Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 247 Sesak Hati


__ADS_3

Sesampainya di kediamannya, Leo menjelaskan detail rumah yang sekarang sudah menjadi milik Shena. Ibu tiga anak itu mengamati sekeliling dan mengagumi beberapa interior desain rumahnya sendiri. Meskipun ia tak ingat apapun, Shena sangat menyukai tempat ini. Ia tak henti-hentinya menatap setiap ruang yang ia jelajahi bersama Leo.


Melihat Shena tak bereaksi apa-apa, Leo agak sedikit kecewa. Ini adalah rumah kenangan masa kecil Shena tapi istrinya itu bersikap seolah ini tempat baru baginya. Shena sungguh tak mengingat apapun yang ada di rumah ini termasuk kenangan indah keduanya.


Begitu memasuki kamar utama mereka, Shena semakin takjub. Kamarnya sangat luas dan juga indah dengan gaya khas ala bangunan Eropa yang sengaja direnovasi oleh Leo seperti kamar yang ada di mensionnya sendiri. Lagi-lagi, Shena juga tak menunjukkan reaksi apapun. Padahal, Shena dan Leo jadi semakin dekat karena banyak insiden yang terjadi di dalam kamar.


“Indah sekali?” ujar Shena senang dan membuyarkan lamunan Leo.


“Kau suka?” tanya Leo. Ia hanya berdiri di belakang Shena.


“Ehm, sangat suka.” Mata Shena tak bisa berhenti mengagumi kamarnya sendiri.


“Istirahatlah sebentar, aku akan menyiapkan air panas supaya bisa kita pakai untuk mandi.”


“Kita?” pekik Shena terkejut.


“Iya, kita. Hanya ada kau dan aku saja di kamar ini? Kenapa?” tanya Leo.


“Maksudmu … kita … berdua … mandi bersama?” tanya Shena gugup.


“Sejak menikah, hampir setiap hari kita mandi bersama, Sayang. Tapi jika kau keberatan, aku akan menunggumu mandi lebih dulu.” Leo tersenyum penuh makna lalu pergi meninggalkan Shena yang tertegun karena shock.

__ADS_1


Hah? Mandi bersama setiap hari? Gila? Yang benar saja? Jerit Shena dalam hati.


Hati Shena langsung bergejolak dan ia merasa jadi malu sendiri membayangkan dirinya dan suaminya berada didalam satu kamar mandi yang sama. Sudah bisa dipastikan apa saja yang terjadi saat keduanya ada di dalam kamar itu.


****


Malam harinya, Shena malah lebih gelisah. Bayangkan saja, berada dalam satu kamar dengan seorang pria, sungguh membuat Shena jadi canggung meskipun ia dan pria ini sudah menikah. Sekelebat bayangan dirinya dan pria yang tak diingatnya berada dalam satu ranjang dan melakukan adegan pasangan suami istri pada umumnya membikin napas Shena jadi naik turun.


Masa iya aku harus melakukan adegan ranjang dengan pria itu malam ini? Bagaimana kalau dia meminta haknya sebagai suami? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin menolak, kan? Kami sudah menikah soalnya, batin Shena sedikit galau, cemas dan khawatir.


Shena terus mondar-mandir di depan jendela sementara Leo sedang mengamati berkas-berkasnya. Sesekali ia menelepon dan menerima beberapa panggilan entah dari siapa saja. Sepertinya, itu seputar pekerjaannya.


“Iya, halo … ehm … sejauh ini baik … tidak masalah … ada … tidak sekarang … akan kuhubungi kau lain kali. Selamat malam,” ujar Leo sambil melirik Shena yang berdiri diam dipojokan. Ia mematikan ponselnya agar tak ada yang mengganggunya lagi.


“Eee … kau tidur saja dulu, aku masih belum mengantuk.” Shena semakin gelisah menyalahartikan kata-kata Leo barusan. Badannya jadi panas dingin.


Leo berjalan pelan mendekat kearah Shena dan Shena yang melihat hal itu langsung mundur kebelakang. Leo terus mendekat dan Shena semakin menjauh, sampai akhirnya Shena tak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah membentur dinding ruangan.


“Ma-mau apa kau?” tanya Shena semakin gugup. Tatapan elang Leo tak pernah lepas darinya.


