. Sekarang, di tempat ini, aku akan mengakhiri semuanya dan mengembalikan kebahagiaan serta senyumanmu seperti sedia kala. Tunggu dan lihatlah Sayang, apa yang akan aku lakukan pada orang yang sudah berani mengganggu ketenangan dan kebahagiaan kita.” Leo membelai lembut pipi istrinya yang menatap sendu ke arah Leo.
Shena terus mengamati Leo yang juga sedang menatapnya mesra. Walau dirinya mencemaskan suaminya, tidak ada yang bisa dilakukan Shena selain percaya pada Leo. Sebab, ia tahu bahwa suami tercintanya ini tidak pernah takut pada apapun. Leo, juga bukan pengecut yang harus lari bila ada bahaya yang mengintainya. Sebaliknya, suaminya akan menghadapi segala macam rintangan dengan kekuatannya dan seluruh tingkah kegilaan yang dia punya. Termasuk hari ini, Leo begitu berani menghadapi bahaya dengan memancing orang yang mengincar nyawanya datang ke tempat ini.
“Kau tidak boleh kalah,” ujar Shena setelah ia memantapkan hati bahwa Leo pasti bisa melawan musuh-musuhnya. “Kau harus menang dan menggendong bayi kita yang akan segera lahir ini. Kalahkan semua musuh-musuh kita,” ujar Shena lirih sambil meletakkan kedua tangan Leo diperut buncitnya.
Melihat apa yang dilakukan istrinya, Leopun tersenyum simpul lalu mencium mesra bibir Shena tepat dihadapan musuhnya yang juga ikut tersenyum sinis menatap kemesraan orang yang sudah ia incar sejak dulu, bahkan saat usia Leo masih kanak-kanak.
“Akulah orang pertama yang akan menggendong putraku begitu dia lahir ke dunia seperti yang dilakukan Refald saat putranya lahir. Aku ... juga akan melakukan hal yang sama. Aku janji, padamu.” sekali lagi, Leo mencium kening Shena dengan sepenuh hati.
Shena memejamkan mata merasakan betapa besarnya cinta Leo padanya. Tiba-tiba dari sisi kanan dan kiri mereka, muncullah beberapa tali pengait yang dilempar dari bawah ke atas tebing seolah sedang ada orang yang lagi panjat tebing. Shena mulai waspada dan bersiap-siap membantu Leo bila dibutuhkan meski ia hanya akan menjadi beban Leo saja kalau ia ikut campur urusan para kaum adam ini.
“Jangan takut, Sayang. Mereka semua adalah anak buahku,” terang Leo pada Shena.
Beberapa orang mulai bermunculan dari dasar tebing satu persatu sehingga jumlah mereka semakin lama semakin bertambah. Semuanya berdiri tegak di sisi kanan dan kiri Leo sambil membawa pedang di tangan masing-masing.
__ADS_1
“Tapi ... bagaimana anak buahmu ada disini?” tanya Shena bingung.
Sebab setahu Shena, hanya dirinya dan suaminyalah yang boleh tinggal dan berada di tempat ini. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan datang kemari tanpa seizin dari Baida sang pemilik desa.
“Selama ini, aku tidak latihan sendirian Sayang. Seluruh anak buahku ikut latihan bersamaku, siang aku berlatih dengan Master, malam aku berlatih dengan mereka di tengah hamparan padang bunga di sana? Dan tebing-tebing ini adalah area latihan kami selama ini. Geng kapak itu bukan pengguna senjata api Sayang, mereka semua adalah samurai. Mereka bertarung menggunakan pedang.” Tatapan mata Leo menatap tajam pada pria yang berdiri tegap dihadapan Leo dalam diam sejak tadi.
Shena ingin bertanya lagi, tapi melihat wajah suaminya seserius itu, iapun mengurungkan niatnya.
“Akhirnya kita bertemu secara langsung, ketua geng kapak yang sudah banyak dicari oleh satuan polisi ternama diseluruh dunia dan ditakuti oleh para mafia. Kenapa kau tidak menyuruh keluar semua anak buahmu? Supaya kita bisa langsung berperang. Aku ingin sekali menebas kepalamu dengan tanganku sendiri.” Leo tetap bersikap waspada. Kilatan mata elangnya benar-benar menakutkan.
“Huh, aku tidak buru-buru. Santai saja, nikmati momen kebersamaan kalian selagi kalian masih bisa bersama.” ketua geng kapak itu tersenyum sinis lagi. Tatapan matanya juga tak kalah tajam dari Leo. Bedanya orang ini cenderung lebih ke arah psiko.
“Kau berkata seolah ini adalah hari terakhirku, tapi sayangnya keinginanmu itu tidak bisa aku penuhi. Karena yang akan berakhir disini bukanlah aku, tapi kau!” teriak Leo dengan lantang dan sama sekali tak takut dengan orang yang ditakuti banyak gengster dan mafia itu.
