Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 235 Ucapan Refald


__ADS_3

Permasalahan yang menyangkut soal Jiru Kitaru memang sudah selesai. Kini semua orang sudah tahu siapa Jiru Kitaru sebenarnya. Ia tak lebih dari sampah masyarakat yang berkedok seorang guru BK dan bertopeng malaikat. Semua orang menyesal karena mengidolakan dia. Rasa kagum yang tadinya begitu besar, kini berubah jadi kebencian yang tak terkira akibat ulah keji yang sudah dilakukannya.


Semua orang jadi bersimpati pada korban-korban Kitaru yang ternyata sebagian besar adalah penghuni sekolah Yeon sendiri. Dulu, orang-orang tidak suka pada Yeon karena sikapnya yang selalu tidak sopan pada guru BKnya dan terkesan menantang. Yeon dianggap sombong dan sok mentang-mentang dia putra dari seorang gangster terkenal. Namun, setelah kejadian ini, pendapat semua orang terhadap Yeon berubah, mereka mengagumi sikap Yeon yang peka pada seseorang bermuka dua seperti Jiru itu. Kini mereka semua paham kenapa Yeon selalu tak sopan pada guru BK-nya.


Bila nama baik Jiru Kitaru sudah hancur lebur atas perbuatannya sendiri, lain halnya dengan putra sulung Leo. Mendadak Yeon berubah menjadi idola sekolah yang dikagumi banyak orang. Tak hanya dikalangan siswi saja, para gurupun ikut memuji aksi keren Yeon saat menghadapi orang yang berniat jahat padanya sekalipun itu adalah gurunya sendiri. Orang yang harusnya ia hormati, tapi karena sikap gurunya tak mencerminkan seorang pendidik, maka Yeon tak perlu sungkan bersikap kasar pada Jiru.


Sebelumnya, memang banyak yang mengidolakan Yeon, tapi tak sedikit pula yang jadi beralih membencinya atas sikap kasarnya kala itu. Namun, dengan adanya insiden ini, Yeon semakin jadi populer disekolahnya. Sebab, ialah satu-satunya siswa yang sangat tidak suka dengan Jiru Kitaru disaat semua orang mengidolakan guru itu.


“Kau populer sekarang, he?” sindir Rey saat ia, Bima dan Yeon serta seluruh keluarga besar Leo-Refald berkumpul menghadiri festival yang sudah Leo siapkan di malam hari mengingat acara festival Bunkasai tadi siang gagal total gara-gara seorang penjahat.


Rey tak asal bicara, begitu keluarga besar luar biasa ini datang, banyak anak perempuan yang kebanyakan teman satu sekolah Yeon, berbondong-bondong memberikan kado istimewa untuk Yeon. Tentu saja yang ketiban berkah menerima kado itu adalah Bima. Tanpa malu, adik laki-laki Yeon itu mengambil alih posisi Yeon yang sejak tadi hanya diam dan tak bereaksi apa-apa saat semua anak perempuan memberinya kado. Alhasil, Bima pun kualahan menerima semua kado-kado itu. Sedangkan Rey, terus saja menggoda Yeon tapi tak digubris oleh saudaranya.


"Harusnya kau senang Yeon, kenapa kau cemberut begitu?" tanya Rey lagi.


"Jangan ganggu aku, Kak!" Yeon semakin kesal dan berjalan lebih dulu. Bukan kesal pada kakaknya, tapi kesal karena dia jadi pusat perhatian.


“Oey, Kakak-Kakak! Apa tidak ada yang punya cita-cita untuk membantuku membawakan kado-kado ini?” teriak Bima yang tubuh bagian atasnya tak terlihat akibat tertutup kado.


Rey tertawa melihat adiknya itu tak bisa berjalan dengan benar. Iapun memerintahkan salah satu pengawalnya yang berjaga didekatnya untuk menggantikan Bima membawakan semua kado-kado itu.


“Salah sendiri, siapa suruh kau membawakan kado kakakmu!” ledek Rey.

__ADS_1


“Kak, Rey. Dia itu mana peka sama hal beginian. Sayang kalau semua kado ini di buang begitu saja!” ujar Bima sambil menyerahkan kado itu pada pengawal Rey.


“Dimana Lea? Aku merindukannya. Kenapa ia tak muncul sejak aku datang kemari?”


“Dia sedang didandani bersama ibu dan Bibi Fey. Aku heran, apa semua wanita kalau berdandan itu lama? Dan kenapa kita harus pakai pakaian ini? Aku merasa sangat aneh sekali.” Bima mengamati dirinya sendiri.


