
Begitu seluruh korban yang ada di dalam truk diturunkan, mereka yang masih bisa diselamatkan langsung mendapat perawatan medis di rumah sakit tempat Leo menghentikan truk trailer yang ia kendarai bersama dengan Refald. Sedangkan yang sudah meninggal, langsung dibawa ke ruang jenazah untuk diotopsi.
Suami Shena itu terus mencengkeram kuat kendali setir sambil menatap lurus jalan yang ada dihadapannya tanpa ikut turun untuk memeriksa siapa saja korban yang ada di dalam truk seperti yang dilakukan Refald.
Refald sendiri juga tak bisa memaksa adiknya untuk membantu mengenali korban-korban dimana beberapa diantara mereka merupakan anak buah kepercayaan Leo. Meskipun Leo berasal dari keluarga mantan seorang mafia, ia tetap tak bisa menerima jika ada anak buahnya menjadi korban kekejaman mafia lainnya. Dalam hati, Leo berjanji akan membalas dendam orang yang telah dengan keji membunuh anak buahnya.
Setelah semua korban selesai dievakuasi, Leo dan Refald langsung melanjutkan perjalanan menuju markas gembong penjahat kelas kakap yang terlibat dalam sebuah sindikat perdagangan manusia ilegal di sebuah tempat tak jauh dari rumah sakit ini berada. Ternyata lokasi penjahat itu ada disebuah pelabuhan besar. Entah mengapa, Leo sangat familiar dengan tempat ini. Sebuah tempat yang pernah ia datangi.
"Ini kan ...." Leo mengamati sekeliling sambil memicingkan mata begitu mengingat ada di mana ia sekarang.
"Tempat sama saat kekasihmu yang kini sudah menjadi istrimu dulu disekap." Refald membantu meneruskan kata-kata Leo yang terpotong karena terkejut. "Disinilah kisah cinta kalian dimulai dan Shena mulai mencintaimu." Refald tersenyum simpul.
Leopun ikut tersenyum karena tahu betul apa yang terjadi antara dirinya dan Shena ditempat ini. Bagi Leo, itu adalah kenangan buruk karena tepat di depan mata kepalanya, wanita yang ia cintai tertembak karena melindungi nyawanya. Syukurlah, kejadian itu sudah lama terjadi dan Leo datang kemari untuk tujuan yang berbeda. Bukan lagi untuk menyelamatkan Shena, melainkan membuat perhitungan dengan orang-orang yang telah berani melenyapkan anak buahnya.
Terlepas dari kenangan buruk itu, juga terdapat kenangan indah. Dengan terlukanya Shena, benih cinta wanita yang kini sudah menjadi istri sekaligus ibu dari anaknya, mulai tumbuh dan Shena mau menerima cinta Leo. Padahal sebelumnya, istrinya dulu itu sangat membencinya. Namun karena kejadian ditempat ini, rasa benci itu telah berubah menjadi cinta.
"Kak, aku punya permintaan untukmu," ujar Leo sambil fokus menyetir ketika ia sudah hampir dekat dengan markas gembong para sindikat.
"Apa?" cetus Refald, tumben Leo tak memikirkan apapun sehingga Refald tidak bisa mengetahui apa yang diinginkan suami Shena itu.
__ADS_1
"Aku ingin mengamuk di dalam sana, jangan pernah halangi aku!" tandas Leo.
"Huh, maha mungkin aku menghalangimu, justru aku mau menyuruhmu untuk mengobrak abrik tempat itu. Aku akan duduk diam mengamati. Hitung-hitung hemat energi karena setelah konser nanti malam, aku mau main maju mundur cantik dengan Fey."
"Akupun juga sama, gara-gara orang-orang ini ... aku menolak ajakan Shena main bulan tertusuk ilalang. Menyebalkan sekali." Leo memukul-mukul kendali setir saking kesalnya. Disaat seperti ini, duo somplak kakak beradik yang menjadi Batman jadi-jadian itu malah asyik mengobrol tentang malam panjang yang akan mereka lakukan dengan para istri-istri mereka stelah semua ini selesai.