“Kenapa tubuhmu jadi gemetar begitu Sayang, apa yang kau pikirkan tentangku?” Leo memasang wajah semelas mungkin dan berkali-kali membuang napas. “Aku memang sangat ingin bisa seperti dulu. Tapi … dengan kondisimu yang sekarang, tidak mungkin aku memaksakan kehedakku sebagai suami selama kau tak menginginkannya. Percayalah pada suamimu, Sayang. Aku takkan menyentuhmu selama belum ada lampu hijau darimu. Ayo tidur, tidak baik bagi kesehatanmu jika kau terus saja mengkhawatirkan sesuatu yang takkan terjadi.” Leo dan Shena saling bertatapan lumayan lama dengan perasaan kalut dihati mereka masing-masing.

__ADS_1


Lagi-lagi, Shena jadi merasa bersalah. Mungkin saat ini, Leo sedang tersiksa batinnya karena harus bersabar menghadapinya yang memang tak ingat apapun tentang Leo. Hanya sekelebat bayangan wanita dan pria berpelukan di hamparan perkebunan teh saja yang ia lihat, tapi Shena tidak tahu pasti siapa pria dan wanita itu. Dan Leo … wajah sedihnya, sangat membuat Shena jadi tersiksa juga.


“Dimana buku album fotonya?” tanya Shena tiba-tiba.


“Ada di dalam tas. Kenapa kau tiba-tiba mencari buku album foto, Sayang? Apa yang terjadi?” tanya Leo bingung dan mengamati Shena yang mulai mengambil buku albumnya.


Shena membolak-balikkan halaman album foto tersebut dengan serius. “Ada!” gumam Shena. “Tidak salah lagi, sekelebat bayangan yang aku lihat, mirip diriku dan dan dirimu,” ucap Shena pada Leo.


“Apa maksudmu?” tanya Leo semakin penasaran dengan ucapan Shena.


“Saat aku hampir jatuh di perkebunan teh tadi, tak sengaja sekelebat bayangan seperti ini terlintas dipikiranku. Hanya saja, kepalaku terasa sakit, makanya tadi aku oleng.” Shena menunjukkan foto dirinya sendiri dan Leo sedang berpelukan mesra di tengah-tengah hamparan padang teh.


Leo menatap tajam foto yang disodorkan Shena dengan ekspresi sedih. Hal itu semakin membuat hati Shena jadi trenyuh melihat raut wajah Leo.


“Itu foto yang diambil Refald saat aku pergi menenangkan diri karena cemburu. Aku lemah saat itu dan meragukan cintamu. Tapi … kau datang dan meyakinkanku bahwa cintamu hanya untukku seorang. Tak ada pria lain lagi di dunia ini yang bisa menggantikan posisiku dihatimu. Karena … kau … kau sangat mencintaiku melebihi apapun.” Mata Leo mulai berkaca-kaca mengingat masa-masa indah itu.


Leo tak kuasa melihat Shena yang bahkan tak bisa direngkuhnya sesuka hati seperti dulu. Wanita yang ia cintai ada di depan mata tapi tak bisa menggapainya. Hati Leo serasa sakit dan iapun bebalik badan menghadap jendela untuk menyembunyikan air matanya dari Shena. Sungguh Leo sangat ingin memeluk erat Shena, sayangnya ia tak mungkin bia melakukannya sekarang walaupun Shena ada didekatnya.


Bukan salah Shena jika istrinya yang paling ia cintai ini tak mengingat apapun tentangnya dan juga masa lalunya. Kerusakan otak yang dialami Shena tidak akan separah ini jika saja Leo tak terus-terusan membuat Shena tertekan. Menjadi bagian dari keluarga besar Pyordova sudah mendatangkan tekanan sendiri bagi wanita tangguh seperti Shena, ditambah lagi dengan sifat jahilnya dan repotnya mengurus anak-anak mereka. Siapapun, pasti akan jadi stres.


Awalnya, Leo mengira kehidupan rumah tangganya akan baik-baik saja dan akan terus bahagia selamanya, tapi ia sama sekali tak menyangka bakal mengalami masa menyakitkan seperti ini. Dilupakan orang yang dincintai, sungguh menyesakkan hati. Meskipun orang itu dekat, tapi terasa jauh.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2