“Bimashenaaa … kita berada di Jepang sekarang. Negara tempat asal ibuku dilahirkan. Tentu saja sebagai bagian keluarga besarnya, kau dan aku serta keluarga lainnya harus menghormati tradisi di negara ini. Sudahlah! Jangan kebanyakan protes! Kau sangat tampan pakai kimono itu. Kita nikmati saja acara festivalnya.” Rey merangkul bahu Bima dan menyusul Yeon yang berjalan cepat di depan mereka.


Pakaian kimono yang dikenakan para anak-anak sultan ini membuat ketiganya terlihat keren dan cool. Aura pesona ketampanan ketiganya terpancar jelas dan membuat semua orang yang menatap anak-anak sultan itu terus saja tak bisa berpaling. Bahkan mereka sulit mengedipkan mata bila Rey, Yeon dan Bima berjalan bersamaan melintasi mereka.


“Wah … masih anak-anak saja mereka sudah terlihat tampan. Apalagi kalau sudah besar, ya … pasti sangat sangat sangat tampan.” Seseorang mulai bergunjing di belakang para anak-anak sultan itu.


“Ehm kau benar, mereka anak siapa ya … jika anaknya saja tampan begitu, pasti bapaknya tampan juga!”


Wajarlah kalau anak-anak itu terlihat cool abis. Bapaknya aja super duper keren, pasti anaknya juga tak kalah keren.


Baru saja dibicarakan, keluarga Leo dan Refald tiba bersamaan. Refald menggandeng mesra Fey yang memakai balutan kimono berlapis sutra dengan dominasi warna pink. Ia sungguh terlihat sangat cantik menawan sehingga mata Refald tak pernah lepas dari wajah istrinya. Tak ketinggalan, Leo juga membukakan pintuk untuk istri dan putri kecilnya yang sama-sama terlihat sangat cantik berbalut kimono terindah yang ada dalam acara festival ini. Leo mencium lembut tangan Shena lalu menggendong putri kecilnya.


Semua orang menatap takjub kedua keluarga paling harmonis itu. Melihat betapa romantisnya perlakukan Refald dan Leo terhadap istri-istri mereka, membuat iri setiap orang yang memandang. Entah orangtua Rey, Bima dan Yeon ini sadar atau tidak, yang jelas mereka semua telah menjadi pusat perhatian semua orang dengan kemunculan mereka di acara festival malam ini.


“Ayah, turunkan aku!” ujar Lea digendongan ayahnya.

__ADS_1


“Kau yakin?” tanya Leo.


“Ehm, aku ingin ketempat kakak-kakakku berada. Turunkan aku, Ayah.” Lea menatap kakak-kakaknya dari kejauhan. Ia tertarik karena semua saudaranya sedang asyik bermain-main di dekat permaianan yang disuguhkan dalam acara festival ini.


Leo mengerti dan menuruti keinginan putrinya. Si bungsu langsung berlar8 kencang menuju kakaknya berada dan Leo meminta pengawalnya untuk mengawasi mereka semua.


“Tak terasa, anak-anak kita sudah besar dan lebih suka bermain sendiri daripada bersama dengan kita,” ujar Shena sambil menatap kepergian Lea.


“Kau benar Sayang … ehm … bagaimana kalau kita tambah anak satu lagi.” Leo mulai mengelurkan sifat jahilnya lagi.


“Apa?” pekik Shena dan langsung menjauh dari dekapan Leo. “Tidak! Kalau kau ingin tambah, kau saja yang hamil dan melahirkan! Dasar nggak ada akhlak!” Shena langsung pergi berlalu meninggalkan Leo dengan muka masam.


“Sayang, kau mau pergi kemana? Ayolah … kita kan masih muda, banyak anak makin enak, Sayang. Jangan gitu dong. Satu saja, oke!” Leo berusaha merayu dan berjalan cepat menyusul Shena yang terus saja nyelonong pergi meninggalkan Leo dibelakangnya.


“Adikmu itu benar-benar sarap! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada Shena. Ingin sekali kujitak saja kepalanya. Dia pikir hamil dan melahirkan itu gampang apa?” geram Fey melihat pasangan Leo dan Shena yang sedang kejar-kejaran itu.


Refald diam dan tak bereaksi seolah sedang merasakan sesuatu.


Pandangan mata Refald tak pernah lepas dari sosok Shena dan Leo. Hanya ada satu kalimat yang bisa Refald katakan pada Fey saat ini.


“Honey … kita harus bersiap.”

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2