"Ayo cepat kita selesaikan! Supaya bisa melaksanakan ritual kita masing-masing. Dan juga ... hati-hati ... dibalik gerbang itu, ada sekelompok orang bersenjata lengkap sedang menanti kita." Refald memperingatkan Leo.
"Bagus, itu malah lebih mudah! Kita selesaikan secepat mungkin." Leo tersenyum sinis dan menginjak pedal gas sehingga laju truknya semakin kencang menuju salah satu gudang dimana sudah ada beberapa penjahat siap menembak Leo dan Refald jika mereka membuka paksa pintu gerbang itu.
Sayangnya, mereka tidak tahu kalau Leo dan Refald masuk tidak menggunakan kaki mereka, melainkan mereka menerobos masuk dengan menabrakkan truk trailer besar ini untuk merusak pintu gudangnya. Alhasil, para penjahat yang sudah berjajar di depan pintu, langsung tertabrak dan sebagian dari mereka tewas tertindas.
Sebagian lagi mengalami luka-luka dan dan sisanya langsung menyerang Leo. Dengan kekuatan Refald, peluru yang ditembakkan kerahnya tak bisa menembus dan malah menyerang balik penembak yang menembak Refald.
Refald mencoba mencari lewat pikiran-pikiran orang-orang yang ada di sini dan uniknya, mereka tidak tahu seperti apa wajah pemimpin mereka. Sebab, selama ini, mereka hanya diperintah melalui sambungan telepon saja dan tak pernah secara langsung bertatap muka dengan orang yang memerintah mereka. Hal itu benar-benar mengejutkan Refald. Pantas saja, ayahnya kesulitan menangkap pemimpin sindikat ini. Anak buahnya saja tidak tahu seperti apa pemimpin mereka dan bagaimana mana rupanya, apalagi orang lain.
"Orang ini ... benar-benar penjahat kelas kakap," gumam Refald sambil tertawa. "Kita lihat saja, sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik topengmu itu," ujar Refald. Ia beralih mengamati Leo yang sedang kalap menendang dan meninju dada serta ulu hati musuh-musuhnya.
"Oey, Sitaramaraju!" panggil Refald seenak udelnya pada Leo yang masih memakai topeng hitam.
__ADS_1
Leo bingung siapakah nama aneh dan nyeleneh yang dipanggil Refald. Ia celingak-celinguk kesana kemari mengira kalau ada orang lain selain dia di sini. Namun, tatapan Refald tertuju kearahnya dan Leo baru ngeh kalau yang dipanggil dengan sebutan aneh dan nyeleneh itu adalah dirinya.
"Kau memanggilku?" tanya Leo menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Sementara kaki kanannya berada diatas dada musuhnya yang tak berdaya melawan kegilaan Leo saat bertarung.
"Iya kau! Kemarilah, biar anak buah ayahku yang mengurus sisanya. Kita harus segera kembali secepatnya, Sitaramaraju." Refald sengaja memberi penekanan kata pada Nana panggilan baru yang diucapkan Refald.
"Aku tidak bisa kembali sebelum menemukan di mana pemimpin mereka ...."
"Orang yang kau cari tidak ada di sini. Ayo kita pergi, nanti kujelaskan!" sela Refald.
Walau masih dongkol akut, mau tidak mau Leo menuruti kakaknya. Sebagai jurus pamungkas, Leo menendang kuat orang yang ia kalahkan seolah sedang menendang bola sepak hingga membuat orang tersebut pingsan akibat membentur dinding dengan kuat.
"Kenapa kau panggil aku ... Sit ... Sit ... Sit apa tadi?" tanya Leo saat ia sudah ada dihadapan Refald.
"Sitaramaraju," sela Refald.
"Nah itu? Nama aneh apa itu? Kenapa kau memanggilku begitu?"
"Karena kau mirip sekali dengan Sitaramaraju kalau lagi bertarung tadi." Refald tertawa keras. Entah ia meledek atau bangga pada Leo. Suami Shena itu sama sekali tidak mengerti ucapan Refald.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****