Awalnya Leo memang penasaran, kenapa pria muda seumuran Refald ini hanya mengincar nyawanya saja. Namun, bukan itu yang terpenting sekarang ini. Apapun alasannya, Leo sudah tidak bisa memaafkan perbuatan geng kapak yang suka berbuat onar dimana-mana dan sudah banyak orang yang nyawanya melayang begitu saja akibat ulah geng yang tidak berperikemanusiaan. Penculikan, penyanderaan, penyiksaan, pembunuhan dan segala macam bentuk kriminalitas lainnya adalah makanan sehari-hari yang dilakukan oleh setiap anggota geng kapak pada setiap orang yang mereka incar tanpa pandang bulu dan belas kasih.
“Aku tidak mau tahu, apapun yang menjadi alasanmu, misiku adalah melenyapkan iblis berwujud manusia sepertimu supaya tidak menjadi sampah masyarakat yang meresahkan mereka semua.” Sebuah pedang, ia ambil dari salah satu anak buah Leo dan ia lemparkan ke depan ketua geng kapak itu. Sebab, ketua geng kapak itu tidak bersenjata sewaktu datang kemari karena terpancing oleh jebakan Leo.
"Kenapa kau memberiku pedang? Kau bisa membunuhku dengan mudah sebelum semua anak buahku datang." Lagi-lagi pria tegap itu tertawa getir.
“Aku bukan seorang pengecut, aku tidak melawan orang yang tidak bersenjata. Gunakan pedangmu dan kita mulai saja peperangan ini ... disini!” Leo pun mengambil salah satu pedang yang dibawakan oleh anak buahnya dan mulai siap bertempur.
__ADS_1
Pria tegap itu menunduk untuk mangambil pedang yang di lempar Leo. “Sayang sekali, padahal aku ingin memberitahumu alasan utama kenapa aku hanya menginginkan nyawamu mati ditanganku. Aku tidak balas dendam atas kematian ayahku. Justru aku berterimaksih pada kalian karena membantu melenyapkannya. Seandainya ia tidak mati ditangan ayahmu dan teman-temannya, maka aku sendirilah yang bakal membunuhnya.” Pria tegap itu tertawa lepas seolah bangga pada apa yang dikatakannya.
“Kau memang bukan manusia, kau benar-benar iblis yang harus di basmi,” geram Leo.
“Terimakasih atas pujianmu, tapi aku sangat ingin sekali memberitahumu. Alasan kenapa aku menginginkanmu lenyap dari dunia ini, itu karena ... aku ... tidak rela ... kalau wanita yang ada disampingmu itu hidup bahagia bersamamu. Kau tahu kenapa? Sebab aku ... sangat mencintainya sejak ia belum bertemu denganmu dulu!” teriak pria tegap itu dan langsung berlari kencang ke arah Leo sambil melayangkan pedangnya.
Leo sendiri langsung terperangah tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan ketua geng kapak itu tentang alasan orang tersebut mengincar nyawanya. Walau sempat tertegun sesaat, Leo tetap waspada menghadapi serangan yang ditujukan ketua geng kapak itu dan juga mulai mengayunkan pedangnya untuk melawan orang yang mengaku mencintai istrinya.
Leopun ikut berlari ke arah ketua geng kapak tersebut berlari. Keduanya saling beradu pedang dan ketangkasan memainkan pedang mereka masing-masing sehingga menimbulkan bunyi khas dari pedang yang memekikkan telinga saat kedua pedang tersebut saling beradu dan bergesekan.
“Beraninya kau berkata bahwa kau ingin melenyapkanku hanya karena mencintai istriku? Apa kau sudah bosan hidup, ha? Tidak akan aku biarkan orang sepertimu berani mengatakan cinta pada satu-satunya wanitaku. Sudah tidak ada ampun lagi bagimu! Akan aku bunuh kau sekarang juga! Dasar berengseek!” geram Leo dengan tatapan api membunuh yang membara.
BERSAMBUNG
***
Maaf, up nya telat. Soalnya lagi sibuk fokus di Refald yang tinggal 7 episode lagi akan tamat. Tapi setelah ini aku bakal rajin up Leo dan Shena. Harap maklum ya ... sebab Leo dan Shena juga mau tamat. Terimakasih atas dukungannya, love you all.
Jangan khawatir kalau kedua novelku ini akan tamat karena bakal digantikan dengan novel baruku yang pastinya ceritanya tak kalah seru. Tunggu saja ya ... kalu rilis pasti bakal aku kasih pengumuman disini dan pastinya hanya ada di aplikasi noveltoon.
__ADS_1
Visual Leo saat main pedang